Surat untuk Sahabat Pena (2)

Hei…

Mengingat biasanya kita ber-gue-elu, maka kali ini lebih enak begitu.

Tadi sore, akhirnya gue menangis. Kenapa? Hm… gue belum pernah cerita ya. Tapi gak penting kenapa gue menangis. Jangan GR dulu, ini bukan menangisi elu. Gue menangis karena problem gue. Yang penting adalah saat gue menangis itu yang perlu lu tahu.

Waktu gue menangis, gue inget elu. Tiba-tiba aja elu datang terus mengajak berdoa. Bagai anak kecil yang nurut begitu aja, gue berdoa. Bukan berdoa tepatnya. Menyapa Dia. Emang udah setahun ini gue menyapa dia basa-basi, pake pamrih pula. Di doa itu, gue sempet bilang, “Tuhan, sampaikan padanya, aku baik-baik aja.” Setidaknya itu yang gue usahakan detik itu. Kita mendaraskan doa dalam diam. Tapi gue bahagia banget berdoa bareng lu. Seketika rasanya enteee…ng banget! Beberapa jenak kemudian gue berhenti nangis. Lalu  gue telpon lu untuk bilang gue baik-baik aja. Gue gak mau lu deg-degan di tengah apa yang tengah lu kerjakan, seperti sebelumnya.

Gue harus berterima kasih karena sejak kita bersahabat, gue jadi diingetin lagi untuk rajin menyapa Dia terutama ke gereja. Lu emang gak pernah ngomong gue seharusnya ke gereja. Dari sekian banyak orang yang nanya “nanti ke gereja gak?” atau “udah ke gereja belum?” atau “kemarin ke gereja mana?” gak ada yang sungguh-sungguh bikin gue mudeng. Tapi pertanyaan lu beberapa waktu lalu bikin gue sadar. “Misa kapan?” Gue tau gak perlu tanya balik karena udah tau jawabannya: Sabtu sore.

Sejak itu, kalau gak misa rasanya rugi. Seperti lu bilang, motivasi orang ke gereja boleh macem-macem. Lu bilang, “Kalau ada yang ke gereja karena lagunya bagus, itu lumayan.” Nah, salah satu motivasi gue kembali ke gereja – selain karena kangen nongkrong di Rumah-Nya – gue merasa rugi karena besoknya gak bisa ngebahas homili yang kadang ngebosenin atau bikin ngantuk. Bertukar cerita apa homili di gereja lu dan di gereja gue yang sangat berjauhan itu.

Lu juga bikin gue kembali baca Kitab Suci karena ketika lu ngomel ada kata “merubah” di satu bacaan, mau gak mau gue jadi buka dan baca. Pun, ketika lu ngebahas kenapa Si Rasul Paulus ngajak-ngajak untuk men-jomblo, gue bisa jawab, “Dan lu mengiyakan. Maka Si Rasul Paulus boleh menepuk dada!”

Atau, ketika gue harus mencari sebuah dasar pemikiran atas satu proyek yang dituntut untuk menggunakan pendekatan rohani, lu cuma bilang, “Yesus kan mengajar dengan banyak perumpamaan, pasti ada lah yang nyangkut.” Mau gak mau (entah suka rela atau suka paksa), gue jadi menikmati buka Kitab Suci waktu mati lampu seharian itu. Alkitab, Kabar Baik untuk Anak-anak, dan Konkordansi Alkitab jadi rebutan gue dan anak-anak gue. Gue berkutat mencari kata “merubah” dan perumpamaan untuk proyek itu. Menjelang sore, gue nyaris jadi pengikut Yohanes Pembaptis seperti saran lu: bikin api, pakai jubah bulu onta, ikat pinggang kulit, makan belalang dan madu hutan. Irit. Belum sempat terlaksana, listrik keburu nyala.

Lu emang gak pake kromo Injil (istilah yang digunakan oleh Panjikristo, wartawan berbagai majalah rohani). Tapi mungkin karena kedekatan kita, jiwa gue kayak terbawa-bawa. Lu tahu bedanya terbawa-bawa dan ikut-ikutan kan? Ikut-ikutan itu suka rela, terbawa-bawa itu suka paksa. Tapi gue tidak merasa terpaksa. Jadi apa namanya dong?

Hei…

Tahu gak, di luar kecemasan gue karena mimpi lu ODHA, ternyata banyak temen-temen gue yang miris. Untung lu menjelaskan urusan dugaan gue itu dengan baik. Maka, gue bisa menjawab ke mereka, “Ternyata negatif. Tapi dia menyakinkan diri untuk tes khusus HIV/AIDS.” Jawaban gue cukup melegakan orang-orang yang miris itu. Makanya gue gak berani mempublikasi foto lu dengan kondisi yang kayak gitu karena pasti mereka akan mendaraskan novena buat lu, hehehe…

Gue inget waktu lu bilang, “Percuma Maria mendoakan sekarang dan waktu kita mati kalo kita menyerah pada diri sendiri.” Gue makin yakin kalo di balik tubuh mengenaskan lu ada semangat yang luar biasa dan bikin gue cukup malu.

Gue selalu kangen dengan bahasa lisan lu yang bertabur kata sambung berlebihan. “Dan terus” atau “sehingga kemudian”. Lucu buat orang yang pandai berbahasa kayak lu.

Puisi epilog di buku yang gue kerjakan itu sebetulnya untuk lu. Ungkapan terima kasih dari gue.

Begitulah.



Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , , , , , ,

This entry was posted on Friday, November 6th, 2009 at 7:31 pm and is filed under Surat untuk Sahabat Pena (2). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

8 Responses to “Surat untuk Sahabat Pena (2)”

  1. Ronaldo Rozalino
    2:39 pm on November 7th, 2009

    Sahabat sejati adalah sahabat yang menemanai disaay kita sedang susah

  2. Lini
    4:53 pm on November 7th, 2009

    @ Ronaldo: setuju. aku beruntung banget bisa begitu :)

  3. shinta miranda
    5:27 pm on November 7th, 2009

    dialog yang eunaaak bangeett…mengena…t o p …deh…!!

  4. Lini
    5:42 pm on November 7th, 2009

    @ Shinta: matur tengkiyu Mbak. soale yg pertama diomelin, “biasanya pake gue-lu, tiba-tiba jadi aku-kamu bikin gue panik.” hehehe

  5. fekhi
    4:17 pm on November 8th, 2009

    wah belom sempat investigasi hihihi

  6. Lini
    9:43 pm on November 8th, 2009

    @ Femi: ditungguin ;-)

  7. aris wikradani
    12:58 pm on November 30th, 2009

    gw ngga baca ni surat sampe abis, tapi kayaknya ni tulisan keren, gw permisi buat di copy ya. :D

  8. Lini
    10:30 pm on November 30th, 2009

    @ Aris: boleh asal cantumin sumbernya

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>