Posts Tagged ‘Bandung’

To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras, Kembali Cerdas)

17 Comments »

January 5th, 2010 Posted 4:52 am

(lanjutan dari To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif))

Kembali Waras, Kembali Cerdas

“I’ll be home for Christmas” itu harus dibuat monumentalnya. Tahap pertama, “nodong” Romo Pakdhe – seorang sahabat baikku – untuk Sakramen Tobat. Urusan mengakui dosa campur curhat itu membuatnya terkaget-kaget. Setidaknya, beberapa kali ia menunjukkan ekspresi terperangah dan geleng-geleng tak habis pikir. Dari obrolan itu, ada banyak hal menarik bagi Romo Pakdhe untuk dijadikan bahan renungan. Beberapa pertanyaan yang cukup “ajaib” ditujukan ke Si Ayah.

Misalnya, “Kamu kan berhak untuk melarang Lini pergi.”

“Kalau Lini saya larang, dia akan makin menjadi. Kalau dibiarkan, dia akan sadar sendiri.”

“Seandainya kamu dilarang pergi, bagaimana?” Kali ini pertanyaannya padaku.

“Gak apa-apa kalau dilarang asal detik itu juga kami pergi ke konseling atau apalah untuk menyelesaikan masalah ini.”

(more…)

To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)

14 Comments »

January 4th, 2010 Posted 9:16 pm

Tuhan bekerja dengan berbagai macam cara, termasuk cara yang jauh di luar akal sehat kita. Dengan penuh keyakinan aku mengatakan, “Seandainya aku tidak mengalami segala kejahatan dan kebodohan ini, belum tentu segala yang indah ini kurasakan hari ini. Rasanya seperti melewati lubang jarum!”

Perkawinan, tentu saja tidak semudah dan seindah prosesi janji perkawinan yang diadakan pada hari bahagia itu. Ketika merencanakan hari pernikahan, semua bisa diatur dan direncanakan dengan “mudah” meskipun ada saja hal yang di luar dugaan. Sadarkah, ketika urusan pemilihan baju pengantin dan segala tetek-bengeknya terjadi perselisihan, itu adalah “replika” dari kehidupan perkawinan yang sesungguhnya. Persiapan hari pernikahan butuh tiga bulan, misalnya. Sementara dinamika yang sama akan dihadapi selama seumur hidup. Setidaknya, tidak ada orang yang ketika yakin untuk menikah lalu berkata pada kekasihnya, “Aku akan menikahimu selama tiga tahun,” atau, “Aku akan menikahimu sampai aku bosan,” atau “Aku akan menikahimu sampai menemukan yang lain lagi nanti.”

(more…)

Bandung, Pernikahan

5 Comments »

December 22nd, 2009 Posted 5:08 pm

Kamis, 17 Desember 2009. Anak-anak terima rapor. Libur telah tiba. Hore… hore… hore…

Ke Bandung sebenernya sudah tidak masuk kategori berlibur karena ada banyak tujuan. Mulai dari nengok Mama Mertua sampai jadi umat abangan di Keuskupan Bandung, semua bisa. Kalau lepas kangen sama teman-teman di Bandung termasuk liburan ya bisa juga. Yang jelas, sering ke Bandung karena Kakak Ipar di sini maka bebas dari “hotel penuh” dan “ongkos mahal”. Tujuan kali ini adalah undangan pemberkatan nikah kerabat di Gereja St. Laurentius Sukajadi.

Malam itu juga kami harus berangkat karena besok pagi-pagi Si Ayah harus antar Mama Mertua ke tempat syukuran untuk sediain makanan. Berangkat dari rumah jam 9 malam, masuk tol Bekasi Barat jam 9.30. Semua penumpang ngantuk jadi tidak paham betapa padat meratapnya perjalanan Bekasi-Bandung. Begitu bangun sudah di gerbang rumah Kakak Ipar di Viaduct dekat Braga.  Begitu buka mata lihat jam… jam 12!! Ampuunn… jadi perjalanan tadi 2,5 jam?? Katanya padat meratap sampai tol Sadang. Ini salah satu alasan malas berakhir pekan panjang di Bandung kalau bukan karena ada undangan. Sampai rumah, tidur dilanjutkan!

(more…)

Kemping Ulang Tahun

1 Comment »

March 9th, 2009 Posted 8:22 pm

makan

“Unity in Diversity” bersama Bp. Uskup
Orang Muda Katolik Sarimawartoba
(Sumbersari, Margahayu, Waringin, Moh. Toha, Buah Batu)
Ranca Upas, Ciwidey, Bandung
7-9 Maret 2009

Tambah Usia – KLA Project – Klasik

Bertambah satu usiamu
Oh semoga penuh warna
Semakin indah hatimu
Berikan cinta tuk semua

Kau telah tercipta
Sebagai insan istimewa
Tumbuh dalam jiwa
Terus bahagia dan raih cita

Syukur tuk Yang Kuasa
Atas beragam anugerah
Kusertakan doa
Panjang umur kasih berlimpah

Ikuti hidup yang mengalir
Dan reguklah hingga akhir
Karena dunia terus berubah
Jangan kau terlena dan goyah

(Tambah Usia, KLa Project)

Setahun lalu pada ulang tahunku, Tuhan berkenan memberi kesempatan aku mempublikasikan buku “My Life is An Open Book” yang saat itu berupa e-book dan kubagi gratis. Ulang tahunku kali ini, Tuhan berkenan memberi kesempatan aku untuk menikmati indahnya hutan dan gunung bersama orang-orang terkasih dan teman-teman. Di tengah 400 orang peserta dan panitia dari 5 paroki sekeuskupan Bandung: Sumbersari, Margahayu, Waringin, Moh. Toha dan Buah Batu. Termasuk Bp. Uskup Bandung Mgr. Pujasumarta, Fr. Haryanto dan Pastor Wahyu. Di udara yang dingin menggigit, di ketinggian sekitar 2000m, menikmati bintang yang bersinar pada jam 5 pagi dan kabut tebal yang masih ada hingga jam 6.30.

Sabtu dini hari 7 Maret 2009, aku meluncur ke Bandung bersama Si Ayah, Si Bungsu dan Si Sulung. Pagi itu aku ada janji bertemu dengan Ibu Pud di kediaman Mgr. Puja untuk merayakan Ekaristi harian. Ibu Pud adalah seorang pembacaku yang hidupnya dramatis, akan kuceritakan lain kali. Singkatnya, Ibu Pud demikian terinspirasinya sampai hidupnya yang mati suri selama sekitar 2 tahun kini kembali “hidup”.

(more…)

Valentine, Bila Kau Mau Berbagi

3 Comments »

February 18th, 2009 Posted 3:23 pm

Aku gak pernah ngerayain Valentine sama Si Ayah, terhitung sejak pacaran berarti sudah sekitar 7 tahun. Malah pernah kira-kira setahun atau dua tahun lalu aku sampai nangis-nangis minta merayakan Valentine tapi gak juga kesampaian. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk gak berharap lagi romantis-romantisan sama pasangan. Valentine kan bukan cuma milik yang berpasangan, tapi juga berbagi kasih dengan siapa saja.

Lalu datanglah tawaran itu, tepat di hari Valentine, aku diminta untuk jadi pembicara di 2 tempat dengan jadwal yang berurutan di Bandung. Wah, anugerah besar nih! Kastanya sekarang sudah jadi pembicara. Biasa sebagai jurnalis memburu narasumber sekarang jadi narasumber. Pengalaman baru ketimbang cuma merayakan Valentine dengan sebatang coklat dan setangkai bunga. Sempat juga terbersit di benakku, apa sih makna Valentine buatku?

(more…)

Ngasong @ Paulus & Gandarusa, Bandung, 24-25 Jan 08

No Comments »

January 27th, 2009 Posted 9:13 am

Intensi kali ini membantu OMK Sarimawartoba mengumpulkan dana untuk kemping bersama Uskup “Unity in Diversity” tgl 7-9 Maret 2008 di Ranca Upas.

Proficiat! Terima kasih banyak atas kerja kerasnya untuk menjual bukuku. Aku senang dengan sebutan ngasong, kenapa? Karna literally kita menjajakan buku, jemput bola ke umat. Itu jauh lebih baik ketimbang menunggu umat yang datang menghampiri.

(more…)

“Mudik” ke Borromeus: 2 Minggu

2 Comments »

January 5th, 2009 Posted 4:42 pm

Selama 2 minggu kmaren aku “mudik” ke Borromeus. Ngapain? Nemenin Mama Mertua. Berangkat tgl 22 bertiga sama anak2, Si Ayah nyusul tgl 24 nunggu majalahnya kelar. Toh gak kelar juga, tapi karna surat cuti sudah di tangan ya tinggal aja…

Mama Mertua penderita diabetes, ada luka di kakinya. Awalnya sederhana, kakinya yang sering kapalan diguntingi padahal Si Emak punya penyakit diabetes. Karna diguntingi, artinya kan luka meskipun ga berdarah. Jadinya kulit telapak jempol kakinya bolong. Karena tidak berdarah dan tidak pedih, dianggapnya tidak luka. Dari luar memang bolong kecil, dalamnya siapa tahu?

(more…)

Green House, Rumahku

No Comments »

January 4th, 2009 Posted 4:16 pm

Green House, Jl. Jawa 26, Bandung

Green House, Jl. Jawa 26, Bandung

Dua minggu di kota ini, cukup membuatku kerasan meskipun tidak kunjung hapal jalan. Semua mirip-mirip. Banyak jalan satu arah. Rute yang aku tau hanya Borromeus-Braga dan sebaliknya, Green House-Braga dan sebaliknya, Borromeus-Green House. Jadi kalau dari Green House mau ke Borromeus terpaksa muter lewat Braga. Daripada sok tahu lalu nyasar?

Dalam dua minggu ini juga aku jadi “tamu tetap” Green House. Tempat hang out favorit selain warung kopi kaki lima di sekitar Borromeus. Saking seringnya – rasanya hampir tiap hari, kadang sehari beberapa kali – keluar masuk Green House, mulai dari Pak Penjaga Gerbang sampai Bibi Tukang Masak hapal wajah dan mobilku. Rasanya seperti pegang kartu pas. Datang pagi-pagi ikut Misa di Kapel Mungil pernah, pulang jam 9 malam juga pernah. Ikut sarapan, makan siang sampai makan malam juga pernah. Di sana ikutan sibuk beres-beres dari pagi, lalu sambung lagi sore menjelang malam sampai larut juga pernah. Alhasil, tidak perlu lagi lapor sana-sini, langsung saja nyelonong ke dapur lewat belakang dan tiba di ruang makan. Dari situ baru celingak-celinguk sapa tau ada romo yang nganggur. Memang sih, biasanya aku konfirmasi dulu ke Bapaknya, ada di rumah ga? Klo ada dan nganggur, aku main. Kasih laporan pandangan mata perkembangan Mama Mertua.

(more…)

Ungkapan Cinta untuk Bapa Uskup

No Comments »

December 27th, 2008 Posted 6:58 pm

Sabtu, 27 Desember 2008, Bapa Uskup genap berusia 59 tahun.

Ketika aku sedang menunggui Mama Mertua di Rumah Sakit, Bapa Uskup kirim SMS, “Lini, besok datang ke ultahku ya, ada misa pagi di kapel.”
Wooooowwww… seperti anak kecil aku melonjak kegirangan. Mimpi apa diundang ke ultah orang sepenting Bapa Uskup?

Jam 7 kurang aku dan Si Ayah tiba di Green House. Beberapa orang sudah datang. Misa di kapel mungil itu penuh sesak. Diikuti setidaknya 20 orang. Intensi misa dipersembahkan untuk ultah Bapa Uskup sekaligus pesta Santo Yohannes sebagai santo pelindung Bapa Uskup.

(more…)

Save Our Traditions

No Comments »

January 11th, 2008 Posted 4:44 pm

Sebagai anak kota, saya tidak punya kebiasaan atau tradisi keluarga berbudaya lokal. Apalagi saya tidak familiar dengan budaya asal Papa-Mama, Batak. Kadang saya sendiri suka merasa bukan orang Batak karena tidak paham tradisi. Saya juga tidak punya kampung, jadi tidak pernah mudik dan tidak pernah merasakan nikmatnya mudik.

Lebih dari sekadar budaya lokal, tradisi keluarga saya juga rasanya tidak ada. Tidak satupun yang membuat suatu momen istimewa terasa kurang lengkap jika tidak melakukan tradisi.

Saya sangat beruntung memiliki Mama Mertua yang masih tinggal di Purbalingga. Keluarga besar Oey Keng Siong (KB-OKS) masih memiliki rumah di sana, terutama rumah induk. Syukurlah, anak-anakku jadi punya kampung dan bisa mudik.

Terlepas dari masalah mudik — masalah yang membuat banyak orang kesal tapi ya tetap menjalankannya — sebuah tradisi keluarga sebetulnya bisa dilakukan di rumah sendiri juga. Kebetulan tradisi pesta natal dan pesta malam tahun baru KB-OKS selalu diadakan di sewan (teras rumah induk OKS yang kebetulan ukurannya besar), maka jadilah tradisi mudik.

Biasanya setiap tanggal 29 Desember Pesta Natal digelar. Anak-anak maju ke depan. Menyanyi, menari, atau apa saja. Menerima hadiah sambil mengucapkan, “Terima kasih Sinterklas…”
Buat para Engkong (Opa) dan Emak (Oma) juga tidak ketinggalan. Yang cucunya belum bisa atau tidak mau tampil, harus diwakilkan Emak atau Mamanya. Kadang malah justru para Emak itulah yang tampil.
Bagi pasutri baru atau sudah memasuki tahap serius pacaran juga ada acaranya sendiri. Biasanya “interogasi” dilancarkan. Tujuannya: tes mental! Pokoknya dijamin yang diinterogasi mukanya akan merah padam. Hahaha…

Pesta Malam Tahun Baru biasanya digelar mulai jam 22.00 sampai jam 02.00 pagi! Bakar panganan (jagung, sosis, dll), menyalakan kembang api, minum sekoteng. Tapi yang paling penting, pada jam 23.45 kita selalu menyanyikan lagu Auld Lang Syne dan doa bersama. Waktu yang digunakan selalu jam klasik yang berbunyi “Dong… dong…” Bunyi jam itulah yang menandakan tahun baru telah tiba. Anggota KB-OKS tertua dan termuda menyobek kalender (kalender sobek). Baru kemudian salam keliling dimulai.

Soal makan? Ini dia! Beberapa tahun terakhir malah ada seorang sahabat dari sepupu yang ikut-ikut kangen mudik — tepatnya kangen makan! Hidangan berlimpah khas lokal buatan trio koki OKS: Mama Mertua Oey Tjiok Nio, Oey Djiap Nio (kakak Mama Mertua), dan Kho Gin Tjiok (ipar sepupu Mama Mertua) plus Es Brasil Purwokerto. Es Brasil inilah yang paling dicari karena di Jakarta hanya ada di Kelapa Gading. Esnya sendiri seperti es krim tradisional biasa. Tapi namanya dari kampung halaman ya tetap saja ngangeni… Yang juga tidak kalha dicari adalah mendoan plus sambel terasi. Yum…

Ada satu lagi tradisi yang juga masih melekat: saling memberi oleh-oleh. Acara mengepak barang sering tidak akan selesai karena oleh-oleh terus berdatangan dari keluarga yang lain meskipun hanya sebungkus rempeyek atau keripik tempe.

Semua anggota KB-OKS yang akan pulang juga “wajib” pamit ke setiap rumah. Terakhir, semua keluarga akan mengantar ke halaman parkir sebagai tanda perpisahan.

Sebenarnya, sebagian besar anggota KB-OKS tinggal di Jakarta, ada juga yang tinggal di Bandung, Yogya, Bali, dan luar negeri. Bagi yang tinggal di Jakarta, tetap saja jarang ketemu kecuali kalau ada pernikahan. Jadi, pamitan itu bisa juga berarti harfiah bahwa pertemuan baru akan terjadi tahun berikutnya.

Satu hal lagi yang mengesankan dari KB-OKS: setiap sesi pemotretan pesta pernikahan selalu membuat takjub sang fotografer. Betapa tidak, yang ikutan foto bisa lebih dari 50 orang. Pokoknya selalu harus dua kali foto: sisi kanan dan kiri!

Saya sudah mengusulkan, kalau ada fotografer yang tidak takjub, orangnya harus dimasukkan dalam catatan keluarga.

Sampai pesta natal tahun depan…