Posts Tagged ‘Buku My Life is An Open Book’

Pak Raden: Sang Pendongeng, Kakek Sejuta Cucu

4 Comments »

May 18th, 2011 Posted 7:43 pm

Siang itu, seharusnya aku sudah menyelesaikan presentasi untuk workshop menulis yang diadakan komunitasku Yuk Nulis! dalam rangka World Book Day 2011. Apa daya, rasa sentimentil yang menyergap sejak siang kemarinnya makin menggila. Akhirnya, menulislah aku di siang yang luar biasa terik itu.

Beberapa waktu lalu (ah, kenapa aku tidak catat tanggalnya ya?), aku membeli buku “Petruk jadi Raja” yang ditulis dan diilustrasi oleh Drs. Suyadi aka Pak Raden. Buku ini jadi kejutan buat Si Sulung dan Si Bungsu. Aku minta untuk dituliskan nama mereka di buku itu. Selang beberapa hari, buku itu tiba. Kedua anakku bingung, kenapa tiba-tiba Kakek yang masih juga kerap muncul di layar televisi dengan gaya yang sama dengan 25 tahun lalu itu mengirimi buku? Tahu alamat rumah dari mana? Tahu nama mereka dari mana? Dikasih tanda tangan pula!

(more…)

Dua, Dua, Tiga, Satu

5 Comments »

March 24th, 2010 Posted 12:15 pm

Sebetulnya saya berhutang cerita ini pada Fonny empat hari. Maaf ya, Fon :D

Dua tahun. Kalau manusia, umur dua tahun itu lagi cerewet-cerewetnya karena baru lancar ngomong bahkan baru bisa jika sedikit terlambat seperti Si Sulung. Ulang tahun pertama memang tidak dirayakan karena tulisannya juga tidak terlalu banyak apalagi penghuninya. Belum apa-apa. Belum layak dirayakan.

Ulang tahun ke dua, penghuninya sudah 32 Nuliser sangat aktif, 81 Nuliser aktif, dan 247 member milis (termasuk 113 Nuliser tadi di dalamnya). Sudah banyak Nuliser yang mumpuni bahkan Femi dan Fonny sudah punya fans page sendiri—Femi dengan Femi on the Blog dan Fonny dengan Chapters of Fonny’s Life. Kerja keras mereka sudah layak membuahkan hasil, keringat mereka sendiri, mandiri. Via Lattea tentu turut bangga. Ini perlu dirayakan!

(more…)

To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras, Kembali Cerdas)

17 Comments »

January 5th, 2010 Posted 4:52 am

(lanjutan dari To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif))

Kembali Waras, Kembali Cerdas

“I’ll be home for Christmas” itu harus dibuat monumentalnya. Tahap pertama, “nodong” Romo Pakdhe – seorang sahabat baikku – untuk Sakramen Tobat. Urusan mengakui dosa campur curhat itu membuatnya terkaget-kaget. Setidaknya, beberapa kali ia menunjukkan ekspresi terperangah dan geleng-geleng tak habis pikir. Dari obrolan itu, ada banyak hal menarik bagi Romo Pakdhe untuk dijadikan bahan renungan. Beberapa pertanyaan yang cukup “ajaib” ditujukan ke Si Ayah.

Misalnya, “Kamu kan berhak untuk melarang Lini pergi.”

“Kalau Lini saya larang, dia akan makin menjadi. Kalau dibiarkan, dia akan sadar sendiri.”

“Seandainya kamu dilarang pergi, bagaimana?” Kali ini pertanyaannya padaku.

“Gak apa-apa kalau dilarang asal detik itu juga kami pergi ke konseling atau apalah untuk menyelesaikan masalah ini.”

(more…)

To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)

14 Comments »

January 4th, 2010 Posted 9:16 pm

Tuhan bekerja dengan berbagai macam cara, termasuk cara yang jauh di luar akal sehat kita. Dengan penuh keyakinan aku mengatakan, “Seandainya aku tidak mengalami segala kejahatan dan kebodohan ini, belum tentu segala yang indah ini kurasakan hari ini. Rasanya seperti melewati lubang jarum!”

Perkawinan, tentu saja tidak semudah dan seindah prosesi janji perkawinan yang diadakan pada hari bahagia itu. Ketika merencanakan hari pernikahan, semua bisa diatur dan direncanakan dengan “mudah” meskipun ada saja hal yang di luar dugaan. Sadarkah, ketika urusan pemilihan baju pengantin dan segala tetek-bengeknya terjadi perselisihan, itu adalah “replika” dari kehidupan perkawinan yang sesungguhnya. Persiapan hari pernikahan butuh tiga bulan, misalnya. Sementara dinamika yang sama akan dihadapi selama seumur hidup. Setidaknya, tidak ada orang yang ketika yakin untuk menikah lalu berkata pada kekasihnya, “Aku akan menikahimu selama tiga tahun,” atau, “Aku akan menikahimu sampai aku bosan,” atau “Aku akan menikahimu sampai menemukan yang lain lagi nanti.”

(more…)

Bandung, Pernikahan

5 Comments »

December 22nd, 2009 Posted 5:08 pm

Kamis, 17 Desember 2009. Anak-anak terima rapor. Libur telah tiba. Hore… hore… hore…

Ke Bandung sebenernya sudah tidak masuk kategori berlibur karena ada banyak tujuan. Mulai dari nengok Mama Mertua sampai jadi umat abangan di Keuskupan Bandung, semua bisa. Kalau lepas kangen sama teman-teman di Bandung termasuk liburan ya bisa juga. Yang jelas, sering ke Bandung karena Kakak Ipar di sini maka bebas dari “hotel penuh” dan “ongkos mahal”. Tujuan kali ini adalah undangan pemberkatan nikah kerabat di Gereja St. Laurentius Sukajadi.

Malam itu juga kami harus berangkat karena besok pagi-pagi Si Ayah harus antar Mama Mertua ke tempat syukuran untuk sediain makanan. Berangkat dari rumah jam 9 malam, masuk tol Bekasi Barat jam 9.30. Semua penumpang ngantuk jadi tidak paham betapa padat meratapnya perjalanan Bekasi-Bandung. Begitu bangun sudah di gerbang rumah Kakak Ipar di Viaduct dekat Braga.  Begitu buka mata lihat jam… jam 12!! Ampuunn… jadi perjalanan tadi 2,5 jam?? Katanya padat meratap sampai tol Sadang. Ini salah satu alasan malas berakhir pekan panjang di Bandung kalau bukan karena ada undangan. Sampai rumah, tidur dilanjutkan!

(more…)

Sahabatmu Bukan Sahabatku, atau Kamu Bukan Sahabatku?

28 Comments »

December 7th, 2009 Posted 2:42 pm

Beberapa waktu lagi aku baru saja “berantem” dengan seorang sahabat. Paling tidak, sampai detik berantem itu, aku masih menganggap kami bersahabat. Kenapa aku menggunakan kata “berantem”? Untuk menunjukkan bahwa yang diributkan memang kemudian jadi gak mutu. Urusan penghargaan sebagai sahabat jadi terkubur dengan prinsip “urusan masing-masing”.

Semua manusia pasti punya jejaring sahabat sendiri kan? Tidak mesti seorang sahabat mengenal sahabat lain dari sahabatnya itu. Seandainya si Sahabat adalah si X, lalu aku si Y, dan sahabatnya si Sahabat adalah si Z, maka aku sebagai si Y tidak mesti kenal dengan si Z meskipun ada banyak alasan untuk si Y kenal dengan si Z bahkan juga bersahabat. Karena “terminalnya” adalah si X, maka si X bersahabat dengan si Y dan si Z. Sudah cukup jelas kan, ya?

(more…)

Beri Satu Lagi “Nyawa”

4 Comments »

February 22nd, 2009 Posted 10:48 pm

Seorang Romo semalam menelepon. “Lin, ada kabar baik buatmu.”
“Apa itu, Romo?”
“Ada seseorang menghubungi saya, dia bilang Ibunya terkesan dengan tulisanmu. Ibunya mau ketemu kamu. Mereka tinggal di Bandung. “ Hmm… Bandung lagi ya…
“Tulisan yang mana, Mo?”
“Saya gak tau. Boleh saya berikan nomor hpmu?”
“Boleh sekali, Mo. Romo ada nomor hpnya orang itu, biar aku yang hubungi.”
“Wis, ndak pa-pa. Nanti biar mereka yang hubungi ya.”

Lalu aku segera membuka Facebook, kantorku. Ternyata di situ sudah ada permintaan teman dari orang yang dimaksud. Kutinggalkan pesan bahwa aku baru saja dihubungi Romo, mengatakan bahwa Ibunya ingin ketemu aku. Kulihat dia sedang online, langsung kusapa. Kuminta nomor teleponnya, supaya lebih leluasa berbincang lewat telepon.
(more…)

Valentine, Bila Kau Mau Berbagi

3 Comments »

February 18th, 2009 Posted 3:23 pm

Aku gak pernah ngerayain Valentine sama Si Ayah, terhitung sejak pacaran berarti sudah sekitar 7 tahun. Malah pernah kira-kira setahun atau dua tahun lalu aku sampai nangis-nangis minta merayakan Valentine tapi gak juga kesampaian. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk gak berharap lagi romantis-romantisan sama pasangan. Valentine kan bukan cuma milik yang berpasangan, tapi juga berbagi kasih dengan siapa saja.

Lalu datanglah tawaran itu, tepat di hari Valentine, aku diminta untuk jadi pembicara di 2 tempat dengan jadwal yang berurutan di Bandung. Wah, anugerah besar nih! Kastanya sekarang sudah jadi pembicara. Biasa sebagai jurnalis memburu narasumber sekarang jadi narasumber. Pengalaman baru ketimbang cuma merayakan Valentine dengan sebatang coklat dan setangkai bunga. Sempat juga terbersit di benakku, apa sih makna Valentine buatku?

(more…)

Ngasong @ Paulus & Gandarusa, Bandung, 24-25 Jan 08

No Comments »

January 27th, 2009 Posted 9:13 am

Intensi kali ini membantu OMK Sarimawartoba mengumpulkan dana untuk kemping bersama Uskup “Unity in Diversity” tgl 7-9 Maret 2008 di Ranca Upas.

Proficiat! Terima kasih banyak atas kerja kerasnya untuk menjual bukuku. Aku senang dengan sebutan ngasong, kenapa? Karna literally kita menjajakan buku, jemput bola ke umat. Itu jauh lebih baik ketimbang menunggu umat yang datang menghampiri.

(more…)

Rumah Sendiri, Kamar Sebelah

No Comments »

November 27th, 2008 Posted 11:24 am

Beberapa bulan lalu.

Waktu versi e-book “My Life is An Open Book” beredar, saya omong-omong personal dengan seorang teman yang juga aktivis Panitia Pembangunan Gereja di tempatku.

“Pak, gimana ya. Aku mau bantu PPG. Klo nanti edisi cetak bukuku terbit, kukasi mereka jualan trus keuntungannya boleh diambil semua gimana?”

“Wah, bagus banget niatmu. Tapi saran saya sih, ga usah semua, bagi dua aja. Kan kasian kamu yang nulis masa ga dapet apa-apa.”

“Hm… gitu ya. Nanti kupikirin lagi deh.”

Hanya segitu. Wong bukunya aja masih di negeri antah berantah.

Aku punya niat begitu karena beberapa teman ngeledek, “Bantuin cari dana Paroki Pasang Surut yang jauh heboh, bantuin Stasi sendiri kok ga?”

Hm… ya bener juga. Kenapa ga?

(more…)