Posts Tagged ‘Curhat’

Sahabatmu Bukan Sahabatku, atau Kamu Bukan Sahabatku?

28 Comments »

December 7th, 2009 Posted 2:42 pm

Beberapa waktu lagi aku baru saja “berantem” dengan seorang sahabat. Paling tidak, sampai detik berantem itu, aku masih menganggap kami bersahabat. Kenapa aku menggunakan kata “berantem”? Untuk menunjukkan bahwa yang diributkan memang kemudian jadi gak mutu. Urusan penghargaan sebagai sahabat jadi terkubur dengan prinsip “urusan masing-masing”.

Semua manusia pasti punya jejaring sahabat sendiri kan? Tidak mesti seorang sahabat mengenal sahabat lain dari sahabatnya itu. Seandainya si Sahabat adalah si X, lalu aku si Y, dan sahabatnya si Sahabat adalah si Z, maka aku sebagai si Y tidak mesti kenal dengan si Z meskipun ada banyak alasan untuk si Y kenal dengan si Z bahkan juga bersahabat. Karena “terminalnya” adalah si X, maka si X bersahabat dengan si Y dan si Z. Sudah cukup jelas kan, ya?

(more…)

Pengasingan

8 Comments »

November 18th, 2009 Posted 9:42 pm

Sebuah pengasingan
Entah sebuah kegiatan
Atau sebuah keadaan
Tidak menjamin keterasingan
Dan ketenangan
Justru jadi keriuhan
Yang memuakkan

Hujan di Yogya

4 Comments »

November 18th, 2009 Posted 9:34 pm

Yogya basah
Hujan, bukan gerimis

Tetesnya tidak mampu mengalahkan tangis
Yang kering dan basah menjadi siklus

Tak mampu membasuh luka
Yang justru makin lebar menganga

Tawa yang harusnya di sini
Menjadi lara sendiri

Ngapain ke Yogya?

8 Comments »

November 18th, 2009 Posted 8:35 pm

Banyak sekali yang bertanya, “Ngapain ke Yogya?”
Jawabanku selalu sama, “Mengasingkan diri. Cari oksigen.”

Tak penting alasan dan tujuanku ke kota ini. Yang menarik adalah berbagai dugaan yang muncul dan khotbah yang berkumandang.

“Pulanglah, kamu bertanggung jawab atas anak-anakmu.”
Betapapun piciknya ide bahwa seorang Ibu yang bertanggung jawab tidak boleh meninggalkan anaknya dan anggapan jadi Ibu yang sinting karena membiarkan Si Ayah mengurus dan membawa serta anak-anak ke manapun ia pergi.

“Pergi tidak menyelesaikan masalah.”
Hanya orang dungu yang sadar bahwa pergi dari rumah adalah bentuk penyelesaian masalah.

“Kamu menemui seseorang?”
Kenapa itu jadi penting untuk dibahas? Ya atau tidak, seseorang butuh sahabat. Apakah itu masalah?

Kenapa masih saja ada patriarkisme antara istri dan suami?
Apakah luka seorang suami berbeda dengan seorang istri?
Apakah seorang istri tidak boleh marah dan harus kerap bersabar?

Kalau iya, aku minta maaf sudah mengecewakanmu.
Bahkan orang yang luka dan kesepian pun tak punya kemerdekaan untuk menangis di bahu sahabatnya.

Macet Bukan Karena Si Komo Lewat

8 Comments »

October 15th, 2009 Posted 12:24 am

Pagi ini, sebagai bagian dari rutinitas, aku berangkat menuju sekolah anak-anak. Di sebuah bundaran sebelum gerbang besar kompleks, para pengendara terlihat semrawut tak karuan. Bingung mau ambil jalan yang mana. Ternyata, ada sebuah acara bernuansa keagamaan di klub olah raga situ. Aku berusaha mengikuti petunjuk dari petugas yang ada. Bukan marka jalan yang dipasang, malah beberapa petugas di tiap persimpangan atau belokan yang dipasang. Pagar betis? Gak tau juga. Makin lama aku mulai disorientasi. Ini jalannya lewat mana sih? Bisa runyam urusannya nih. Terlambat sampai sekolah, siap-siap diperenguti Si Bungsu deh!

Tuh, bener kan! Baru mbatin langsung kejadian. Maceee…ttt! Tapi bukan karena Si Komo lewat. Siap-siap diperenguti sampe sekolah kalau begini urusannya. Kulihat jam tanganku, jam 9.15. Mana mungkin dalam 15 menit bisa menempuh jarak 3 km dalam keadaan kayak gini?

(more…)

Telepon: Nyambung dan Salah Sambung

21 Comments »

October 14th, 2009 Posted 1:40 am

Ragu-ragu kuputar nomor teleponmu sambil mencari-cari alasan yang tepat mengapa meneleponmu. Belum sempat aku menemukan alasan – setelah tiga kali bunyi “tut” – suaramu jernih di seberang sana berkata, “Halo…” Mati aku! Kenapa cepat sekali kamu angkat teleponnya? Aku belum menemukan alasannya. Duh!

“Ya, halo. Ini Kamu kan?”
“Ya. Ini siapa?” Kamu pasti bingung sebingung aku di sini.
“Ini Aku…” Sempat-sempatnya aku batuk.
“Kamu? Tumben telepon? Ada apa?” Tumben? Ini pertama kalinya bukan?? Ada apa? Itulah yang sedang kucari tahu! Biarlah kalau aku tampak dungu saat ini.
Just wanna say hi… Kamu sudah sembuh? Eh, ganggu gak?” Terserah kamu mau menangkap suaraku yang grogi atau tidak.
“Gak, lagi baca koran.” Kamu seketika berisik dengan suratmu yang senada dengan berita di koran.

(more…)

Pertemuan Tiga Menit

12 Comments »

October 14th, 2009 Posted 1:30 am

Tergesa aku menuju lokasi rendezvous kita
Aku terlambat
Sudah terbuang waktu yang sempit itu
Baru pertemuan pertama sudah terlambat?
Perempuan macam apa aku ini?
Pasti kamu sudah duduk manis di kedai itu

Akhirnya sampai juga
Bergegas memarkir mobil
Berjalan dengan langkah lebar-lebar
Menjaga agar napasku tidak tersengal

(more…)

Tags: ,
Posted in Pertemuan Tiga Menit

Do I Know You?

4 Comments »

August 11th, 2009 Posted 7:43 am

Beberapa hari lalu, aku menerima sebuah lelucon di inbox-ku. Sebuah lelucon yang sebetulnya sungguh lucu. Mungkin karena aku sudah baca sebelumnya, jadi tidak terlalu lucu lagi buatku. Ditambah perasaan gundah gulana, marah, sakit hati dan segala rupa yang campur aduk jadi satu akibat menemukan dua tulisanku diobrak-abrik orang, sungguh aku tidak bisa tersenyum apalagi cengengesan seperti biasa. Tulisan yang kubuat dengan kesungguhan hati di tengah keributan Si Sulung dan Si Bungsu diubah begitu saja apalagi seolah-olah menjadi “miliknya”.

Seorang teman yang berniat menghibur malah aku tegur dengan kelayakan sebuah pengutipan, “Cantumkan sumbernya.” Sialnya, dari sekian banyak penerima pesan itu, tak satupun kukenal yang tentunya juga tidak kenal aku dong. Sontak mereka marah karena aku dianggap berlebihan, hiperbolik, lebay, merasa “sok ngetop” dan sebagainya.

(more…)

Mental Pendidikan Plagiat

10 Comments »

August 6th, 2009 Posted 7:52 pm

Karena sudah Surat Permohonan Maaf yang layak dimuat di http://lensadarbi.blogspot.com/2009/08/surat-untuk-ibu-g-lini-hanafiah_15.html, maka atrikel ini saya edit.

Siang tadi, iseng-iseng aku buka www.copyscape.com. Sebuah layanan situs yang bisa mendeteksi apakah blog kita dikopi orang. Biasanya, hasil yang keluar ya dari blogku juga atau dari www.yuknulis.com, blog yang aku bangun untuk mewadahi teman-teman penulis pemula. Begitu keluar hasilnya dari blog lain, aku pikir memang “dipinjam”, karena aku sering mengalami begitu. Isi di-copy paste. Utuh, tidak kurang tidak lebih. Biasanya, setelah aku beri komentar, mereka minta ijin baik-baik. Lagipula, mereka tidak membubuhkan nama mereka seolah-olah itu adalah karya mereka.

Tapi ini berbeda. Judul aslinya “Aku Tidak Bodoh, Ma” diganti dengan “Hari Anak Nasional 2009″, gambar Si Sulung dan Si Bungsu diganti dengan clipart seorang gadis kecil berjilbab, lalu diberi nama penulisnya “Adie Adrie“. Seketika kepalaku terasa panas, badan gemetar menahan emosi. Kenapa begini?

(more…)

Menjadi Besar

No Comments »

July 18th, 2009 Posted 1:00 am

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan kesungguhan hati pasti akan tumbuh besar. Ya karyanya, ya orangnya, ya semuanya. Tertiup angin yang juga makin kencang.

Duluuu… waktu baru kaget karena tulisanku banyak dibaca orang dan dikomentari macam-macam, aku sering mati gaya. Mulai dari yang muji setinggi langit sampai yang mencaci-maki semua ada. Akhirnya aku curhat pada seorang sahabat, Si Seleb. Aku telpon dia. Untung saat itu dia gak sibuk.

“Deeaarr… gw beteee…!” kata “halo”-nya kusambar begitu saja.
“Kenapa?”
“Capek. Banyak orang yang gue gak kenal tapi komennya miring…”
“Lin, tau gak tanda-tanda jadi Seleb?”
“Gak. Emang apa tandanya?” Mana kutahu tanda-tanda jadi Seleb? Ngerasain aja belum pernah.
“Tandanya, kalau lo ga kenal sama seseorang tapi dia bisa ngomongin yang jelek tentang lo. Selamat, lo udah jadi Seleb dan populer!” Tawa ngakaknya terdengar keras sekali.
“Kenapa begitu?”
“Ya iya lah, dear. Lo gak kenal dia, dia tau lo, malah bisa komen miring lagi. Berarti lo populer kan?”
Hm… bener juga…
Dari mana orang-orang itu tahu tulisan-tulisanku?
Kenapa dibaca? Pasti karena tertarik kan?
Hmm…

(more…)

Tags: ,
Posted in Menjadi Besar

Ngalor-ngidul Dini Hari

No Comments »

July 14th, 2009 Posted 1:36 am

Ketika aku menulis ini, ada sebuah jendela YM yang terbuka. Aku menulis sambil chatting dengan seorang teman lama.

Ingatanku mundur ke 10 tahun lalu, jaman kuliah dulu. Kami satu teater kampus dulu. Aku yang tidak bisa terikat pada 1 organisasi secara terus menerus tentu saja bak kutu loncat ke sana ke mari. Aku tidak bersahabat dengannya. Hanya sebatas junior-senior di teater kampus. Cuma itu.

Malam ini jadi istimewa buatku. Sejak beberapa hari lalu, ada seorang kawan lain yang menyatakan, “Kamu sekarang TOP MARKOTOP.” Apa maksudnya? Aku biasa aja. Semua yang aku lakukan gak ada yang istimewa. Bukan hal yang patut dibanggakan. Semua masih benih. Masih cita-cita. Pingin punya penerbitan sendiri, ngumpulin temen-temen yang ingin belajar nulis. Apa istimewanya? Buku karyaku juga baru dua. Jauh dibanding Andrea Hirata, Jenar, Ayu Utami, Dee, dsb. “Rumah” Yuk Nulis! yang aku bikin juga masih batita, belum menghasilkan penulis-penulis bestseller. Bahkan teman-teman juga baru satu orang yang bikin e-book dengan jerih payahnya sendiri. Di mana istimewanya?

(more…)

Pokoknya, Saya Gak Mau Tahu!

No Comments »

May 18th, 2009 Posted 7:42 pm

Dua minggu ini, kata-kata itu begitu populer di telingaku. Berawal niat baik membantu pembuatan buku kenangan sekolah Si Sulung, alhasil malah bersitegang dengan seorang Ibu dari Sie Dana, Ny. Gak Mau Tau. Entah gimana, Ny. Gak Mau Tauyakin betul kalau dirinya memiliki posisi yang lebih tinggi dari Sie-sie lainnya seperti Penanggung Jawab Buku Kenangan.

Maaf, kalau pengalaman berorganisasi sejak SMP ditambah pengalaman kerja selama 13 tahun ternyata membuatku jadi keminter atau sok tau. Yang aku tahu ya itu, bukan yang selama ini terjadi dalam proses produksi buku kenangan ini. Maklumlah, aku kan nyaris gak pernah nongol di sekolah. Jemput di menit terakhir supaya tidak berjubel dengan para Ibu dan para Mbak lainnya. Tiba-tiba muncul, menerapkan aturan a la kantoran dan institusi resmi lainnya. Siapa yang tidak kaget? Apalagi bagi Ny. Gak Mau Tahu.

(more…)