Posts Tagged ‘Doa’
Ungkapan Cinta untuk Bapa Uskup
December 27th, 2008 Posted 6:58 pm
Sabtu, 27 Desember 2008, Bapa Uskup genap berusia 59 tahun.
Ketika aku sedang menunggui Mama Mertua di Rumah Sakit, Bapa Uskup kirim SMS, “Lini, besok datang ke ultahku ya, ada misa pagi di kapel.”
Wooooowwww… seperti anak kecil aku melonjak kegirangan. Mimpi apa diundang ke ultah orang sepenting Bapa Uskup?
Jam 7 kurang aku dan Si Ayah tiba di Green House. Beberapa orang sudah datang. Misa di kapel mungil itu penuh sesak. Diikuti setidaknya 20 orang. Intensi misa dipersembahkan untuk ultah Bapa Uskup sekaligus pesta Santo Yohannes sebagai santo pelindung Bapa Uskup.
Tags: Bandung, Doa, Kasih, Sahabat, Si Ayah, Syukur, Ulang Tahun
Posted in Ungkapan Cinta untuk Bapa Uskup
Kasih Sayang Menang!
December 22nd, 2008 Posted 6:57 pm
Mendengar kata “Ibu” yang terbersit di benakku adalah sosok perempuan yang hatinya bagai sungai kasih sayang, mengaliri kehidupan anak-anaknya tanpa kenal musim. Rela berkorban melakukan apa saja bahkan melupakan dirinya sendiri demi anak-anaknya sebagai representasi jiwanya.
Wah ideal betul sosok Ibu bagiku? Aku menitikberatkan pada kasih sayang, tak perlu menyebut para Ibu yang hobi ngomel, pelupa, kalau belanja lama sekali, masakannya tidak enak, cerewet, terlalu protektif, dan sebagainya. Menjadi cukup manusiawi kan?
Dalam konteks Ibu yang penuh kasih, mengingatkan aku pada sosok 4 Ibu yang menjadi bagian penting dalam hidupku. Siapa itu?
Tags: Doa, Kasih, Mama Mertua, Sahabat, Si Bungsu, Si Sulung, Syukur
Posted in Kasih Sayang Menang!
Sahabat, di mana kau bersembunyi?
June 16th, 2008 Posted 1:00 am
Saya memanfaatkan fasilitas internet untuk mencari segala informasi tentangnya. Akhirnya, saya mendapatinya di sebuah aplikasi social networking yang sedang tren. Hampir semua aplikasi social networking yang dia miliki berisi deretan nama yang panjang. Saya hanya berharap orang ini tidak sebatas menerima friend request saya, tapi kami bisa kontak langsung. Untuk lebih meyakinkan, saya bubuhi juga “suha!” salam khas lembaga kesenian itu.
Ternyata sambutannya luar biasa. Orang ini langsung mengirim private message. Kami pun mulai kontak. Setidaknya, banyak anggota lain lembaga kesenian itu yang juga senang dengan adanya kontak kami dengannya.
Sejak itu kami rajin chatting atau saling membalas postingan di milis bahkan saling telepon. Tak cukup lima menit berbincang dengannya di telepon. Makanya semua nomor pribadinya ada di saya. Saya belum pernah bertemu muka. Selang beberapa hari saja, kami sudah akrab. Bahkan panggilan “Mas” tidak lagi saya gunakan. Kami mulai sering curhat. Malah justru dia yang lebih sering curhat seputar pekerjaannya.
Saya mulai tersanjung. Dicurhati orang sama saja dengan dipercaya orang. Lama kelamaan curhatnya mulai makin serius. Kadang urusan karirnya juga diceritakan. Bukan lagi curhat, tapi sudah mulai minta pendapat. Saya yang suka ceplas-ceplos enak saja melontarkan pandangan-pandangan saya. Anehnya, dia lebih sering memikirkan pemikiran saya yang memang jujur tapi kurang pujian malah cenderung memberi masukan atau kritik. Saya sempat merasa serba salah. Pastilah dari deretan panjang nama yang ada di friend list-nya jauh lebih berkompeten dari saya. Tapi kenapa dia lebih memilih saya, keranjang sampah sekaligus pemberi komentar?
“Lo, kan punya temen banyak, knapa sih gw yang lo mintain pendapat? Pendapat gw kan aneh, ga banyak orang yang bisa dengan mudah terima pendapat gw.”
“Lin, kadang gw bingung mau cerita sama siapa. Emang friend list gw panjang, tapi itu temen seneng-seneng doang. Klo gw susah, ga ada yang bisa dengerin…” Nada suaranya sendu sekali.
Saya trenyuh dengarnya. Bagaimana bisa orang yang dikelilingi banyak sekali yang mengaku “teman” tapi bersembunyi ketika kita membutuhkannya? Lalu, ke mana mereka bersembunyi?
Saya bukan orang yang banyak sekali teman apalagi populer. Saya banyak kenal orang, tapi tidak banyak yang kenal saya. Maka saya agak sulit membayangkan posisi sahabat saya itu. Sahabat saya itu orang yang rendah hati dan baik sekali. Jadi saya sungguh kasihan mendengar ia tak punya teman curhat.
Ketika beberapa hari lalu ia menceritakan sebuah program talkshow, saya mengusulkan, “Buat programnya bahwa lo adalah pendengar setia. Tempat di mana narasumber bisa bercerita apa saja. Lo gak boleh komentar. Lo harus jadi shoulder to cry on narasumber. Jangan buat narasumber kesepian seperti yang lo rasain selama ini.”
Kenyataan ini membuat saya makin sadar. Siapapun dia – selebritis, rohaniwan, politisi – memiliki sisi humanis yang kesepian dan membutuhkan sahabat. Teman yang sungguh ada ketika dia membutuhkan kita. Sahabat yang memperlakukannya hanya sebagai pribadi, bukan status dan jabatan. Di mana dia bisa menjadi dirinya penuh, utuh tak perlu jaim.
Apakah saya sudah menjadi sahabat setia orang lain? Apakah saya sudah memperlakukan orang lain seperti pribadi yang utuh tanpa tuntutan status dan jabatan?
Setidaknya, saya sangat bersyukur punya segelintir teman yang ada ketika saya susah. Segelintir orang yang memperlakukan saya apa adanya. Dan itu membuat saya sangat bahagia…
Selamat ulang tahun, dear AAA. Semoga Tuhan memberikan berkah dan kasihNya. Semoga semakin sedalam samudra dan seluas angkasa. Amin…
Tags: Doa, Kasih, Sahabat, Syukur
Posted in Sahabat di mana kau bersembunyi?
Album Jadul Duo Chicha & Adi
May 15th, 2008 Posted 2:02 pm
Liat sana-sini, eh yang menarik mata gw bukan si kaset yang dicari2, malah… Album jadul duo Chicha & Adi. Buseett… masih ada aja itu kaset? Antara kepingin dan ga prioritas, maka dengan berat hati ga jadi juga gw ambil itu kaset. padahal cuman ada 1 biji doang!! padahal pingin juga bernostalgila jaman gw SD dengerin itu mulu. dari tampilannya sih kyk udah direpro. kertasnya masih bersih n mengilat. fotonya juga cukup tajam. ga tau kualitas suaranya. ga usah bahasin kualitas suara kaleee… mengingat itu album 25 th lalu bukan?
“Yla, ini kan Papa Adi yang di Idola Cilik,” kata gw ke Yla si Sulung.
“Masa, Bu? Papa Adi kan udah tua? Ini kaya temen Yla umurnya.”
“Ya memang. Dulu ibu dengerin ini jaman masih SD.”
Jadi ingat acara tivi Idola Cilik kesukaan anak2. Penyanyinya cukup berkualitas baik. Cuman memang sudah menghindari gaya anak2 yang notabene imitator yang baik untuk ga ikut2an gaya penyanyi dewasa idolanya.
Tapi itu masih bisa saya toleransi. Yang sulit ditolerir itu pemilihan lagunya. Apa sedemikian sulit mencari lagu untuk anak2? Ketika para finalis menyanyikan “Somewhere Over the Rainbow”, “Sang Bango”, “Do Re Mi”, lagu2nya Sherina n Tasya atau yang sejenisnya, saya jadi berpikir, kenapa sulit membuat lagu anak2 jaman sekarang? Kasian anak2 sekarang dijejali lagu2 cinta.
Dulu masih ada lagu2 ciptaan Papa T. Bob. meskipun saya tidak suka aransemennya, tapi dibandingkan sekarang masih jauh lebih mending lah.
Semoga blantika musik anak2 kembali ke masa jayanya dulu…
Tags: Doa, Si Sulung
Posted in Album Jadul Duo Chicha & Adi
Antara Pilihan dan Titik Balik
April 26th, 2008 Posted 3:19 pm
Penilaian saya gugur begitu saya berbincang akrab dengan bapak penjual gorengan ini di pertemuan terakhir saya. Saya terhenyak. Ternyata, berjualan gorengan itu berhasil membawa ketiga anaknya duduk di bangku kuliah. Luar biasa! Ia bukan saja mengubah hidupnya tapi juga seluruh keluarganya. Dinilai dari luar ia memang pedagang penganan gorengan biasa, siapa nyana ia mampu menyekolahkan ketiga anaknya sampai tinggi dan tidak pernah berhutang.
***
Tetapi begitu bersinggungan dengan pertanyaan “Apa dan siapa kamu?” umumnya jawaban yang keluar juga seputar identitas tersebut di atas. Jarang orang menjawab pertanyaan tersebut dengan keterangan seputar karakter dan personaliti.
Bicara soal sosok pribadi seseorang tentu tidak lepas dengan konteks perubahan. Semua orang berubah, sesedikit apapun itu. Hampir tidak mungkin orang tidak berubah. Orang berubah seiring dengan segala informasi yang didapat, kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya, kondisi keluarga atau orang-orang di sekelilingnya, kultur, dan respon intuitif atas semua itu.
Seseorang yang berasal dari Sumatera dan lama tinggal di tanah Jawa sedikit banyak akan mempengaruhi selera rasa makanan, tutur kata, gerak-gerik, dan sebagainya. Faktanya, kemampuan masing-masing orang untuk berhadapan dengan suatu kondisi yang kompleks itu berbeda-beda. Ada yang dengan cepat beradaptasi, ada yang lambat.
Bicara tentang perubahan hidup biasanya kita bicara tentang nasib. Bagi sebagian orang, nasib itu sudah suratan takdir, tidak bisa diubah jadi ya terima saja. Jika hidupnya melarat, rasanya mustahil akan bisa jadi kaya raya.
Orang-orang macam ini cenderung untuk pasif dan pesimis pada hidupnya. Mungkin mereka akan bersikeras menyatakan bahwa mereka sudah pontang-panting mengubah hidup tapi tetap saja tidak bisa. Jika ditelaah lebih jauh, tentu ada sebab kenapa seseorang yang merasa sudah berusaha tapi tidak berhasil. Sangat banyak contoh perjuangan orang-orang untuk mengubah hidupnya.
Ada seorang kawan yang mengeluh di usia tiga puluhnya ia belum juga menemukan jodoh. Beberapa kali ia berkeluh kesah tentang hidupnya pada saya. Saya hanya menjadi pendengar yang baik karena saya merasa tidak berkompeten memberikan nasehat atau wejangan. Setelah saya merasa cukup untuk dijadikan “tempat sampah” uneg-unegnya, saya lalu menyampaikan bahwa bagaimana dia akan mendapatkan jodoh sementara hidupnya dipenuhi dengan berbagai keluhan? Rasanya sulit mendekati seorang gadis yang wajahnya juga pas-pasan dan kepribadian yang gemar mengeluh. Mungkin saja para perjaka akan takut duluan sebelum mendekat akibat segala keluhannya itu.
Saya lalu menyarankan agar ia mengubah kebiasaan mengeluhnya. Pada dasarnya, setiap manusia mencari pasangan bukan semata penampilan fisik tetapi juga bagaimana kita membuat pasangan merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.
***
Kelompok ini bukan ingin mengalahkan Kausa Prima, Yang Maha Kuasa. Mereka bukan ingin menjadi tukang sihir yang bisa mengubah segala sesuatu, bukan juga ingin jadi pahlawan super yang mengubah dunia. Mereka hanya yakin bahwa hidup juga patut diperjuangkan, bahwa Tuhan tidak begitu saja menentukan garis hidup semua orang apapun yang kita lakukan sejak lahir sampai tiba ajalnya. Mereka lebih aktif terhadap hidup. Tidak ada yang tidak mungkin. There is a will, there is a way. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Bahwa ada satu-dua hal yang tidak tercapai, itu bukan berarti bahwa mereka gagal lalu menyerah. Ora et labora, berdoa dan berusaha. Berdoa saja tidak cukup, dan sebaliknya. Itu sama saja artinya dengan memakai alas kaki hanya sebelah, bukan sepasang.
Perbedaan mendasar pada dua kelompok ini terletak pada semangat juang terhadap hidup, ketetapan hati, dan rasa syukur. Hidup selalu bersinggungan dengan ketidakpastian dan pilihan beserta resikonya. Apakah hanya menerima bahkan mengeluhkan saja apapun yang sedang terjadi atau bertekad untuk mengubah hidup ke arah yang lebih baik dan menjalani titik balik dalam hidupnya.
Life is a matter of choosing. Hidup adalah pilihan. Pilihan tidak lepas dari berbagai resiko yang mengikutinya, baik yang sudah dipertimbangkan maupun kendala yang terjadi kemudian. Kesiapan mental dan ketetapan hati sangat dibutuhkan untuk mengubah hidup.
Untuk mengubah hidup, biasanya akan terjadi pengambilan keputusan penting dalam hidupnya dan berpengaruh besar. Mungkin konteksnya bisa penting atau sepele, mulai dari menepati janji, melakukan diet, berhenti kebiasaan merokok sampai keinginan untuk hidup sejahtera.
Dengan diambilnya keputusan itu, lalu kita akan mulai melaksanakan sesuatu yang “baru”. Kebiasaan baru ini tentu sangat sulit untuk dijalankan. Itu sebabnya semangat juang sangat berperan. Orang yang semangat juangnya rendah mungkin akan menyerah dan kembali ke “zona nyaman” sebelumnya. Hidup di zona nyaman akan jauh lebih menyenangkan dan lebih mudah diterka. Menempati zona baru yang serba tidak pasti dan penuh resiko sangat menantang dan diperlukan keberanian besar. Kita harus siap dengan apapun segala resiko terburuk sekalipun.
Seberapa besar keberanian kita dipengaruhi oleh seberapa ingin kita mengubah hidup. Terkadang, dibutuhkan perubahan seketika. Dalam konteks menghentikan kebiasaan buruk misalnya – merokok, diet, narkoba – tidak ada istilah pelan-pelan atau sedikit demi sedikit. Begitu memutuskan untuk berhenti, tepatilah janji yang telah kita buat sendiri itu. Pernah ada lelucon “jika seseorang tidak mampu lagi menepati janji dengan orang lain, maka ia akan menepati janji pada dirinya sendiri”.
Tidak ada jalan menuju perubahan yang mulus-mulus saja. Pasti jalannya berliku, terjal, berbatu, membuat kita berkali-kali terjatuh dan bangkit. Bukan hanya beberapa, mungkin juga ratusan bahkan ribuan kali. Yang penting, bukan berapa kali kita jatuh tetapi berapa kali kita bangkit dan meneruskan hingga ke tujuan.
Proses ini juga menyediakan pilihan fight or fly, berjuang terus atau meninggalkannya begitu saja. Ketika kita meninggalkan segala yang kita miliki, itu bukan sesuatu yang salah, itu adalah pilihan. Hidup tidak mengenal kata “harus”. Tidak ada keharusan. Ketika kita “harus” rapat dengan bos yang menyebalkan, itu bukan sebuah keharusan tetapi kita memilih untuk meng-“harus”-kan diri kita.
Selain itu, rasa syukur akan memperingan perjalanan menuju perubahan tersebut. Jika terus menghitung berapa batu yang menghalangi ketimbang berapa berkah yang kita terima sepanjang perjalanan, tentu akan membuat perjalanan serasa tak berujung. Seperti halnya menghitung gelas yang sudah terisi separuh atau baru terisi separuh
Perubahan ibarat metamorfosa. Ketika kita menjadi seekor ulat yang sering membuat gatal dan kita memperjuangkan diri untuk menjadi seekor kupu-kupu yang cantik, masa menjadi kepompong adalah penantian panjang. Mungkin saja kita tidak sabar dan mengambil jalan pintas, maka yakinlah bahwa kupu-kupu yang cantik akan berubah tepat pada waktunya. Seseorang yang sudah menjalani titik baliknya, tidak akan pernah sama lagi.
Mengubah hidup bukan bicara termin waktu tetapi ketetapan hati dan semangat juang yang luar biasa. Bagaimana kita bersedia untuk memasuki area yang sama sekali baru dan tinggal di suasana jungkir-balik sampai tiba di tempat yang luar biasa mengagumkan.
Itu hanya sebuah pilihan. Pola pikir yang kita pegang teguh.
We are the architect of our lives…
Tags: Doa, Luka Batin, Syukur
Posted in Antara Pilihan dan Titik Balik
Save Our Traditions
January 11th, 2008 Posted 4:44 pm
Lebih dari sekadar budaya lokal, tradisi keluarga saya juga rasanya tidak ada. Tidak satupun yang membuat suatu momen istimewa terasa kurang lengkap jika tidak melakukan tradisi.
Saya sangat beruntung memiliki Mama Mertua yang masih tinggal di Purbalingga. Keluarga besar Oey Keng Siong (KB-OKS) masih memiliki rumah di sana, terutama rumah induk. Syukurlah, anak-anakku jadi punya kampung dan bisa mudik.
Terlepas dari masalah mudik — masalah yang membuat banyak orang kesal tapi ya tetap menjalankannya — sebuah tradisi keluarga sebetulnya bisa dilakukan di rumah sendiri juga. Kebetulan tradisi pesta natal dan pesta malam tahun baru KB-OKS selalu diadakan di sewan (teras rumah induk OKS yang kebetulan ukurannya besar), maka jadilah tradisi mudik.
Biasanya setiap tanggal 29 Desember Pesta Natal digelar. Anak-anak maju ke depan. Menyanyi, menari, atau apa saja. Menerima hadiah sambil mengucapkan, “Terima kasih Sinterklas…”
Buat para Engkong (Opa) dan Emak (Oma) juga tidak ketinggalan. Yang cucunya belum bisa atau tidak mau tampil, harus diwakilkan Emak atau Mamanya. Kadang malah justru para Emak itulah yang tampil.
Bagi pasutri baru atau sudah memasuki tahap serius pacaran juga ada acaranya sendiri. Biasanya “interogasi” dilancarkan. Tujuannya: tes mental! Pokoknya dijamin yang diinterogasi mukanya akan merah padam. Hahaha…
Pesta Malam Tahun Baru biasanya digelar mulai jam 22.00 sampai jam 02.00 pagi! Bakar panganan (jagung, sosis, dll), menyalakan kembang api, minum sekoteng. Tapi yang paling penting, pada jam 23.45 kita selalu menyanyikan lagu Auld Lang Syne dan doa bersama. Waktu yang digunakan selalu jam klasik yang berbunyi “Dong… dong…” Bunyi jam itulah yang menandakan tahun baru telah tiba. Anggota KB-OKS tertua dan termuda menyobek kalender (kalender sobek). Baru kemudian salam keliling dimulai.
Soal makan? Ini dia! Beberapa tahun terakhir malah ada seorang sahabat dari sepupu yang ikut-ikut kangen mudik — tepatnya kangen makan! Hidangan berlimpah khas lokal buatan trio koki OKS: Mama Mertua Oey Tjiok Nio, Oey Djiap Nio (kakak Mama Mertua), dan Kho Gin Tjiok (ipar sepupu Mama Mertua) plus Es Brasil Purwokerto. Es Brasil inilah yang paling dicari karena di Jakarta hanya ada di Kelapa Gading. Esnya sendiri seperti es krim tradisional biasa. Tapi namanya dari kampung halaman ya tetap saja ngangeni… Yang juga tidak kalha dicari adalah mendoan plus sambel terasi. Yum…
Ada satu lagi tradisi yang juga masih melekat: saling memberi oleh-oleh. Acara mengepak barang sering tidak akan selesai karena oleh-oleh terus berdatangan dari keluarga yang lain meskipun hanya sebungkus rempeyek atau keripik tempe.
Semua anggota KB-OKS yang akan pulang juga “wajib” pamit ke setiap rumah. Terakhir, semua keluarga akan mengantar ke halaman parkir sebagai tanda perpisahan.
Sebenarnya, sebagian besar anggota KB-OKS tinggal di Jakarta, ada juga yang tinggal di Bandung, Yogya, Bali, dan luar negeri. Bagi yang tinggal di Jakarta, tetap saja jarang ketemu kecuali kalau ada pernikahan. Jadi, pamitan itu bisa juga berarti harfiah bahwa pertemuan baru akan terjadi tahun berikutnya.
Satu hal lagi yang mengesankan dari KB-OKS: setiap sesi pemotretan pesta pernikahan selalu membuat takjub sang fotografer. Betapa tidak, yang ikutan foto bisa lebih dari 50 orang. Pokoknya selalu harus dua kali foto: sisi kanan dan kiri!
Saya sudah mengusulkan, kalau ada fotografer yang tidak takjub, orangnya harus dimasukkan dalam catatan keluarga.
Sampai pesta natal tahun depan…
Tags: Bandung, Doa, Keluarga, Mama Mertua, Oey Keng Siong, Purbalingga, Sahabat, Syukur
Posted in Save Our Traditions
Manners & Friendship
June 27th, 2007 Posted 2:13 pm
Manner (kb.): Cara, gaya, sikap
Behavior (kb.): Kelakuan, tindak tanduk
Yang pertama, “Kita emang bukan teman. Cuma kenal doang.”
Penuh kharisma, pandai bertutur, bahkan dalam hal kritik. Tapi tidak pandai dalam hal menjernihkan keadaan.
Yang kedua, “Kita temenan kan dulu. Sekarang…?”
Pandai menutupi ketidaksukaannya. Jadi kita gak akan tahu sebenarnya kita temannya atau bukan.
Yang ketiga, “Tadinya gw mau deket lo lagi, tapi ga jadi.”
Wah, kalo orang yang ini sih, maaf-maaf, kelebihannya sedikit banget, banyakan kekurangannya. Malah yang ini lebih punya energi untuk memendam masalah selama 9 tahun bahkan baru-baru ini masih aja ngeributin masalah itu. Padahal kita semua yang terlibat udah lupa tuh…
Ketiganya sama: sama-sama menganggap remeh orang lain. Merasa tidak bersalah meskipun tidak disengaja tapi menyakiti orang lain. Kalau kita tidak sengaja menginjak kaki orang pasti orangnya akan kesakitan, “Aduh!” Pastinya kita yang tidak sengaja menginjak juga refleks minta maaf.
Sayang, tidak pada ketiganya.
Mungkin karena mereka tidak merasa bersalah jadi tidak minta maaf. Rasanya mustahil orang yang merasa tidak salah minta maaf. “Lho memang salahku apa? Kenapa harus minta maaf?” Orang yang menginjak dengan sengaja atau tidak, pasti tidak merasa sakit dan tidak merasa salah. Yang tidak sengaja berpikir, “Bukan salah gw. Kan gak sengaja.” Yang memang bermaksud berpikir, “Rasain, itulah upahmu!”
Beruntunglah masih ada orang-orang yang well-mannered dan well-behaved ketika tanpa sengaja menyakiti langsung minta maaf bahkan saat yang tersakiti hanya diam. Orang-orang ini rasanya hampir mustahil dengan sengaja menyakiti, kan?
Bagi semuanya – terutama saya dan Anda – saya hanya bisa bilang, “Kita doain aja… yuuu…kkk…!!”
Tags: Doa, Maaf
Posted in Manners & Friendship









