Posts Tagged ‘Gereja’
Mo Met: Sahabat, Gembala, Endorser
August 14th, 2010 Posted 2:29 am
Jumat, 13 Agustus 2010, jam 22.25.
Baru saja aku hendak mematikan komputer. Ini waktunya untuk tidur. Besok harus siap jam 6 pagi untuk menyiapkan Si Sulung berangkat ke Indonesian Robotics Olympiad (IRO) 2010. Tiba-tiba, ponselku berdering. Tertera “Ratih Tjandra”. Ada apa ya? Sudah lama Ratih tidak meneleponku.
“Ya, Tih?”
“Lin, Romo Slamet meninggal.”
“Hah?? Serius lo??”
“Iya! Ini lagi kroscek ke mana-mana.”
“Belum lama ya, Tih, lu bilang Mo Slamet diangkat jadi Ketua Komisi Kateketik Purwokerto. Belum lama juga gue ketemu dia di rumah duka waktu Tantenya Danny meninggal…”
Meluncurlah berbagai nostalgia kami dengan (alm) Rm. Slamet. Tidak lama, telepon ditutup.
Tags: Doa, Duka, Gereja, Pelayanan
Posted in Mo Met: Sahabat Gembala Endorser
Valentine dan Gereja
February 5th, 2010 Posted 8:31 pm
Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 12, Februari 2010
Gereja tidak merayakan Valentine secara khusus meskipun di banyak Paroki diadakan berbagai acara OMK, KKMK dan sebagainya. Biasanya bertema seputar urusan percintaan. Tapi, seberapa jauh peran Gereja dalam berbagi kasih sayang?
Sejak abad ke-14, perayaan atas wafatnya martir St. Valentinus tanpa sebab yang jelas berubah menjadi perayaan romantisme sepasang kekasih yang diwujudkan dengan saling mengirim pesan cinta. Sejak itu pula perayaan Valentine digambarkan dengan Cupid dan gambar hati.
Itu sebabnya kasih sayang dalam perayaan Valentine dimaknai secara dangkal sebatas percintaan muda-mudi yang cukup diwakilkan lewat sekotak cokelat, setangkai bunga dan sepucuk surat cinta. Nyaris tidak ada perwujudan kasih sayang yang konkret di situ. Padahal, kasih sayang jauh melebihi itu. Kasih sayang bukan monopoli sepasang kekasih. Kasih sayang juga milik pasangan suami-istri, orang tua terhadap anak, anak terhadap orang tua, sesama sahabat, Gereja pada umatnya bahkan bagi mereka yang kurang beruntung. Kasih sayang terbang tinggi menembus segala macam batasan termasuk batasan keyakinan. Kasih sayang adalah kata kerja, bukan kata sifat atau kata benda.
Tags: Gereja, Majalah Kuasa Doa, Valentine
Posted in Valentine dan Gereja
Bandung, Pernikahan
December 22nd, 2009 Posted 5:08 pm
Kamis, 17 Desember 2009. Anak-anak terima rapor. Libur telah tiba. Hore… hore… hore…
Ke Bandung sebenernya sudah tidak masuk kategori berlibur karena ada banyak tujuan. Mulai dari nengok Mama Mertua sampai jadi umat abangan di Keuskupan Bandung, semua bisa. Kalau lepas kangen sama teman-teman di Bandung termasuk liburan ya bisa juga. Yang jelas, sering ke Bandung karena Kakak Ipar di sini maka bebas dari “hotel penuh” dan “ongkos mahal”. Tujuan kali ini adalah undangan pemberkatan nikah kerabat di Gereja St. Laurentius Sukajadi.
Malam itu juga kami harus berangkat karena besok pagi-pagi Si Ayah harus antar Mama Mertua ke tempat syukuran untuk sediain makanan. Berangkat dari rumah jam 9 malam, masuk tol Bekasi Barat jam 9.30. Semua penumpang ngantuk jadi tidak paham betapa padat meratapnya perjalanan Bekasi-Bandung. Begitu bangun sudah di gerbang rumah Kakak Ipar di Viaduct dekat Braga. Begitu buka mata lihat jam… jam 12!! Ampuunn… jadi perjalanan tadi 2,5 jam?? Katanya padat meratap sampai tol Sadang. Ini salah satu alasan malas berakhir pekan panjang di Bandung kalau bukan karena ada undangan. Sampai rumah, tidur dilanjutkan!
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Doa, Gereja, Harapan, Keluarga, Natal, Perjalanan, Purbalingga, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond, Yuk Nulis!
Posted in Bandung Pernikahan
Natal, Selalu Istimewa
November 30th, 2009 Posted 11:14 pm
Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 10, Desember 2009
Natal, selalu menjadi hal sentimentil buatku.
Natal pertamaku tahun 2002
Singkat cerita, saat itu aku baru saja dibaptis. Pengantin baru yang memiliki janin berusia tiga bulan di rahimku. Dengan kondisi mual-dan-muntah-selalu, tidak mungkin aku merasakan Misa Malam Natal. Sejak dulu memang aku suka sekali dengan suasana Natal yang dipenuhi anak-anak. Pilihannya jatuh pada Misa Natal Anak-anak jam 9.00.
Rasa gembiraku lebih mirip anak-anak ketimbang calon ibu. Rasanya kembali ke masa kecil. Melihat banyak sekali anak-anak berbaju merah dengan topi Santa Clause. Menyanyikan lagu Natal anak-anak. Mendengarkan koor anak-anak. Menyaksikan tablo Natal yang dibawakan anak-anak yang ceritanya “memang begitu”. Air mata haru dan senyum gembira jadi satu. Pasti aneh sekali wajahku saat itu dengan perut yang tidak terlalu buncit.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Keluarga, Majalah Kuasa Doa, Natal, Si Ayah, Si Bungsu, Si Ibu, Si Sulung, the De.N.eL.s
Posted in Natal Selalu Istimewa
Tempat Kosong Itu Untukmu
November 12th, 2009 Posted 5:24 pm
Kemarin, aku misa di sebuah tempat yang disebut-sebut sebagai salah satu pusat penyembuhan. Sekadar pingin tahu seperti apakah misa yang konon kabarnya bisa menyembuhkan orang itu. Tempat yang membuat beberapa orang – termasuk orang terdekatku – mengatakan, “Kamu harus ke sana! Cobain deh sekali aja!” Mirisnya, dari semua yang bilang begitu tak satupun bilang, “Nanti kalau aku ke sana, kamu kuajak!” Bahkan, orang terdekatku itu justru rajin cerita setiap pulang dari sana. Bilang aku harus ke sana tapi gak ngajak bahkan malah setiap pulang dari sana rajin cerita. Maksud lu??
Maka, begitu semalam Si Ayah mengajak ke sana – ajakan kedua karena minggu lalu aku lagi ga konsen dan respon diam dianggap tidak mau – ajakan ini langsung aku iyakan dengan pasti. Gak ada intensi khusus untuk didoakan. Setelah melalui perjalanan yang lancar selama tiga jam, kami tiba di tempat yang mewah itu dan umat sudah ramai berkumpul. Masih kurang setengah jam dari jadwal misa. Anak-anak ikut sekolah minggu. Lumayan, bisa misa dengan lebih fokus. Sampai di bangunan yang terletak di atas itu, aku masuk dan masih cukup lengang. Ada tiga tempat kosong di bagian depan di mana kita bisa duduk lesehan dengan nyaman. Masing-masing tempat dengan jok tipis dan bangku kayu yang mirip dingklik memiliki jarak dengan umat di samping maupun depan-belakang. Sehingga teorinya tidak ada yang akan saling bersenggolan. Aku duduk bersampingan dengan Si Ayah. Tempat di depanku kosong. Hanya satu.
Tags: Doa, Gereja, Gerundelan, Luka Batin
Posted in Tempat Kosong Itu Untukmu
Aku Marah di Hadapan Altar-Nya
October 19th, 2009 Posted 9:27 am
Setelah bertahun-tahun tidak lagi rutin ke gereja, hari Minggu kemarin aku ke gereja. Aku bukan orang yang bisa menyambut Ekaristi dalam keadaan marah dan benci. Aku marah, aku benci, aku terluka. Urusan domestik yang tak kunjung terselesaikan selama empat tahun terakhir sungguh mengganggu stabilitas mental dan jiwa yang akhirnya berpengaruh pada ketahanan fisikku. Sakit-sakitan, lebih kurus dari biasanya yang memang sudah kurus, sulit berkonsentrasi.
Si Ayah bukan orang yang religius, jadi tak perlu berharap diajak ke gereja. Setidaknya, ini salah satu bukti bahwa aku migrasi karena “mengikut suami”. Ikut ke mana, wong pergi sendiri? Mungkin memang seharusnya aku pergi sendiri kalau dia tak mau ikut. Biar dia dan anak-anak main di rumah. Berhubung Si Lini ini idealis, ke gereja ya harusnya komplit, akhirnya “mengalah” dan kompak semuanya tinggal di rumah.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Maaf, Si Ayah, Syukur
Posted in Aku Marah di Hadapan Altar-Nya
Ibu, Inilah Anakmu
September 29th, 2009 Posted 12:19 pm
Dimuat di Majalah Kuasa Doa Vol. 4, No. 8, Oktober 2009

Sudah lama aku tidak merasakan kehangatan seorang Ibu. Sudah tujuh tahun sejak aku meninggalkan rumah Mama. Di mulai ketika aku pindah keyakinan dan memilih jodohku sendiri sehingga aku harus meninggalkan rumah. Kangen? Tidak juga. Aku memang anak yang tidak baik dan tidak berbakti sampai aku tidak merasa kehilangan Mama. Sudah belasan tahun sejak mulai remaja aku kehilangan sosok seorang Ibu. Ibu yang dekat dengan anaknya bukan hanya memikirkan karir dan keinginannya semata.
Setiap Hari Ibu, aku justru kangen dengan Ibu Baptis, Ibu Pembina Katekumenku, dan Ibu Mertuaku. Dalam diri mereka aku menemui sosok seorang Ibu sejati. Ibu Maria yang menjelma dalam diri manusia. Ingatanku kembali pada masa katekumen. Masa di mana aku dikenalkan pada seorang Ibu yang luar biasa. Ibu Tuhanku Yesus. Ibu yang sederhana, sabar, penuh kasih. Tidak cukup kata menggambarkannya.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Majalah Kuasa Doa, Syukur
Posted in Ibu Inilah Anakmu
Menjadi Imam: Panggilan Penuh Tantangan
September 7th, 2009 Posted 9:29 pm
Artikel ini awalnya dibuat untuk Buletin Refleksi Tahun Imam KAJ. Artikel tambahannya adalah Romo Paroki: Gembala di Tengah Kawanannya.
Karena satu dan lain hal, hasil editnya tidak sesuai lagi dengan maksud awal penulis. Maka versi aseli-nya saya muat di sini. Dibuang sayang…
Hidup selalu penuh tantangan sekecil apapun itu. Di manapun, kapanpun, dalam hal apapun, tantangan menghiasi setiap jalan yang kita lalui seperti bunga-bunga bermekaran di tepi jalan sekaligus kerikil tajam. Menjadi bunga-bunga bermekaran ketika siapapun yang melintas di situ bisa menikmati tantangan itu sebagai sebuah keindahan. Menjadi kerikil ketika tantangan itu membuat yang melintasinya tersandung lalu jatuh. Manusia tentu tersandung kerikil, bukan gunung batu, karena kecil dan sering luput dari perhatian. Meskipun jatuh, pertanyaan berikutnya adalah bangun lagi dan meneruskan perjalanan atau tetap di situ?
Secara khusus, persoalan yang dihadapi oleh para Imam yang menjadi Romo Paroki tentu berbeda dengan Romo yang tidak berada di Paroki. Untuk persoalan yang umum terjadi di Paroki akan diulas kemudian (lihat: Romo Paroki: Gembala Di Tengah Kawanannya). Narasumber kali ini adalah beberapa Imam Provinsial, yaitu Rm. Yohanis Mangkey, MSC, Rm. Felix Kadek Sunartha, SVD, Rm. Adrianus Sunarko, OFM, Rm. Robertus Bellarminus Riyo Mursanto, SJ, serta Rm. Sapto Dwi Handoko, SCJ. Apa saja yang secara umum menjadi tantangan para Imam?
Tags: Gereja, Pelayanan
Posted in Menjadi Imam: Panggilan Penuh Tantangan
Romo Paroki: Gembala di Tengah Kawanannya
September 7th, 2009 Posted 3:05 pm
Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 11, Januari 2010
Artikel ini awalnya dibuat untuk Buletin Refleksi Tahun Imam KAJ. Artikel utamanya adalah Menjadi Imam: Panggilan Penuh Tantangan.
Karena satu dan lain hal, artikel ini tidak jadi dimuat maka saya muat di sini. Dibuang sayang…
Ada banyak sekali persoalan mulai dari tingkat Paroki sampai keuskupan yang menjadi PR bagi para Imam dan umat. Para umat – bagaimanapun juga – memiliki andil dalam apapun yang terjadi. Ada sebab dan akibat. Ada beberapa contoh kasus yang menarik untuk diamati dan direnungkan bersama.
Contoh menarik yang pertama coba diangkat adalah sebuah “kasus” seorang umat yang bukan lulusan seminari tapi hendak menjadi Imam. Dalam kenyataannya, selain umat ini harus berjuang dan bergumul dengan batinnya, ia juga harus meyakinkan pihak keluarga yang menentang keras. Dalam etnis Tionghoa kebanyakan, prestise tertinggi adalah ketika seseorang bisa memiliki usaha sendiri meskipun sekelas warung minuman ringan. Menjadi seorang Imam adalah jalan terakhir bahkan mungkin sama sekali tidak ada dalam daftar. Kalau awam mengalami “kawin lari”, umat ini berusaha tidak “imamat lari” dan perjuangannya meluluhkan hati orang tua masih berjalan menjelang detik kepindahannya dari dunia awamnya ke seminari.
Tags: Gereja, Majalah Kuasa Doa, Pelayanan
Posted in Romo Paroki: Gembala di Tengah Kawanannya









