Posts Tagged ‘Gerundelan’
Stop Media Bullying!
September 24th, 2011 Posted 8:16 am

- http://bit.ly/oI8LlL
Saya alumni SMA 6, Mahakam, Jakarta. Saya (pernah jadi) jurnalis, penulis, pengajar lepas, dan mendidik anak saya di rumah bukan di sekolah. Saya orang yang melawan segala macam bullying dan plagiarisme.
Awalnya, saya tidak terlalu mengikuti pemberitaan seputar tawuran siswa SMA 6 dengan wartawan. Lama kelamaan, gatal juga ingin tahu, ada apa sih? Beberapa teman di Blackberry Messenger dan beberapa social media mulai mengganti foto profil dengan logo SMA 6. Rasa penasaran saya mulai mendominasi.
Saya buka situs pencarian. Seperti bisa ditebak, pemberitaan seputar tawuran itu membanjir. Saya buka beberapa situs berita yang menurut saya berkompeten. Hasilnya sungguh menyedihkan. Berita disajikan dengan jorok, berat sebelah, dan dibumbui opini (meskipun implisit).
Saya ingin menulis, entah kenapa saya tidak langsung menulis. Ini bukan kebiasaan saya ketika mulut mercon saya tidak bisa dikendalikan, mungkin karena ada hal yang lebih penting menyita perhatian saya.
Tags: Etika, Gerundelan, Prihatin
Posted in Stop Media Bullying!
Home Education: Sekali Merdeka Tetap Merdeka!
August 17th, 2011 Posted 1:15 am
Tulisan ini dibuat oleh saya dan geng Brisik Lestari dalam rangka 17 Agustusan. Saya mengajak Anda untuk berpikir dan berdiskusi dengan pikiran terbuka. Jika Anda tidak membuka wawasan, disarankan untuk tidak membaca tulisan ini. Dalam tulisan ini, “sekolah berlabel homeschooling” berada di luar konteks karena lembaga itu bukan homeschool.
Homeschool. Entah mengapa satu kata itu menjadi monster mengerikan bagi yang awam. Tengok saja, dalam berbagai percakapan maupun artikel, salah satu yang paling ditakuti adalah soal sosialisasi. Istilah “anak homeschool itu kuper” sudah sangat familiar di telinga saya. Kicauan sumbang itu terdengar keras saat anak-anak pamit dari sekolah setahun lalu.
Dulu saya menanggapi , sekarang tidak. Itu bedanya. Buat apa buang-buang tenaga pada orang yang sudah antipati? Menjelaskan pada orang yang sudah ngotot atas pendapatnya dan menutup segala bentuk informasi itu buang-buang waktu dan tenaga.
Tags: Gerundelan, Hari Merdeka, Pilihan, Prihatin
Posted in Home Education: Sekali Merdeka Tetap Merdeka!
#indonesiajujur Ibu Siami: Potret Budaya “Sakit”
June 19th, 2011 Posted 11:10 pm
Minggu ini, saya, beberapa teman, dan 4 remaja homeschooler dari kelas menulis saya akan mengkritisi kasus yang dialami Ibu Siami. Tidak ada batasan tertentu dalam setiap tulisan. Tulisan adalah bentuk kemerdekaan pendapat penulisnya. Tulisan ini juga akan ditautkan ke #indonesiajujur: Suarakan dukunganmu akan kejujuran!
Terus terang, sebetulnya saya bingung harus mulai dari mana. Terlalu parah kasus ini dan membuat saya sulit untuk “bermanis-manis” dalam menulis. Semangat mercon saya lebih kuat daripada semangat nrimo. Maka, demi menjadi guru yang baik bagi teman-teman menulis saya, inilah tulisan mercon apa yang ada di otak dan hati saya atas kasus Ibu Siami.
Budaya Menyontek
Satu kata sederhana yang tidak sesederhana itu ketika dipandang sebagai sebuah tindakan. Ada keruwetan yang pelik dan dilematis bagi sebagian orang.
Tags: Etika, Gerundelan, Pendidikan, Prihatin
Posted in Ibu Siami: Potret Budaya "Sakit"
Rekor… Rekor…
March 26th, 2010 Posted 9:36 am
Tulisan ini harusnya dimuat tgl 19 Maret 2010. Karena sibuk sampai lupa ada artikel ini.
Gak pernah terpikir untuk mendaftarkan Yuk Nulis! ke sebuah lembaga pencatat rekor di Indonesia. Gara-gara nulis keroyokan waktu Valentine itu, para Nuliser usul untuk mencatatkan nulis keroyokan itu. Akhirnya, ya dicoba deh. Gak ada salahnya juga nyoba kan? Surat permohonan dikirim, kategorinya “penulisan estafet dengan penulis terbanyak dalam waktu tercepat”. Suruh tunggu seminggu. Oke, kita “sabar menanti mode on” deh.
Sudah telat seminggu sejak waktu yang dijanjikan. Menunggu selama dua minggu sejak dikirimnya surat permohonan ternyata gemesin juga. Akhirnya kutelepon seorang petinggi lembaga itu yang nama dan nomornya tertera di surat balasan. Ia minta dikirimkan bukunya. Nyetak dua eksemplar khusus buat lembaga ini. Buku dikirim.
Tags: Gerundelan, Ulang Tahun, Yuk Nulis!
Posted in Rekor… Rekor…
Sahabatmu Bukan Sahabatku, atau Kamu Bukan Sahabatku?
December 7th, 2009 Posted 2:42 pm
Beberapa waktu lagi aku baru saja “berantem” dengan seorang sahabat. Paling tidak, sampai detik berantem itu, aku masih menganggap kami bersahabat. Kenapa aku menggunakan kata “berantem”? Untuk menunjukkan bahwa yang diributkan memang kemudian jadi gak mutu. Urusan penghargaan sebagai sahabat jadi terkubur dengan prinsip “urusan masing-masing”.
Semua manusia pasti punya jejaring sahabat sendiri kan? Tidak mesti seorang sahabat mengenal sahabat lain dari sahabatnya itu. Seandainya si Sahabat adalah si X, lalu aku si Y, dan sahabatnya si Sahabat adalah si Z, maka aku sebagai si Y tidak mesti kenal dengan si Z meskipun ada banyak alasan untuk si Y kenal dengan si Z bahkan juga bersahabat. Karena “terminalnya” adalah si X, maka si X bersahabat dengan si Y dan si Z. Sudah cukup jelas kan, ya?
Tags: Buku My Life is An Open Book, Curhat, Etika, Gerundelan, Kasih, Luka Batin, Maaf, Sahabat
Posted in Sahabatmu Bukan Sahabatku atau Kamu Bukan Sahabatku?
Pengasingan
November 18th, 2009 Posted 9:42 pm
Sebuah pengasingan
Entah sebuah kegiatan
Atau sebuah keadaan
Tidak menjamin keterasingan
Dan ketenangan
Justru jadi keriuhan
Yang memuakkan
Tags: Curhat, Gerundelan, Luka Batin, Puisi
Posted in Pengasingan
Ngapain ke Yogya?
November 18th, 2009 Posted 8:35 pm
Banyak sekali yang bertanya, “Ngapain ke Yogya?”
Jawabanku selalu sama, “Mengasingkan diri. Cari oksigen.”
Tak penting alasan dan tujuanku ke kota ini. Yang menarik adalah berbagai dugaan yang muncul dan khotbah yang berkumandang.
“Pulanglah, kamu bertanggung jawab atas anak-anakmu.”
Betapapun piciknya ide bahwa seorang Ibu yang bertanggung jawab tidak boleh meninggalkan anaknya dan anggapan jadi Ibu yang sinting karena membiarkan Si Ayah mengurus dan membawa serta anak-anak ke manapun ia pergi.
“Pergi tidak menyelesaikan masalah.”
Hanya orang dungu yang sadar bahwa pergi dari rumah adalah bentuk penyelesaian masalah.
“Kamu menemui seseorang?”
Kenapa itu jadi penting untuk dibahas? Ya atau tidak, seseorang butuh sahabat. Apakah itu masalah?
Kenapa masih saja ada patriarkisme antara istri dan suami?
Apakah luka seorang suami berbeda dengan seorang istri?
Apakah seorang istri tidak boleh marah dan harus kerap bersabar?
Kalau iya, aku minta maaf sudah mengecewakanmu.
Bahkan orang yang luka dan kesepian pun tak punya kemerdekaan untuk menangis di bahu sahabatnya.
Tags: Curhat, Gerundelan, Luka Batin
Posted in Ngapain ke Yogya?
Tempat Kosong Itu Untukmu
November 12th, 2009 Posted 5:24 pm
Kemarin, aku misa di sebuah tempat yang disebut-sebut sebagai salah satu pusat penyembuhan. Sekadar pingin tahu seperti apakah misa yang konon kabarnya bisa menyembuhkan orang itu. Tempat yang membuat beberapa orang – termasuk orang terdekatku – mengatakan, “Kamu harus ke sana! Cobain deh sekali aja!” Mirisnya, dari semua yang bilang begitu tak satupun bilang, “Nanti kalau aku ke sana, kamu kuajak!” Bahkan, orang terdekatku itu justru rajin cerita setiap pulang dari sana. Bilang aku harus ke sana tapi gak ngajak bahkan malah setiap pulang dari sana rajin cerita. Maksud lu??
Maka, begitu semalam Si Ayah mengajak ke sana – ajakan kedua karena minggu lalu aku lagi ga konsen dan respon diam dianggap tidak mau – ajakan ini langsung aku iyakan dengan pasti. Gak ada intensi khusus untuk didoakan. Setelah melalui perjalanan yang lancar selama tiga jam, kami tiba di tempat yang mewah itu dan umat sudah ramai berkumpul. Masih kurang setengah jam dari jadwal misa. Anak-anak ikut sekolah minggu. Lumayan, bisa misa dengan lebih fokus. Sampai di bangunan yang terletak di atas itu, aku masuk dan masih cukup lengang. Ada tiga tempat kosong di bagian depan di mana kita bisa duduk lesehan dengan nyaman. Masing-masing tempat dengan jok tipis dan bangku kayu yang mirip dingklik memiliki jarak dengan umat di samping maupun depan-belakang. Sehingga teorinya tidak ada yang akan saling bersenggolan. Aku duduk bersampingan dengan Si Ayah. Tempat di depanku kosong. Hanya satu.
Tags: Doa, Gereja, Gerundelan, Luka Batin
Posted in Tempat Kosong Itu Untukmu
Macet Bukan Karena Si Komo Lewat
October 15th, 2009 Posted 12:24 am
Pagi ini, sebagai bagian dari rutinitas, aku berangkat menuju sekolah anak-anak. Di sebuah bundaran sebelum gerbang besar kompleks, para pengendara terlihat semrawut tak karuan. Bingung mau ambil jalan yang mana. Ternyata, ada sebuah acara bernuansa keagamaan di klub olah raga situ. Aku berusaha mengikuti petunjuk dari petugas yang ada. Bukan marka jalan yang dipasang, malah beberapa petugas di tiap persimpangan atau belokan yang dipasang. Pagar betis? Gak tau juga. Makin lama aku mulai disorientasi. Ini jalannya lewat mana sih? Bisa runyam urusannya nih. Terlambat sampai sekolah, siap-siap diperenguti Si Bungsu deh!
Tuh, bener kan! Baru mbatin langsung kejadian. Maceee…ttt! Tapi bukan karena Si Komo lewat. Siap-siap diperenguti sampe sekolah kalau begini urusannya. Kulihat jam tanganku, jam 9.15. Mana mungkin dalam 15 menit bisa menempuh jarak 3 km dalam keadaan kayak gini?
Tags: Curhat, Etika, Gerundelan, Prihatin
Posted in Macet Bukan Karena Si Komo Lewat








