Posts Tagged ‘Gerundelan’

Sahabatmu Bukan Sahabatku, atau Kamu Bukan Sahabatku?

24 Comments »

December 7th, 2009 Posted 2:42 pm

Beberapa waktu lagi aku baru saja “berantem” dengan seorang sahabat. Paling tidak, sampai detik berantem itu, aku masih menganggap kami bersahabat. Kenapa aku menggunakan kata “berantem”? Untuk menunjukkan bahwa yang diributkan memang kemudian jadi gak mutu. Urusan penghargaan sebagai sahabat jadi terkubur dengan prinsip “urusan masing-masing”.

Semua manusia pasti punya jejaring sahabat sendiri kan? Tidak mesti seorang sahabat mengenal sahabat lain dari sahabatnya itu. Seandainya si Sahabat adalah si X, lalu aku si Y, dan sahabatnya si Sahabat adalah si Z, maka aku sebagai si Y tidak mesti kenal dengan si Z meskipun ada banyak alasan untuk si Y kenal dengan si Z bahkan juga bersahabat. Karena “terminalnya” adalah si X, maka si X bersahabat dengan si Y dan si Z. Sudah cukup jelas kan, ya?

(more…)

Pengasingan

8 Comments »

November 18th, 2009 Posted 9:42 pm

Sebuah pengasingan
Entah sebuah kegiatan
Atau sebuah keadaan
Tidak menjamin keterasingan
Dan ketenangan
Justru jadi keriuhan
Yang memuakkan

Ngapain ke Yogya?

8 Comments »

November 18th, 2009 Posted 8:35 pm

Banyak sekali yang bertanya, “Ngapain ke Yogya?”
Jawabanku selalu sama, “Mengasingkan diri. Cari oksigen.”

Tak penting alasan dan tujuanku ke kota ini. Yang menarik adalah berbagai dugaan yang muncul dan khotbah yang berkumandang.

“Pulanglah, kamu bertanggung jawab atas anak-anakmu.”
Betapapun piciknya ide bahwa seorang Ibu yang bertanggung jawab tidak boleh meninggalkan anaknya dan anggapan jadi Ibu yang sinting karena membiarkan Si Ayah mengurus dan membawa serta anak-anak ke manapun ia pergi.

“Pergi tidak menyelesaikan masalah.”
Hanya orang dungu yang sadar bahwa pergi dari rumah adalah bentuk penyelesaian masalah.

“Kamu menemui seseorang?”
Kenapa itu jadi penting untuk dibahas? Ya atau tidak, seseorang butuh sahabat. Apakah itu masalah?

Kenapa masih saja ada patriarkisme antara istri dan suami?
Apakah luka seorang suami berbeda dengan seorang istri?
Apakah seorang istri tidak boleh marah dan harus kerap bersabar?

Kalau iya, aku minta maaf sudah mengecewakanmu.
Bahkan orang yang luka dan kesepian pun tak punya kemerdekaan untuk menangis di bahu sahabatnya.

Tempat Kosong Itu Untukmu

38 Comments »

November 12th, 2009 Posted 5:24 pm

Kemarin, aku misa di sebuah tempat yang disebut-sebut sebagai salah satu pusat penyembuhan. Sekadar pingin tahu seperti apakah misa yang konon kabarnya bisa menyembuhkan orang itu. Tempat yang membuat beberapa orang – termasuk orang terdekatku – mengatakan, “Kamu harus ke sana! Cobain deh sekali aja!” Mirisnya, dari semua yang bilang begitu tak satupun bilang, “Nanti kalau aku ke sana, kamu kuajak!” Bahkan, orang terdekatku itu justru rajin cerita setiap pulang dari sana. Bilang aku harus ke sana tapi gak ngajak bahkan malah setiap pulang dari sana rajin cerita. Maksud lu??

Maka, begitu semalam Si Ayah mengajak ke sana – ajakan kedua karena minggu lalu aku lagi ga konsen dan respon diam dianggap tidak mau – ajakan ini langsung aku iyakan dengan pasti. Gak ada intensi khusus untuk didoakan. Setelah melalui perjalanan yang lancar selama tiga jam, kami tiba di tempat yang mewah itu dan umat sudah ramai berkumpul. Masih kurang setengah jam dari jadwal misa. Anak-anak ikut sekolah minggu. Lumayan, bisa misa dengan lebih fokus. Sampai di bangunan yang terletak di atas itu, aku masuk dan masih cukup lengang. Ada tiga tempat kosong di bagian depan di mana kita bisa duduk lesehan dengan nyaman. Masing-masing tempat dengan jok tipis dan bangku kayu yang mirip dingklik memiliki jarak dengan umat di samping maupun depan-belakang. Sehingga teorinya tidak ada yang akan saling bersenggolan. Aku duduk bersampingan dengan Si Ayah. Tempat di depanku kosong. Hanya satu.

(more…)

Macet Bukan Karena Si Komo Lewat

8 Comments »

October 15th, 2009 Posted 12:24 am

Pagi ini, sebagai bagian dari rutinitas, aku berangkat menuju sekolah anak-anak. Di sebuah bundaran sebelum gerbang besar kompleks, para pengendara terlihat semrawut tak karuan. Bingung mau ambil jalan yang mana. Ternyata, ada sebuah acara bernuansa keagamaan di klub olah raga situ. Aku berusaha mengikuti petunjuk dari petugas yang ada. Bukan marka jalan yang dipasang, malah beberapa petugas di tiap persimpangan atau belokan yang dipasang. Pagar betis? Gak tau juga. Makin lama aku mulai disorientasi. Ini jalannya lewat mana sih? Bisa runyam urusannya nih. Terlambat sampai sekolah, siap-siap diperenguti Si Bungsu deh!

Tuh, bener kan! Baru mbatin langsung kejadian. Maceee…ttt! Tapi bukan karena Si Komo lewat. Siap-siap diperenguti sampe sekolah kalau begini urusannya. Kulihat jam tanganku, jam 9.15. Mana mungkin dalam 15 menit bisa menempuh jarak 3 km dalam keadaan kayak gini?

(more…)