Posts Tagged ‘Harapan’
Aksi Konkret: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
August 17th, 2011 Posted 10:00 am
Kedengarannya muluk ya? Sama sekali tidak! Apakah satu-dua orang kawan atau kerabat kita bukan bagian dari bangsa? Tentu saja! Apalagi ketika aku menerima tawaran mengajar kelas menulis bagi para bapak-ibu guru. Wow! Bangga dong! Inilah kesempatanku. Ini saatnya membayar jasa para pahlawan tanpa tanda jasa itu.
Tawaran itu datang dari seorang sahabat. Kebetulan ia berhalangan. Jatuhlah rejeki itu padaku. Ketika aku mengabarkan pada kedua anakku, mereka bertanya, “Ibu ngajar bapak-ibu guru? Jadi, Ibu gurunya guru? Kok guru masih belajar? Emang guru bisa jadi murid?” Pertanyaan sangat menarik di saat yang tidak kalah seru.
“Nak, manusia itu harusnya belajar seumur hidup. Ayah sama Ibu juga belajar sampai sekarang.”
“Belajar apa?”
“Ayah belajar masak. Ibu belajar masak. Belajar kan bisa apa aja.” Mereka manggut-manggut, mencoba memahami perkataanku di benak kecil mereka.
Tags: Harapan, Hari Merdeka, Pendidikan, Prihatin
Posted in Aksi Konkret: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Pak Raden: Sang Pendongeng, Kakek Sejuta Cucu
May 18th, 2011 Posted 7:43 pm
Siang itu, seharusnya aku sudah menyelesaikan presentasi untuk workshop menulis yang diadakan komunitasku Yuk Nulis! dalam rangka World Book Day 2011. Apa daya, rasa sentimentil yang menyergap sejak siang kemarinnya makin menggila. Akhirnya, menulislah aku di siang yang luar biasa terik itu.
Beberapa waktu lalu (ah, kenapa aku tidak catat tanggalnya ya?), aku membeli buku “Petruk jadi Raja” yang ditulis dan diilustrasi oleh Drs. Suyadi aka Pak Raden. Buku ini jadi kejutan buat Si Sulung dan Si Bungsu. Aku minta untuk dituliskan nama mereka di buku itu. Selang beberapa hari, buku itu tiba. Kedua anakku bingung, kenapa tiba-tiba Kakek yang masih juga kerap muncul di layar televisi dengan gaya yang sama dengan 25 tahun lalu itu mengirimi buku? Tahu alamat rumah dari mana? Tahu nama mereka dari mana? Dikasih tanda tangan pula!
Tags: Buku My Life is An Open Book, Harapan, Kasih, Pak Raden, Si Bungsu, Si Sulung, the De.N.eL.s, Yuk Nulis!
Posted in Pak Raden Sang Pendongeng Kakek Sejuta Cucu
Butuh Jatuh Untuk Bangkit
April 8th, 2010 Posted 9:02 am
Suatu hari, aku berbincang dengan seseorang yang cukup dekat denganku tapi lama sekali tidak ketemu. Terakhir kudengar kabarnya ia masuk bui.
“Apa kabar, Kak?” sapanya melalui layanan pesan instan malam itu.
“Hai! Apa kabar kamu?” tak terkira gembiranya aku mendapat kabar darinya lagi.
“Baik, Kak.” Mungkin ia di sana sedang tersipu malu.
“Di mana kamu?”
“Di rumah.”
“Ke mana aja? Kok ada kabar nggak sedap?”
Tags: Harapan, Kasih, Paskah, Pilihan
Posted in Butuh Jatuh Untuk Bangkit
To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras, Kembali Cerdas)
January 5th, 2010 Posted 4:52 am
(lanjutan dari To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif))
Kembali Waras, Kembali Cerdas
“I’ll be home for Christmas” itu harus dibuat monumentalnya. Tahap pertama, “nodong” Romo Pakdhe – seorang sahabat baikku – untuk Sakramen Tobat. Urusan mengakui dosa campur curhat itu membuatnya terkaget-kaget. Setidaknya, beberapa kali ia menunjukkan ekspresi terperangah dan geleng-geleng tak habis pikir. Dari obrolan itu, ada banyak hal menarik bagi Romo Pakdhe untuk dijadikan bahan renungan. Beberapa pertanyaan yang cukup “ajaib” ditujukan ke Si Ayah.
Misalnya, “Kamu kan berhak untuk melarang Lini pergi.”
“Kalau Lini saya larang, dia akan makin menjadi. Kalau dibiarkan, dia akan sadar sendiri.”
“Seandainya kamu dilarang pergi, bagaimana?” Kali ini pertanyaannya padaku.
“Gak apa-apa kalau dilarang asal detik itu juga kami pergi ke konseling atau apalah untuk menyelesaikan masalah ini.”
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Cinta, Doa, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Perjalanan, Si Ayah, Si Ibu, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond
Posted in To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras-Kembali Cerdas)
To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)
January 4th, 2010 Posted 9:16 pm
Tuhan bekerja dengan berbagai macam cara, termasuk cara yang jauh di luar akal sehat kita. Dengan penuh keyakinan aku mengatakan, “Seandainya aku tidak mengalami segala kejahatan dan kebodohan ini, belum tentu segala yang indah ini kurasakan hari ini. Rasanya seperti melewati lubang jarum!”
Perkawinan, tentu saja tidak semudah dan seindah prosesi janji perkawinan yang diadakan pada hari bahagia itu. Ketika merencanakan hari pernikahan, semua bisa diatur dan direncanakan dengan “mudah” meskipun ada saja hal yang di luar dugaan. Sadarkah, ketika urusan pemilihan baju pengantin dan segala tetek-bengeknya terjadi perselisihan, itu adalah “replika” dari kehidupan perkawinan yang sesungguhnya. Persiapan hari pernikahan butuh tiga bulan, misalnya. Sementara dinamika yang sama akan dihadapi selama seumur hidup. Setidaknya, tidak ada orang yang ketika yakin untuk menikah lalu berkata pada kekasihnya, “Aku akan menikahimu selama tiga tahun,” atau, “Aku akan menikahimu sampai aku bosan,” atau “Aku akan menikahimu sampai menemukan yang lain lagi nanti.”
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Cinta, Doa, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Perjalanan, Si Ayah, Si Ibu, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond
Posted in To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat-Bodoh-Primitif)
Bandung, Pernikahan
December 22nd, 2009 Posted 5:08 pm
Kamis, 17 Desember 2009. Anak-anak terima rapor. Libur telah tiba. Hore… hore… hore…
Ke Bandung sebenernya sudah tidak masuk kategori berlibur karena ada banyak tujuan. Mulai dari nengok Mama Mertua sampai jadi umat abangan di Keuskupan Bandung, semua bisa. Kalau lepas kangen sama teman-teman di Bandung termasuk liburan ya bisa juga. Yang jelas, sering ke Bandung karena Kakak Ipar di sini maka bebas dari “hotel penuh” dan “ongkos mahal”. Tujuan kali ini adalah undangan pemberkatan nikah kerabat di Gereja St. Laurentius Sukajadi.
Malam itu juga kami harus berangkat karena besok pagi-pagi Si Ayah harus antar Mama Mertua ke tempat syukuran untuk sediain makanan. Berangkat dari rumah jam 9 malam, masuk tol Bekasi Barat jam 9.30. Semua penumpang ngantuk jadi tidak paham betapa padat meratapnya perjalanan Bekasi-Bandung. Begitu bangun sudah di gerbang rumah Kakak Ipar di Viaduct dekat Braga. Begitu buka mata lihat jam… jam 12!! Ampuunn… jadi perjalanan tadi 2,5 jam?? Katanya padat meratap sampai tol Sadang. Ini salah satu alasan malas berakhir pekan panjang di Bandung kalau bukan karena ada undangan. Sampai rumah, tidur dilanjutkan!
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Doa, Gereja, Harapan, Keluarga, Natal, Perjalanan, Purbalingga, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond, Yuk Nulis!
Posted in Bandung Pernikahan
Surat untuk Sahabat Pena (3)
December 4th, 2009 Posted 12:17 pm
Duhai sahabat gue yang diberkati Tuhan,
Gue sangat berduka, sepeninggal pertemuan itu lu malah jatuh sakit. Lu bilang, waktu kita ketemu lu sudah gejala sakit. Kenapa gak bilang? Lu tau gak, rasanya blingsatan begitu beberapa hari kemudian lu bilang kalo lu sakit. Suara lu lemah banget. Gue gak bisa bantu apa-apa. Gue gak bisa terbang ke sana. Gue gak bisa ke apotik beliin lu obat dan lu tinggal berbaring dengan manis di ranjang yang harus lu anggap nyaman itu. Manusia mana yang tega mengetahui sahabatnya sudah terlambat mengejar tenggat kerja dalam keadaan sakit dan gak punya uang? Mau cepet selesaiin kerja, tapi sakit. Mau sembuh biar cepet selesai, gak bisa beli obat. Jadi kayak bahas ayam sama telor. Mau mana duluan? Kerja dulu biar dapat uang untuk beli obat atau beli obat dulu biar sehat dan bisa cepet selesai kerja?
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena (3)
Natal, Selalu Istimewa
November 30th, 2009 Posted 11:14 pm
Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 10, Desember 2009
Natal, selalu menjadi hal sentimentil buatku.
Natal pertamaku tahun 2002
Singkat cerita, saat itu aku baru saja dibaptis. Pengantin baru yang memiliki janin berusia tiga bulan di rahimku. Dengan kondisi mual-dan-muntah-selalu, tidak mungkin aku merasakan Misa Malam Natal. Sejak dulu memang aku suka sekali dengan suasana Natal yang dipenuhi anak-anak. Pilihannya jatuh pada Misa Natal Anak-anak jam 9.00.
Rasa gembiraku lebih mirip anak-anak ketimbang calon ibu. Rasanya kembali ke masa kecil. Melihat banyak sekali anak-anak berbaju merah dengan topi Santa Clause. Menyanyikan lagu Natal anak-anak. Mendengarkan koor anak-anak. Menyaksikan tablo Natal yang dibawakan anak-anak yang ceritanya “memang begitu”. Air mata haru dan senyum gembira jadi satu. Pasti aneh sekali wajahku saat itu dengan perut yang tidak terlalu buncit.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Keluarga, Majalah Kuasa Doa, Natal, Si Ayah, Si Bungsu, Si Ibu, Si Sulung, the De.N.eL.s
Posted in Natal Selalu Istimewa
Surat untuk Sahabat Pena (2)
November 6th, 2009 Posted 7:31 pm
Hei…
Mengingat biasanya kita ber-gue-elu, maka kali ini lebih enak begitu.
Tadi sore, akhirnya gue menangis. Kenapa? Hm… gue belum pernah cerita ya. Tapi gak penting kenapa gue menangis. Jangan GR dulu, ini bukan menangisi elu. Gue menangis karena problem gue. Yang penting adalah saat gue menangis itu yang perlu lu tahu.
Waktu gue menangis, gue inget elu. Tiba-tiba aja elu datang terus mengajak berdoa. Bagai anak kecil yang nurut begitu aja, gue berdoa. Bukan berdoa tepatnya. Menyapa Dia. Emang udah setahun ini gue menyapa dia basa-basi, pake pamrih pula. Di doa itu, gue sempet bilang, “Tuhan, sampaikan padanya, aku baik-baik aja.” Setidaknya itu yang gue usahakan detik itu. Kita mendaraskan doa dalam diam. Tapi gue bahagia banget berdoa bareng lu. Seketika rasanya enteee…ng banget! Beberapa jenak kemudian gue berhenti nangis. Lalu gue telpon lu untuk bilang gue baik-baik aja. Gue gak mau lu deg-degan di tengah apa yang tengah lu kerjakan, seperti sebelumnya.
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena (2)
Surat untuk Sahabat Pena
October 30th, 2009 Posted 4:14 am
Hei…
Butuh waktu beberapa jenak untukku menulis ini untukmu. Aku harus meredakan sesak dan mataku yang basah. Ketika aku menulis ini, pasti kamu sudah terlelap. Mataku masih basah sedikit.
Tiba-tiba saja malam menjelang dini hari ini aku teringat kamu. Tepat beberapa saat sebelum aku tidur. Aku “nonton film” kamu lagi. Biasanya yang muncul hanya adegan kita duduk diam. Hanya diam. Atau, sesekali adegannya adalah kamu berdiri sendirian, terlalu gengsi untuk memanggilku. Aku yang jatuh iba melihatmu nelangsa pol menghampiri dan memelukmu erat sampai kamu menangis. Aku memelukmu terus sampai tangismu berhenti. Juga tanpa kata-kata.
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Luka Batin, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena
Aku Marah di Hadapan Altar-Nya
October 19th, 2009 Posted 9:27 am
Setelah bertahun-tahun tidak lagi rutin ke gereja, hari Minggu kemarin aku ke gereja. Aku bukan orang yang bisa menyambut Ekaristi dalam keadaan marah dan benci. Aku marah, aku benci, aku terluka. Urusan domestik yang tak kunjung terselesaikan selama empat tahun terakhir sungguh mengganggu stabilitas mental dan jiwa yang akhirnya berpengaruh pada ketahanan fisikku. Sakit-sakitan, lebih kurus dari biasanya yang memang sudah kurus, sulit berkonsentrasi.
Si Ayah bukan orang yang religius, jadi tak perlu berharap diajak ke gereja. Setidaknya, ini salah satu bukti bahwa aku migrasi karena “mengikut suami”. Ikut ke mana, wong pergi sendiri? Mungkin memang seharusnya aku pergi sendiri kalau dia tak mau ikut. Biar dia dan anak-anak main di rumah. Berhubung Si Lini ini idealis, ke gereja ya harusnya komplit, akhirnya “mengalah” dan kompak semuanya tinggal di rumah.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Maaf, Si Ayah, Syukur
Posted in Aku Marah di Hadapan Altar-Nya
Ibu, Inilah Anakmu
September 29th, 2009 Posted 12:19 pm
Dimuat di Majalah Kuasa Doa Vol. 4, No. 8, Oktober 2009

Sudah lama aku tidak merasakan kehangatan seorang Ibu. Sudah tujuh tahun sejak aku meninggalkan rumah Mama. Di mulai ketika aku pindah keyakinan dan memilih jodohku sendiri sehingga aku harus meninggalkan rumah. Kangen? Tidak juga. Aku memang anak yang tidak baik dan tidak berbakti sampai aku tidak merasa kehilangan Mama. Sudah belasan tahun sejak mulai remaja aku kehilangan sosok seorang Ibu. Ibu yang dekat dengan anaknya bukan hanya memikirkan karir dan keinginannya semata.
Setiap Hari Ibu, aku justru kangen dengan Ibu Baptis, Ibu Pembina Katekumenku, dan Ibu Mertuaku. Dalam diri mereka aku menemui sosok seorang Ibu sejati. Ibu Maria yang menjelma dalam diri manusia. Ingatanku kembali pada masa katekumen. Masa di mana aku dikenalkan pada seorang Ibu yang luar biasa. Ibu Tuhanku Yesus. Ibu yang sederhana, sabar, penuh kasih. Tidak cukup kata menggambarkannya.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Majalah Kuasa Doa, Syukur
Posted in Ibu Inilah Anakmu
Beri Satu Lagi “Nyawa”
February 22nd, 2009 Posted 10:48 pm
Seorang Romo semalam menelepon. “Lin, ada kabar baik buatmu.”
“Apa itu, Romo?”
“Ada seseorang menghubungi saya, dia bilang Ibunya terkesan dengan tulisanmu. Ibunya mau ketemu kamu. Mereka tinggal di Bandung. “ Hmm… Bandung lagi ya…
“Tulisan yang mana, Mo?”
“Saya gak tau. Boleh saya berikan nomor hpmu?”
“Boleh sekali, Mo. Romo ada nomor hpnya orang itu, biar aku yang hubungi.”
“Wis, ndak pa-pa. Nanti biar mereka yang hubungi ya.”
Lalu aku segera membuka Facebook, kantorku. Ternyata di situ sudah ada permintaan teman dari orang yang dimaksud. Kutinggalkan pesan bahwa aku baru saja dihubungi Romo, mengatakan bahwa Ibunya ingin ketemu aku. Kulihat dia sedang online, langsung kusapa. Kuminta nomor teleponnya, supaya lebih leluasa berbincang lewat telepon.
(more…)
Tags: Buku My Life is An Open Book, Harapan, Pilihan
Posted in Beri Satu Lagi Nyawa
Seleb or not Seleb?
January 30th, 2009 Posted 7:48 pm
Banyak orang bilang “seleb”, tapi aku gak yakin mereka paham bener apa sih terminologi “seleb” itu tadi. Seleb atau selebriti kan asalnya dari celebrity dan celebrate. Perayaan. Pesta. Jadi seleb sebenarnya adalah orang-orang yang senang berpesta. Justru sebenarnya, bukan artis sekalipun kalau senang pesta harusnya ya disebut seleb juga. Ini justru asal populer disebut seleb.
Yang jelas, sejak aku jadi “seleb” – eh, populer, ah apalah! – aku kangen untuk jadi aku yg dulu. Yang bebas bergaya apa aja, yang bebas berpendapat apa aja. Tanpa segala embel-embel. Yang udah tahu seleraku, udah tahu seluruh napasku. Tahu semua minusnya aku: jorok, males, ngomong spontan dan asal. Aku bisa jadi diri aku seutuhnya di depan mereka.
Tags: Harapan, Ngasong Buku, Sahabat
Posted in Seleb or not Seleb
Risol
April 26th, 2008 Posted 3:21 pm
“Mbak, pesenan risolnya besok datang.” Begitu yang tertera di instant messenger-ku.
“Ok, besok aku juga bawa singkongnya,” jawabku.
Ta ini satu ruangan kantor dengan suamiku. Pengantin baru belum punya anak. Istrinya buka warung di rumahnya jualan risol.
“Istriku bikin sendiri. Enak lho!” Begitu katanya beberapa waktu lalu ketika kami ngobrol di instant messenger.
“Jualan di kantor dong. Emang kalo di warung harganya berapa?”
“Yah, namanya di kampung, harganya Rp 500 aja.”
“Kalau gitu, risolnya dibesarin, isinya dibanyakin terus jual di kantor Rp 1000 atau Rp 1500. Kan di kantor nggak ada tukang cemilan. Mau cari ke mana di ruko begitu?”
“Nggak tahu juga nih, soalnya kan musti mikirin tenaga sama modalnya.”
“Yah, daripada cuman di warung, kan lumayan bisa buat nambah.”
“Kan belum pada tahu?”
“Ya dikasih tahu dong. Buatin dummy-nya.” Dummy, kadang disebut mock-up atau artwork, adalah istilah dalam dunia disain grafis untuk model suatu karya. Biasanya berbentuk buku, brosur, majalah, dan sebagainya.
“Makanan ada dummy-nya juga?”
“Ya dong. biar orang tahu itu contoh. Aslinya besok.”
“Ya deh nanti dibicarain sama istri.” Mungkin kawanku ini di seberang sana sedang manggut-manggut.
“Ya gitu dong. Dibicarain aja dulu. Lagian kamu kan naik motor, nggak repot lah bawa risol segitu. Kan bantuin istri.”
“Ya sih.”
Maka perbincangan pun berakhir.
Suatu sore, seperti biasa aku bekerja sambil menjelajah dunia maya.
“Ta, kemarin katanya ada selapanan anaknya Kur. Coba kamu udah promosi, kan bisa pesen di kamu daripada pesen sama orang. Lagian di kantor kan sering ada seminar, lumayan kalo pesen sama istrimu.”
Mungkin Ta di seberang sana sedang merenungi segala peluang yang ada.
“Ta, aku jumat besok mau bikin dummy singkong goreng.”
“Ya deh, nanti kita barter ya?”
“Ok.”
Jumat pagi itu, aku bergegas untuk mengantarkan si Sulung dan si Ayah. Tiba-tiba ponsel si Ayah berbunyi. Ada pesan singkat. “Mas, tolong bilang Mbak Lini hari ini saya nggak masuk jadi pesanan risolnya saya antar ke rumah besok atau lusa.”
“Yah, bilangin risolnya kapan-kapan aja nggak apa-apa,” ujarku.
Maka begitulah isi pesan singkat yang dikirimkan si Ayah pada si kawan ini. Singkong goreng jatah barteran juga urung dibawa serta.
Sorenya, seperti biasa ketika aku bekerja sambil menjelajah dunia maya, ada kawan lain yang menyapaku lewat instant messenger.
“Kamu pesan apa sama Ta?” ujar Ra.
“Ada deh, kenapa sih?”
“Nanti malam tidur jam berapa?”
“Kenapa sih? Jadi curiga nih?”
“Begini, tadi pagi Ta telepon saya minta tolong antarin risol ke rumahmu. Saya kasihan karena istrinya sudah capek bikin. Jadi nanti pulang kantor saya ke rumahnya terus antar risol ke rumahmu. Aku jadi delivery hari ini.”
Saya terhenyak.
Kantor si Ayah di Kelapa Gading. Rumah Ta di Tambun. Rumahku di Harapan Indah (antara Bekasi dan Cakung). Itu sungguh rute yang tidak pendek, memakan bensin, waktu dan tenaga.
“Bilang aja sama Ta, besok-besok aja nggak apa-apa. Lagian katanya besok mau diantarin sendiri ke sini.”
“Besok-besok udah basi kaliii…”
“Ya terserah deh. Emang berapa banyak?”
“Katanya ada 20.”
“Haa?? Banyak benerr…?”
“Itu sedikit. Tadinya udah dibikin 40, udah dimakanin sisa tinggal 20.”
Kawan yang hendak mengantarkan risol ini juga satu ruangan kerja. Di jendela chat sebelah aku tanya pendapat si Ayah.
“Wah, kasian bener tuh Ta. Mana belum gajian. Kemarin denger-denger dia bokek. Mana risolnya banyak gitu lagi. Gimana ya? Aku bingung,” jawab si Ayah.
“Aku ga bisa ngomong apa-apa. Kasian Ta, kasian Ra. Mana tanggal tua bener gini. Kita aja bokek, gimana mereka?”
Aku dan si Ayah sama-sama bingung.
“Nggak usah deh Ra. Kasian kamu kan juga capek.”
“Aku justru kasian sama Ta, istrinya kan udah capek bikin.”
“Ya gini deh. Aku kan mau jemput. Aku bawa singkongnya, nanti kasih ke Ta ya. Tunggu aku ke situ,” ujarku pada Ra mengakhiri obrolan karena memang sudah saatnya aku jemput si Ayah di kantornya.
Sepanjang perjalanan aku termenung. Orang macam apa yang tanggal tua begini rela membuat risol 40 buah untuk dijadikan tester. Belum lagi ternyata niat tak sampai malah dimakan sendiri dan dikasih ke aku banyak begitu? Jika sebuah risolnya dijual di warungnya seharga Rp 500 maka setidaknya dia sudah mengeluarkan biaya Rp 20.000 yang seharusnya menjadi keuntungan.
Orang macam apa pula yang rela menolong kawannya menyisihkan bensin, waktu, dan tenaganya menempuh jarak Kelapa Gading-Tambun-Harapan Indah demi 20 buah risol?
Aku kasihan sama Ta dan Ra. Ta merasa bertanggung jawab padaku. Ra kasihan pada Ta. Jadilah lingkaran saling mengasihani di tengah tiga orang ini.
Malamnya, tumben baru jam 10 aku ngantuk sekali. Aku tertidur. Si Ayah masih menunggu kiriman risol yang diantar Ra. Ra tiba di rumahku jam 12 malam dengan 20 buah risol yang ditempatkan wadah plastik.
Pagi ini baru aku bisa menikmati risol yang penuh perjuangan dan semangat mengasihi. Rasanya mungkin biasa, sensasi memakannya yang luar biasa.









