Posts Tagged ‘Kasih’
Tidak Ada Anak Haram
September 15th, 2009 Posted 4:24 pm
Beberapa hari lalu, salah satu teman Nuliser menulis tentang Ibundanya Sheila Marcia. Tulisan itu mengingatkan kita betapa kasih Ibu sepanjang jalan.
Aku bukan ingin membahas Ibundanya Sheila, tapi Sheila itu sendiri. Sebagai orang yang senasib, aku paham betul bagaimana rasanya menjadi Ibu lebih cepat dari seharusnya. Kalau boleh dibilang, aku jauh lebih beruntung karena umurku saat itu sudah 25 tahun sementara Sheila baru 20 tahun dan anakku kemudian memiliki ayah yang mengasuhnya sementara Sheila sejauh ini masih ingin menjadi single parent. Ditambah lagi Sheila harus kembali masuk penjara sementara aku kala itu bahagia di rumah. Pernahkah kita membayangkan itu? Berada di posisi Sheila dan Sheila-Sheila lainnya?
Hamil di luar nikah. Tidak ada satu perempuan pun yang dengan sengaja menginginkan itu. Setidaknya, bukan kultur Indonesia jika seorang perempuan yang tidak ingin menikah tapi ingin punya anak kemudian membeli sperma, hamil dan melahirkan. Akan jauh lebih mudah jika mengadopsi atau memiliki anak asuh. Apalagi jika kehamilan itu sungguh di luar dugaan dan tidak diinginkan.
Tags: Kasih, Keluarga, Luka Batin
Posted in Tidak Ada Anak Haram
Mengecil Di Antara Yang Membesar
September 2nd, 2009 Posted 9:18 am
Pak dan Bu Kasur. Tokoh lain yang selalu menginspirasi. Mereka konsisten untuk menjadi Guru TK, guru pertama bagi para siswanya. Mereka selalu ceria, mengajar bernyanyi dan bercerita. Kebetulan mereka adalah teman baik Opung dan Nenek.
Pak dan Bu Kasur, dua orang yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri di dunia pendidikan anak-anak. Kenapa anak TK, bukan anak SD? Itu menarik. Mengajar anak SD memiliki kebanggaan bahwa anak didiknya memiliki ilmu yang terukur dengan nilai. Anak TK tidak mengenal nilai dan rapor. Mengajar anak SD bisa memberi hukuman dan sanksi, mengajar anak TK tidak bisa menghukum dan memberi sanksi. Tetap saja pertanyaannya: kenapa anak TK?
Tags: Kasih, Motivasi, Yuk Nulis!
Posted in Mengecil Di Antara Yang Membesar
Semangat Pak Tino Sidin
August 24th, 2009 Posted 7:20 pm
Bagi mereka yang berusia 30 tahun ke atas pasti ingat sosok Pak Tino Sidin. Bersahaja dengan topi khasnya, berkaca mata besar dengan tangkai plastik hitam, gigi yang tak beraturan menghiasi senyum sumringahnya, berambut ikal, kebapakan sekali. Pak Tino Sidin selalu membawakan acara Gemar Menggambar di TVRI era 1980an.
Satu hal yang tidak bisa dilupakan dari seorang Tino Sidin, beliau selalu mengatakan, “Bagus!” Satu kata sederhana yang dulu tidak bermakna apa-apa ketika aku kecil. Setelah dewasa, baru paham bagaimana rasanya dipuji meskipun karyaku bukan main jeleknya.
Tags: Kasih, Motivasi, Yuk Nulis!
Posted in Semangat Pak Tino Sidin
Do I Know You?
August 11th, 2009 Posted 7:43 am
Beberapa hari lalu, aku menerima sebuah lelucon di inbox-ku. Sebuah lelucon yang sebetulnya sungguh lucu. Mungkin karena aku sudah baca sebelumnya, jadi tidak terlalu lucu lagi buatku. Ditambah perasaan gundah gulana, marah, sakit hati dan segala rupa yang campur aduk jadi satu akibat menemukan dua tulisanku diobrak-abrik orang, sungguh aku tidak bisa tersenyum apalagi cengengesan seperti biasa. Tulisan yang kubuat dengan kesungguhan hati di tengah keributan Si Sulung dan Si Bungsu diubah begitu saja apalagi seolah-olah menjadi “miliknya”.
Seorang teman yang berniat menghibur malah aku tegur dengan kelayakan sebuah pengutipan, “Cantumkan sumbernya.” Sialnya, dari sekian banyak penerima pesan itu, tak satupun kukenal yang tentunya juga tidak kenal aku dong. Sontak mereka marah karena aku dianggap berlebihan, hiperbolik, lebay, merasa “sok ngetop” dan sebagainya.
Tags: Curhat, Kasih, Luka Batin, Maaf, Syukur
Posted in Do I Know You?
Aku Tidak Bodoh, Ma
July 23rd, 2009 Posted 8:33 am
Hari Anak Nasional 2009
Hari ini pestanya anak-anak Indonesia. Apakah mereka sungguh bisa menjadi diri sendiri? Aku tidak yakin. Banyak anak-anak yang tidak bisa jadi dirinya sendiri. Sadarkah bahwa tuntutan lingkungan terutama orang tua menyiksa mereka?
Kemarin, tetangga sebelahku – yang memang selalu berteriak – bicara di telepon. Agak sulit untuk tidak menguping apapun yang dikatakan ibu itu, suaranya terdengar ke mana-mana. Apalagi aku sambil jemur baju di teras, percakapan sebelah pihak itu jelas betul terdengarnya.
“Ya, Bu. Biarin aja! Pokoknya anak saya jangan boleh pulang kalau belum bisa baca soalnya. Kemarin nilainya B, Papanya marah banget. Nilainya jelek!” Anak yang dibicarakan itu usianya sebaya dengan Si Sulung, harusnya juga kelas 1 SD. Bertetangga sebelahan dengan ibu itu membuatku stress dengan teriakannya sepanjang waktu, jadi ya sudahlah gak usah berakrab ria. Makanya aku gak tau anak itu sekolah di mana.
Tags: Kasih, Keluarga, Pendidikan, Prihatin, Si Bungsu, Si Sulung
Posted in Aku Tidak Bodoh Ma
Aku Cemburu!
May 30th, 2009 Posted 7:54 am
Kenapa orang bisa cemburu? Katanya cinta dan benci itu seperti dua sisi mata uang yang bedanya hanya sehelai rambut. Pantas saja cemburu itu jadi “satu paket” dengan cinta dan benci. Semakin orang cinta, semakin orang mudah cemburu, semakin juga mudah benci.
Aku tidak cinta pada tetanggaku, maka aku tidak cemburu apalagi benci. Aku cinta pada keluargaku, maka aku cemburu dan berusaha untuk tidak benci. Kesal? Pasti! Katanya benci itu tak terobati. Jadi cukup sampai kesal saja lah.
Tags: Kasih, Sahabat
Posted in Aku Cemburu!
Training Ulang Si Ego
April 30th, 2009 Posted 10:38 am
Sudah hampir 3 minggu aku judeg, pusing klo kata orang Jawa. Bawaannya suntuk. Pokoknya gak produktif banget lah. Klopun ada yang dikerjain ya itu bukan nulis, tapi update sana-sini aja. Lagu-lagu di mp3 – mulai dari Safri Duo yang techno percussion sampe Halmahera yang jazzy – biasanya bisa menggoda untuk joged2, kali ini ga mempan.
Kok bisa? Kenapa gak bisa? Namanya juga manusia, lagi datang redupnya. Apalagi ditambah urusan domestik yang udah 3 tahun ga kelar2 bikin hidup makin redup. Mau ngapa-ngapain males. Kayak kena masalah tapi ga ada ujung pangkalnya, ga bisa selesai. Mengingat setahun terakhir full produktif, mungkin Tuhan mau suruh aku “cuti” dulu kli ya.
Tags: Kasih, Keluarga, Luka Batin, Maaf
Posted in Training Ulang Si Ego
Valentine, Bila Kau Mau Berbagi
February 18th, 2009 Posted 3:23 pm
Aku gak pernah ngerayain Valentine sama Si Ayah, terhitung sejak pacaran berarti sudah sekitar 7 tahun. Malah pernah kira-kira setahun atau dua tahun lalu aku sampai nangis-nangis minta merayakan Valentine tapi gak juga kesampaian. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk gak berharap lagi romantis-romantisan sama pasangan. Valentine kan bukan cuma milik yang berpasangan, tapi juga berbagi kasih dengan siapa saja.
Lalu datanglah tawaran itu, tepat di hari Valentine, aku diminta untuk jadi pembicara di 2 tempat dengan jadwal yang berurutan di Bandung. Wah, anugerah besar nih! Kastanya sekarang sudah jadi pembicara. Biasa sebagai jurnalis memburu narasumber sekarang jadi narasumber. Pengalaman baru ketimbang cuma merayakan Valentine dengan sebatang coklat dan setangkai bunga. Sempat juga terbersit di benakku, apa sih makna Valentine buatku?
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Kasih, Ngobrol Bareng, Perjalanan, Sahabat, Si Ayah
Posted in Valentine Bila Kau Mau Berbagi
Ngasong @ Paulus & Gandarusa, Bandung, 24-25 Jan 08
January 27th, 2009 Posted 9:13 am
Intensi kali ini membantu OMK Sarimawartoba mengumpulkan dana untuk kemping bersama Uskup “Unity in Diversity” tgl 7-9 Maret 2008 di Ranca Upas.
Proficiat! Terima kasih banyak atas kerja kerasnya untuk menjual bukuku. Aku senang dengan sebutan ngasong, kenapa? Karna literally kita menjajakan buku, jemput bola ke umat. Itu jauh lebih baik ketimbang menunggu umat yang datang menghampiri.
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Kasih, Ngasong Buku, Perjalanan, Sahabat, Si Ayah
Posted in Ngasong @ Paulus & Gandarusa Bandung
Malaikatku Manusia
January 8th, 2009 Posted 2:28 pm
Hari ini luar biasa.
Aku bertemu dengan seorang malaikat.
Seorang? Memangnya dia manusia?
Ya. Dia manusia.
Sama seperti kita.
Bernapas. Makan. Minum. Bahkan menggunakan telepon.
Telepon?
Ya. Dia meneleponku tadi siang.
Tau dari mana dia malaikat?
Karena dia mengabarkan baru saja memberi sejumlah obat untuk Mama Mertuaku di rumah sakit.
Padahal aku tidak kenal.
Aku juga tidak yakin dia kenal aku.
Tapi dia berbuat baik meskipun tak kenal aku.
Maka aku yakin dia adalah malaikat.
Tau dari mana dia manusia?
Katanya tak bisa lama ketemu Mama Mertuaku, karena sedang dibersihkan lukanya.
Berarti ada saksinya?
Harusnya dia ketemu Mama Mertuaku.
Mungkin saja Suster yang bertugas juga ketemu.
Buktinya dia ditegur Suster karena saat itu bukan jam besuk.
Meyakinkan sebagai manusia dong?
Nanti kutanya Mama Mertuaku, apa dia sungguh ketemu malaikat atau manusia atau malaikat dalam jiwa manusia…
Tuhan,
sampaikan terima kasihku pada malaikatku ya…
Tags: Kasih, Malaikat, Mama Mertua
Posted in Malaikatku Manusia
“Mudik” ke Borromeus: 2 Minggu
January 5th, 2009 Posted 4:42 pm
Selama 2 minggu kmaren aku “mudik” ke Borromeus. Ngapain? Nemenin Mama Mertua. Berangkat tgl 22 bertiga sama anak2, Si Ayah nyusul tgl 24 nunggu majalahnya kelar. Toh gak kelar juga, tapi karna surat cuti sudah di tangan ya tinggal aja…
Mama Mertua penderita diabetes, ada luka di kakinya. Awalnya sederhana, kakinya yang sering kapalan diguntingi padahal Si Emak punya penyakit diabetes. Karna diguntingi, artinya kan luka meskipun ga berdarah. Jadinya kulit telapak jempol kakinya bolong. Karena tidak berdarah dan tidak pedih, dianggapnya tidak luka. Dari luar memang bolong kecil, dalamnya siapa tahu?
Tags: Bandung, Doa, Kasih, Keluarga, Mama Mertua, Ngasong Buku, Perjalanan, Purbalingga, Si Ayah, Si Bungsu, Syukur
Posted in Mudik ke Borromeus 2 Minggu
Adiksi Kasih
January 4th, 2009 Posted 4:42 pm
Manusia senang sekali disayang. Orang tua pada anaknya, antarsahabat, antarpasangan. Lalu ketika kasih sayang itu hilang, orang itu akan berubah jadi pemarah, pemurung, merasa tidak berguna dan sebagainya. Lihat saja para remaja yang sedang kasmaran lalu putus cinta, siapa yang tidak patah hati? Mengurung diri di kamar, tidak enak makan, tidak bisa tidur, tidak ada semangat.
“Mengapa oh mengapa…”
Lihat juga orang-orang yang uring-uringan karena sahabatnya tidak lagi memperhatikannya. Karena kesibukan atau mendapat sahabat baru, sahabat lama dibuang sayang. Tidak ada lagi ke bioskop bareng, telepon haha-hihi, tempat curhat yang menyenangkan. Lalu pihak yang “ditinggalkan” akan mencari kompensasi lain.
Tags: Doa, Kasih, Sahabat, Si Ayah
Posted in Adiksi Kasih
Green House, Rumahku
January 4th, 2009 Posted 4:16 pm
Dua minggu di kota ini, cukup membuatku kerasan meskipun tidak kunjung hapal jalan. Semua mirip-mirip. Banyak jalan satu arah. Rute yang aku tau hanya Borromeus-Braga dan sebaliknya, Green House-Braga dan sebaliknya, Borromeus-Green House. Jadi kalau dari Green House mau ke Borromeus terpaksa muter lewat Braga. Daripada sok tahu lalu nyasar?
Dalam dua minggu ini juga aku jadi “tamu tetap” Green House. Tempat hang out favorit selain warung kopi kaki lima di sekitar Borromeus. Saking seringnya – rasanya hampir tiap hari, kadang sehari beberapa kali – keluar masuk Green House, mulai dari Pak Penjaga Gerbang sampai Bibi Tukang Masak hapal wajah dan mobilku. Rasanya seperti pegang kartu pas. Datang pagi-pagi ikut Misa di Kapel Mungil pernah, pulang jam 9 malam juga pernah. Ikut sarapan, makan siang sampai makan malam juga pernah. Di sana ikutan sibuk beres-beres dari pagi, lalu sambung lagi sore menjelang malam sampai larut juga pernah. Alhasil, tidak perlu lagi lapor sana-sini, langsung saja nyelonong ke dapur lewat belakang dan tiba di ruang makan. Dari situ baru celingak-celinguk sapa tau ada romo yang nganggur. Memang sih, biasanya aku konfirmasi dulu ke Bapaknya, ada di rumah ga? Klo ada dan nganggur, aku main. Kasih laporan pandangan mata perkembangan Mama Mertua.
Yang Kecil dan Tidak Penting
December 28th, 2008 Posted 7:00 pm
Beberapa hari ini sejak aku di kota ini, aku menjadi religius sekali. “Mengusir suntuk,” begitu menurut Bapa Uskup. Karena aku setidaknya sudah seminggu di sini – belum termasuk minggu sebelumnya aku di sini selama 5 hari – dan setidaknya masih akan di sini selama 3 hari, maka aku menjadi kerap berkirim SMS dengan Bapa Uskup. Melaporkan progress report Mama Mertua yang sudah mondok di rumah sakit selama sebulan dan entah sampai kapan.
Mama Mertua diabetes, lalu ada luka kecil di kakinya. Tidak sakit dan tidak berdarah memang. Tapi siapa tau di balik telapak kakinya yang biasa-biasa saja ternyata berkumpul bakteri ganas yang membuat telapak kakinya busuk, bau dan bernanah. Meskipun sudah masuk ruang operasi setidaknya 3 kali, bakteri itu akhirnya mencari sasaran lain. Pindah ke punggung kaki dan atas mata kaki. Aku memang belum pernah liat sendiri, tapi deskripsi dari Si Ayah cukup jelas bahwa dari lubang besar di telapak kaki yang hanya menyisakan tumit dan pangkal jari kaki, sempat terlihat tulangnya yang putih sehat. Itu sebabnya Dokter optimis tidak perlu amputasi. Toh, nyatanya pada operasi ke 8, kelingking kaki kiri Mama Mertua tetap harus diamputasi. Menurutku dan Si Ayah, cukup minor ketimbang menyelesaikan secara instan mengamputasi dari lututnya. Secara psikologis, Mama Mertua yang mandiri dan biasa ke mana-mana sendirian harus mengenakan kaki palsu dan belum tentu membuatnya percaya diri. Belum lagi efek dari kemungkinan lecet dan infeksi. Sampai sekarang, Mama Mertua sudah menjalani 10x operasi kecil.
Tags: Kasih, Si Ayah, Ulang Tahun
Posted in Yang Kecil dan Tidak Penting
Ungkapan Cinta untuk Bapa Uskup
December 27th, 2008 Posted 6:58 pm
Sabtu, 27 Desember 2008, Bapa Uskup genap berusia 59 tahun.
Ketika aku sedang menunggui Mama Mertua di Rumah Sakit, Bapa Uskup kirim SMS, “Lini, besok datang ke ultahku ya, ada misa pagi di kapel.”
Wooooowwww… seperti anak kecil aku melonjak kegirangan. Mimpi apa diundang ke ultah orang sepenting Bapa Uskup?
Jam 7 kurang aku dan Si Ayah tiba di Green House. Beberapa orang sudah datang. Misa di kapel mungil itu penuh sesak. Diikuti setidaknya 20 orang. Intensi misa dipersembahkan untuk ultah Bapa Uskup sekaligus pesta Santo Yohannes sebagai santo pelindung Bapa Uskup.
Tags: Bandung, Doa, Kasih, Sahabat, Si Ayah, Syukur, Ulang Tahun
Posted in Ungkapan Cinta untuk Bapa Uskup
Warta Inspirasi
December 25th, 2008 Posted 6:58 pm
Kamis siang yang berawan, hari Natal 25 Des 2009 bertepatan dengan ulang tahun Si Bungsu yang ketiga. Di sini udara sejuk, tidak seperti Jakarta dan Bekasi yang panas. Suasana lokal kentara betul sampai aku bisa menandai mana tamu dari Jakarta, mana warga lokal.
Pada misa Natal siang itu dipimpin oleh seorang Imam yang sangat terpandang. Demikian terpandangnya hingga orang berjubel dan meluap ke luar gereja. Begitu besar keinginan umat untuk menatap langsung, menerima berkat dan mendengarkan homili yang disampaikan Sang Imam. Termasuk aku, itu sebabnya kupilih jadwal misa siang itu. Pertama kali mengikuti misa yang dipimpin oleh Sang Imam. Si Bungsu dan Si Sulung kutitipkan di rumah Kakak Ipar. Misa khusus anak-anak diadakan besoknya.
Kasih Sayang Menang!
December 22nd, 2008 Posted 6:57 pm
Mendengar kata “Ibu” yang terbersit di benakku adalah sosok perempuan yang hatinya bagai sungai kasih sayang, mengaliri kehidupan anak-anaknya tanpa kenal musim. Rela berkorban melakukan apa saja bahkan melupakan dirinya sendiri demi anak-anaknya sebagai representasi jiwanya.
Wah ideal betul sosok Ibu bagiku? Aku menitikberatkan pada kasih sayang, tak perlu menyebut para Ibu yang hobi ngomel, pelupa, kalau belanja lama sekali, masakannya tidak enak, cerewet, terlalu protektif, dan sebagainya. Menjadi cukup manusiawi kan?
Dalam konteks Ibu yang penuh kasih, mengingatkan aku pada sosok 4 Ibu yang menjadi bagian penting dalam hidupku. Siapa itu?
Tags: Doa, Kasih, Mama Mertua, Sahabat, Si Bungsu, Si Sulung, Syukur
Posted in Kasih Sayang Menang!











