Posts Tagged ‘Keluarga’
E-book Si Kaki Putih, Si Kaki Hitam, dan Si Cokelat
November 7th, 2011 Posted 10:00 am

Si Kaki Putih, Si Kaki Hitam, dan Si Cokelat
G. Lini Hanafiah & Mikayla Karissa Denel
ISBN: 978-979-18815-5-5
Penerbit: Via Lattea Foundation
60 hal
18×18 cm
Untuk mengunduh, silakan klik di sini.
Tags: Buku, Keluarga, Pendidikan, Si Ayah, Si Bungsu, Si Ibu, Si Sulung, the De.N.eL.s
Posted in E-book Si Kaki Putih Si Kaki Hitam dan Si Cokelat
Na, Jaga Diri Lu (2)
June 30th, 2010 Posted 7:26 pm
Sambungan dari Na, Jaga Diri Lu
Aku masih bengong di ruang medical check up sebuah rumah sakit mewah di barat Jakarta. Sudah dua jam berlalu. Kulirik jam tanganku, jam 1 siang. Pff… masih satu jam lagi diambil darah terakhir. Aku bukan sakit, mumpung dapat voucher gratis seharga satu juta, rugi kalau dilewatkan. Sekalian cari tahu kenapa aku makin kurus padahal makan tetap buanyak.
Enaknya ngapain ya? Main game di ponsel aja deh. Oaahhmm… mulai ngantuk. Mana lapar lagi. Hiks…. Tiba-tiba ada pesan singkat masuk.
“Lin, lagi di mana? Gue mau ngomong sama lu nih.”
Tags: Kasih, Keluarga, Luka Batin, Sahabat
Posted in Na Jaga Diri Lu (2)
To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras, Kembali Cerdas)
January 5th, 2010 Posted 4:52 am
(lanjutan dari To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif))
Kembali Waras, Kembali Cerdas
“I’ll be home for Christmas” itu harus dibuat monumentalnya. Tahap pertama, “nodong” Romo Pakdhe – seorang sahabat baikku – untuk Sakramen Tobat. Urusan mengakui dosa campur curhat itu membuatnya terkaget-kaget. Setidaknya, beberapa kali ia menunjukkan ekspresi terperangah dan geleng-geleng tak habis pikir. Dari obrolan itu, ada banyak hal menarik bagi Romo Pakdhe untuk dijadikan bahan renungan. Beberapa pertanyaan yang cukup “ajaib” ditujukan ke Si Ayah.
Misalnya, “Kamu kan berhak untuk melarang Lini pergi.”
“Kalau Lini saya larang, dia akan makin menjadi. Kalau dibiarkan, dia akan sadar sendiri.”
“Seandainya kamu dilarang pergi, bagaimana?” Kali ini pertanyaannya padaku.
“Gak apa-apa kalau dilarang asal detik itu juga kami pergi ke konseling atau apalah untuk menyelesaikan masalah ini.”
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Cinta, Doa, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Perjalanan, Si Ayah, Si Ibu, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond
Posted in To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras-Kembali Cerdas)
To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)
January 4th, 2010 Posted 9:16 pm
Tuhan bekerja dengan berbagai macam cara, termasuk cara yang jauh di luar akal sehat kita. Dengan penuh keyakinan aku mengatakan, “Seandainya aku tidak mengalami segala kejahatan dan kebodohan ini, belum tentu segala yang indah ini kurasakan hari ini. Rasanya seperti melewati lubang jarum!”
Perkawinan, tentu saja tidak semudah dan seindah prosesi janji perkawinan yang diadakan pada hari bahagia itu. Ketika merencanakan hari pernikahan, semua bisa diatur dan direncanakan dengan “mudah” meskipun ada saja hal yang di luar dugaan. Sadarkah, ketika urusan pemilihan baju pengantin dan segala tetek-bengeknya terjadi perselisihan, itu adalah “replika” dari kehidupan perkawinan yang sesungguhnya. Persiapan hari pernikahan butuh tiga bulan, misalnya. Sementara dinamika yang sama akan dihadapi selama seumur hidup. Setidaknya, tidak ada orang yang ketika yakin untuk menikah lalu berkata pada kekasihnya, “Aku akan menikahimu selama tiga tahun,” atau, “Aku akan menikahimu sampai aku bosan,” atau “Aku akan menikahimu sampai menemukan yang lain lagi nanti.”
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Cinta, Doa, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Perjalanan, Si Ayah, Si Ibu, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond
Posted in To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat-Bodoh-Primitif)
Bandung, Pernikahan
December 22nd, 2009 Posted 5:08 pm
Kamis, 17 Desember 2009. Anak-anak terima rapor. Libur telah tiba. Hore… hore… hore…
Ke Bandung sebenernya sudah tidak masuk kategori berlibur karena ada banyak tujuan. Mulai dari nengok Mama Mertua sampai jadi umat abangan di Keuskupan Bandung, semua bisa. Kalau lepas kangen sama teman-teman di Bandung termasuk liburan ya bisa juga. Yang jelas, sering ke Bandung karena Kakak Ipar di sini maka bebas dari “hotel penuh” dan “ongkos mahal”. Tujuan kali ini adalah undangan pemberkatan nikah kerabat di Gereja St. Laurentius Sukajadi.
Malam itu juga kami harus berangkat karena besok pagi-pagi Si Ayah harus antar Mama Mertua ke tempat syukuran untuk sediain makanan. Berangkat dari rumah jam 9 malam, masuk tol Bekasi Barat jam 9.30. Semua penumpang ngantuk jadi tidak paham betapa padat meratapnya perjalanan Bekasi-Bandung. Begitu bangun sudah di gerbang rumah Kakak Ipar di Viaduct dekat Braga. Begitu buka mata lihat jam… jam 12!! Ampuunn… jadi perjalanan tadi 2,5 jam?? Katanya padat meratap sampai tol Sadang. Ini salah satu alasan malas berakhir pekan panjang di Bandung kalau bukan karena ada undangan. Sampai rumah, tidur dilanjutkan!
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Doa, Gereja, Harapan, Keluarga, Natal, Perjalanan, Purbalingga, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond, Yuk Nulis!
Posted in Bandung Pernikahan
Natal, Selalu Istimewa
November 30th, 2009 Posted 11:14 pm
Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 10, Desember 2009
Natal, selalu menjadi hal sentimentil buatku.
Natal pertamaku tahun 2002
Singkat cerita, saat itu aku baru saja dibaptis. Pengantin baru yang memiliki janin berusia tiga bulan di rahimku. Dengan kondisi mual-dan-muntah-selalu, tidak mungkin aku merasakan Misa Malam Natal. Sejak dulu memang aku suka sekali dengan suasana Natal yang dipenuhi anak-anak. Pilihannya jatuh pada Misa Natal Anak-anak jam 9.00.
Rasa gembiraku lebih mirip anak-anak ketimbang calon ibu. Rasanya kembali ke masa kecil. Melihat banyak sekali anak-anak berbaju merah dengan topi Santa Clause. Menyanyikan lagu Natal anak-anak. Mendengarkan koor anak-anak. Menyaksikan tablo Natal yang dibawakan anak-anak yang ceritanya “memang begitu”. Air mata haru dan senyum gembira jadi satu. Pasti aneh sekali wajahku saat itu dengan perut yang tidak terlalu buncit.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Keluarga, Majalah Kuasa Doa, Natal, Si Ayah, Si Bungsu, Si Ibu, Si Sulung, the De.N.eL.s
Posted in Natal Selalu Istimewa
Aku Marah di Hadapan Altar-Nya
October 19th, 2009 Posted 9:27 am
Setelah bertahun-tahun tidak lagi rutin ke gereja, hari Minggu kemarin aku ke gereja. Aku bukan orang yang bisa menyambut Ekaristi dalam keadaan marah dan benci. Aku marah, aku benci, aku terluka. Urusan domestik yang tak kunjung terselesaikan selama empat tahun terakhir sungguh mengganggu stabilitas mental dan jiwa yang akhirnya berpengaruh pada ketahanan fisikku. Sakit-sakitan, lebih kurus dari biasanya yang memang sudah kurus, sulit berkonsentrasi.
Si Ayah bukan orang yang religius, jadi tak perlu berharap diajak ke gereja. Setidaknya, ini salah satu bukti bahwa aku migrasi karena “mengikut suami”. Ikut ke mana, wong pergi sendiri? Mungkin memang seharusnya aku pergi sendiri kalau dia tak mau ikut. Biar dia dan anak-anak main di rumah. Berhubung Si Lini ini idealis, ke gereja ya harusnya komplit, akhirnya “mengalah” dan kompak semuanya tinggal di rumah.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Maaf, Si Ayah, Syukur
Posted in Aku Marah di Hadapan Altar-Nya
Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pembantu
September 29th, 2009 Posted 1:29 am
Sebenarnya tadi pagi waktu nyiapin anak-anak berpakaian mau berangkat ke sekolah sambil nonton berita pagi sudah terpikir mau nulis. Keliling-keliling dulu, malamnya sakit kepala. Eehh… keburu Femi nulis di blognya soal yang sama. Kena getaran yang sama? Gak tau hehehe…
Tadi pagi itu, di berita pagi sebuah tivi swasta, narasumbernya adalah seorang penyalur PRT dan Moza Pramita. Lupa persisnya, tapi inget banget Moza bilang, “Dari ibu rumah tangga jadi pembantu.” Sampai akhir tayangan ga ada penjelasannya – apakah Moza ngeledek temen-temennya di facebook atau pernyataan dia, atau apa lah – justru malah tertawa. Kalau tidak salah, Moza malah sempat ngomong sambil ketawa, “Saya nyapu berantakan…” Apa maksudnya? Yang jelas, pernyataan itu bikin aku marah! Emosi jiwa, jek! Dari ibu rumah tangga jadi pembantu? Merasa hina gitu?
Tags: Keluarga, Prihatin, Si Ayah
Posted in Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pembantu
Lebaran Terakhirku
September 21st, 2009 Posted 5:20 pm
Jumat malam lalu sepulang dari Kelapa Gading menuju rumah di Harapan Indah, Bekasi, aku mengamati kemacetan yang dipenuhi pemudik bermotor. Jalur Jl. Raya Bekasi dan Jl. Raya Kalimalang sudah pasti dipenuhi pemudik bermotor. Bahkan persimpangan masuk gerbang komplek rumah dipasangi tanda “Jalur Pantura”.
Para pemudik itu dapat dikenali dengan khas: membawa tas besar atau kardus yang diikat di jok belakang dan memakai jaket tertutup rapat. Beragam tujuan mulai dari seputar Jawa Barat sampai Jawa Timur. Seorang office girl di kantor Si Ayah juga termasuk pemudik bermotor berboncengan dengan seorang temannya yang juga perempuan.
Berbagai cara dilakukan para pemudik untuk bisa sekadar berkumpul bersama orang-orang terkasih. Berebut tiket, berebut tempat duduk di angkutan umum, berdesak-desak, bermacet-total-ria. Tidak sedikit biaya yang harus disisihkan. Harga tiket yang melangit dan kemacetan luar biasa memakan bahan bakar berlipat ganda. Tapi semua tak ada artinya dengan kegembiraan berada di tengah keluarga.
Tags: Doa, Kasih, Keluarga, Purbalingga, the De.N.eL.s
Posted in Lebaran Terakhirku
Tidak Ada Anak Haram
September 15th, 2009 Posted 4:24 pm
Beberapa hari lalu, salah satu teman Nuliser menulis tentang Ibundanya Sheila Marcia. Tulisan itu mengingatkan kita betapa kasih Ibu sepanjang jalan.
Aku bukan ingin membahas Ibundanya Sheila, tapi Sheila itu sendiri. Sebagai orang yang senasib, aku paham betul bagaimana rasanya menjadi Ibu lebih cepat dari seharusnya. Kalau boleh dibilang, aku jauh lebih beruntung karena umurku saat itu sudah 25 tahun sementara Sheila baru 20 tahun dan anakku kemudian memiliki ayah yang mengasuhnya sementara Sheila sejauh ini masih ingin menjadi single parent. Ditambah lagi Sheila harus kembali masuk penjara sementara aku kala itu bahagia di rumah. Pernahkah kita membayangkan itu? Berada di posisi Sheila dan Sheila-Sheila lainnya?
Hamil di luar nikah. Tidak ada satu perempuan pun yang dengan sengaja menginginkan itu. Setidaknya, bukan kultur Indonesia jika seorang perempuan yang tidak ingin menikah tapi ingin punya anak kemudian membeli sperma, hamil dan melahirkan. Akan jauh lebih mudah jika mengadopsi atau memiliki anak asuh. Apalagi jika kehamilan itu sungguh di luar dugaan dan tidak diinginkan.
Tags: Kasih, Keluarga, Luka Batin
Posted in Tidak Ada Anak Haram
Aku Tidak Bodoh, Ma
July 23rd, 2009 Posted 8:33 am
Hari Anak Nasional 2009
Hari ini pestanya anak-anak Indonesia. Apakah mereka sungguh bisa menjadi diri sendiri? Aku tidak yakin. Banyak anak-anak yang tidak bisa jadi dirinya sendiri. Sadarkah bahwa tuntutan lingkungan terutama orang tua menyiksa mereka?
Kemarin, tetangga sebelahku – yang memang selalu berteriak – bicara di telepon. Agak sulit untuk tidak menguping apapun yang dikatakan ibu itu, suaranya terdengar ke mana-mana. Apalagi aku sambil jemur baju di teras, percakapan sebelah pihak itu jelas betul terdengarnya.
“Ya, Bu. Biarin aja! Pokoknya anak saya jangan boleh pulang kalau belum bisa baca soalnya. Kemarin nilainya B, Papanya marah banget. Nilainya jelek!” Anak yang dibicarakan itu usianya sebaya dengan Si Sulung, harusnya juga kelas 1 SD. Bertetangga sebelahan dengan ibu itu membuatku stress dengan teriakannya sepanjang waktu, jadi ya sudahlah gak usah berakrab ria. Makanya aku gak tau anak itu sekolah di mana.
Tags: Kasih, Keluarga, Pendidikan, Prihatin, Si Bungsu, Si Sulung
Posted in Aku Tidak Bodoh Ma
Kenapa Aku Sipit, Bu?
June 19th, 2009 Posted 6:15 pm
Anak-anak, sering kali pemikirannya membuat kita takjub. Pertanyaannya membuat kita bingung harus menjawab apa. Begitu pertanyaan terlontar dari mulut mungilnya, kita serasa disengat lebah. Kaget, heran, tak bisa berpikir cepat.
“Kenapa aku sipit, Bu?” Kudengar sayup-sayup suara Si Sulung dari kamar. Kupikir dia sedang asyik nonton video Pentas Seni kemarin.
“Yla ngomong sama Ibu, Nak?” Aku yang di depan komputer menghampiri ke kamar.
“Iya. Kenapa mataku sipit, Bu?”
???
Hang.
Bingung.
…
Gak cukup kata menggambarkan perasaanku saat itu. Berpikir-pikir bagaimana menjelaskannya ya? Mati aku!
Tags: Keluarga, Mama Mertua, Oey Keng Siong, Si Sulung, Syukur
Posted in Kenapa Aku Sipit Bu?
Training Ulang Si Ego
April 30th, 2009 Posted 10:38 am
Sudah hampir 3 minggu aku judeg, pusing klo kata orang Jawa. Bawaannya suntuk. Pokoknya gak produktif banget lah. Klopun ada yang dikerjain ya itu bukan nulis, tapi update sana-sini aja. Lagu-lagu di mp3 – mulai dari Safri Duo yang techno percussion sampe Halmahera yang jazzy – biasanya bisa menggoda untuk joged2, kali ini ga mempan.
Kok bisa? Kenapa gak bisa? Namanya juga manusia, lagi datang redupnya. Apalagi ditambah urusan domestik yang udah 3 tahun ga kelar2 bikin hidup makin redup. Mau ngapa-ngapain males. Kayak kena masalah tapi ga ada ujung pangkalnya, ga bisa selesai. Mengingat setahun terakhir full produktif, mungkin Tuhan mau suruh aku “cuti” dulu kli ya.
Tags: Kasih, Keluarga, Luka Batin, Maaf
Posted in Training Ulang Si Ego
“Mudik” ke Borromeus: 2 Minggu
January 5th, 2009 Posted 4:42 pm
Selama 2 minggu kmaren aku “mudik” ke Borromeus. Ngapain? Nemenin Mama Mertua. Berangkat tgl 22 bertiga sama anak2, Si Ayah nyusul tgl 24 nunggu majalahnya kelar. Toh gak kelar juga, tapi karna surat cuti sudah di tangan ya tinggal aja…
Mama Mertua penderita diabetes, ada luka di kakinya. Awalnya sederhana, kakinya yang sering kapalan diguntingi padahal Si Emak punya penyakit diabetes. Karna diguntingi, artinya kan luka meskipun ga berdarah. Jadinya kulit telapak jempol kakinya bolong. Karena tidak berdarah dan tidak pedih, dianggapnya tidak luka. Dari luar memang bolong kecil, dalamnya siapa tahu?
Tags: Bandung, Doa, Kasih, Keluarga, Mama Mertua, Ngasong Buku, Perjalanan, Purbalingga, Si Ayah, Si Bungsu, Syukur
Posted in Mudik ke Borromeus 2 Minggu
Pernikahan Kamar Mandi
November 5th, 2008 Posted 12:10 pm
Sudah lama sekali aku tidak mengisi blog. Ngapain? Macem-macem. Ngurusin buku sendiri, ngasong buku “Berjalan di Air Pasang Surut”, ini-itu, dan yang jelas ya ngurusin keluarga lah…Setelah 6 tahun, rasanya udah ga terlalu kaget2 lagi klo liat Si Ayah yang begitu. Sejak awal pernikahan emang kadarnya bukan nambah, tapi ya sedikit naik dan banyak turunnya. Berantem hampir tiap hari, hal kecil jadi besar, macam2 lah. Rasa kangen juga jaraaaa…ng banget. Bosen? Pasti! Tepatnya: bosen yang diributin itu lagi-itu lagi. Kayaknya kok ga belajar banget dari kesalahan. Demen bener jatuh di lobang yang sama. Udah tau bininya galak n bawel, hal yang ga disukai kok masih aja dikerjain terus? Rasanya ga dihargai deh…
Tags: Keluarga, Ngasong Buku, Sahabat, Si Ayah
Posted in Pernikahan Kamar Mandi
Peduli Lingkungan: Sebuah Prestasi
June 10th, 2008 Posted 11:45 pm
Beberapa waktu lalu aku belanja di sebuah hypermarket. Mata aku terpaku pada sebuah spanduk yang isinya soal kantong pengganti kantong plastik yang biasa digunakan sebagai wadah belanja. Menurut spanduk itu, kita hanya perlu membeli tas belanja seharga dua ribu rupiah untuk satu tas dan jika rusak maka akan diganti gratis. Wah, idenya menarik juga nih, pikir aku. Tanpa pikir panjang, aku berniat membeli tas tersebut. Begitu aku disodorkan tas yang dimaksud, aku cukup kecewa. Tas tersebut juga terbuat dari plastik hanya lebih tebal.
“Wah, nggak jadi deh, Mbak,” kata aku.
“Kenapa, Bu?” Petugas kasir itu heran.
“Yah… peduli plastik diganti plastik juga. Aku punya tas belanja yang lebih peduli lingkungan di rumah.” Petugas kasir tampak kecewa dan sedikit bingung. Yah, tidak perlu penjelasan panjang lebar baginya. Yang sesuai porsi tugasnya saja.
Sampai di rumah, kuceritakan kejadian ini pada si Ayah.
“Yah, mulai besok kalau belanja ke supermarket atau hypermarket kita bawa tas yang besar itu aja. Kamu peduli lingkungan nggak sih?” Pertanyaan sederhana itu tentu tidak sederhana jawabannya.
Cukup lama si Ayah terdiam sampai akhirnya terlontar, “Iya lah, mulai dari yang kecil aja dulu.”
“Naaah… gitu dong…!” Aku tentu saja melonjak kegirangan.
Beberapa hari kemudian, aku berniat membeli beberapa barang yang cukup banyak juga. Kupegang-pegang dua tas belanja itu. Cukup nggak ya, pikirku. Cukup lah. Kalau kurang ya nanti dipikirkan lagi pakai plastik atau ditenteng begitu aja. Sayang aku tidak tahu nama bahan tas itu apa. Seratnya mirip kertas atau tisu. Biasanya dipakai untuk goodie bag dalam acara-acara seremonial. Makanya aku punya banyak, berbagai model dan warna dengan logo acara, produk atau perusahaan.
“Bu, itu tas buat apa dibawa?” Tanya si Sulung.
“Nanti, kalau habis bayar di kasir, bawa belanjaannya pakai ini aja, nggak usah pakai tas plastik.”
“Wah, seperti yang diceritain ibu guru di sekolah. Peduli sampah plastik,” jelasnya dengan gaya dewasa.
Maka, berangkatlah aku menuju supermarket langganan. Kedua tas sudah kulipat dengan rapi dan kumasukkan ke dalam tasku. Jangan-jangan nanti Pak Satpam malah nyuruh titipin tas itu. Terus belanjaanku taruh di mana? Si Sulung sudah ribut sejak di rumah, ingin segera membawa belanjaan dengan tas itu.
Selesai berbelanja, kukeluarkan tas belanja dari tasku. Menarik perhatian petugas kasir rupanya.
“Mbak, pake tas ini aja ya?” Aku menyerahkan tas itu untuk diisi belanjaanku. Dari raut mukanya terlihat cukup heran. Tapi dikerjakan saja tugasnya. Seselesainya petugas kasir memasukkan belanjaanku ke tas, si Sulung langsung meraih dengan kilat.
“Aku aja yang bawa, Bu.” Begitu melangkah keluar supermarket, ada terselip rasa bangga di diriku dan si Sulung.
Hemat BBM & global warming
Sejak BBM naik, aku putar otak untuk menghemat pengeluaran. Padahal, mobilku Katana yang terkenal irit karena memang tidak bisa melaju kencang. Sudah lama aku minta si Ayah untuk mengajukan fasilitas motor dari kantor.
“Percuma kalau dikasihnya mobil kantor, jangan-jangan lebih boros dari Katana kita,” aku menegaskan.
Besoknya, si Ayah mengajukan permohonan itu. Tentu saja dikasih. Selama ini motor kantor kan hanya dipakai oleh kurir kesana-kemari. Tidak ada yang memang diberi ijin untuk membawa pulang ke rumah.
Beberapa hari kemudian, berhasil juga si Ayah pulang-pergi ke kantor naik motor si kurir. Urusan rapat dengan klien di luar kantor ya tentu saja pakai mobil kantor. Kan hanya dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Itung-itung mengenang masa lalu waktu belum punya mobil.
Resikonya, datang harus pagi-pagi, pulang bisa lebih malam. Bagaimana kesibukan si kurir aja. Kalau kurir harus pergi pagi-pagi ya berangkat juga harus pagi sekali. Kalau sudah malam kurir belum pulang, ya sudah sabar aja. Yang penting, Katana putihku sekarang lebih sering di rumah dan tenang di carport. Meskipun itu membuat si Sulung jadi lebih sering minta kuantar ketimbang dengan mobil jemputannya, untuk anak berumur 5 tahun ya sudah lah, nggak apa-apa…
Ternyata, rejeki belum selesai. Kantor si Ayah membeli motor baru. Motor itu diproyeksikan untuk bagian distribusi, jadi tingkat kesibukannya tidak tinggi. Ini hari ketiga si Ayah naik motor kantor yang baru. Si Ayah bisa sedikit lega kembali ke rutinitas semula. Aku juga lega karena pengeluaran bensin bisa jauh berhemat. Tidak hanya itu, kedua anakku juga gembira sekali diajak berkeliling kompleks naik motor pada hari Minggu sore kemarin. Kedua anakku malah selalu bersorak jika suara motor si Ayah terdengar, “Itu Ayah pulang naik motor merah!”
Kami sudah memulai langkah yang kecil. Kecil tapi berarti dan mudah dijalankan. Mulai hari ini, beli roti tawar juga nggak usah minta tas plastik. Sebisa mungkin, pakai saja tas belanja atau bawa tas plastik dari rumah. Sudah ada motor fasilitas kantor, pergi yang dekat-dekat kan bisa naik motor. Kalau perlu, aku jgua harus bisa naik motor.
Tidak banyak memang, tapi langkah kecil dan pelan ini pasti. Yang terpenting lagi, menumbuhkan rasa peduli lingkungan dan kebanggaan pada kedua anakku bahwa kami jadi bagian dari keluarga peduli lingkungan melalui tindakan, bukan hanya lip service…
Tags: Kasih, Keluarga, Si Ayah, Si Sulung
Posted in Peduli Lingkungan: Sebuah Prestasi
Save Our Traditions
January 11th, 2008 Posted 4:44 pm
Lebih dari sekadar budaya lokal, tradisi keluarga saya juga rasanya tidak ada. Tidak satupun yang membuat suatu momen istimewa terasa kurang lengkap jika tidak melakukan tradisi.
Saya sangat beruntung memiliki Mama Mertua yang masih tinggal di Purbalingga. Keluarga besar Oey Keng Siong (KB-OKS) masih memiliki rumah di sana, terutama rumah induk. Syukurlah, anak-anakku jadi punya kampung dan bisa mudik.
Terlepas dari masalah mudik — masalah yang membuat banyak orang kesal tapi ya tetap menjalankannya — sebuah tradisi keluarga sebetulnya bisa dilakukan di rumah sendiri juga. Kebetulan tradisi pesta natal dan pesta malam tahun baru KB-OKS selalu diadakan di sewan (teras rumah induk OKS yang kebetulan ukurannya besar), maka jadilah tradisi mudik.
Biasanya setiap tanggal 29 Desember Pesta Natal digelar. Anak-anak maju ke depan. Menyanyi, menari, atau apa saja. Menerima hadiah sambil mengucapkan, “Terima kasih Sinterklas…”
Buat para Engkong (Opa) dan Emak (Oma) juga tidak ketinggalan. Yang cucunya belum bisa atau tidak mau tampil, harus diwakilkan Emak atau Mamanya. Kadang malah justru para Emak itulah yang tampil.
Bagi pasutri baru atau sudah memasuki tahap serius pacaran juga ada acaranya sendiri. Biasanya “interogasi” dilancarkan. Tujuannya: tes mental! Pokoknya dijamin yang diinterogasi mukanya akan merah padam. Hahaha…
Pesta Malam Tahun Baru biasanya digelar mulai jam 22.00 sampai jam 02.00 pagi! Bakar panganan (jagung, sosis, dll), menyalakan kembang api, minum sekoteng. Tapi yang paling penting, pada jam 23.45 kita selalu menyanyikan lagu Auld Lang Syne dan doa bersama. Waktu yang digunakan selalu jam klasik yang berbunyi “Dong… dong…” Bunyi jam itulah yang menandakan tahun baru telah tiba. Anggota KB-OKS tertua dan termuda menyobek kalender (kalender sobek). Baru kemudian salam keliling dimulai.
Soal makan? Ini dia! Beberapa tahun terakhir malah ada seorang sahabat dari sepupu yang ikut-ikut kangen mudik — tepatnya kangen makan! Hidangan berlimpah khas lokal buatan trio koki OKS: Mama Mertua Oey Tjiok Nio, Oey Djiap Nio (kakak Mama Mertua), dan Kho Gin Tjiok (ipar sepupu Mama Mertua) plus Es Brasil Purwokerto. Es Brasil inilah yang paling dicari karena di Jakarta hanya ada di Kelapa Gading. Esnya sendiri seperti es krim tradisional biasa. Tapi namanya dari kampung halaman ya tetap saja ngangeni… Yang juga tidak kalha dicari adalah mendoan plus sambel terasi. Yum…
Ada satu lagi tradisi yang juga masih melekat: saling memberi oleh-oleh. Acara mengepak barang sering tidak akan selesai karena oleh-oleh terus berdatangan dari keluarga yang lain meskipun hanya sebungkus rempeyek atau keripik tempe.
Semua anggota KB-OKS yang akan pulang juga “wajib” pamit ke setiap rumah. Terakhir, semua keluarga akan mengantar ke halaman parkir sebagai tanda perpisahan.
Sebenarnya, sebagian besar anggota KB-OKS tinggal di Jakarta, ada juga yang tinggal di Bandung, Yogya, Bali, dan luar negeri. Bagi yang tinggal di Jakarta, tetap saja jarang ketemu kecuali kalau ada pernikahan. Jadi, pamitan itu bisa juga berarti harfiah bahwa pertemuan baru akan terjadi tahun berikutnya.
Satu hal lagi yang mengesankan dari KB-OKS: setiap sesi pemotretan pesta pernikahan selalu membuat takjub sang fotografer. Betapa tidak, yang ikutan foto bisa lebih dari 50 orang. Pokoknya selalu harus dua kali foto: sisi kanan dan kiri!
Saya sudah mengusulkan, kalau ada fotografer yang tidak takjub, orangnya harus dimasukkan dalam catatan keluarga.
Sampai pesta natal tahun depan…
Tags: Bandung, Doa, Keluarga, Mama Mertua, Oey Keng Siong, Purbalingga, Sahabat, Syukur
Posted in Save Our Traditions









