Posts Tagged ‘Luka Batin’
Na, Jaga Diri Lu (2)
June 30th, 2010 Posted 7:26 pm
Sambungan dari Na, Jaga Diri Lu
Aku masih bengong di ruang medical check up sebuah rumah sakit mewah di barat Jakarta. Sudah dua jam berlalu. Kulirik jam tanganku, jam 1 siang. Pff… masih satu jam lagi diambil darah terakhir. Aku bukan sakit, mumpung dapat voucher gratis seharga satu juta, rugi kalau dilewatkan. Sekalian cari tahu kenapa aku makin kurus padahal makan tetap buanyak.
Enaknya ngapain ya? Main game di ponsel aja deh. Oaahhmm… mulai ngantuk. Mana lapar lagi. Hiks…. Tiba-tiba ada pesan singkat masuk.
“Lin, lagi di mana? Gue mau ngomong sama lu nih.”
Tags: Kasih, Keluarga, Luka Batin, Sahabat
Posted in Na Jaga Diri Lu (2)
Na, Jaga Diri Lu
March 26th, 2010 Posted 10:42 am
Panggil saja dia Nana. Teman sebangkuku ketika duduk di kelas 3 SMP, 19 tahun lalu. Saat itu kami sama-sama tidak populer. Rumah kami tidak terlalu jauh tapi jarak rumah kami ke sekolah jauh. Aku tinggal di Menteng Pulo—yang mendadak populer karena Barry alias Obama kecil tinggal di sana—dan Nana tinggal di Menteng Dalam. Awalnya Nana selalu dijemput supirnya ketika pulang sekolah. Lama kelamaan Nana mulai belajar pulang naik bus kota bersamaku. Halte bus dekat rumah Nana akan dilalui lebih dulu, baru halte dekat rumahku sehingga Nana pasti turun duluan dan aku merasa aman. Sebenarnya heran juga melihat Nana kecil yang biasa naik mobil berpendingin ikut naik-turun bus dari terminal Blok M yang luar biasa panas itu. Maka sejak itulah persahabatan kami dimulai.
Nana berkulit putih, berwajah mirip orang Tionghoa, berambut panjang, bertubuh subur. Itu yang kuingat betul. Ternyata sampai saat ini tidak ada yang berubah, hanya rambut kami yang dulu sama-sama panjang dicukur sama pendek. Wah, sama terus ya?
Tags: Kasih, Luka Batin, Sahabat, Syukur
Posted in Na Jaga Diri Lu
To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras, Kembali Cerdas)
January 5th, 2010 Posted 4:52 am
(lanjutan dari To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif))
Kembali Waras, Kembali Cerdas
“I’ll be home for Christmas” itu harus dibuat monumentalnya. Tahap pertama, “nodong” Romo Pakdhe – seorang sahabat baikku – untuk Sakramen Tobat. Urusan mengakui dosa campur curhat itu membuatnya terkaget-kaget. Setidaknya, beberapa kali ia menunjukkan ekspresi terperangah dan geleng-geleng tak habis pikir. Dari obrolan itu, ada banyak hal menarik bagi Romo Pakdhe untuk dijadikan bahan renungan. Beberapa pertanyaan yang cukup “ajaib” ditujukan ke Si Ayah.
Misalnya, “Kamu kan berhak untuk melarang Lini pergi.”
“Kalau Lini saya larang, dia akan makin menjadi. Kalau dibiarkan, dia akan sadar sendiri.”
“Seandainya kamu dilarang pergi, bagaimana?” Kali ini pertanyaannya padaku.
“Gak apa-apa kalau dilarang asal detik itu juga kami pergi ke konseling atau apalah untuk menyelesaikan masalah ini.”
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Cinta, Doa, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Perjalanan, Si Ayah, Si Ibu, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond
Posted in To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras-Kembali Cerdas)
To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)
January 4th, 2010 Posted 9:16 pm
Tuhan bekerja dengan berbagai macam cara, termasuk cara yang jauh di luar akal sehat kita. Dengan penuh keyakinan aku mengatakan, “Seandainya aku tidak mengalami segala kejahatan dan kebodohan ini, belum tentu segala yang indah ini kurasakan hari ini. Rasanya seperti melewati lubang jarum!”
Perkawinan, tentu saja tidak semudah dan seindah prosesi janji perkawinan yang diadakan pada hari bahagia itu. Ketika merencanakan hari pernikahan, semua bisa diatur dan direncanakan dengan “mudah” meskipun ada saja hal yang di luar dugaan. Sadarkah, ketika urusan pemilihan baju pengantin dan segala tetek-bengeknya terjadi perselisihan, itu adalah “replika” dari kehidupan perkawinan yang sesungguhnya. Persiapan hari pernikahan butuh tiga bulan, misalnya. Sementara dinamika yang sama akan dihadapi selama seumur hidup. Setidaknya, tidak ada orang yang ketika yakin untuk menikah lalu berkata pada kekasihnya, “Aku akan menikahimu selama tiga tahun,” atau, “Aku akan menikahimu sampai aku bosan,” atau “Aku akan menikahimu sampai menemukan yang lain lagi nanti.”
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Cinta, Doa, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Perjalanan, Si Ayah, Si Ibu, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond
Posted in To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat-Bodoh-Primitif)
Sahabatmu Bukan Sahabatku, atau Kamu Bukan Sahabatku?
December 7th, 2009 Posted 2:42 pm
Beberapa waktu lagi aku baru saja “berantem” dengan seorang sahabat. Paling tidak, sampai detik berantem itu, aku masih menganggap kami bersahabat. Kenapa aku menggunakan kata “berantem”? Untuk menunjukkan bahwa yang diributkan memang kemudian jadi gak mutu. Urusan penghargaan sebagai sahabat jadi terkubur dengan prinsip “urusan masing-masing”.
Semua manusia pasti punya jejaring sahabat sendiri kan? Tidak mesti seorang sahabat mengenal sahabat lain dari sahabatnya itu. Seandainya si Sahabat adalah si X, lalu aku si Y, dan sahabatnya si Sahabat adalah si Z, maka aku sebagai si Y tidak mesti kenal dengan si Z meskipun ada banyak alasan untuk si Y kenal dengan si Z bahkan juga bersahabat. Karena “terminalnya” adalah si X, maka si X bersahabat dengan si Y dan si Z. Sudah cukup jelas kan, ya?
Tags: Buku My Life is An Open Book, Curhat, Etika, Gerundelan, Kasih, Luka Batin, Maaf, Sahabat
Posted in Sahabatmu Bukan Sahabatku atau Kamu Bukan Sahabatku?
Pengasingan
November 18th, 2009 Posted 9:42 pm
Sebuah pengasingan
Entah sebuah kegiatan
Atau sebuah keadaan
Tidak menjamin keterasingan
Dan ketenangan
Justru jadi keriuhan
Yang memuakkan
Tags: Curhat, Gerundelan, Luka Batin, Puisi
Posted in Pengasingan
Hujan di Yogya
November 18th, 2009 Posted 9:34 pm
Yogya basah
Hujan, bukan gerimis
Tetesnya tidak mampu mengalahkan tangis
Yang kering dan basah menjadi siklus
Tak mampu membasuh luka
Yang justru makin lebar menganga
Tawa yang harusnya di sini
Menjadi lara sendiri
Tags: Curhat, Luka Batin, Puisi
Posted in Hujan di Yogya
Ngapain ke Yogya?
November 18th, 2009 Posted 8:35 pm
Banyak sekali yang bertanya, “Ngapain ke Yogya?”
Jawabanku selalu sama, “Mengasingkan diri. Cari oksigen.”
Tak penting alasan dan tujuanku ke kota ini. Yang menarik adalah berbagai dugaan yang muncul dan khotbah yang berkumandang.
“Pulanglah, kamu bertanggung jawab atas anak-anakmu.”
Betapapun piciknya ide bahwa seorang Ibu yang bertanggung jawab tidak boleh meninggalkan anaknya dan anggapan jadi Ibu yang sinting karena membiarkan Si Ayah mengurus dan membawa serta anak-anak ke manapun ia pergi.
“Pergi tidak menyelesaikan masalah.”
Hanya orang dungu yang sadar bahwa pergi dari rumah adalah bentuk penyelesaian masalah.
“Kamu menemui seseorang?”
Kenapa itu jadi penting untuk dibahas? Ya atau tidak, seseorang butuh sahabat. Apakah itu masalah?
Kenapa masih saja ada patriarkisme antara istri dan suami?
Apakah luka seorang suami berbeda dengan seorang istri?
Apakah seorang istri tidak boleh marah dan harus kerap bersabar?
Kalau iya, aku minta maaf sudah mengecewakanmu.
Bahkan orang yang luka dan kesepian pun tak punya kemerdekaan untuk menangis di bahu sahabatnya.
Tags: Curhat, Gerundelan, Luka Batin
Posted in Ngapain ke Yogya?
Tempat Kosong Itu Untukmu
November 12th, 2009 Posted 5:24 pm
Kemarin, aku misa di sebuah tempat yang disebut-sebut sebagai salah satu pusat penyembuhan. Sekadar pingin tahu seperti apakah misa yang konon kabarnya bisa menyembuhkan orang itu. Tempat yang membuat beberapa orang – termasuk orang terdekatku – mengatakan, “Kamu harus ke sana! Cobain deh sekali aja!” Mirisnya, dari semua yang bilang begitu tak satupun bilang, “Nanti kalau aku ke sana, kamu kuajak!” Bahkan, orang terdekatku itu justru rajin cerita setiap pulang dari sana. Bilang aku harus ke sana tapi gak ngajak bahkan malah setiap pulang dari sana rajin cerita. Maksud lu??
Maka, begitu semalam Si Ayah mengajak ke sana – ajakan kedua karena minggu lalu aku lagi ga konsen dan respon diam dianggap tidak mau – ajakan ini langsung aku iyakan dengan pasti. Gak ada intensi khusus untuk didoakan. Setelah melalui perjalanan yang lancar selama tiga jam, kami tiba di tempat yang mewah itu dan umat sudah ramai berkumpul. Masih kurang setengah jam dari jadwal misa. Anak-anak ikut sekolah minggu. Lumayan, bisa misa dengan lebih fokus. Sampai di bangunan yang terletak di atas itu, aku masuk dan masih cukup lengang. Ada tiga tempat kosong di bagian depan di mana kita bisa duduk lesehan dengan nyaman. Masing-masing tempat dengan jok tipis dan bangku kayu yang mirip dingklik memiliki jarak dengan umat di samping maupun depan-belakang. Sehingga teorinya tidak ada yang akan saling bersenggolan. Aku duduk bersampingan dengan Si Ayah. Tempat di depanku kosong. Hanya satu.
Tags: Doa, Gereja, Gerundelan, Luka Batin
Posted in Tempat Kosong Itu Untukmu
Surat untuk Sahabat Pena
October 30th, 2009 Posted 4:14 am
Hei…
Butuh waktu beberapa jenak untukku menulis ini untukmu. Aku harus meredakan sesak dan mataku yang basah. Ketika aku menulis ini, pasti kamu sudah terlelap. Mataku masih basah sedikit.
Tiba-tiba saja malam menjelang dini hari ini aku teringat kamu. Tepat beberapa saat sebelum aku tidur. Aku “nonton film” kamu lagi. Biasanya yang muncul hanya adegan kita duduk diam. Hanya diam. Atau, sesekali adegannya adalah kamu berdiri sendirian, terlalu gengsi untuk memanggilku. Aku yang jatuh iba melihatmu nelangsa pol menghampiri dan memelukmu erat sampai kamu menangis. Aku memelukmu terus sampai tangismu berhenti. Juga tanpa kata-kata.
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Luka Batin, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena
Aku Marah di Hadapan Altar-Nya
October 19th, 2009 Posted 9:27 am
Setelah bertahun-tahun tidak lagi rutin ke gereja, hari Minggu kemarin aku ke gereja. Aku bukan orang yang bisa menyambut Ekaristi dalam keadaan marah dan benci. Aku marah, aku benci, aku terluka. Urusan domestik yang tak kunjung terselesaikan selama empat tahun terakhir sungguh mengganggu stabilitas mental dan jiwa yang akhirnya berpengaruh pada ketahanan fisikku. Sakit-sakitan, lebih kurus dari biasanya yang memang sudah kurus, sulit berkonsentrasi.
Si Ayah bukan orang yang religius, jadi tak perlu berharap diajak ke gereja. Setidaknya, ini salah satu bukti bahwa aku migrasi karena “mengikut suami”. Ikut ke mana, wong pergi sendiri? Mungkin memang seharusnya aku pergi sendiri kalau dia tak mau ikut. Biar dia dan anak-anak main di rumah. Berhubung Si Lini ini idealis, ke gereja ya harusnya komplit, akhirnya “mengalah” dan kompak semuanya tinggal di rumah.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Maaf, Si Ayah, Syukur
Posted in Aku Marah di Hadapan Altar-Nya
Tidak Ada Anak Haram
September 15th, 2009 Posted 4:24 pm
Beberapa hari lalu, salah satu teman Nuliser menulis tentang Ibundanya Sheila Marcia. Tulisan itu mengingatkan kita betapa kasih Ibu sepanjang jalan.
Aku bukan ingin membahas Ibundanya Sheila, tapi Sheila itu sendiri. Sebagai orang yang senasib, aku paham betul bagaimana rasanya menjadi Ibu lebih cepat dari seharusnya. Kalau boleh dibilang, aku jauh lebih beruntung karena umurku saat itu sudah 25 tahun sementara Sheila baru 20 tahun dan anakku kemudian memiliki ayah yang mengasuhnya sementara Sheila sejauh ini masih ingin menjadi single parent. Ditambah lagi Sheila harus kembali masuk penjara sementara aku kala itu bahagia di rumah. Pernahkah kita membayangkan itu? Berada di posisi Sheila dan Sheila-Sheila lainnya?
Hamil di luar nikah. Tidak ada satu perempuan pun yang dengan sengaja menginginkan itu. Setidaknya, bukan kultur Indonesia jika seorang perempuan yang tidak ingin menikah tapi ingin punya anak kemudian membeli sperma, hamil dan melahirkan. Akan jauh lebih mudah jika mengadopsi atau memiliki anak asuh. Apalagi jika kehamilan itu sungguh di luar dugaan dan tidak diinginkan.
Tags: Kasih, Keluarga, Luka Batin
Posted in Tidak Ada Anak Haram
Do I Know You?
August 11th, 2009 Posted 7:43 am
Beberapa hari lalu, aku menerima sebuah lelucon di inbox-ku. Sebuah lelucon yang sebetulnya sungguh lucu. Mungkin karena aku sudah baca sebelumnya, jadi tidak terlalu lucu lagi buatku. Ditambah perasaan gundah gulana, marah, sakit hati dan segala rupa yang campur aduk jadi satu akibat menemukan dua tulisanku diobrak-abrik orang, sungguh aku tidak bisa tersenyum apalagi cengengesan seperti biasa. Tulisan yang kubuat dengan kesungguhan hati di tengah keributan Si Sulung dan Si Bungsu diubah begitu saja apalagi seolah-olah menjadi “miliknya”.
Seorang teman yang berniat menghibur malah aku tegur dengan kelayakan sebuah pengutipan, “Cantumkan sumbernya.” Sialnya, dari sekian banyak penerima pesan itu, tak satupun kukenal yang tentunya juga tidak kenal aku dong. Sontak mereka marah karena aku dianggap berlebihan, hiperbolik, lebay, merasa “sok ngetop” dan sebagainya.
Tags: Curhat, Kasih, Luka Batin, Maaf, Syukur
Posted in Do I Know You?
Training Ulang Si Ego
April 30th, 2009 Posted 10:38 am
Sudah hampir 3 minggu aku judeg, pusing klo kata orang Jawa. Bawaannya suntuk. Pokoknya gak produktif banget lah. Klopun ada yang dikerjain ya itu bukan nulis, tapi update sana-sini aja. Lagu-lagu di mp3 – mulai dari Safri Duo yang techno percussion sampe Halmahera yang jazzy – biasanya bisa menggoda untuk joged2, kali ini ga mempan.
Kok bisa? Kenapa gak bisa? Namanya juga manusia, lagi datang redupnya. Apalagi ditambah urusan domestik yang udah 3 tahun ga kelar2 bikin hidup makin redup. Mau ngapa-ngapain males. Kayak kena masalah tapi ga ada ujung pangkalnya, ga bisa selesai. Mengingat setahun terakhir full produktif, mungkin Tuhan mau suruh aku “cuti” dulu kli ya.
Tags: Kasih, Keluarga, Luka Batin, Maaf
Posted in Training Ulang Si Ego
Maaf = Lupa?
February 22nd, 2009 Posted 10:26 pm
Setiap manusia di dunia
Pasti punya kesalahan
Tapi hanya yang pemberani
Yang mau mengakuiSetiap manusia di dunia
Pasti pernah sakit hati
Hanya yang berjiwa ksatria
Yang mau memaafkan(Sherina, Persahabatan)
Sakit hati. Siapa yang tidak pernah? Disakiti maupun menyakiti dengan sengaja atau tidak. Mungkin saja permohonan maaf terlontar, mungkin tidak. Itu tidak penting karena lebih penting bagaimana yang aku rasakan.
Memaafkan sama dengan melupakan. Tidak sepenuhnya benar juga. Ingatan sulit dihapus. Karena jika ingatan dalam termin tertentu dihilangkan, maka akan ada kejadian lainnya yang juga terlupakan.
Tags: Luka Batin, Maaf
Posted in Maaf = Lupa?
Antara Pilihan dan Titik Balik
April 26th, 2008 Posted 3:19 pm
Penilaian saya gugur begitu saya berbincang akrab dengan bapak penjual gorengan ini di pertemuan terakhir saya. Saya terhenyak. Ternyata, berjualan gorengan itu berhasil membawa ketiga anaknya duduk di bangku kuliah. Luar biasa! Ia bukan saja mengubah hidupnya tapi juga seluruh keluarganya. Dinilai dari luar ia memang pedagang penganan gorengan biasa, siapa nyana ia mampu menyekolahkan ketiga anaknya sampai tinggi dan tidak pernah berhutang.
***
Tetapi begitu bersinggungan dengan pertanyaan “Apa dan siapa kamu?” umumnya jawaban yang keluar juga seputar identitas tersebut di atas. Jarang orang menjawab pertanyaan tersebut dengan keterangan seputar karakter dan personaliti.
Bicara soal sosok pribadi seseorang tentu tidak lepas dengan konteks perubahan. Semua orang berubah, sesedikit apapun itu. Hampir tidak mungkin orang tidak berubah. Orang berubah seiring dengan segala informasi yang didapat, kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya, kondisi keluarga atau orang-orang di sekelilingnya, kultur, dan respon intuitif atas semua itu.
Seseorang yang berasal dari Sumatera dan lama tinggal di tanah Jawa sedikit banyak akan mempengaruhi selera rasa makanan, tutur kata, gerak-gerik, dan sebagainya. Faktanya, kemampuan masing-masing orang untuk berhadapan dengan suatu kondisi yang kompleks itu berbeda-beda. Ada yang dengan cepat beradaptasi, ada yang lambat.
Bicara tentang perubahan hidup biasanya kita bicara tentang nasib. Bagi sebagian orang, nasib itu sudah suratan takdir, tidak bisa diubah jadi ya terima saja. Jika hidupnya melarat, rasanya mustahil akan bisa jadi kaya raya.
Orang-orang macam ini cenderung untuk pasif dan pesimis pada hidupnya. Mungkin mereka akan bersikeras menyatakan bahwa mereka sudah pontang-panting mengubah hidup tapi tetap saja tidak bisa. Jika ditelaah lebih jauh, tentu ada sebab kenapa seseorang yang merasa sudah berusaha tapi tidak berhasil. Sangat banyak contoh perjuangan orang-orang untuk mengubah hidupnya.
Ada seorang kawan yang mengeluh di usia tiga puluhnya ia belum juga menemukan jodoh. Beberapa kali ia berkeluh kesah tentang hidupnya pada saya. Saya hanya menjadi pendengar yang baik karena saya merasa tidak berkompeten memberikan nasehat atau wejangan. Setelah saya merasa cukup untuk dijadikan “tempat sampah” uneg-unegnya, saya lalu menyampaikan bahwa bagaimana dia akan mendapatkan jodoh sementara hidupnya dipenuhi dengan berbagai keluhan? Rasanya sulit mendekati seorang gadis yang wajahnya juga pas-pasan dan kepribadian yang gemar mengeluh. Mungkin saja para perjaka akan takut duluan sebelum mendekat akibat segala keluhannya itu.
Saya lalu menyarankan agar ia mengubah kebiasaan mengeluhnya. Pada dasarnya, setiap manusia mencari pasangan bukan semata penampilan fisik tetapi juga bagaimana kita membuat pasangan merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.
***
Kelompok ini bukan ingin mengalahkan Kausa Prima, Yang Maha Kuasa. Mereka bukan ingin menjadi tukang sihir yang bisa mengubah segala sesuatu, bukan juga ingin jadi pahlawan super yang mengubah dunia. Mereka hanya yakin bahwa hidup juga patut diperjuangkan, bahwa Tuhan tidak begitu saja menentukan garis hidup semua orang apapun yang kita lakukan sejak lahir sampai tiba ajalnya. Mereka lebih aktif terhadap hidup. Tidak ada yang tidak mungkin. There is a will, there is a way. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Bahwa ada satu-dua hal yang tidak tercapai, itu bukan berarti bahwa mereka gagal lalu menyerah. Ora et labora, berdoa dan berusaha. Berdoa saja tidak cukup, dan sebaliknya. Itu sama saja artinya dengan memakai alas kaki hanya sebelah, bukan sepasang.
Perbedaan mendasar pada dua kelompok ini terletak pada semangat juang terhadap hidup, ketetapan hati, dan rasa syukur. Hidup selalu bersinggungan dengan ketidakpastian dan pilihan beserta resikonya. Apakah hanya menerima bahkan mengeluhkan saja apapun yang sedang terjadi atau bertekad untuk mengubah hidup ke arah yang lebih baik dan menjalani titik balik dalam hidupnya.
Life is a matter of choosing. Hidup adalah pilihan. Pilihan tidak lepas dari berbagai resiko yang mengikutinya, baik yang sudah dipertimbangkan maupun kendala yang terjadi kemudian. Kesiapan mental dan ketetapan hati sangat dibutuhkan untuk mengubah hidup.
Untuk mengubah hidup, biasanya akan terjadi pengambilan keputusan penting dalam hidupnya dan berpengaruh besar. Mungkin konteksnya bisa penting atau sepele, mulai dari menepati janji, melakukan diet, berhenti kebiasaan merokok sampai keinginan untuk hidup sejahtera.
Dengan diambilnya keputusan itu, lalu kita akan mulai melaksanakan sesuatu yang “baru”. Kebiasaan baru ini tentu sangat sulit untuk dijalankan. Itu sebabnya semangat juang sangat berperan. Orang yang semangat juangnya rendah mungkin akan menyerah dan kembali ke “zona nyaman” sebelumnya. Hidup di zona nyaman akan jauh lebih menyenangkan dan lebih mudah diterka. Menempati zona baru yang serba tidak pasti dan penuh resiko sangat menantang dan diperlukan keberanian besar. Kita harus siap dengan apapun segala resiko terburuk sekalipun.
Seberapa besar keberanian kita dipengaruhi oleh seberapa ingin kita mengubah hidup. Terkadang, dibutuhkan perubahan seketika. Dalam konteks menghentikan kebiasaan buruk misalnya – merokok, diet, narkoba – tidak ada istilah pelan-pelan atau sedikit demi sedikit. Begitu memutuskan untuk berhenti, tepatilah janji yang telah kita buat sendiri itu. Pernah ada lelucon “jika seseorang tidak mampu lagi menepati janji dengan orang lain, maka ia akan menepati janji pada dirinya sendiri”.
Tidak ada jalan menuju perubahan yang mulus-mulus saja. Pasti jalannya berliku, terjal, berbatu, membuat kita berkali-kali terjatuh dan bangkit. Bukan hanya beberapa, mungkin juga ratusan bahkan ribuan kali. Yang penting, bukan berapa kali kita jatuh tetapi berapa kali kita bangkit dan meneruskan hingga ke tujuan.
Proses ini juga menyediakan pilihan fight or fly, berjuang terus atau meninggalkannya begitu saja. Ketika kita meninggalkan segala yang kita miliki, itu bukan sesuatu yang salah, itu adalah pilihan. Hidup tidak mengenal kata “harus”. Tidak ada keharusan. Ketika kita “harus” rapat dengan bos yang menyebalkan, itu bukan sebuah keharusan tetapi kita memilih untuk meng-“harus”-kan diri kita.
Selain itu, rasa syukur akan memperingan perjalanan menuju perubahan tersebut. Jika terus menghitung berapa batu yang menghalangi ketimbang berapa berkah yang kita terima sepanjang perjalanan, tentu akan membuat perjalanan serasa tak berujung. Seperti halnya menghitung gelas yang sudah terisi separuh atau baru terisi separuh
Perubahan ibarat metamorfosa. Ketika kita menjadi seekor ulat yang sering membuat gatal dan kita memperjuangkan diri untuk menjadi seekor kupu-kupu yang cantik, masa menjadi kepompong adalah penantian panjang. Mungkin saja kita tidak sabar dan mengambil jalan pintas, maka yakinlah bahwa kupu-kupu yang cantik akan berubah tepat pada waktunya. Seseorang yang sudah menjalani titik baliknya, tidak akan pernah sama lagi.
Mengubah hidup bukan bicara termin waktu tetapi ketetapan hati dan semangat juang yang luar biasa. Bagaimana kita bersedia untuk memasuki area yang sama sekali baru dan tinggal di suasana jungkir-balik sampai tiba di tempat yang luar biasa mengagumkan.
Itu hanya sebuah pilihan. Pola pikir yang kita pegang teguh.
We are the architect of our lives…
Tags: Doa, Luka Batin, Syukur
Posted in Antara Pilihan dan Titik Balik
My Life is An Open Book
March 14th, 2008 Posted 7:33 pm
Berkat kebaikan Tuhan, sesuai rencana hari ini bertepatan dengan ulang tahun saya buku My Life is An Open Book sudah dapat dinikmati dalam bentuk e-book.
Bagi sahabat yang berminat, permintaan boleh lewat imel ke lini.hanafiah@via-lattea.org
Silakan meneruskan pesan ini ke siapa saja barangkali ada yang tertarik dan membutuhkan.
Semoga hadiah ulang tahun dari saya bisa bermanfaat.
Terima kasih.
Silakan mengunjungi Via Lattea Foundation

Sinopsis
Bagi keluarganya, ia sosok yang pemberontak dan liar. Bagi sebagian orang, ia adalah sosok teman yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa tentang dirinya. Tapi ia pernah melewati bagian yang jauh dari benak banyak orang: mengubah hidup dan keadaannya dengan cara yang tidak biasa.
Berkisah tentang hidup penulis yang berangkat dari masa kecil yang tidak bahagia dan penuh tekanan. Ia melalui masa remaja yang berandalan di jalanan dan hanyut di tengah gemerlap dunia kelam. Ia bertekad untuk bangkit dan menemukan turning point-nya, mengubah keadaan dan hidupnya.
Tidak banyak orang yang nekat mendobrak nilai dan norma demi sebuah perubahan. Ketika semua bertentangan dengan kebenaran hatinya, ia menerobos terus. Ia hanya segelintir dari orang-orang yang dianggap edan.
Beban berat itu mulai dapat dibanggakannya. Ia berhasil menunjukkan bahwa ia bisa berdamai dengan luka melalui sebuah perjuangan yang masih terus bergulir demi sebuah perubahan hidup.
Dalam buku ini, Anda akan diajak untuk menggali gagasan, inspirasi dan filosofi menarik yang kadang tidak mudah diterima pemikiran orang awam. Belajar dari baik-buruk hidupnya agar membuat hidup Anda lebih baik lagi. Selain itu, cukup mengundang kontroversial karena dianggap membuka aib sendiri dan orang lain.
Petikan
Tak punya punya pedoman hidup, tak jelas ke mana arahnya, tak kenal siapa Tuhanku. Aku menjalani turning point yang dahsyat. Aku ingin mengubah hidupku. Siapa bilang nasib tak bisa diubah? Bisa! Harus bisa! Tak ada yang tak mungkin. Hidup boleh tidak adil, tapi Tuhan tidak tidur! Aku harus mencarinya bagaimanapun caranya. Aku harus dapat.
Inilah turning point terpenting dalam hidupku: pindah keyakinan dan kawin lari. Titik ini membuka awal baru dalam hidupku. Aku belajar untuk memaafkan dan menyembuhkan luka batinku. Aku menata lagi hidupku satu demi satu. Cukup sudah masa kelamku.
Jika aku tidak bisa mengubah keadaan, maka aku yang akan berubah. Dan aku mengalir seperti air yang tak akan kembali ke hulu…
Kawin lari. Itu hanya ada di film. Tidak pernah terbayangkan di benak banyak orang. Terlalu banyak orang yang takjub atas kenekatanku. Si Ayah melamarku tiga kali dan semuanya ditolak mentah-mentah oleh Mama. Alasan etnis menjadi terlalu klise untuk dibahas.
Pada beberapa momen yang amat penting dalam hidupku sejak aku hengkang dari rumah, Mama tidak pernah mendampingi. Pernikahan dan kelahiran kedua anakku kujalani berdua suamiku. Mungkin terlihat berlebihan jika aku bilang, “Aku tidak punya keluarga.” Tapi itu fakta. Hartaku hanya si Ayah dan kedua anakku. Jika orang lain bisa berkata, “Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku.” Lalu ke mana aku pulang?
Memang aku bukan anak yang baik. Tapi aku sudah cukup membuktikan pada diriku bahwa aku mampu menjadi menantu dan Ibu yang cukup baik dengan caraku sendiri. Aku mampu membangun keluarga menurut dengan upayaku sendiri. Aku sungguh berdiri di atas kakiku sendiri. Tanpa bantuan Mama. Yang terpenting, menjadi seseorang yang jauh lebih baik bahkan lebih jauh dari yang pernah kubayangkan.
Tentang Penulis
Genevieve Lini Hanafiah adalah seseorang yang memilih menjadi Ibu rumah tangga bekerja dari rumah dan meninggalkan karirnya. Lini pernah bekerja pada berbagai bidang seperti periklanan, jurnalistik dan penerbitan. Bidang lain yang juga digelutinya adalah seputar dunia teater (Teater Enhakam SMA 6 Jakarta dan Teater Fikom Univ. Prof. Dr. Moestopo), fotografi, dan penulisan.
Sejak tahun 2001, ia menjadi partisipan di sebuah yayasan antinarkoba, RIDMA Foundation, dan menjadi jurnalis di Majalah HEALTHNEWS di bawah bendera yang sama.
Lini menikah dengan Gregorius Danny Koestijo dan dikaruniai dua anak Mikayla Karissa Denel dan Gavryel Griffin Denel.
Buku My Life is An Open Book merupakan buku pertama dan dipublikasikan. Bercerita tentang pengalaman tidak menyenangkan yang membuatnya bangkit melalui turning point yang luar biasa. Buku ini memuat banyak filosofi menarik dan gagasan baru yang kadang
tidak mudah diterima pemikiran orang awam. Selain itu, cukup mengundang kontroversial karena dianggap membuka aib sendiri dan orang lain.
—
Warmest regards,
G. Lini Hanafiah
Via Lattea Foundation
Tags: Kasih, Luka Batin, Maaf, Sahabat, Si Ayah
Posted in My Life is An Open Book









