Posts Tagged ‘Luka Batin’
Berani Minta Maaf dan Memaafkan
June 19th, 2007 Posted 10:12 am
“Kenapa? Emang kamu salah apa? Kayak orang mau mati aja ujug-ujug minta maaf.”
“Ya aku kan salah sama kamu. Itu semua memang aku sengaja,” katanya bermanis-manis.
“Sori, sejak aku hamil anak pertama, aku rada amnesia. Jadi lupa semua,” balasku dengan cuek.
Ternyata dia merasa kejadian 9 tahun yang lalu membebaninya selama ini. Sementara dia menceritakan panjang-lebar tentang sembilu di hatinya selama ini, saya berusaha keras mengingat-ingat kejadiannya yang mana. Tapi kok tidak berhasil?
Waktu itu jaman kuliah. Dia teman SD saya yang ketemu lagi dan timbullah rasa tertarik. Bisa juga kalau dibilang CinLok (cinta lokasi) atau TTM (teman tapi mesra) karena sejak adanya persiapan reuni SD kami jadi sering berhubungan. Semua jadi buyar karena saya merasa dia terlalu sensitif dan posesif. Tiba-tiba saya digosipin macam2 olehnya! Cowok kok bikin gosip… Sampai-sampai, di komunitas itu saya dijauhi. Bagaimana rasanya kerja sama tapi dipenuhi tatapan sinis? Ternyata semua itu disengaja karena si kawan lama ini tidak suka saya naksir salah seorang senior di situ. Toh akhirnya saya malah sempat pacaran sama si senior itu.
“Waktu itu aku gak suka kamu deket-deket si dewaganteng, dewa kebenaran!” Katanya sinis.
“Lho kenapa?” Saya heran tapi cuek.
“Orang kok netral banget! Bahkan inget ga, waktu aku berantem sama Joko dia tetep aja netral.” Padahal kalau dia mau obyektif, kalau boleh memilih, saat itu si dewaganteng pasti mihak Joko karena mereka satu angkatan. Logis dan lumrah kan?
“Aku orang yang gengsi ngaku salah dan minta maaf. Dari pada aku ngaku salah aku mending pasang lagak belagu untuk nutupin.” Ampun… orang ini kok pede amat ya?
Terlontarlah pertanyaan mendasar, “Apa gak capek?”
“Ya capek. 9 tahun menahan ngilu. Makanya sekarang minta maaf.”
Dan ternyata, setelah 5 th menikah, dia blm juga dikaruniai momongan. Suaranya iri waktu denger anak-anakku pada teriak. Saya juga tidak tau, apa dia tau saya sudah masuk Katolik. Jangan-jangan kalau tau dia jadi malas deket-deket, hehe…
“Aku kan udah minta maaf. Ngomong apa kek! ‘Iya aku maafin’ gitu kek!” Nadanya mulai kesal.
“Lha? Wong gw ga merasa disakiti? Gimana mo maafin…” Saya kekeh cuek.
Bahkan yang bersalah merasa terbebani. Yang tersakiti malah sudah lupa!
Pesan moralnya:
Bagi yang sadar, memendam marah, benci, dsb, memerlukan banyak tenaga. Minimal untuk menahan rasa sembilu di dada karena rasa bersalah. Belum lagi waktu yang habis terbuang sia-sia untuk mempelihara rasa benci, marah, dsb itu. Diperlukan keberanian untuk minta maaf. Orang-orang yang senang menginvestasikan kesengsaraan ini biasanya susaaa…hhh sekali minta maaf. Gengsi dan malu? Pasti!
Diperlukan juga keberanian untuk minta maaf dan memaafkan. Dalam hal ini, pasti peran hati yang lebih berperan karena menyangkut perasaan. Tidak mudah memaafkan orang yang menyakiti kita. “Enak aja, udah nyakitin kok kita harus maafin gitu aja. Balas dendam dulu biar dia rasa. Emang enak disakitin…” dan sederet kalimat serupa. Belum lagi untuk melupakan. “Mana bisa lupa gitu aja. Bekas luka hatiku kan belum hilang. Maafin aja susah, apalagi suruh lupain?” Rasanya bisa memaafkan saja sulit apalagi melupakan? Kebetulan dalam cerita ini saya memang sudah memaafkan dan melupakan. Bagaimana kalo tidak terlupakan? Forgiven not forgotten? Bahkan belum bisa memaafkan? Unforgivable? Masa sih?
Mungkin karena ketika hidup saya memasuki turning point yang luar biasa dahsyat (luar biasa dan dahsyat pula!), banyak hal tidak penting yang saya lupakan. Toh, buat apa diingat-ingat, tidak ada gunanya kan? Kalau otak saya itu harddisk yang kapasitasnya cuma 20GB, diperlukan banyak sekali ruang untuk memproses ini-itu yang berorientasi masa depan. “Kan bisa harddisknya di-upgrade?” Bisa saja. Poinnya, buat apa menyimpang barang usang dan rusak? Hanya memenuhi ruangan. Malah berdebu dan mungkin saja jadi sarang kecoak atau nyamuk. Jadi ya maaf-maaf saja kalau Anda termasuk dari kenangan yang terlupakan itu. Hihi…
Saya bukan orang sempurna. Ada juga luka hati yang sampai sekarang belum terlupakan. Yah, sekadar jaga jarak saja supaya tidak sakit hati lagi. Tapi bukan juga tidak memaafkan. Karena nyatanya toh saya masih sudi bergaul dengannya. Sederhananya, kita bisa dibilang sudah mampu memaafkan kalau kita sudah bisa mengatasi rasa benci dan marah kita apalagi mampu untuk tetap bergaul dengan yang bersangkutan.
Buat saya, Yesus mengajarkan untuk saling memaafkan tidak hanya sebatas “ajaran”, tapi juga menyehatkan karena mengurangi beban kerja badan saya: otak dan hati.
Hari ini, mari kita minta maaf dan memaafkan…
Siapa takut?
Tags: Luka Batin, Maaf
Posted in Berani Minta Maaf dan Memaafkan









