Posts Tagged ‘Maaf’

Sahabatmu Bukan Sahabatku, atau Kamu Bukan Sahabatku?

24 Comments »

December 7th, 2009 Posted 2:42 pm

Beberapa waktu lagi aku baru saja “berantem” dengan seorang sahabat. Paling tidak, sampai detik berantem itu, aku masih menganggap kami bersahabat. Kenapa aku menggunakan kata “berantem”? Untuk menunjukkan bahwa yang diributkan memang kemudian jadi gak mutu. Urusan penghargaan sebagai sahabat jadi terkubur dengan prinsip “urusan masing-masing”.

Semua manusia pasti punya jejaring sahabat sendiri kan? Tidak mesti seorang sahabat mengenal sahabat lain dari sahabatnya itu. Seandainya si Sahabat adalah si X, lalu aku si Y, dan sahabatnya si Sahabat adalah si Z, maka aku sebagai si Y tidak mesti kenal dengan si Z meskipun ada banyak alasan untuk si Y kenal dengan si Z bahkan juga bersahabat. Karena “terminalnya” adalah si X, maka si X bersahabat dengan si Y dan si Z. Sudah cukup jelas kan, ya?

(more…)

Aku Marah di Hadapan Altar-Nya

58 Comments »

October 19th, 2009 Posted 9:27 am

Setelah bertahun-tahun tidak lagi rutin ke gereja, hari Minggu kemarin aku ke gereja. Aku bukan orang yang bisa menyambut Ekaristi dalam keadaan marah dan benci. Aku marah, aku benci, aku terluka. Urusan domestik yang tak kunjung terselesaikan selama empat tahun terakhir sungguh mengganggu stabilitas mental dan jiwa yang akhirnya berpengaruh pada ketahanan fisikku. Sakit-sakitan, lebih kurus dari biasanya yang memang sudah kurus, sulit berkonsentrasi.

Si Ayah bukan orang yang religius, jadi tak perlu berharap diajak ke gereja. Setidaknya, ini salah satu bukti bahwa aku migrasi karena “mengikut suami”. Ikut ke mana, wong pergi sendiri? Mungkin memang seharusnya aku pergi sendiri kalau dia tak mau ikut. Biar dia dan anak-anak main di rumah. Berhubung Si Lini ini idealis, ke gereja ya harusnya komplit, akhirnya “mengalah” dan kompak semuanya tinggal di rumah.

(more…)

Do I Know You?

4 Comments »

August 11th, 2009 Posted 7:43 am

Beberapa hari lalu, aku menerima sebuah lelucon di inbox-ku. Sebuah lelucon yang sebetulnya sungguh lucu. Mungkin karena aku sudah baca sebelumnya, jadi tidak terlalu lucu lagi buatku. Ditambah perasaan gundah gulana, marah, sakit hati dan segala rupa yang campur aduk jadi satu akibat menemukan dua tulisanku diobrak-abrik orang, sungguh aku tidak bisa tersenyum apalagi cengengesan seperti biasa. Tulisan yang kubuat dengan kesungguhan hati di tengah keributan Si Sulung dan Si Bungsu diubah begitu saja apalagi seolah-olah menjadi “miliknya”.

Seorang teman yang berniat menghibur malah aku tegur dengan kelayakan sebuah pengutipan, “Cantumkan sumbernya.” Sialnya, dari sekian banyak penerima pesan itu, tak satupun kukenal yang tentunya juga tidak kenal aku dong. Sontak mereka marah karena aku dianggap berlebihan, hiperbolik, lebay, merasa “sok ngetop” dan sebagainya.

(more…)

Training Ulang Si Ego

2 Comments »

April 30th, 2009 Posted 10:38 am

Sudah hampir 3 minggu aku judeg, pusing klo kata orang Jawa. Bawaannya suntuk. Pokoknya gak produktif banget lah. Klopun ada yang dikerjain ya itu bukan nulis, tapi update sana-sini aja. Lagu-lagu di mp3 – mulai dari Safri Duo yang techno percussion sampe Halmahera yang jazzy – biasanya bisa menggoda untuk joged2, kali ini ga mempan.

Kok bisa? Kenapa gak bisa? Namanya juga manusia, lagi datang redupnya. Apalagi ditambah urusan domestik yang udah 3 tahun ga kelar2 bikin hidup makin redup. Mau ngapa-ngapain males. Kayak kena masalah tapi ga ada ujung pangkalnya, ga bisa selesai. Mengingat setahun terakhir full produktif, mungkin Tuhan mau suruh aku “cuti” dulu kli ya.

(more…)

Maaf = Lupa?

4 Comments »

February 22nd, 2009 Posted 10:26 pm

Persahabatan – Sherina

Setiap manusia di dunia
Pasti punya kesalahan
Tapi hanya yang pemberani
Yang mau mengakui

Setiap manusia di dunia
Pasti pernah sakit hati
Hanya yang berjiwa ksatria
Yang mau memaafkan

(Sherina, Persahabatan)

Sakit hati. Siapa yang tidak pernah? Disakiti maupun menyakiti dengan sengaja atau tidak. Mungkin saja permohonan maaf terlontar, mungkin tidak. Itu tidak penting karena lebih penting bagaimana yang aku rasakan.

Memaafkan sama dengan melupakan. Tidak sepenuhnya benar juga. Ingatan sulit dihapus. Karena jika ingatan dalam termin tertentu dihilangkan, maka akan ada kejadian lainnya yang juga terlupakan.

(more…)

Tags: ,
Posted in Maaf = Lupa?

My Life is An Open Book

No Comments »

March 14th, 2008 Posted 7:33 pm

Puji Tuhan,

Berkat kebaikan Tuhan, sesuai rencana hari ini bertepatan dengan ulang tahun saya buku My Life is An Open Book sudah dapat dinikmati dalam bentuk e-book.

Bagi sahabat yang berminat, permintaan boleh lewat imel ke lini.hanafiah@via-lattea.org
Silakan meneruskan pesan ini ke siapa saja barangkali ada yang tertarik dan membutuhkan.

Semoga hadiah ulang tahun dari saya bisa bermanfaat.

Terima kasih.

Silakan mengunjungi Via Lattea Foundation


Sinopsis

Bagi keluarganya, ia sosok yang pemberontak dan liar. Bagi sebagian orang, ia adalah sosok teman yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa tentang dirinya. Tapi ia pernah melewati bagian yang jauh dari benak banyak orang: mengubah hidup dan keadaannya dengan cara yang tidak biasa.

Berkisah tentang hidup penulis yang berangkat dari masa kecil yang tidak bahagia dan penuh tekanan. Ia melalui masa remaja yang berandalan di jalanan dan hanyut di tengah gemerlap dunia kelam. Ia bertekad untuk bangkit dan menemukan turning point-nya, mengubah keadaan dan hidupnya.

Tidak banyak orang yang nekat mendobrak nilai dan norma demi sebuah perubahan. Ketika semua bertentangan dengan kebenaran hatinya, ia menerobos terus. Ia hanya segelintir dari orang-orang yang dianggap edan.

Beban berat itu mulai dapat dibanggakannya. Ia berhasil menunjukkan bahwa ia bisa berdamai dengan luka melalui sebuah perjuangan yang masih terus bergulir demi sebuah perubahan hidup.

Dalam buku ini, Anda akan diajak untuk menggali gagasan, inspirasi dan filosofi menarik yang kadang tidak mudah diterima pemikiran orang awam. Belajar dari baik-buruk hidupnya agar membuat hidup Anda lebih baik lagi. Selain itu, cukup mengundang kontroversial karena dianggap membuka aib sendiri dan orang lain.

Petikan

Tak punya punya pedoman hidup, tak jelas ke mana arahnya, tak kenal siapa Tuhanku. Aku menjalani turning point yang dahsyat. Aku ingin mengubah hidupku. Siapa bilang nasib tak bisa diubah? Bisa! Harus bisa! Tak ada yang tak mungkin. Hidup boleh tidak adil, tapi Tuhan tidak tidur! Aku harus mencarinya bagaimanapun caranya. Aku harus dapat.

Inilah turning point terpenting dalam hidupku: pindah keyakinan dan kawin lari. Titik ini membuka awal baru dalam hidupku. Aku belajar untuk memaafkan dan menyembuhkan luka batinku. Aku menata lagi hidupku satu demi satu. Cukup sudah masa kelamku.

Jika aku tidak bisa mengubah keadaan, maka aku yang akan berubah. Dan aku mengalir seperti air yang tak akan kembali ke hulu…

***

Kawin lari. Itu hanya ada di film. Tidak pernah terbayangkan di benak banyak orang. Terlalu banyak orang yang takjub atas kenekatanku. Si Ayah melamarku tiga kali dan semuanya ditolak mentah-mentah oleh Mama. Alasan etnis menjadi terlalu klise untuk dibahas.

***

Pada beberapa momen yang amat penting dalam hidupku sejak aku hengkang dari rumah, Mama tidak pernah mendampingi. Pernikahan dan kelahiran kedua anakku kujalani berdua suamiku. Mungkin terlihat berlebihan jika aku bilang, “Aku tidak punya keluarga.” Tapi itu fakta. Hartaku hanya si Ayah dan kedua anakku. Jika orang lain bisa berkata, “Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku.” Lalu ke mana aku pulang?

***

Memang aku bukan anak yang baik. Tapi aku sudah cukup membuktikan pada diriku bahwa aku mampu menjadi menantu dan Ibu yang cukup baik dengan caraku sendiri. Aku mampu membangun keluarga menurut dengan upayaku sendiri. Aku sungguh berdiri di atas kakiku sendiri. Tanpa bantuan Mama. Yang terpenting, menjadi seseorang yang jauh lebih baik bahkan lebih jauh dari yang pernah kubayangkan.

Tentang Penulis

Genevieve Lini Hanafiah adalah seseorang yang memilih menjadi Ibu rumah tangga bekerja dari rumah dan meninggalkan karirnya. Lini pernah bekerja pada berbagai bidang seperti periklanan, jurnalistik dan penerbitan. Bidang lain yang juga digelutinya adalah seputar dunia teater (Teater Enhakam SMA 6 Jakarta dan Teater Fikom Univ. Prof. Dr. Moestopo), fotografi, dan penulisan.

Sejak tahun 2001, ia menjadi partisipan di sebuah yayasan antinarkoba, RIDMA Foundation, dan menjadi jurnalis di Majalah HEALTHNEWS di bawah bendera yang sama.

Lini menikah dengan Gregorius Danny Koestijo dan dikaruniai dua anak Mikayla Karissa Denel dan Gavryel Griffin Denel.

Buku My Life is An Open Book merupakan buku pertama dan dipublikasikan. Bercerita tentang pengalaman tidak menyenangkan yang membuatnya bangkit melalui turning point yang luar biasa. Buku ini memuat banyak filosofi menarik dan gagasan baru yang kadang
tidak mudah diterima pemikiran orang awam. Selain itu, cukup mengundang kontroversial karena dianggap membuka aib sendiri dan orang lain.


Warmest regards,

G. Lini Hanafiah
Via Lattea Foundation

Manners & Friendship

No Comments »

June 27th, 2007 Posted 2:13 pm

Manner (kb.): Cara, gaya, sikap
Behavior (kb.): Kelakuan, tindak tanduk

Beberapa hari belakangan saya bersinggungan sama orang-orang buruk dalam manner dan behavior pada konteks pertemanan.

Yang pertama, “Kita emang bukan teman. Cuma kenal doang.”
Penuh kharisma, pandai bertutur, bahkan dalam hal kritik. Tapi tidak pandai dalam hal menjernihkan keadaan.

Yang kedua, “Kita temenan kan dulu. Sekarang…?”
Pandai menutupi ketidaksukaannya. Jadi kita gak akan tahu sebenarnya kita temannya atau bukan.

Yang ketiga, “Tadinya gw mau deket lo lagi, tapi ga jadi.”
Wah, kalo orang yang ini sih, maaf-maaf, kelebihannya sedikit banget, banyakan kekurangannya. Malah yang ini lebih punya energi untuk memendam masalah selama 9 tahun bahkan baru-baru ini masih aja ngeributin masalah itu. Padahal kita semua yang terlibat udah lupa tuh…

Ketiganya sama: sama-sama menganggap remeh orang lain. Merasa tidak bersalah meskipun tidak disengaja tapi menyakiti orang lain. Kalau kita tidak sengaja menginjak kaki orang pasti orangnya akan kesakitan, “Aduh!” Pastinya kita yang tidak sengaja menginjak juga refleks minta maaf.
Sayang, tidak pada ketiganya.

Mungkin karena mereka tidak merasa bersalah jadi tidak minta maaf. Rasanya mustahil orang yang merasa tidak salah minta maaf. “Lho memang salahku apa? Kenapa harus minta maaf?” Orang yang menginjak dengan sengaja atau tidak, pasti tidak merasa sakit dan tidak merasa salah. Yang tidak sengaja berpikir, “Bukan salah gw. Kan gak sengaja.” Yang memang bermaksud berpikir, “Rasain, itulah upahmu!”
Beruntunglah masih ada orang-orang yang well-mannered dan well-behaved ketika tanpa sengaja menyakiti langsung minta maaf bahkan saat yang tersakiti hanya diam. Orang-orang ini rasanya hampir mustahil dengan sengaja menyakiti, kan?

Bagi semuanya – terutama saya dan Anda – saya hanya bisa bilang, “Kita doain aja… yuuu…kkk…!!”

Tags: ,
Posted in Manners & Friendship

Berani Minta Maaf dan Memaafkan

2 Comments »

June 19th, 2007 Posted 10:12 am

Semalam, seorang kawan lama yang sudah bertahun-tahun gak pernah ada kabar menelpon. Berbasa-basi 2-3 menit. Tak ada angin tak ada hujan dia bilang, “Aku mau ngomong sama kamu. Aku mau minta maaf.” Tentu aja saya bingung.
“Kenapa? Emang kamu salah apa? Kayak orang mau mati aja ujug-ujug minta maaf.”
“Ya aku kan salah sama kamu. Itu semua memang aku sengaja,” katanya bermanis-manis.
“Sori, sejak aku hamil anak pertama, aku rada amnesia. Jadi lupa semua,” balasku dengan cuek.

Ternyata dia merasa kejadian 9 tahun yang lalu membebaninya selama ini. Sementara dia menceritakan panjang-lebar tentang sembilu di hatinya selama ini, saya berusaha keras mengingat-ingat kejadiannya yang mana. Tapi kok tidak berhasil?

Waktu itu jaman kuliah. Dia teman SD saya yang ketemu lagi dan timbullah rasa tertarik. Bisa juga kalau dibilang CinLok (cinta lokasi) atau TTM (teman tapi mesra) karena sejak adanya persiapan reuni SD kami jadi sering berhubungan. Semua jadi buyar karena saya merasa dia terlalu sensitif dan posesif. Tiba-tiba saya digosipin macam2 olehnya! Cowok kok bikin gosip… Sampai-sampai, di komunitas itu saya dijauhi. Bagaimana rasanya kerja sama tapi dipenuhi tatapan sinis? Ternyata semua itu disengaja karena si kawan lama ini tidak suka saya naksir salah seorang senior di situ. Toh akhirnya saya malah sempat pacaran sama si senior itu.

“Waktu itu aku gak suka kamu deket-deket si dewaganteng, dewa kebenaran!” Katanya sinis.
“Lho kenapa?” Saya heran tapi cuek.
“Orang kok netral banget! Bahkan inget ga, waktu aku berantem sama Joko dia tetep aja netral.” Padahal kalau dia mau obyektif, kalau boleh memilih, saat itu si dewaganteng pasti mihak Joko karena mereka satu angkatan. Logis dan lumrah kan?
“Aku orang yang gengsi ngaku salah dan minta maaf. Dari pada aku ngaku salah aku mending pasang lagak belagu untuk nutupin.” Ampun… orang ini kok pede amat ya?
Terlontarlah pertanyaan mendasar, “Apa gak capek?”
“Ya capek. 9 tahun menahan ngilu. Makanya sekarang minta maaf.”

Dan ternyata, setelah 5 th menikah, dia blm juga dikaruniai momongan. Suaranya iri waktu denger anak-anakku pada teriak. Saya juga tidak tau, apa dia tau saya sudah masuk Katolik. Jangan-jangan kalau tau dia jadi malas deket-deket, hehe…

“Aku kan udah minta maaf. Ngomong apa kek! ‘Iya aku maafin’ gitu kek!” Nadanya mulai kesal.
“Lha? Wong gw ga merasa disakiti? Gimana mo maafin…” Saya kekeh cuek.
Bahkan yang bersalah merasa terbebani. Yang tersakiti malah sudah lupa!

Pesan moralnya:
Bagi yang sadar, memendam marah, benci, dsb, memerlukan banyak tenaga. Minimal untuk menahan rasa sembilu di dada karena rasa bersalah. Belum lagi waktu yang habis terbuang sia-sia untuk mempelihara rasa benci, marah, dsb itu. Diperlukan keberanian untuk minta maaf. Orang-orang yang senang menginvestasikan kesengsaraan ini biasanya susaaa…hhh sekali minta maaf. Gengsi dan malu? Pasti!

Diperlukan juga keberanian untuk minta maaf dan memaafkan. Dalam hal ini, pasti peran hati yang lebih berperan karena menyangkut perasaan. Tidak mudah memaafkan orang yang menyakiti kita. “Enak aja, udah nyakitin kok kita harus maafin gitu aja. Balas dendam dulu biar dia rasa. Emang enak disakitin…” dan sederet kalimat serupa. Belum lagi untuk melupakan. “Mana bisa lupa gitu aja. Bekas luka hatiku kan belum hilang. Maafin aja susah, apalagi suruh lupain?” Rasanya bisa memaafkan saja sulit apalagi melupakan? Kebetulan dalam cerita ini saya memang sudah memaafkan dan melupakan. Bagaimana kalo tidak terlupakan? Forgiven not forgotten? Bahkan belum bisa memaafkan? Unforgivable? Masa sih?

Mungkin karena ketika hidup saya memasuki turning point yang luar biasa dahsyat (luar biasa dan dahsyat pula!), banyak hal tidak penting yang saya lupakan. Toh, buat apa diingat-ingat, tidak ada gunanya kan? Kalau otak saya itu harddisk yang kapasitasnya cuma 20GB, diperlukan banyak sekali ruang untuk memproses ini-itu yang berorientasi masa depan. “Kan bisa harddisknya di-upgrade?” Bisa saja. Poinnya, buat apa menyimpang barang usang dan rusak? Hanya memenuhi ruangan. Malah berdebu dan mungkin saja jadi sarang kecoak atau nyamuk. Jadi ya maaf-maaf saja kalau Anda termasuk dari kenangan yang terlupakan itu. Hihi…

Saya bukan orang sempurna. Ada juga luka hati yang sampai sekarang belum terlupakan. Yah, sekadar jaga jarak saja supaya tidak sakit hati lagi. Tapi bukan juga tidak memaafkan. Karena nyatanya toh saya masih sudi bergaul dengannya. Sederhananya, kita bisa dibilang sudah mampu memaafkan kalau kita sudah bisa mengatasi rasa benci dan marah kita apalagi mampu untuk tetap bergaul dengan yang bersangkutan.

Buat saya, Yesus mengajarkan untuk saling memaafkan tidak hanya sebatas “ajaran”, tapi juga menyehatkan karena mengurangi beban kerja badan saya: otak dan hati.

Hari ini, mari kita minta maaf dan memaafkan…
Siapa takut?