Posts Tagged ‘Majalah Kuasa Doa’

Valentine dan Gereja

18 Comments »

February 5th, 2010 Posted 8:31 pm

Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 12, Februari 2010

Gereja tidak merayakan Valentine secara khusus meskipun di banyak Paroki diadakan berbagai acara OMK, KKMK dan sebagainya. Biasanya bertema seputar urusan percintaan. Tapi, seberapa jauh peran Gereja dalam berbagi kasih sayang?

Sejak abad ke-14, perayaan atas wafatnya martir St. Valentinus tanpa sebab yang jelas berubah menjadi perayaan romantisme sepasang kekasih yang diwujudkan dengan saling mengirim pesan cinta. Sejak itu pula perayaan Valentine digambarkan dengan Cupid dan gambar hati.

Itu sebabnya kasih sayang dalam perayaan Valentine dimaknai secara dangkal sebatas percintaan muda-mudi yang cukup diwakilkan lewat sekotak cokelat, setangkai bunga dan sepucuk surat cinta. Nyaris tidak ada perwujudan kasih sayang yang konkret di situ. Padahal, kasih sayang jauh melebihi itu. Kasih sayang bukan monopoli sepasang kekasih. Kasih sayang juga milik pasangan suami-istri, orang tua terhadap anak, anak terhadap orang tua, sesama sahabat, Gereja pada umatnya bahkan bagi mereka yang kurang beruntung. Kasih sayang terbang tinggi menembus segala macam batasan termasuk batasan keyakinan. Kasih sayang adalah kata kerja, bukan kata sifat atau kata benda.

(more…)

Natal, Selalu Istimewa

16 Comments »

November 30th, 2009 Posted 11:14 pm

Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 10, Desember 2009

Natal, selalu menjadi hal sentimentil buatku.

Natal pertamaku tahun 2002

Singkat cerita, saat itu aku baru saja dibaptis. Pengantin baru yang memiliki janin berusia tiga bulan di rahimku. Dengan kondisi mual-dan-muntah-selalu, tidak mungkin aku merasakan Misa Malam Natal. Sejak dulu memang aku suka sekali dengan suasana Natal yang dipenuhi anak-anak. Pilihannya jatuh pada Misa Natal Anak-anak jam 9.00.

Rasa gembiraku lebih mirip anak-anak ketimbang calon ibu. Rasanya kembali ke masa kecil. Melihat banyak sekali anak-anak berbaju merah dengan topi Santa Clause. Menyanyikan lagu Natal anak-anak. Mendengarkan koor anak-anak. Menyaksikan tablo Natal yang dibawakan anak-anak yang ceritanya “memang begitu”. Air mata haru dan senyum gembira jadi satu. Pasti aneh sekali wajahku saat itu dengan perut yang tidak terlalu buncit.

(more…)

Ibu, Inilah Anakmu

14 Comments »

September 29th, 2009 Posted 12:19 pm

Dimuat di Majalah Kuasa Doa Vol. 4, No. 8, Oktober 2009

Sudah lama aku tidak merasakan kehangatan seorang Ibu. Sudah tujuh tahun sejak aku meninggalkan rumah Mama. Di mulai ketika aku pindah keyakinan dan memilih jodohku sendiri sehingga aku harus meninggalkan rumah. Kangen? Tidak juga. Aku memang anak yang tidak baik dan tidak berbakti sampai aku tidak merasa kehilangan Mama. Sudah belasan tahun sejak mulai remaja aku kehilangan sosok seorang Ibu. Ibu yang dekat dengan anaknya bukan hanya memikirkan karir dan keinginannya semata.

Setiap Hari Ibu, aku justru kangen dengan Ibu Baptis, Ibu Pembina Katekumenku, dan Ibu Mertuaku.  Dalam diri mereka aku menemui sosok seorang Ibu sejati. Ibu Maria yang menjelma dalam diri manusia. Ingatanku kembali pada masa katekumen. Masa di mana aku dikenalkan pada seorang Ibu yang luar biasa. Ibu Tuhanku Yesus. Ibu yang sederhana, sabar, penuh kasih. Tidak cukup kata menggambarkannya.

(more…)

Romo Paroki: Gembala di Tengah Kawanannya

30 Comments »

September 7th, 2009 Posted 3:05 pm

Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 11, Januari 2010

Artikel ini awalnya dibuat untuk Buletin Refleksi Tahun Imam KAJ.  Artikel  utamanya adalah Menjadi Imam: Panggilan Penuh Tantangan.
Karena satu dan lain hal, artikel ini tidak jadi dimuat maka saya muat di sini. Dibuang sayang…

Ada banyak sekali persoalan mulai dari tingkat Paroki sampai keuskupan yang menjadi PR bagi para Imam dan umat. Para umat – bagaimanapun juga – memiliki andil dalam apapun yang terjadi. Ada sebab dan akibat. Ada beberapa contoh kasus yang menarik untuk diamati dan direnungkan bersama.

Contoh menarik yang pertama coba diangkat adalah sebuah “kasus” seorang umat yang bukan lulusan seminari tapi hendak menjadi Imam. Dalam kenyataannya, selain umat ini harus berjuang dan bergumul dengan batinnya, ia juga harus meyakinkan pihak keluarga yang menentang keras. Dalam etnis Tionghoa kebanyakan, prestise tertinggi adalah ketika seseorang bisa memiliki usaha sendiri meskipun sekelas warung minuman ringan. Menjadi seorang Imam adalah jalan terakhir bahkan mungkin sama sekali tidak ada dalam daftar. Kalau awam mengalami “kawin lari”, umat ini berusaha tidak “imamat lari” dan perjuangannya meluluhkan hati orang tua masih berjalan menjelang detik kepindahannya dari dunia awamnya ke seminari.

(more…)