Posts Tagged ‘Malaikat’
Surat untuk Sahabat Pena (3)
December 4th, 2009 Posted 12:17 pm
Duhai sahabat gue yang diberkati Tuhan,
Gue sangat berduka, sepeninggal pertemuan itu lu malah jatuh sakit. Lu bilang, waktu kita ketemu lu sudah gejala sakit. Kenapa gak bilang? Lu tau gak, rasanya blingsatan begitu beberapa hari kemudian lu bilang kalo lu sakit. Suara lu lemah banget. Gue gak bisa bantu apa-apa. Gue gak bisa terbang ke sana. Gue gak bisa ke apotik beliin lu obat dan lu tinggal berbaring dengan manis di ranjang yang harus lu anggap nyaman itu. Manusia mana yang tega mengetahui sahabatnya sudah terlambat mengejar tenggat kerja dalam keadaan sakit dan gak punya uang? Mau cepet selesaiin kerja, tapi sakit. Mau sembuh biar cepet selesai, gak bisa beli obat. Jadi kayak bahas ayam sama telor. Mau mana duluan? Kerja dulu biar dapat uang untuk beli obat atau beli obat dulu biar sehat dan bisa cepet selesai kerja?
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena (3)
Surat untuk Sahabat Pena (2)
November 6th, 2009 Posted 7:31 pm
Hei…
Mengingat biasanya kita ber-gue-elu, maka kali ini lebih enak begitu.
Tadi sore, akhirnya gue menangis. Kenapa? Hm… gue belum pernah cerita ya. Tapi gak penting kenapa gue menangis. Jangan GR dulu, ini bukan menangisi elu. Gue menangis karena problem gue. Yang penting adalah saat gue menangis itu yang perlu lu tahu.
Waktu gue menangis, gue inget elu. Tiba-tiba aja elu datang terus mengajak berdoa. Bagai anak kecil yang nurut begitu aja, gue berdoa. Bukan berdoa tepatnya. Menyapa Dia. Emang udah setahun ini gue menyapa dia basa-basi, pake pamrih pula. Di doa itu, gue sempet bilang, “Tuhan, sampaikan padanya, aku baik-baik aja.” Setidaknya itu yang gue usahakan detik itu. Kita mendaraskan doa dalam diam. Tapi gue bahagia banget berdoa bareng lu. Seketika rasanya enteee…ng banget! Beberapa jenak kemudian gue berhenti nangis. Lalu gue telpon lu untuk bilang gue baik-baik aja. Gue gak mau lu deg-degan di tengah apa yang tengah lu kerjakan, seperti sebelumnya.
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena (2)
Surat untuk Sahabat Pena
October 30th, 2009 Posted 4:14 am
Hei…
Butuh waktu beberapa jenak untukku menulis ini untukmu. Aku harus meredakan sesak dan mataku yang basah. Ketika aku menulis ini, pasti kamu sudah terlelap. Mataku masih basah sedikit.
Tiba-tiba saja malam menjelang dini hari ini aku teringat kamu. Tepat beberapa saat sebelum aku tidur. Aku “nonton film” kamu lagi. Biasanya yang muncul hanya adegan kita duduk diam. Hanya diam. Atau, sesekali adegannya adalah kamu berdiri sendirian, terlalu gengsi untuk memanggilku. Aku yang jatuh iba melihatmu nelangsa pol menghampiri dan memelukmu erat sampai kamu menangis. Aku memelukmu terus sampai tangismu berhenti. Juga tanpa kata-kata.
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Luka Batin, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena
Malaikatku Manusia
January 8th, 2009 Posted 2:28 pm
Hari ini luar biasa.
Aku bertemu dengan seorang malaikat.
Seorang? Memangnya dia manusia?
Ya. Dia manusia.
Sama seperti kita.
Bernapas. Makan. Minum. Bahkan menggunakan telepon.
Telepon?
Ya. Dia meneleponku tadi siang.
Tau dari mana dia malaikat?
Karena dia mengabarkan baru saja memberi sejumlah obat untuk Mama Mertuaku di rumah sakit.
Padahal aku tidak kenal.
Aku juga tidak yakin dia kenal aku.
Tapi dia berbuat baik meskipun tak kenal aku.
Maka aku yakin dia adalah malaikat.
Tau dari mana dia manusia?
Katanya tak bisa lama ketemu Mama Mertuaku, karena sedang dibersihkan lukanya.
Berarti ada saksinya?
Harusnya dia ketemu Mama Mertuaku.
Mungkin saja Suster yang bertugas juga ketemu.
Buktinya dia ditegur Suster karena saat itu bukan jam besuk.
Meyakinkan sebagai manusia dong?
Nanti kutanya Mama Mertuaku, apa dia sungguh ketemu malaikat atau manusia atau malaikat dalam jiwa manusia…
Tuhan,
sampaikan terima kasihku pada malaikatku ya…
Tags: Kasih, Malaikat, Mama Mertua
Posted in Malaikatku Manusia
Green House, Rumahku
January 4th, 2009 Posted 4:16 pm
Dua minggu di kota ini, cukup membuatku kerasan meskipun tidak kunjung hapal jalan. Semua mirip-mirip. Banyak jalan satu arah. Rute yang aku tau hanya Borromeus-Braga dan sebaliknya, Green House-Braga dan sebaliknya, Borromeus-Green House. Jadi kalau dari Green House mau ke Borromeus terpaksa muter lewat Braga. Daripada sok tahu lalu nyasar?
Dalam dua minggu ini juga aku jadi “tamu tetap” Green House. Tempat hang out favorit selain warung kopi kaki lima di sekitar Borromeus. Saking seringnya – rasanya hampir tiap hari, kadang sehari beberapa kali – keluar masuk Green House, mulai dari Pak Penjaga Gerbang sampai Bibi Tukang Masak hapal wajah dan mobilku. Rasanya seperti pegang kartu pas. Datang pagi-pagi ikut Misa di Kapel Mungil pernah, pulang jam 9 malam juga pernah. Ikut sarapan, makan siang sampai makan malam juga pernah. Di sana ikutan sibuk beres-beres dari pagi, lalu sambung lagi sore menjelang malam sampai larut juga pernah. Alhasil, tidak perlu lagi lapor sana-sini, langsung saja nyelonong ke dapur lewat belakang dan tiba di ruang makan. Dari situ baru celingak-celinguk sapa tau ada romo yang nganggur. Memang sih, biasanya aku konfirmasi dulu ke Bapaknya, ada di rumah ga? Klo ada dan nganggur, aku main. Kasih laporan pandangan mata perkembangan Mama Mertua.








