Posts Tagged ‘Mama Mertua’

Kenapa Aku Sipit, Bu?

4 Comments »

June 19th, 2009 Posted 6:15 pm

Anak-anak, sering kali pemikirannya membuat kita takjub. Pertanyaannya membuat kita bingung harus menjawab apa. Begitu pertanyaan terlontar dari mulut mungilnya, kita serasa disengat lebah. Kaget, heran, tak bisa berpikir cepat.

“Kenapa aku sipit, Bu?” Kudengar sayup-sayup suara Si Sulung dari kamar. Kupikir dia sedang asyik nonton video Pentas Seni kemarin.
“Yla ngomong sama Ibu, Nak?” Aku yang di depan komputer menghampiri ke kamar.
“Iya. Kenapa mataku sipit, Bu?”
???
Hang.
Bingung.

Gak cukup kata menggambarkan perasaanku saat itu. Berpikir-pikir bagaimana menjelaskannya ya? Mati aku!

(more…)

Malaikatku Manusia

No Comments »

January 8th, 2009 Posted 2:28 pm

Hari ini luar biasa.
Aku bertemu dengan seorang malaikat.
Seorang? Memangnya dia manusia?
Ya. Dia manusia.
Sama seperti kita.
Bernapas. Makan. Minum. Bahkan menggunakan telepon.
Telepon?
Ya. Dia meneleponku tadi siang.

Tau dari mana dia malaikat?
Karena dia mengabarkan baru saja memberi sejumlah obat untuk Mama Mertuaku di rumah sakit.
Padahal aku tidak kenal.
Aku juga tidak yakin dia kenal aku.
Tapi dia berbuat baik meskipun tak kenal aku.
Maka aku yakin dia adalah malaikat.

Tau dari mana dia manusia?
Katanya tak bisa lama ketemu Mama Mertuaku, karena sedang dibersihkan lukanya.
Berarti ada saksinya?
Harusnya dia ketemu Mama Mertuaku.
Mungkin saja Suster yang bertugas juga ketemu.
Buktinya dia ditegur Suster karena saat itu bukan jam besuk.
Meyakinkan sebagai manusia dong?

Nanti kutanya Mama Mertuaku, apa dia sungguh ketemu malaikat atau manusia atau malaikat dalam jiwa manusia…

Tuhan,
sampaikan terima kasihku pada malaikatku ya…

“Mudik” ke Borromeus: 2 Minggu

2 Comments »

January 5th, 2009 Posted 4:42 pm

Selama 2 minggu kmaren aku “mudik” ke Borromeus. Ngapain? Nemenin Mama Mertua. Berangkat tgl 22 bertiga sama anak2, Si Ayah nyusul tgl 24 nunggu majalahnya kelar. Toh gak kelar juga, tapi karna surat cuti sudah di tangan ya tinggal aja…

Mama Mertua penderita diabetes, ada luka di kakinya. Awalnya sederhana, kakinya yang sering kapalan diguntingi padahal Si Emak punya penyakit diabetes. Karna diguntingi, artinya kan luka meskipun ga berdarah. Jadinya kulit telapak jempol kakinya bolong. Karena tidak berdarah dan tidak pedih, dianggapnya tidak luka. Dari luar memang bolong kecil, dalamnya siapa tahu?

(more…)

Kasih Sayang Menang!

No Comments »

December 22nd, 2008 Posted 6:57 pm

Mendengar kata “Ibu” yang terbersit di benakku adalah sosok perempuan yang hatinya bagai sungai kasih sayang, mengaliri kehidupan anak-anaknya tanpa kenal musim. Rela berkorban melakukan apa saja bahkan melupakan dirinya sendiri demi anak-anaknya sebagai representasi jiwanya.

Wah ideal betul sosok Ibu bagiku? Aku menitikberatkan pada kasih sayang, tak perlu menyebut para Ibu yang hobi ngomel, pelupa, kalau belanja lama sekali, masakannya tidak enak, cerewet, terlalu protektif, dan sebagainya. Menjadi cukup manusiawi kan?

Dalam konteks Ibu yang penuh kasih, mengingatkan aku pada sosok 4 Ibu yang menjadi bagian penting dalam hidupku. Siapa itu?

(more…)

Save Our Traditions

No Comments »

January 11th, 2008 Posted 4:44 pm

Sebagai anak kota, saya tidak punya kebiasaan atau tradisi keluarga berbudaya lokal. Apalagi saya tidak familiar dengan budaya asal Papa-Mama, Batak. Kadang saya sendiri suka merasa bukan orang Batak karena tidak paham tradisi. Saya juga tidak punya kampung, jadi tidak pernah mudik dan tidak pernah merasakan nikmatnya mudik.

Lebih dari sekadar budaya lokal, tradisi keluarga saya juga rasanya tidak ada. Tidak satupun yang membuat suatu momen istimewa terasa kurang lengkap jika tidak melakukan tradisi.

Saya sangat beruntung memiliki Mama Mertua yang masih tinggal di Purbalingga. Keluarga besar Oey Keng Siong (KB-OKS) masih memiliki rumah di sana, terutama rumah induk. Syukurlah, anak-anakku jadi punya kampung dan bisa mudik.

Terlepas dari masalah mudik — masalah yang membuat banyak orang kesal tapi ya tetap menjalankannya — sebuah tradisi keluarga sebetulnya bisa dilakukan di rumah sendiri juga. Kebetulan tradisi pesta natal dan pesta malam tahun baru KB-OKS selalu diadakan di sewan (teras rumah induk OKS yang kebetulan ukurannya besar), maka jadilah tradisi mudik.

Biasanya setiap tanggal 29 Desember Pesta Natal digelar. Anak-anak maju ke depan. Menyanyi, menari, atau apa saja. Menerima hadiah sambil mengucapkan, “Terima kasih Sinterklas…”
Buat para Engkong (Opa) dan Emak (Oma) juga tidak ketinggalan. Yang cucunya belum bisa atau tidak mau tampil, harus diwakilkan Emak atau Mamanya. Kadang malah justru para Emak itulah yang tampil.
Bagi pasutri baru atau sudah memasuki tahap serius pacaran juga ada acaranya sendiri. Biasanya “interogasi” dilancarkan. Tujuannya: tes mental! Pokoknya dijamin yang diinterogasi mukanya akan merah padam. Hahaha…

Pesta Malam Tahun Baru biasanya digelar mulai jam 22.00 sampai jam 02.00 pagi! Bakar panganan (jagung, sosis, dll), menyalakan kembang api, minum sekoteng. Tapi yang paling penting, pada jam 23.45 kita selalu menyanyikan lagu Auld Lang Syne dan doa bersama. Waktu yang digunakan selalu jam klasik yang berbunyi “Dong… dong…” Bunyi jam itulah yang menandakan tahun baru telah tiba. Anggota KB-OKS tertua dan termuda menyobek kalender (kalender sobek). Baru kemudian salam keliling dimulai.

Soal makan? Ini dia! Beberapa tahun terakhir malah ada seorang sahabat dari sepupu yang ikut-ikut kangen mudik — tepatnya kangen makan! Hidangan berlimpah khas lokal buatan trio koki OKS: Mama Mertua Oey Tjiok Nio, Oey Djiap Nio (kakak Mama Mertua), dan Kho Gin Tjiok (ipar sepupu Mama Mertua) plus Es Brasil Purwokerto. Es Brasil inilah yang paling dicari karena di Jakarta hanya ada di Kelapa Gading. Esnya sendiri seperti es krim tradisional biasa. Tapi namanya dari kampung halaman ya tetap saja ngangeni… Yang juga tidak kalha dicari adalah mendoan plus sambel terasi. Yum…

Ada satu lagi tradisi yang juga masih melekat: saling memberi oleh-oleh. Acara mengepak barang sering tidak akan selesai karena oleh-oleh terus berdatangan dari keluarga yang lain meskipun hanya sebungkus rempeyek atau keripik tempe.

Semua anggota KB-OKS yang akan pulang juga “wajib” pamit ke setiap rumah. Terakhir, semua keluarga akan mengantar ke halaman parkir sebagai tanda perpisahan.

Sebenarnya, sebagian besar anggota KB-OKS tinggal di Jakarta, ada juga yang tinggal di Bandung, Yogya, Bali, dan luar negeri. Bagi yang tinggal di Jakarta, tetap saja jarang ketemu kecuali kalau ada pernikahan. Jadi, pamitan itu bisa juga berarti harfiah bahwa pertemuan baru akan terjadi tahun berikutnya.

Satu hal lagi yang mengesankan dari KB-OKS: setiap sesi pemotretan pesta pernikahan selalu membuat takjub sang fotografer. Betapa tidak, yang ikutan foto bisa lebih dari 50 orang. Pokoknya selalu harus dua kali foto: sisi kanan dan kiri!

Saya sudah mengusulkan, kalau ada fotografer yang tidak takjub, orangnya harus dimasukkan dalam catatan keluarga.

Sampai pesta natal tahun depan…