Posts Tagged ‘Pilihan’

Home Education: Sekali Merdeka Tetap Merdeka!

5 Comments »

August 17th, 2011 Posted 1:15 am

Tulisan ini dibuat oleh saya dan geng Brisik Lestari dalam rangka 17 Agustusan. Saya mengajak Anda untuk berpikir dan berdiskusi dengan pikiran terbuka. Jika Anda tidak membuka wawasan, disarankan untuk tidak membaca tulisan ini. Dalam tulisan ini, “sekolah berlabel homeschooling” berada di luar konteks karena lembaga itu bukan homeschool.

Homeschool. Entah mengapa satu kata itu menjadi monster mengerikan bagi yang awam. Tengok saja, dalam berbagai percakapan maupun artikel, salah satu yang paling ditakuti adalah soal sosialisasi. Istilah “anak homeschool itu kuper” sudah sangat familiar di telinga saya. Kicauan sumbang itu terdengar keras saat anak-anak pamit dari sekolah setahun lalu.

Dulu saya menanggapi , sekarang tidak. Itu bedanya. Buat apa buang-buang tenaga pada orang yang sudah antipati? Menjelaskan pada orang yang sudah ngotot atas pendapatnya  dan menutup segala bentuk informasi itu buang-buang waktu dan tenaga.

(more…)

Butuh Jatuh Untuk Bangkit

13 Comments »

April 8th, 2010 Posted 9:02 am

Suatu hari, aku berbincang dengan seseorang yang cukup dekat denganku tapi lama sekali tidak ketemu. Terakhir kudengar kabarnya ia masuk bui.

“Apa kabar, Kak?” sapanya melalui layanan pesan instan malam itu.

“Hai! Apa kabar kamu?” tak terkira gembiranya aku mendapat kabar darinya lagi.

“Baik, Kak.” Mungkin ia di sana sedang tersipu malu.

“Di mana kamu?”

“Di rumah.”

“Ke mana aja? Kok ada kabar nggak sedap?”

(more…)

Beri Satu Lagi “Nyawa”

4 Comments »

February 22nd, 2009 Posted 10:48 pm

Seorang Romo semalam menelepon. “Lin, ada kabar baik buatmu.”
“Apa itu, Romo?”
“Ada seseorang menghubungi saya, dia bilang Ibunya terkesan dengan tulisanmu. Ibunya mau ketemu kamu. Mereka tinggal di Bandung. “ Hmm… Bandung lagi ya…
“Tulisan yang mana, Mo?”
“Saya gak tau. Boleh saya berikan nomor hpmu?”
“Boleh sekali, Mo. Romo ada nomor hpnya orang itu, biar aku yang hubungi.”
“Wis, ndak pa-pa. Nanti biar mereka yang hubungi ya.”

Lalu aku segera membuka Facebook, kantorku. Ternyata di situ sudah ada permintaan teman dari orang yang dimaksud. Kutinggalkan pesan bahwa aku baru saja dihubungi Romo, mengatakan bahwa Ibunya ingin ketemu aku. Kulihat dia sedang online, langsung kusapa. Kuminta nomor teleponnya, supaya lebih leluasa berbincang lewat telepon.
(more…)

Life is A Matter of Choosing

1 Comment »

August 21st, 2007 Posted 4:48 am

Ada seorang anak yang dibesarkan di keluarga yang taat. Sebagai anak tunggal, ia patuh pada orang tuanya. Seiring waktu dan usianya yang semakin dewasa, anak ini semakin terlihat jiwa pemberontaknya. Dapat dimaklumi, orang tuanya sangat keras mendidiknya. Orang tua manapun tidak ingin anak tunggalnya tumbuh dengan tidak baik.

Sayang, orang tuanya tidak menyadari perkembangan jaman yang berubah. Dulu tidak seperti sekarang. Sifat “mentang-mentang orang tua”-nya kerap ditunjukkan. Bukan orang tua yang memahami anak, tapi seharusnya anak yang memahami orang tua. Mungkin bagi sebagian orang tua, itu adalah bentuk dari pengabdian anak pada orang tua. Ditambah lagi dengan usia orang tua yang sudah senja sementara si anak baru tumbuh dewasa, semakin memicu kesenjangan generasi.

Awalnya saya kagum pada kepatuhan si anak. Walaupun dengan sedikit kecemasan, semoga anak ini tidak memberontak di kemudian hari. Beberapa kali terdengar selentingan keburukan si anak. Tapi semua itu belum dapat terbukti dengan meyakinkan.

Semakin hari, semakin terlihat bahwa ada dualisme dalam diri si anak. Di hadapan orang tua, ia berusaha untuk menjadi anak yang baik walaupun tekanan terus diterimanya. Di luar rumah, si anak tumbuh menjadi sosok dewasa yang kurang ajeg. Karakter ini umumnya dimiliki oleh orang-orang yang tidak dekat dengan orang tuanya. Menjadi tidak ajeg karena mereka mencari role model di luar rumah, sehingga penyerapannya terlihat sedikit ini-sedikit itu.

Yang semakin mengkuatirkan, di luar rumah si anak semakin berani menunjukkan “jati dirinya” melalui simbol2 “anak gaul” seperti miras dan free-sex. Sayang si orang tua tetap menutup mata bahwa jaman sudah berubah. Bahwa pendekatan pada anak harus diubah.

Rasanya, jaman sekarang sulit untuk menekankan, “Jangan berbuat zinah!” Apalagi tanpa diimbuhi penjelasan sederhana dan logis atas resiko dan konsekuensi seks bebas. Penjelasan tidak perlu panjang-lebar. Jika penjelasan itu diikuti dengan diskusi panjang-lebar antara orang tua dan anak, itu akan menyempurnakan.

Orang tua mengatakan, “Jangan hancurkan masa depanmu!”
Saya mengatakan, “Jangan jadi pengecut. Hadapi segala resiko dari pilihanmu. Life is a matter of choosing. Kita memilih, berbuat, tentu siap dengan segala resiko yang sudah terpikir maupun tidak.”

Tuhan tidak mengatur hidup kita.
Tuhan hanya mengatur segala konsekuensi dari pilihan kita.

Untuk adikku AGP, whatever you choose, it changes your whole life forever! We are the architect of our lives…