Posts Tagged ‘Prihatin’
Bu Guru, Belajar Dong! (3)
January 28th, 2010 Posted 5:45 pm
Tags: Pendidikan, Prihatin, Si Sulung
Posted in Bu Guru Belajar Dong! (3)
Kepada Yth. Ibu Guru
January 25th, 2010 Posted 11:00 am
Tags: Pendidikan, Prihatin, Si Sulung, Surat
Posted in Kepada Yth. Ibu Guru
Bu Guru, Belajar Dong! (2)
January 25th, 2010 Posted 8:00 am
Tags: Pendidikan, Prihatin, Si Sulung
Posted in Bu Guru Belajar Dong! (2)
Macet Bukan Karena Si Komo Lewat
October 15th, 2009 Posted 12:24 am
Pagi ini, sebagai bagian dari rutinitas, aku berangkat menuju sekolah anak-anak. Di sebuah bundaran sebelum gerbang besar kompleks, para pengendara terlihat semrawut tak karuan. Bingung mau ambil jalan yang mana. Ternyata, ada sebuah acara bernuansa keagamaan di klub olah raga situ. Aku berusaha mengikuti petunjuk dari petugas yang ada. Bukan marka jalan yang dipasang, malah beberapa petugas di tiap persimpangan atau belokan yang dipasang. Pagar betis? Gak tau juga. Makin lama aku mulai disorientasi. Ini jalannya lewat mana sih? Bisa runyam urusannya nih. Terlambat sampai sekolah, siap-siap diperenguti Si Bungsu deh!
Tuh, bener kan! Baru mbatin langsung kejadian. Maceee…ttt! Tapi bukan karena Si Komo lewat. Siap-siap diperenguti sampe sekolah kalau begini urusannya. Kulihat jam tanganku, jam 9.15. Mana mungkin dalam 15 menit bisa menempuh jarak 3 km dalam keadaan kayak gini?
Tags: Curhat, Etika, Gerundelan, Prihatin
Posted in Macet Bukan Karena Si Komo Lewat
Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pembantu
September 29th, 2009 Posted 1:29 am
Sebenarnya tadi pagi waktu nyiapin anak-anak berpakaian mau berangkat ke sekolah sambil nonton berita pagi sudah terpikir mau nulis. Keliling-keliling dulu, malamnya sakit kepala. Eehh… keburu Femi nulis di blognya soal yang sama. Kena getaran yang sama? Gak tau hehehe…
Tadi pagi itu, di berita pagi sebuah tivi swasta, narasumbernya adalah seorang penyalur PRT dan Moza Pramita. Lupa persisnya, tapi inget banget Moza bilang, “Dari ibu rumah tangga jadi pembantu.” Sampai akhir tayangan ga ada penjelasannya – apakah Moza ngeledek temen-temennya di facebook atau pernyataan dia, atau apa lah – justru malah tertawa. Kalau tidak salah, Moza malah sempat ngomong sambil ketawa, “Saya nyapu berantakan…” Apa maksudnya? Yang jelas, pernyataan itu bikin aku marah! Emosi jiwa, jek! Dari ibu rumah tangga jadi pembantu? Merasa hina gitu?
Tags: Keluarga, Prihatin, Si Ayah
Posted in Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pembantu
Bu Guru, Belajar Dong!
September 15th, 2009 Posted 4:21 pm
Tags: Pendidikan, Prihatin, Si Sulung
Posted in Bu Guru Belajar Dong!
Kortek = Korban Teknologi
August 26th, 2009 Posted 9:08 am
Internet, dunia maya yang sangat menyenangkan. Semua ada di situ. Mau belanja bisa, mau main bisa, mau kenalan juga bisa. Segala bisa. Berbagai situs menyenangkan mulai dari blog seperti Blogger dan Wordpress, microblogging seperti Twitter dan Plurk, social networking seperti Facebook dan MySpace sampai fasilitan chatting seperti Yahoo! Messenger dan Meebo sungguh mengundang siapa saja untuk ikut di dalamnya.
Anak-anak, berapapun matang jiwanya, tetap saja anak-anak. Baru saja aku chatting dengan keponakan yang usianya 12 tahun, kelas 1 SMP. Singkat cerita, awalnya dia tanya-tanya soal Yahoo Messenger. Setelah penjelasan panjang-lebar, belakangan baru dikatakannya, “Waduh Tante, aku pake BB, jadi gak tau. Nanti deh kalo pake laptop.”
Tags: Etika, Prihatin
Posted in Kortek = Korban Teknologi
Mengutip bukan Menjiplak
August 7th, 2009 Posted 7:29 am
Karya orang bagus maka layak untuk di-copy paste. Ok, itu masuk akal.
Meng-copy paste secara utuh tulisan tanpa pencantuman sumber dan/atau tanpa ijin, ok itu juga masih bisa aku tolerir.
Meng-copy paste tulisan dengan sedkit modifikasi lalu dibubuhi nama “penulis baru”, itu namanya menjiplak.
Lalu, seperti apa etika pengutipan yang baik dan sopan?
Institusi/individu yang ksatria selalu meminta ijin dan menyantumkan sumber tulisan berikut nama penulisnya. Tulisan yang di-copy paste utuh, persis sama seperti aslinya meskipun hanya satu paragraf. Tidak dimodifikasi sedikitpun.
Itu cara pengutipan yang baik.
Tags: Etika, Hak Cipta, Pendidikan, Plagiat, Prihatin
Posted in Mengutip bukan Menjiplak
Mental Pendidikan Plagiat
August 6th, 2009 Posted 7:52 pm
Karena sudah Surat Permohonan Maaf yang layak dimuat di http://lensadarbi.blogspot.com/2009/08/surat-untuk-ibu-g-lini-hanafiah_15.html, maka atrikel ini saya edit.
Siang tadi, iseng-iseng aku buka www.copyscape.com. Sebuah layanan situs yang bisa mendeteksi apakah blog kita dikopi orang. Biasanya, hasil yang keluar ya dari blogku juga atau dari www.yuknulis.com, blog yang aku bangun untuk mewadahi teman-teman penulis pemula. Begitu keluar hasilnya dari blog lain, aku pikir memang “dipinjam”, karena aku sering mengalami begitu. Isi di-copy paste. Utuh, tidak kurang tidak lebih. Biasanya, setelah aku beri komentar, mereka minta ijin baik-baik. Lagipula, mereka tidak membubuhkan nama mereka seolah-olah itu adalah karya mereka.
Tapi ini berbeda. Judul aslinya “Aku Tidak Bodoh, Ma” diganti dengan “Hari Anak Nasional 2009″, gambar Si Sulung dan Si Bungsu diganti dengan clipart seorang gadis kecil berjilbab, lalu diberi nama penulisnya “Adie Adrie“. Seketika kepalaku terasa panas, badan gemetar menahan emosi. Kenapa begini?
Tags: Curhat, Pendidikan, Plagiat, Prihatin
Posted in Mental Pendidikan Plagiat
Aku Tidak Bodoh, Ma
July 23rd, 2009 Posted 8:33 am
Hari Anak Nasional 2009
Hari ini pestanya anak-anak Indonesia. Apakah mereka sungguh bisa menjadi diri sendiri? Aku tidak yakin. Banyak anak-anak yang tidak bisa jadi dirinya sendiri. Sadarkah bahwa tuntutan lingkungan terutama orang tua menyiksa mereka?
Kemarin, tetangga sebelahku – yang memang selalu berteriak – bicara di telepon. Agak sulit untuk tidak menguping apapun yang dikatakan ibu itu, suaranya terdengar ke mana-mana. Apalagi aku sambil jemur baju di teras, percakapan sebelah pihak itu jelas betul terdengarnya.

“Ya, Bu. Biarin aja! Pokoknya anak saya jangan boleh pulang kalau belum bisa baca soalnya. Kemarin nilainya B, Papanya marah banget. Nilainya jelek!” Anak yang dibicarakan itu usianya sebaya dengan Si Sulung, harusnya juga kelas 1 SD. Bertetangga sebelahan dengan ibu itu membuatku stress dengan teriakannya sepanjang waktu, jadi ya sudahlah gak usah berakrab ria. Makanya aku gak tau anak itu sekolah di mana.
Tags: Kasih, Keluarga, Pendidikan, Prihatin, Si Bungsu, Si Sulung
Posted in Aku Tidak Bodoh Ma







