Posts Tagged ‘Sahabat’
Sahabatmu Bukan Sahabatku, atau Kamu Bukan Sahabatku?
December 7th, 2009 Posted 2:42 pm
Beberapa waktu lagi aku baru saja “berantem” dengan seorang sahabat. Paling tidak, sampai detik berantem itu, aku masih menganggap kami bersahabat. Kenapa aku menggunakan kata “berantem”? Untuk menunjukkan bahwa yang diributkan memang kemudian jadi gak mutu. Urusan penghargaan sebagai sahabat jadi terkubur dengan prinsip “urusan masing-masing”.
Semua manusia pasti punya jejaring sahabat sendiri kan? Tidak mesti seorang sahabat mengenal sahabat lain dari sahabatnya itu. Seandainya si Sahabat adalah si X, lalu aku si Y, dan sahabatnya si Sahabat adalah si Z, maka aku sebagai si Y tidak mesti kenal dengan si Z meskipun ada banyak alasan untuk si Y kenal dengan si Z bahkan juga bersahabat. Karena “terminalnya” adalah si X, maka si X bersahabat dengan si Y dan si Z. Sudah cukup jelas kan, ya?
Tags: Buku My Life is An Open Book, Curhat, Etika, Gerundelan, Kasih, Luka Batin, Maaf, Sahabat
Posted in Sahabatmu Bukan Sahabatku atau Kamu Bukan Sahabatku?
Surat untuk Sahabat Pena (3)
December 4th, 2009 Posted 12:17 pm
Duhai sahabat gue yang diberkati Tuhan,
Gue sangat berduka, sepeninggal pertemuan itu lu malah jatuh sakit. Lu bilang, waktu kita ketemu lu sudah gejala sakit. Kenapa gak bilang? Lu tau gak, rasanya blingsatan begitu beberapa hari kemudian lu bilang kalo lu sakit. Suara lu lemah banget. Gue gak bisa bantu apa-apa. Gue gak bisa terbang ke sana. Gue gak bisa ke apotik beliin lu obat dan lu tinggal berbaring dengan manis di ranjang yang harus lu anggap nyaman itu. Manusia mana yang tega mengetahui sahabatnya sudah terlambat mengejar tenggat kerja dalam keadaan sakit dan gak punya uang? Mau cepet selesaiin kerja, tapi sakit. Mau sembuh biar cepet selesai, gak bisa beli obat. Jadi kayak bahas ayam sama telor. Mau mana duluan? Kerja dulu biar dapat uang untuk beli obat atau beli obat dulu biar sehat dan bisa cepet selesai kerja?
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena (3)
Antara Jus Mangga dan Rantang
November 7th, 2009 Posted 1:44 am

Kamu melukis kita
Duduk di atas rumput di tepi danau
Di hadapan mentari senja
Di sampingnya ada rantang berisi makanan
Diberi catatan: Agar tidak kelaparan!
Sambil memelototi sketsamu
Kamu membuat jus mangga ajaib
Resep a la seorang Sarjana Teknik Kimia
Dengan campuran jeruk nipis, bawang putih, dan garam
Diberi catatan: Jangan dicoba, rasanya gak karuan!
Apakah untuk melukis rindumu
Kamu perlu mabuk minuman mengerikan itu?
Membayangkannya saja aku sudah mabuk!
Tags: Cinta, Puisi, Sahabat
Posted in Antara Jus Mangga dan Rantang
Di Mana?
November 6th, 2009 Posted 10:59 pm
Saat pertama kalinya aku tahu hendak ada di mana
Saat kamu tidak tahu akan ada di mana
Di situlah kita
Bersama
Dalam riuh dan senyap
Begitulah.
Dibacakan pada suatu malam yang baru menjelang…
Surat untuk Sahabat Pena (2)
November 6th, 2009 Posted 7:31 pm
Hei…
Mengingat biasanya kita ber-gue-elu, maka kali ini lebih enak begitu.
Tadi sore, akhirnya gue menangis. Kenapa? Hm… gue belum pernah cerita ya. Tapi gak penting kenapa gue menangis. Jangan GR dulu, ini bukan menangisi elu. Gue menangis karena problem gue. Yang penting adalah saat gue menangis itu yang perlu lu tahu.
Waktu gue menangis, gue inget elu. Tiba-tiba aja elu datang terus mengajak berdoa. Bagai anak kecil yang nurut begitu aja, gue berdoa. Bukan berdoa tepatnya. Menyapa Dia. Emang udah setahun ini gue menyapa dia basa-basi, pake pamrih pula. Di doa itu, gue sempet bilang, “Tuhan, sampaikan padanya, aku baik-baik aja.” Setidaknya itu yang gue usahakan detik itu. Kita mendaraskan doa dalam diam. Tapi gue bahagia banget berdoa bareng lu. Seketika rasanya enteee…ng banget! Beberapa jenak kemudian gue berhenti nangis. Lalu gue telpon lu untuk bilang gue baik-baik aja. Gue gak mau lu deg-degan di tengah apa yang tengah lu kerjakan, seperti sebelumnya.
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena (2)
Hadiah Puisi dari Seorang Sahabat
November 3rd, 2009 Posted 8:15 am
Tags: Doa, Kasih, Puisi, Sahabat, To Infinity and Beyond
Posted in Hadiah Puisi dari Seorang Sahabat
Surat untuk Sahabat Pena
October 30th, 2009 Posted 4:14 am
Hei…
Butuh waktu beberapa jenak untukku menulis ini untukmu. Aku harus meredakan sesak dan mataku yang basah. Ketika aku menulis ini, pasti kamu sudah terlelap. Mataku masih basah sedikit.
Tiba-tiba saja malam menjelang dini hari ini aku teringat kamu. Tepat beberapa saat sebelum aku tidur. Aku “nonton film” kamu lagi. Biasanya yang muncul hanya adegan kita duduk diam. Hanya diam. Atau, sesekali adegannya adalah kamu berdiri sendirian, terlalu gengsi untuk memanggilku. Aku yang jatuh iba melihatmu nelangsa pol menghampiri dan memelukmu erat sampai kamu menangis. Aku memelukmu terus sampai tangismu berhenti. Juga tanpa kata-kata.
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Luka Batin, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena
Sahabat Pena
October 6th, 2009 Posted 6:00 pm
Dengar kata itu rasanya kok antik banget ya? Sahabat pena. Kapan terakhir kali dengar kata itu? 10 tahun lalu? Atau lebih? Kapan terakhir kali aku punya sahabat pena? Rasanya waktu SMP, sekitar 20 tahun lalu. Udah lama banget ya.
Sebenarnya, surat dan surat elektronik (e-mail) kan sama aja. Surat, ya surat. Beda dengan SMS atau aplikasi ngobrol seperti YM, Gtalk, atau Meebo. Isinya pendek tapi instan, seketika. Surat dan imel butuh waktu untuk sampai di tujuan, dibaca lalu dibalas. Itupun kalau mau dibalas.
Ikutan milis rasanya bukan bentuk dari sahabat pena. Milis itu tempat umum yang kita tidak bisa cerita leluasa. Seperti halnya curhat pada banyak orang di arisan keluarga, meskipun tidak seheboh pasar.
Tags: Sahabat
Posted in Sahabat Pena
Menjadi Besar
July 18th, 2009 Posted 1:00 am
Segala sesuatu yang dikerjakan dengan kesungguhan hati pasti akan tumbuh besar. Ya karyanya, ya orangnya, ya semuanya. Tertiup angin yang juga makin kencang.
Duluuu… waktu baru kaget karena tulisanku banyak dibaca orang dan dikomentari macam-macam, aku sering mati gaya. Mulai dari yang muji setinggi langit sampai yang mencaci-maki semua ada. Akhirnya aku curhat pada seorang sahabat, Si Seleb. Aku telpon dia. Untung saat itu dia gak sibuk.
“Deeaarr… gw beteee…!” kata “halo”-nya kusambar begitu saja.
“Kenapa?”
“Capek. Banyak orang yang gue gak kenal tapi komennya miring…”
“Lin, tau gak tanda-tanda jadi Seleb?”
“Gak. Emang apa tandanya?” Mana kutahu tanda-tanda jadi Seleb? Ngerasain aja belum pernah.
“Tandanya, kalau lo ga kenal sama seseorang tapi dia bisa ngomongin yang jelek tentang lo. Selamat, lo udah jadi Seleb dan populer!” Tawa ngakaknya terdengar keras sekali.
“Kenapa begitu?”
“Ya iya lah, dear. Lo gak kenal dia, dia tau lo, malah bisa komen miring lagi. Berarti lo populer kan?”
Hm… bener juga…
Dari mana orang-orang itu tahu tulisan-tulisanku?
Kenapa dibaca? Pasti karena tertarik kan?
Hmm…
Tags: Curhat, Sahabat
Posted in Menjadi Besar
Menulis, Membaca, Bersahabat
June 18th, 2009 Posted 6:21 pm
Waktu kecil, aku tak pernah bercita-cita jadi penulis, meskipun beberapa orang bilang, “Lini nanti besar bisa jadi wartawan seperti Opungnya.” Padahal, setahuku Opung dari Mama adalah seorang guru, bukan wartawan. Opung dari Papa juga guru. Justru ketika aku jadi guru di sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris aku ditegur karena “nyeleneh”. Keluar dari pakem mwngajar yang ada di sana.
Menulis, sejak SMP memang hobi. Apa daya, tidak percaya diri, tidak didukung apalagi diakomodasi Mama, pelajaran Bahasa Indonesia yang selalu pas-pasan membuatku mengonsumsi tulisan sendiri.
Tags: Sahabat, Yuk Nulis!
Posted in Menulis Membaca Bersahabat







