Posts Tagged ‘Sahabat’
Gw Kangen Lo, Jek!
January 30th, 2009 Posted 5:16 pm
Pernah tahu rasanya kangen teman lama? Orang yang udah jadi teman kita selama belasan tahun, mungkin puluhan tahun. Kontaknya juga timbul tenggelam. Lalu tiba-tiba kita ingat dia, kangen dia. Terutama kangen sama masa gila-gilaan yang kita lewatin sama-sama.
Tiba-tiba kenangan jaman sekolah bermain-main di kepala gw. Ada yang suka ngaca, ada yang kesepian karna ga punya teman, ada yang sok ngartis, ada yang bangga sama harta ortunya, ada yang merasa jadi preman sekolah, ada yang pecicilan ga jelas, ada yang doyan cari perhatian guru…
Tags: Sahabat
Posted in Gw Kangen Lo Jek!
Ngasong @ Paulus & Gandarusa, Bandung, 24-25 Jan 08
January 27th, 2009 Posted 9:13 am
Intensi kali ini membantu OMK Sarimawartoba mengumpulkan dana untuk kemping bersama Uskup “Unity in Diversity” tgl 7-9 Maret 2008 di Ranca Upas.
Proficiat! Terima kasih banyak atas kerja kerasnya untuk menjual bukuku. Aku senang dengan sebutan ngasong, kenapa? Karna literally kita menjajakan buku, jemput bola ke umat. Itu jauh lebih baik ketimbang menunggu umat yang datang menghampiri.
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Kasih, Ngasong Buku, Perjalanan, Sahabat, Si Ayah
Posted in Ngasong @ Paulus & Gandarusa Bandung
Adiksi Kasih
January 4th, 2009 Posted 4:42 pm
Manusia senang sekali disayang. Orang tua pada anaknya, antarsahabat, antarpasangan. Lalu ketika kasih sayang itu hilang, orang itu akan berubah jadi pemarah, pemurung, merasa tidak berguna dan sebagainya. Lihat saja para remaja yang sedang kasmaran lalu putus cinta, siapa yang tidak patah hati? Mengurung diri di kamar, tidak enak makan, tidak bisa tidur, tidak ada semangat.
“Mengapa oh mengapa…”
Lihat juga orang-orang yang uring-uringan karena sahabatnya tidak lagi memperhatikannya. Karena kesibukan atau mendapat sahabat baru, sahabat lama dibuang sayang. Tidak ada lagi ke bioskop bareng, telepon haha-hihi, tempat curhat yang menyenangkan. Lalu pihak yang “ditinggalkan” akan mencari kompensasi lain.
Tags: Doa, Kasih, Sahabat, Si Ayah
Posted in Adiksi Kasih
Ungkapan Cinta untuk Bapa Uskup
December 27th, 2008 Posted 6:58 pm
Sabtu, 27 Desember 2008, Bapa Uskup genap berusia 59 tahun.
Ketika aku sedang menunggui Mama Mertua di Rumah Sakit, Bapa Uskup kirim SMS, “Lini, besok datang ke ultahku ya, ada misa pagi di kapel.”
Wooooowwww… seperti anak kecil aku melonjak kegirangan. Mimpi apa diundang ke ultah orang sepenting Bapa Uskup?
Jam 7 kurang aku dan Si Ayah tiba di Green House. Beberapa orang sudah datang. Misa di kapel mungil itu penuh sesak. Diikuti setidaknya 20 orang. Intensi misa dipersembahkan untuk ultah Bapa Uskup sekaligus pesta Santo Yohannes sebagai santo pelindung Bapa Uskup.
Tags: Bandung, Doa, Kasih, Sahabat, Si Ayah, Syukur, Ulang Tahun
Posted in Ungkapan Cinta untuk Bapa Uskup
Warta Inspirasi
December 25th, 2008 Posted 6:58 pm
Kamis siang yang berawan, hari Natal 25 Des 2009 bertepatan dengan ulang tahun Si Bungsu yang ketiga. Di sini udara sejuk, tidak seperti Jakarta dan Bekasi yang panas. Suasana lokal kentara betul sampai aku bisa menandai mana tamu dari Jakarta, mana warga lokal.
Pada misa Natal siang itu dipimpin oleh seorang Imam yang sangat terpandang. Demikian terpandangnya hingga orang berjubel dan meluap ke luar gereja. Begitu besar keinginan umat untuk menatap langsung, menerima berkat dan mendengarkan homili yang disampaikan Sang Imam. Termasuk aku, itu sebabnya kupilih jadwal misa siang itu. Pertama kali mengikuti misa yang dipimpin oleh Sang Imam. Si Bungsu dan Si Sulung kutitipkan di rumah Kakak Ipar. Misa khusus anak-anak diadakan besoknya.
Kasih Sayang Menang!
December 22nd, 2008 Posted 6:57 pm
Mendengar kata “Ibu” yang terbersit di benakku adalah sosok perempuan yang hatinya bagai sungai kasih sayang, mengaliri kehidupan anak-anaknya tanpa kenal musim. Rela berkorban melakukan apa saja bahkan melupakan dirinya sendiri demi anak-anaknya sebagai representasi jiwanya.
Wah ideal betul sosok Ibu bagiku? Aku menitikberatkan pada kasih sayang, tak perlu menyebut para Ibu yang hobi ngomel, pelupa, kalau belanja lama sekali, masakannya tidak enak, cerewet, terlalu protektif, dan sebagainya. Menjadi cukup manusiawi kan?
Dalam konteks Ibu yang penuh kasih, mengingatkan aku pada sosok 4 Ibu yang menjadi bagian penting dalam hidupku. Siapa itu?
Tags: Doa, Kasih, Mama Mertua, Sahabat, Si Bungsu, Si Sulung, Syukur
Posted in Kasih Sayang Menang!
Rumah Sendiri, Kamar Sebelah
November 27th, 2008 Posted 11:24 am
Beberapa bulan lalu.
Waktu versi e-book “My Life is An Open Book” beredar, saya omong-omong personal dengan seorang teman yang juga aktivis Panitia Pembangunan Gereja di tempatku.
“Pak, gimana ya. Aku mau bantu PPG. Klo nanti edisi cetak bukuku terbit, kukasi mereka jualan trus keuntungannya boleh diambil semua gimana?”
“Wah, bagus banget niatmu. Tapi saran saya sih, ga usah semua, bagi dua aja. Kan kasian kamu yang nulis masa ga dapet apa-apa.”
“Hm… gitu ya. Nanti kupikirin lagi deh.”
Hanya segitu. Wong bukunya aja masih di negeri antah berantah.
Aku punya niat begitu karena beberapa teman ngeledek, “Bantuin cari dana Paroki Pasang Surut yang jauh heboh, bantuin Stasi sendiri kok ga?”
Hm… ya bener juga. Kenapa ga?
Tags: Buku My Life is An Open Book, Kasih, Sahabat, Si Ayah
Posted in Rumah Sendiri Kamar Sebelah
Teman-teman yang Hilang
November 14th, 2008 Posted 10:27 pm
Entah kenapa hari ini aku teringat pada beberapa teman yang sudah lama sekali menghilang.
Minggu lalu, seorang sahabat menikah. Aku yang sangat lama tidak bertemu tentu merasa ini menjadi ajang reuni. Layaknya sahabat lama, obrolan tentu mengalir tak karuan. Sampai tiba-tiba aku bertanya, “Ngomong-ngomong, dulu gw nyangkut di MM itu gimana ya?” Nah lho! Kok bisa lupa?
Untung salah seorang di antaranya ada yang ingat, “Lo dibawa sama Angki.”
“Angki itu siapa?”
“Temennya Arie kan?”
Wah, gawat! Kok bisa lupa? Ke mana anak itu sekarang ya?
Tags: Sahabat
Posted in Teman-teman yang hilang
Pernikahan Kamar Mandi
November 5th, 2008 Posted 12:10 pm
Sudah lama sekali aku tidak mengisi blog. Ngapain? Macem-macem. Ngurusin buku sendiri, ngasong buku “Berjalan di Air Pasang Surut”, ini-itu, dan yang jelas ya ngurusin keluarga lah…Setelah 6 tahun, rasanya udah ga terlalu kaget2 lagi klo liat Si Ayah yang begitu. Sejak awal pernikahan emang kadarnya bukan nambah, tapi ya sedikit naik dan banyak turunnya. Berantem hampir tiap hari, hal kecil jadi besar, macam2 lah. Rasa kangen juga jaraaaa…ng banget. Bosen? Pasti! Tepatnya: bosen yang diributin itu lagi-itu lagi. Kayaknya kok ga belajar banget dari kesalahan. Demen bener jatuh di lobang yang sama. Udah tau bininya galak n bawel, hal yang ga disukai kok masih aja dikerjain terus? Rasanya ga dihargai deh…
Tags: Keluarga, Ngasong Buku, Sahabat, Si Ayah
Posted in Pernikahan Kamar Mandi
Merdeka! Yakin?
August 18th, 2008 Posted 9:51 pm

Pagi itu, anak-anakku ingin melihat berbagai lomba di depan pos hansip. Tahun lalu, si Sulung menangis ketika lomba makan kerupuk. Makanya, tahun ini aku tidak menawarkan untuk ikut lomba. Dengan kemauannya sendiri, akhirnya si Sulung kembali ikut lomba. Sambil menunggu giliran ketika kelompok TK A sedang berlomba, aku ajak si Sulung mencermati cara berlomba. Banyak kecurangan di sana-sini, mulai dari dibantu sampai yang kerupuknya dicuili keluarganya. Aku hanya mengatakan, yang penting main jujur, tidak boleh curang. Untuk lucu2an memang terlihat menyenangkan, dibantu orang lalu menang. Malah ada yang anaknya diam saja dan kerupuknya habis karna diremas keluarganya. Tapi begitu selesai lalu keluarganya mengklaim kemenangan? Waduh…
Tiba giliran si Sulung, kelompok TK B. Dengan grogi si Sulung bersiap di posisinya. Kembali aku
menekankan sportifitas dan kejujuran. Priit… Si Sulung mulai beraksi. Sedikit demi sedikit mulutnya berusaha meraih si kerupuk. Susah sekali. Entah mengapa si kerupuk enggan masuk ke mulutnya. Beberapa menit berlalu. Drama kejar2an antara mulutnya dengan si kerupuk menjadi atraksi tersendiri bagi bapak2 n ibu2 lain.Karna hanya berhasil menggigit secuil dari sekian besar kerupuknya dan lelah mengejar si kerupuk yang tak kunjung berhasil digigitnya, si Sulung menyerah dan hampir menangis. Aku memberinya semangat. Kuingatkan tokoh Po si Kungfu Panda yang pantang menyerah. Kulihat peserta lainnya sudah hampir setengah jalan. Setelah kubujuk, si Sulung mau melanjutkan perjuangannya sampai peluit usai berbunyi. Seketika langsung kupeluk dan kukatakan, “Ibu bangga sama kamu. Jujur dan pantang menyerah.Seperti pahlawan kita yang diceritain ibu guru. Tidak penting jadi juara. Yang penting pantang menyerah dan jujur.”
Aku bukan nasionalis, itu yang aku tahu. Kwinta berpendapat aku justru nasionalis dengan
mendidik si Sulung tetap jujur meskipun lomba makan kerupuk dianggap ajang lucu2an. Ajang yang hanya digelar pada 17 agustus itu sayang sekali jika diwarnai dengan kemenangan curang. Apa seperti ini memaknai hari kemerdekaan Indonesia? Aku tidak tahu. Tidak untuk aku. Aku tidak tega mengajarkan kecurangan sejak dini. Mau jadi apa mereka besar nanti kalau sejak kecil diperkenalkan pada kecurangan apalagi di hari kemerdekaan ini?
Yakin kita sudah merdeka? Tidak dijajah keluarga, tetangga, atasan, teman, atau siapa saja? Dalam cerita lomba makan kerupuk itu, aku tidak merasa si anak merdeka atas perjuangannya mengikuti lomba. Untuk menjadi juara, apa saja dihalalkan, bahkan cenderung bukan atas keinginannya sendiri.
Buatku, merdeka bukan hal muluk dan ngawang2 seperti para pahlawan. Buatku, merdeka adalah kita berhak atas diri dan pikiran kita sendiri. Merdeka menentukan sikap dan pilihan. Merdeka dalam bercita-cita. Merdeka dalam mengekspresikan rasa. Aku memerdekakan si Sulung untuk tidak harus menjadi juara.
Itu saja.
“Apapun pendapat miringmu tentang negara ini, simpan saja untukmu hari ini. Dirgahayu Negeriku Tercinta! Semoga Lekas Sembuh!” (Kwinta Masalit, 17.08.08 07.16am)
“Mari Bung, rebut kembali!” (Lini, 17.08.08 07.20am)
Tags: Sahabat, Si Sulung
Posted in Merdeka! Yakin?
Sahabat, di mana kau bersembunyi?
June 16th, 2008 Posted 1:00 am
Saya memanfaatkan fasilitas internet untuk mencari segala informasi tentangnya. Akhirnya, saya mendapatinya di sebuah aplikasi social networking yang sedang tren. Hampir semua aplikasi social networking yang dia miliki berisi deretan nama yang panjang. Saya hanya berharap orang ini tidak sebatas menerima friend request saya, tapi kami bisa kontak langsung. Untuk lebih meyakinkan, saya bubuhi juga “suha!” salam khas lembaga kesenian itu.
Ternyata sambutannya luar biasa. Orang ini langsung mengirim private message. Kami pun mulai kontak. Setidaknya, banyak anggota lain lembaga kesenian itu yang juga senang dengan adanya kontak kami dengannya.
Sejak itu kami rajin chatting atau saling membalas postingan di milis bahkan saling telepon. Tak cukup lima menit berbincang dengannya di telepon. Makanya semua nomor pribadinya ada di saya. Saya belum pernah bertemu muka. Selang beberapa hari saja, kami sudah akrab. Bahkan panggilan “Mas” tidak lagi saya gunakan. Kami mulai sering curhat. Malah justru dia yang lebih sering curhat seputar pekerjaannya.
Saya mulai tersanjung. Dicurhati orang sama saja dengan dipercaya orang. Lama kelamaan curhatnya mulai makin serius. Kadang urusan karirnya juga diceritakan. Bukan lagi curhat, tapi sudah mulai minta pendapat. Saya yang suka ceplas-ceplos enak saja melontarkan pandangan-pandangan saya. Anehnya, dia lebih sering memikirkan pemikiran saya yang memang jujur tapi kurang pujian malah cenderung memberi masukan atau kritik. Saya sempat merasa serba salah. Pastilah dari deretan panjang nama yang ada di friend list-nya jauh lebih berkompeten dari saya. Tapi kenapa dia lebih memilih saya, keranjang sampah sekaligus pemberi komentar?
“Lo, kan punya temen banyak, knapa sih gw yang lo mintain pendapat? Pendapat gw kan aneh, ga banyak orang yang bisa dengan mudah terima pendapat gw.”
“Lin, kadang gw bingung mau cerita sama siapa. Emang friend list gw panjang, tapi itu temen seneng-seneng doang. Klo gw susah, ga ada yang bisa dengerin…” Nada suaranya sendu sekali.
Saya trenyuh dengarnya. Bagaimana bisa orang yang dikelilingi banyak sekali yang mengaku “teman” tapi bersembunyi ketika kita membutuhkannya? Lalu, ke mana mereka bersembunyi?
Saya bukan orang yang banyak sekali teman apalagi populer. Saya banyak kenal orang, tapi tidak banyak yang kenal saya. Maka saya agak sulit membayangkan posisi sahabat saya itu. Sahabat saya itu orang yang rendah hati dan baik sekali. Jadi saya sungguh kasihan mendengar ia tak punya teman curhat.
Ketika beberapa hari lalu ia menceritakan sebuah program talkshow, saya mengusulkan, “Buat programnya bahwa lo adalah pendengar setia. Tempat di mana narasumber bisa bercerita apa saja. Lo gak boleh komentar. Lo harus jadi shoulder to cry on narasumber. Jangan buat narasumber kesepian seperti yang lo rasain selama ini.”
Kenyataan ini membuat saya makin sadar. Siapapun dia – selebritis, rohaniwan, politisi – memiliki sisi humanis yang kesepian dan membutuhkan sahabat. Teman yang sungguh ada ketika dia membutuhkan kita. Sahabat yang memperlakukannya hanya sebagai pribadi, bukan status dan jabatan. Di mana dia bisa menjadi dirinya penuh, utuh tak perlu jaim.
Apakah saya sudah menjadi sahabat setia orang lain? Apakah saya sudah memperlakukan orang lain seperti pribadi yang utuh tanpa tuntutan status dan jabatan?
Setidaknya, saya sangat bersyukur punya segelintir teman yang ada ketika saya susah. Segelintir orang yang memperlakukan saya apa adanya. Dan itu membuat saya sangat bahagia…
Selamat ulang tahun, dear AAA. Semoga Tuhan memberikan berkah dan kasihNya. Semoga semakin sedalam samudra dan seluas angkasa. Amin…
Tags: Doa, Kasih, Sahabat, Syukur
Posted in Sahabat di mana kau bersembunyi?
My Life is An Open Book
March 14th, 2008 Posted 7:33 pm
Berkat kebaikan Tuhan, sesuai rencana hari ini bertepatan dengan ulang tahun saya buku My Life is An Open Book sudah dapat dinikmati dalam bentuk e-book.
Bagi sahabat yang berminat, permintaan boleh lewat imel ke lini.hanafiah@via-lattea.org
Silakan meneruskan pesan ini ke siapa saja barangkali ada yang tertarik dan membutuhkan.
Semoga hadiah ulang tahun dari saya bisa bermanfaat.
Terima kasih.
Silakan mengunjungi Via Lattea Foundation

Sinopsis
Bagi keluarganya, ia sosok yang pemberontak dan liar. Bagi sebagian orang, ia adalah sosok teman yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa tentang dirinya. Tapi ia pernah melewati bagian yang jauh dari benak banyak orang: mengubah hidup dan keadaannya dengan cara yang tidak biasa.
Berkisah tentang hidup penulis yang berangkat dari masa kecil yang tidak bahagia dan penuh tekanan. Ia melalui masa remaja yang berandalan di jalanan dan hanyut di tengah gemerlap dunia kelam. Ia bertekad untuk bangkit dan menemukan turning point-nya, mengubah keadaan dan hidupnya.
Tidak banyak orang yang nekat mendobrak nilai dan norma demi sebuah perubahan. Ketika semua bertentangan dengan kebenaran hatinya, ia menerobos terus. Ia hanya segelintir dari orang-orang yang dianggap edan.
Beban berat itu mulai dapat dibanggakannya. Ia berhasil menunjukkan bahwa ia bisa berdamai dengan luka melalui sebuah perjuangan yang masih terus bergulir demi sebuah perubahan hidup.
Dalam buku ini, Anda akan diajak untuk menggali gagasan, inspirasi dan filosofi menarik yang kadang tidak mudah diterima pemikiran orang awam. Belajar dari baik-buruk hidupnya agar membuat hidup Anda lebih baik lagi. Selain itu, cukup mengundang kontroversial karena dianggap membuka aib sendiri dan orang lain.
Petikan
Tak punya punya pedoman hidup, tak jelas ke mana arahnya, tak kenal siapa Tuhanku. Aku menjalani turning point yang dahsyat. Aku ingin mengubah hidupku. Siapa bilang nasib tak bisa diubah? Bisa! Harus bisa! Tak ada yang tak mungkin. Hidup boleh tidak adil, tapi Tuhan tidak tidur! Aku harus mencarinya bagaimanapun caranya. Aku harus dapat.
Inilah turning point terpenting dalam hidupku: pindah keyakinan dan kawin lari. Titik ini membuka awal baru dalam hidupku. Aku belajar untuk memaafkan dan menyembuhkan luka batinku. Aku menata lagi hidupku satu demi satu. Cukup sudah masa kelamku.
Jika aku tidak bisa mengubah keadaan, maka aku yang akan berubah. Dan aku mengalir seperti air yang tak akan kembali ke hulu…
Kawin lari. Itu hanya ada di film. Tidak pernah terbayangkan di benak banyak orang. Terlalu banyak orang yang takjub atas kenekatanku. Si Ayah melamarku tiga kali dan semuanya ditolak mentah-mentah oleh Mama. Alasan etnis menjadi terlalu klise untuk dibahas.
Pada beberapa momen yang amat penting dalam hidupku sejak aku hengkang dari rumah, Mama tidak pernah mendampingi. Pernikahan dan kelahiran kedua anakku kujalani berdua suamiku. Mungkin terlihat berlebihan jika aku bilang, “Aku tidak punya keluarga.” Tapi itu fakta. Hartaku hanya si Ayah dan kedua anakku. Jika orang lain bisa berkata, “Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku.” Lalu ke mana aku pulang?
Memang aku bukan anak yang baik. Tapi aku sudah cukup membuktikan pada diriku bahwa aku mampu menjadi menantu dan Ibu yang cukup baik dengan caraku sendiri. Aku mampu membangun keluarga menurut dengan upayaku sendiri. Aku sungguh berdiri di atas kakiku sendiri. Tanpa bantuan Mama. Yang terpenting, menjadi seseorang yang jauh lebih baik bahkan lebih jauh dari yang pernah kubayangkan.
Tentang Penulis
Genevieve Lini Hanafiah adalah seseorang yang memilih menjadi Ibu rumah tangga bekerja dari rumah dan meninggalkan karirnya. Lini pernah bekerja pada berbagai bidang seperti periklanan, jurnalistik dan penerbitan. Bidang lain yang juga digelutinya adalah seputar dunia teater (Teater Enhakam SMA 6 Jakarta dan Teater Fikom Univ. Prof. Dr. Moestopo), fotografi, dan penulisan.
Sejak tahun 2001, ia menjadi partisipan di sebuah yayasan antinarkoba, RIDMA Foundation, dan menjadi jurnalis di Majalah HEALTHNEWS di bawah bendera yang sama.
Lini menikah dengan Gregorius Danny Koestijo dan dikaruniai dua anak Mikayla Karissa Denel dan Gavryel Griffin Denel.
Buku My Life is An Open Book merupakan buku pertama dan dipublikasikan. Bercerita tentang pengalaman tidak menyenangkan yang membuatnya bangkit melalui turning point yang luar biasa. Buku ini memuat banyak filosofi menarik dan gagasan baru yang kadang
tidak mudah diterima pemikiran orang awam. Selain itu, cukup mengundang kontroversial karena dianggap membuka aib sendiri dan orang lain.
—
Warmest regards,
G. Lini Hanafiah
Via Lattea Foundation
Tags: Kasih, Luka Batin, Maaf, Sahabat, Si Ayah
Posted in My Life is An Open Book
Save Our Traditions
January 11th, 2008 Posted 4:44 pm
Lebih dari sekadar budaya lokal, tradisi keluarga saya juga rasanya tidak ada. Tidak satupun yang membuat suatu momen istimewa terasa kurang lengkap jika tidak melakukan tradisi.
Saya sangat beruntung memiliki Mama Mertua yang masih tinggal di Purbalingga. Keluarga besar Oey Keng Siong (KB-OKS) masih memiliki rumah di sana, terutama rumah induk. Syukurlah, anak-anakku jadi punya kampung dan bisa mudik.
Terlepas dari masalah mudik — masalah yang membuat banyak orang kesal tapi ya tetap menjalankannya — sebuah tradisi keluarga sebetulnya bisa dilakukan di rumah sendiri juga. Kebetulan tradisi pesta natal dan pesta malam tahun baru KB-OKS selalu diadakan di sewan (teras rumah induk OKS yang kebetulan ukurannya besar), maka jadilah tradisi mudik.
Biasanya setiap tanggal 29 Desember Pesta Natal digelar. Anak-anak maju ke depan. Menyanyi, menari, atau apa saja. Menerima hadiah sambil mengucapkan, “Terima kasih Sinterklas…”
Buat para Engkong (Opa) dan Emak (Oma) juga tidak ketinggalan. Yang cucunya belum bisa atau tidak mau tampil, harus diwakilkan Emak atau Mamanya. Kadang malah justru para Emak itulah yang tampil.
Bagi pasutri baru atau sudah memasuki tahap serius pacaran juga ada acaranya sendiri. Biasanya “interogasi” dilancarkan. Tujuannya: tes mental! Pokoknya dijamin yang diinterogasi mukanya akan merah padam. Hahaha…
Pesta Malam Tahun Baru biasanya digelar mulai jam 22.00 sampai jam 02.00 pagi! Bakar panganan (jagung, sosis, dll), menyalakan kembang api, minum sekoteng. Tapi yang paling penting, pada jam 23.45 kita selalu menyanyikan lagu Auld Lang Syne dan doa bersama. Waktu yang digunakan selalu jam klasik yang berbunyi “Dong… dong…” Bunyi jam itulah yang menandakan tahun baru telah tiba. Anggota KB-OKS tertua dan termuda menyobek kalender (kalender sobek). Baru kemudian salam keliling dimulai.
Soal makan? Ini dia! Beberapa tahun terakhir malah ada seorang sahabat dari sepupu yang ikut-ikut kangen mudik — tepatnya kangen makan! Hidangan berlimpah khas lokal buatan trio koki OKS: Mama Mertua Oey Tjiok Nio, Oey Djiap Nio (kakak Mama Mertua), dan Kho Gin Tjiok (ipar sepupu Mama Mertua) plus Es Brasil Purwokerto. Es Brasil inilah yang paling dicari karena di Jakarta hanya ada di Kelapa Gading. Esnya sendiri seperti es krim tradisional biasa. Tapi namanya dari kampung halaman ya tetap saja ngangeni… Yang juga tidak kalha dicari adalah mendoan plus sambel terasi. Yum…
Ada satu lagi tradisi yang juga masih melekat: saling memberi oleh-oleh. Acara mengepak barang sering tidak akan selesai karena oleh-oleh terus berdatangan dari keluarga yang lain meskipun hanya sebungkus rempeyek atau keripik tempe.
Semua anggota KB-OKS yang akan pulang juga “wajib” pamit ke setiap rumah. Terakhir, semua keluarga akan mengantar ke halaman parkir sebagai tanda perpisahan.
Sebenarnya, sebagian besar anggota KB-OKS tinggal di Jakarta, ada juga yang tinggal di Bandung, Yogya, Bali, dan luar negeri. Bagi yang tinggal di Jakarta, tetap saja jarang ketemu kecuali kalau ada pernikahan. Jadi, pamitan itu bisa juga berarti harfiah bahwa pertemuan baru akan terjadi tahun berikutnya.
Satu hal lagi yang mengesankan dari KB-OKS: setiap sesi pemotretan pesta pernikahan selalu membuat takjub sang fotografer. Betapa tidak, yang ikutan foto bisa lebih dari 50 orang. Pokoknya selalu harus dua kali foto: sisi kanan dan kiri!
Saya sudah mengusulkan, kalau ada fotografer yang tidak takjub, orangnya harus dimasukkan dalam catatan keluarga.
Sampai pesta natal tahun depan…
Tags: Bandung, Doa, Keluarga, Mama Mertua, Oey Keng Siong, Purbalingga, Sahabat, Syukur
Posted in Save Our Traditions
Public Listening
January 6th, 2008 Posted 6:46 pm
Seorang sahabat, kekasih maupun pasangan tentu akan lebih membuat kita tersinggung jika belum apa-apa penilaian langsung dijatuhkan. Cerita yang digulirkan baru sebagian, tapi reaksi atau umpan balik seketika dikemukakan. Ya kalau yang dimaksud tepat, kalau salah pemahaman?
Seseorang yang sangat akrab dengan kita tentu akan lebih mudah langsung bicara tanpa bertanya lebih lanjut ketimbang orang yang baru kita kenal. Mengapa? Karena orang yang akrab dengan kita merasa sudah kenal betul dengan diri kita, pemikiran kita, dan perasaan kita. Oleh karena itu, secara spontan merespon perkataan kita.
Banyak pasangan suami istri yang perkawinannya dianggap tidak sejalan hanya karena kurang mendengarkan. Komunikasi sendiri terdiri dari pengiriman dan penerimaan pesan. Artinya dalam komunikasi ada dua kegiatan yang dilakukan secara aktif, yaitu berbicara dan mendengarkan. Komunikasi seyogianya tidak hanya sebatas mengemukakan apa yang kita pikir dan rasa, tapi juga mendengarkan dengan hati dan empatik. Pertengkaran pasutri umumnya bukan karena inti kalimatnya, tapi justru karena tanggapan yang dilontarkan tidak tepat. Pertengkaran kemudian melenceng jauh dari topik awal pembicaraan.
Tidak mudah menjadi orang yang menahan diri untuk tidak terus bicara ketika orang lain menyatakan pemikiran dan perasaannya. Banyak juga orang yang seharusnya menjadi mediator tapi tidak banyak membantu karena lemah dalam hal mendengarkan. Dalam hal kurang mendengarkan, seorang mediator tidak akan menengahi pertikaian dengan baik, seorang pemimpin tidak akan berhasil membawa timnya ke puncak kesuksesan.
Secara akademis, fakultas public speaking sudah diakui oleh pemerintah baik secara formal maupun nonformal. Secara hubungan interpersonal baik bisnis maupun personal, apakah kita mampu menyeimbangkan kemampuan mendengarkan dan berbicara?
Kemampuan mendengarkan dan bertanya lebih lanjut memberi kita kesempatan untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya untuk kemudian memberi respon yang tepat. Lebih jauh lagi, memberi kita kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan kita, menyehatkan jiwa karena tidak mudah stres, menyehatkan tubuh karena kita tidak sakit yang disebabkan oleh stres seperti tekanan darah tinggi dan serangan jantung.
Pameo yang mengatakan, “Sedikit bicara banyak bekerja” tentu dapat dimodifikasi menjadi “Sedikit bicara, banyak bekerja dan mendengarkan, pangkal banyak ilmu dan kawan”.
Tags: Kasih, Sahabat
Posted in Public Listening
Give and Receive
January 6th, 2008 Posted 6:51 am
Ada sebuah film yang sangat mengesankan bertajuk “Pay It Forward”. Di film itu dikisahkan seorang anak yang mendapat tugas dari gurunya. Tugas tersebut kemudian diwujudkan berupa sebuah gagasan sederhana tentang kebaikan yang harus diteruskan kepada setidaknya tiga orang. Apa yang terjadi kemudian sangat mencengangkan. Kebaikan terus bergulir di antara orang-orang yang tak dikenal sekalipun. Dari cerita itu dapat kita lihat bahwa si anak memberi dulu baru kemudian menerima.
Take and give cenderung membuat pola pikir orang untuk menjadi pasif. Kita akan memberi setelah mengambil atau menerima. Sementara, give and receive membuat orang berpikir untuk menjadi lebih aktif. Kita akan memberi lalu kemudian menerima atau bisa dibilang kita akan menerima karena kita memberi.
Ada banyak contoh kecil dalam kehidupan kita di mana kita cenderung mengambil atau menerima dulu baru memberi. Apakah kita lebih sering memberi senyum atau sapaan pada tetangga dan rekan kerja? Atau justru kita lebih sering membalasnya saja?
Pada sebagian orang Jawa mengatakan, “Banyak anak, banyak rejeki”. Tentu maksudnya bukan banyak anak lalu seketika banyak rejeki, atau banyak anak yang kemudian membuatnya hidup berkecukupan karena banyak upeti dari anak-anaknya. Tentu tidak dimaknai secara harfiah begitu. Banyak anak banyak rejeki justru diartikan bahwa banyaknya anak semakin membuat sepasang orang tua itu bahagia atau semakin banyak berkah dalam keluarganya karena semakin banyak anaknya yang berbuat baik.
Bumi berisi segala macam tunbuhan dan hewan. Sering kita memanfaatkan tanpa memikirkan apakah kita akan membalasnya, apalagi bagaimana kita membalasnya. Terbayangkah oleh kita jika bumi kita akan jauh lebih buruk dalam sepuluh tahun ke depan? Bagaimana anak-anak kita bisa menikmati serunya memanjat pohon atau mandi hujan?
Tubuh kita sudah bekerja keras untuk kita, mulai dari panca indera sampai seluruh organ tubuh. Apa yang kita beri pada tubuh kita? Istirahat yang cukup, pola hidup dan pikir yang sehat atau sebaliknya, diracuni dengan segala macam pemikiran negatif? Tubuh kita mau tidak mau harus menerima segala macam polusi. Betapa berat bebannya ketika kita tambah dengan polusi yang kita ciptakan untuk tubuh ktia sendiri melalui narkoba misalnya.
Ada orang bijak yang mengatakan, “Tuhan memberi kita tubuh yang sehat. Mengapa kita kembalikan dalam keadaan tidak sehat?” Seorang sahabat bahkan berkeinginan ketika mati, ia ingin agar dapat menyumbangkan sebanyak mungkin organ tubuhnya. Bagaimana dapat didonorkan jika organ tubuhnya rusak semua?
Bagaimana kita bersikap tentu kembali ke dasar pemikiran masing-masing. Pola pikir menentukan sikap dan citra diri kita. Apakah kita akan memberi atau menerima dulu. Terserah Anda.
Tags: Sahabat
Posted in Give and Receive
Gratitude
August 15th, 2007 Posted 4:41 pm
Suatu hari, si tabib dipanggil oleh orang dari desa di pinggir danau untuk menolongnya. Dengan segala kebaikan dan ketulusan hatinya, berangkatlah si tabib ke desa lain itu. Ia menempuh perjalanan jauh. Orang-orang desa kaki bukit tidak ada yang tahu kalau si tabib pergi.
Tinggallah si tabib beberapa waktu lamanya di desa pinggir danau. Ia menolong, mengobati dan bekerja bersma warga desa pinggir danau. Warga desa ini adalah orang-orang yang pandai berterima kasih. Tabib diperlakukan laiknya sesepuh di sana. Hingga dirasanya cukup waktu, tabib pun pulang ke rumahnya di atas bukit. Diantar oleh banyak sekali orang dan dibekali dengan banyak sekali hasil ladang dan ternak. Warga desa pinggir danau merasa itu semua belum sebanding dengan kebaikan hati si tabib.
Begitu tiba di rumah, tampaklah banyak orang desa kaki bukit yang panik. “Tabib, tabib, untunglah Anda sudah kembali… Kami butuh pertolongan Anda!” Begitu seru kepala desa kaki bukit. “Baiklah. Saya akan ikut setelah warga desa pinggir danau pulang.” Si tabib bahkan tidak menghiraukan penatnya. “Baiklah tabib, Anda masih dibutuhkan di tempat lain. Kami hanya ingin tahu di mana rumah Anda. Kami sudah tahu dan kami akan pulang. Kata-kata terima kasih saja memang tidak cukup. Tapi kami tetap mengucapkan terima kasih. Semoga Tuhan melindungi Anda.” Maka pulanglah warga desa pinggir danau dan pergilah si tabib ke desa kaki bukit.
Sejak itu, warga pinggir danau rela berjalan jauh hanya untuk mengirim hasil ladang dan ternak sekaligus melihat keadaan tabib yang mereka kasihi.
Sahabat,
Tidak banyak orang yang pandai menunjukkan rasa terima kasihnya. Bahkan ada juga orang-orang yang hanya tahu meminta tanpa perlu merasa memberi. Mungkin orang tersebut tidak perlu ucapan terima kasih itu. Ketulusan tidak menuntut balik apa yang diberikan. Ketulusan mengalir seperti sungai. Sudah mengalir ke hilir tidak mungkin kembali ke hulu. Betapa bahagianya orang yang ditolong. Orang yang menolong pun merasa sangat bahagia karena dia berguna bagi orang lain. Tapi, mari kita bayangkan, apa jadinya jika kita menunjukkan terima kasih dengan baik atas sekecil apapun pertolongan itu. Walaupun hanya sebatas kata yang tulus diucapkan, tentu bagai lagu yang merdu di telinga.
Terima kasih buat Anda yang sudi meluangkan waktunya untuk membaca catatan saya ini.
Terima kasih sedalam-dalamnya untuk keluargaku: Danny, Mikayla dan Gavryel.
Terima kasih juga untuk sahabat saya KHP yang menjadi inspirasi tulisan ini. God bless u, bro!
Berbeda
August 12th, 2007 Posted 12:50 pm
Saya indigo? Tidak jelas. Dan tidak perlu diperjelas. Toh, umumnya seorang indigo tulen tidak ingin dilabeli macam-macam dan mendapat perlakuan khusus yang umumnya dikonotasikan negatif. Bisa dimaklumi, karena orang indigo memang berbeda, unik, nyentrik, dsb.
Saya berbeda? Iya. Banyak orang yang heran, tidak setuju atau menganggap cara pikir saya lain – kalau tidak mau disebut aneh. Ada yang bilang saya ekstrim, nyeleneh, ngawur, terlalu cuek, tidak berperasaan, apalah…
Selama saya yakin tidak melanggar hukum dan tidak menyulitkan orang lain, kenapa tidak? Boleh kan orang mengungkapkan ketidaksetujuannya? Itu bagian dari HAM kan?
Dalam hal ini, mengutip istilah sahabat saya, kebenaran jadi relatif. Biru di antara banyak merah, biru jadi terasa “aneh”. Toh, kami yang berbeda atau mereka yang berbeda tidak jadi soal.
Apa salahnya dengan memandang sesuatu dari sudut pandang lain? Misalnya, untuk sebagian besar orang tua, prestasi akademik itu penting. Akan sangat membanggakan kalau anaknya masuk ranking 10 besar. Saya tidak. Apalagi, saya dan suami sama-sama sepakat kalau prestasi akademik tidak menjamin anak untuk sukses di kemudian hari. Saya jelas, prestasi akademik biasa aja. Tidak terlalu pandai, tapi tidak terlalu bodoh. Dapat nilai merah di rapor pernah, hampir tidak naik kelas pernah. Tapi, hampir mendapat PMDK (program masuk universitas negeri tanpa seleksi, hanya berdasarkan nilai rapor) juga pernah. Hanya selisih tipiii…sss sekali. Saya nyaris masuk Unversitas Diponegoro. Jika ada dunia paralel yang di sana saya berhasil masuk Undip, mungkin juga saya tidak akan menulis ini.
Apalagi dengan cita-cita Mikayla yang ingin jadi pelukis. Sejak umur 1 tahun minatnya pada dunia gambar sangat jelas. Sedangkan adiknya, Gavryel di umur 1 tahun juga sangat berminat pada dunia musik. Dengan kondisi seperti itu, untuk apa saya memaksakan supaya nilai matematika, kimia, fisika, biologi, dsb itu memuaskan? Puas itu kan relatif. Walaupun Mikayla masih TK A, rasanya saya cukup puas dingan nilai pas-pasan asal dia di sekolah dikenal guru dengan predikat rajin, toleran, sayang teman, dsb. Toh, saya lebih peduli dengan hal-hal seputar manner dan behavior. Jadi, tidak ada alasan untuk memaksakan kepandaian akademiknya. Untuk dipuji orang lain? Wah, kayaknya gak penting banget deh…
Terbukti, orang-orang yang well-mannered dan well-behaved jauh lebih bisa meningkat karirnya ketimbang orang-orang yang hanya pandai. Setidaknya, jaman di puncak karir saya dulu, saya lebih suka karyawan yang well-mannered dan well-behaved dari pada yang memang pintar dan jadi sok tahu. Seakan-akan orang itu ingin menyatakan, “Saya jauh lebih pintar dari Anda lho!” Terus kenapa? Kalau merasa lebih pintar dari bos, buat saja perusahaan sendiri, atur sendiri, jadi tidak akan ditekan atasan. Gimana?
Saya dan Mikayla berbeda. Tapi kami berusaha untuk tidak bersikap konyol. Hanya kadang energi dan emosi yang sulit terkendali itu yang mengganggu, baik diri sendiri maupun orang lain.
Yang pasti, kami akan terus memberikan pandangan dan pemikiran lain untuk menambah warna hidup kita semua.









