Posts Tagged ‘Si Ayah’
E-book Si Kaki Putih, Si Kaki Hitam, dan Si Cokelat
November 7th, 2011 Posted 10:00 am

Si Kaki Putih, Si Kaki Hitam, dan Si Cokelat
G. Lini Hanafiah & Mikayla Karissa Denel
ISBN: 978-979-18815-5-5
Penerbit: Via Lattea Foundation
60 hal
18×18 cm
Untuk mengunduh, silakan klik di sini.
Tags: Buku, Keluarga, Pendidikan, Si Ayah, Si Bungsu, Si Ibu, Si Sulung, the De.N.eL.s
Posted in E-book Si Kaki Putih Si Kaki Hitam dan Si Cokelat
To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras, Kembali Cerdas)
January 5th, 2010 Posted 4:52 am
(lanjutan dari To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif))
Kembali Waras, Kembali Cerdas
“I’ll be home for Christmas” itu harus dibuat monumentalnya. Tahap pertama, “nodong” Romo Pakdhe – seorang sahabat baikku – untuk Sakramen Tobat. Urusan mengakui dosa campur curhat itu membuatnya terkaget-kaget. Setidaknya, beberapa kali ia menunjukkan ekspresi terperangah dan geleng-geleng tak habis pikir. Dari obrolan itu, ada banyak hal menarik bagi Romo Pakdhe untuk dijadikan bahan renungan. Beberapa pertanyaan yang cukup “ajaib” ditujukan ke Si Ayah.
Misalnya, “Kamu kan berhak untuk melarang Lini pergi.”
“Kalau Lini saya larang, dia akan makin menjadi. Kalau dibiarkan, dia akan sadar sendiri.”
“Seandainya kamu dilarang pergi, bagaimana?” Kali ini pertanyaannya padaku.
“Gak apa-apa kalau dilarang asal detik itu juga kami pergi ke konseling atau apalah untuk menyelesaikan masalah ini.”
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Cinta, Doa, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Perjalanan, Si Ayah, Si Ibu, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond
Posted in To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras-Kembali Cerdas)
To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)
January 4th, 2010 Posted 9:16 pm
Tuhan bekerja dengan berbagai macam cara, termasuk cara yang jauh di luar akal sehat kita. Dengan penuh keyakinan aku mengatakan, “Seandainya aku tidak mengalami segala kejahatan dan kebodohan ini, belum tentu segala yang indah ini kurasakan hari ini. Rasanya seperti melewati lubang jarum!”
Perkawinan, tentu saja tidak semudah dan seindah prosesi janji perkawinan yang diadakan pada hari bahagia itu. Ketika merencanakan hari pernikahan, semua bisa diatur dan direncanakan dengan “mudah” meskipun ada saja hal yang di luar dugaan. Sadarkah, ketika urusan pemilihan baju pengantin dan segala tetek-bengeknya terjadi perselisihan, itu adalah “replika” dari kehidupan perkawinan yang sesungguhnya. Persiapan hari pernikahan butuh tiga bulan, misalnya. Sementara dinamika yang sama akan dihadapi selama seumur hidup. Setidaknya, tidak ada orang yang ketika yakin untuk menikah lalu berkata pada kekasihnya, “Aku akan menikahimu selama tiga tahun,” atau, “Aku akan menikahimu sampai aku bosan,” atau “Aku akan menikahimu sampai menemukan yang lain lagi nanti.”
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Cinta, Doa, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Perjalanan, Si Ayah, Si Ibu, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond
Posted in To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat-Bodoh-Primitif)
Natal, Selalu Istimewa
November 30th, 2009 Posted 11:14 pm
Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 10, Desember 2009
Natal, selalu menjadi hal sentimentil buatku.
Natal pertamaku tahun 2002
Singkat cerita, saat itu aku baru saja dibaptis. Pengantin baru yang memiliki janin berusia tiga bulan di rahimku. Dengan kondisi mual-dan-muntah-selalu, tidak mungkin aku merasakan Misa Malam Natal. Sejak dulu memang aku suka sekali dengan suasana Natal yang dipenuhi anak-anak. Pilihannya jatuh pada Misa Natal Anak-anak jam 9.00.
Rasa gembiraku lebih mirip anak-anak ketimbang calon ibu. Rasanya kembali ke masa kecil. Melihat banyak sekali anak-anak berbaju merah dengan topi Santa Clause. Menyanyikan lagu Natal anak-anak. Mendengarkan koor anak-anak. Menyaksikan tablo Natal yang dibawakan anak-anak yang ceritanya “memang begitu”. Air mata haru dan senyum gembira jadi satu. Pasti aneh sekali wajahku saat itu dengan perut yang tidak terlalu buncit.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Keluarga, Majalah Kuasa Doa, Natal, Si Ayah, Si Bungsu, Si Ibu, Si Sulung, the De.N.eL.s
Posted in Natal Selalu Istimewa
Aku Marah di Hadapan Altar-Nya
October 19th, 2009 Posted 9:27 am
Setelah bertahun-tahun tidak lagi rutin ke gereja, hari Minggu kemarin aku ke gereja. Aku bukan orang yang bisa menyambut Ekaristi dalam keadaan marah dan benci. Aku marah, aku benci, aku terluka. Urusan domestik yang tak kunjung terselesaikan selama empat tahun terakhir sungguh mengganggu stabilitas mental dan jiwa yang akhirnya berpengaruh pada ketahanan fisikku. Sakit-sakitan, lebih kurus dari biasanya yang memang sudah kurus, sulit berkonsentrasi.
Si Ayah bukan orang yang religius, jadi tak perlu berharap diajak ke gereja. Setidaknya, ini salah satu bukti bahwa aku migrasi karena “mengikut suami”. Ikut ke mana, wong pergi sendiri? Mungkin memang seharusnya aku pergi sendiri kalau dia tak mau ikut. Biar dia dan anak-anak main di rumah. Berhubung Si Lini ini idealis, ke gereja ya harusnya komplit, akhirnya “mengalah” dan kompak semuanya tinggal di rumah.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Maaf, Si Ayah, Syukur
Posted in Aku Marah di Hadapan Altar-Nya
Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pembantu
September 29th, 2009 Posted 1:29 am
Sebenarnya tadi pagi waktu nyiapin anak-anak berpakaian mau berangkat ke sekolah sambil nonton berita pagi sudah terpikir mau nulis. Keliling-keliling dulu, malamnya sakit kepala. Eehh… keburu Femi nulis di blognya soal yang sama. Kena getaran yang sama? Gak tau hehehe…
Tadi pagi itu, di berita pagi sebuah tivi swasta, narasumbernya adalah seorang penyalur PRT dan Moza Pramita. Lupa persisnya, tapi inget banget Moza bilang, “Dari ibu rumah tangga jadi pembantu.” Sampai akhir tayangan ga ada penjelasannya – apakah Moza ngeledek temen-temennya di facebook atau pernyataan dia, atau apa lah – justru malah tertawa. Kalau tidak salah, Moza malah sempat ngomong sambil ketawa, “Saya nyapu berantakan…” Apa maksudnya? Yang jelas, pernyataan itu bikin aku marah! Emosi jiwa, jek! Dari ibu rumah tangga jadi pembantu? Merasa hina gitu?
Tags: Keluarga, Prihatin, Si Ayah
Posted in Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pembantu
Kemping Ulang Tahun
March 9th, 2009 Posted 8:22 pm
“Unity in Diversity” bersama Bp. Uskup
Orang Muda Katolik Sarimawartoba
(Sumbersari, Margahayu, Waringin, Moh. Toha, Buah Batu)
Ranca Upas, Ciwidey, Bandung
7-9 Maret 2009
Tambah Usia – KLA Project – Klasik
Bertambah satu usiamu
Oh semoga penuh warna
Semakin indah hatimu
Berikan cinta tuk semuaKau telah tercipta
Sebagai insan istimewa
Tumbuh dalam jiwa
Terus bahagia dan raih citaSyukur tuk Yang Kuasa
Atas beragam anugerah
Kusertakan doa
Panjang umur kasih berlimpahIkuti hidup yang mengalir
Dan reguklah hingga akhir
Karena dunia terus berubah
Jangan kau terlena dan goyah(Tambah Usia, KLa Project)
Setahun lalu pada ulang tahunku, Tuhan berkenan memberi kesempatan aku mempublikasikan buku “My Life is An Open Book” yang saat itu berupa e-book dan kubagi gratis. Ulang tahunku kali ini, Tuhan berkenan memberi kesempatan aku untuk menikmati indahnya hutan dan gunung bersama orang-orang terkasih dan teman-teman. Di tengah 400 orang peserta dan panitia dari 5 paroki sekeuskupan Bandung: Sumbersari, Margahayu, Waringin, Moh. Toha dan Buah Batu. Termasuk Bp. Uskup Bandung Mgr. Pujasumarta, Fr. Haryanto dan Pastor Wahyu. Di udara yang dingin menggigit, di ketinggian sekitar 2000m, menikmati bintang yang bersinar pada jam 5 pagi dan kabut tebal yang masih ada hingga jam 6.30.
Sabtu dini hari 7 Maret 2009, aku meluncur ke Bandung bersama Si Ayah, Si Bungsu dan Si Sulung. Pagi itu aku ada janji bertemu dengan Ibu Pud di kediaman Mgr. Puja untuk merayakan Ekaristi harian. Ibu Pud adalah seorang pembacaku yang hidupnya dramatis, akan kuceritakan lain kali. Singkatnya, Ibu Pud demikian terinspirasinya sampai hidupnya yang mati suri selama sekitar 2 tahun kini kembali “hidup”.
Tags: Bandung, Ngobrol Bareng, Perjalanan, Si Ayah, Si Bungsu, Si Sulung, Syukur, Ulang Tahun
Posted in Kemping Ulang Tahun
Valentine, Bila Kau Mau Berbagi
February 18th, 2009 Posted 3:23 pm
Aku gak pernah ngerayain Valentine sama Si Ayah, terhitung sejak pacaran berarti sudah sekitar 7 tahun. Malah pernah kira-kira setahun atau dua tahun lalu aku sampai nangis-nangis minta merayakan Valentine tapi gak juga kesampaian. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk gak berharap lagi romantis-romantisan sama pasangan. Valentine kan bukan cuma milik yang berpasangan, tapi juga berbagi kasih dengan siapa saja.
Lalu datanglah tawaran itu, tepat di hari Valentine, aku diminta untuk jadi pembicara di 2 tempat dengan jadwal yang berurutan di Bandung. Wah, anugerah besar nih! Kastanya sekarang sudah jadi pembicara. Biasa sebagai jurnalis memburu narasumber sekarang jadi narasumber. Pengalaman baru ketimbang cuma merayakan Valentine dengan sebatang coklat dan setangkai bunga. Sempat juga terbersit di benakku, apa sih makna Valentine buatku?
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Kasih, Ngobrol Bareng, Perjalanan, Sahabat, Si Ayah
Posted in Valentine Bila Kau Mau Berbagi
Ngasong @ Paulus & Gandarusa, Bandung, 24-25 Jan 08
January 27th, 2009 Posted 9:13 am
Intensi kali ini membantu OMK Sarimawartoba mengumpulkan dana untuk kemping bersama Uskup “Unity in Diversity” tgl 7-9 Maret 2008 di Ranca Upas.
Proficiat! Terima kasih banyak atas kerja kerasnya untuk menjual bukuku. Aku senang dengan sebutan ngasong, kenapa? Karna literally kita menjajakan buku, jemput bola ke umat. Itu jauh lebih baik ketimbang menunggu umat yang datang menghampiri.
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Kasih, Ngasong Buku, Perjalanan, Sahabat, Si Ayah
Posted in Ngasong @ Paulus & Gandarusa Bandung
“Mudik” ke Borromeus: 2 Minggu
January 5th, 2009 Posted 4:42 pm
Selama 2 minggu kmaren aku “mudik” ke Borromeus. Ngapain? Nemenin Mama Mertua. Berangkat tgl 22 bertiga sama anak2, Si Ayah nyusul tgl 24 nunggu majalahnya kelar. Toh gak kelar juga, tapi karna surat cuti sudah di tangan ya tinggal aja…
Mama Mertua penderita diabetes, ada luka di kakinya. Awalnya sederhana, kakinya yang sering kapalan diguntingi padahal Si Emak punya penyakit diabetes. Karna diguntingi, artinya kan luka meskipun ga berdarah. Jadinya kulit telapak jempol kakinya bolong. Karena tidak berdarah dan tidak pedih, dianggapnya tidak luka. Dari luar memang bolong kecil, dalamnya siapa tahu?
Tags: Bandung, Doa, Kasih, Keluarga, Mama Mertua, Ngasong Buku, Perjalanan, Purbalingga, Si Ayah, Si Bungsu, Syukur
Posted in Mudik ke Borromeus 2 Minggu
Adiksi Kasih
January 4th, 2009 Posted 4:42 pm
Manusia senang sekali disayang. Orang tua pada anaknya, antarsahabat, antarpasangan. Lalu ketika kasih sayang itu hilang, orang itu akan berubah jadi pemarah, pemurung, merasa tidak berguna dan sebagainya. Lihat saja para remaja yang sedang kasmaran lalu putus cinta, siapa yang tidak patah hati? Mengurung diri di kamar, tidak enak makan, tidak bisa tidur, tidak ada semangat.
“Mengapa oh mengapa…”
Lihat juga orang-orang yang uring-uringan karena sahabatnya tidak lagi memperhatikannya. Karena kesibukan atau mendapat sahabat baru, sahabat lama dibuang sayang. Tidak ada lagi ke bioskop bareng, telepon haha-hihi, tempat curhat yang menyenangkan. Lalu pihak yang “ditinggalkan” akan mencari kompensasi lain.
Tags: Doa, Kasih, Sahabat, Si Ayah
Posted in Adiksi Kasih
Green House, Rumahku
January 4th, 2009 Posted 4:16 pm
Dua minggu di kota ini, cukup membuatku kerasan meskipun tidak kunjung hapal jalan. Semua mirip-mirip. Banyak jalan satu arah. Rute yang aku tau hanya Borromeus-Braga dan sebaliknya, Green House-Braga dan sebaliknya, Borromeus-Green House. Jadi kalau dari Green House mau ke Borromeus terpaksa muter lewat Braga. Daripada sok tahu lalu nyasar?
Dalam dua minggu ini juga aku jadi “tamu tetap” Green House. Tempat hang out favorit selain warung kopi kaki lima di sekitar Borromeus. Saking seringnya – rasanya hampir tiap hari, kadang sehari beberapa kali – keluar masuk Green House, mulai dari Pak Penjaga Gerbang sampai Bibi Tukang Masak hapal wajah dan mobilku. Rasanya seperti pegang kartu pas. Datang pagi-pagi ikut Misa di Kapel Mungil pernah, pulang jam 9 malam juga pernah. Ikut sarapan, makan siang sampai makan malam juga pernah. Di sana ikutan sibuk beres-beres dari pagi, lalu sambung lagi sore menjelang malam sampai larut juga pernah. Alhasil, tidak perlu lagi lapor sana-sini, langsung saja nyelonong ke dapur lewat belakang dan tiba di ruang makan. Dari situ baru celingak-celinguk sapa tau ada romo yang nganggur. Memang sih, biasanya aku konfirmasi dulu ke Bapaknya, ada di rumah ga? Klo ada dan nganggur, aku main. Kasih laporan pandangan mata perkembangan Mama Mertua.
Yang Kecil dan Tidak Penting
December 28th, 2008 Posted 7:00 pm
Beberapa hari ini sejak aku di kota ini, aku menjadi religius sekali. “Mengusir suntuk,” begitu menurut Bapa Uskup. Karena aku setidaknya sudah seminggu di sini – belum termasuk minggu sebelumnya aku di sini selama 5 hari – dan setidaknya masih akan di sini selama 3 hari, maka aku menjadi kerap berkirim SMS dengan Bapa Uskup. Melaporkan progress report Mama Mertua yang sudah mondok di rumah sakit selama sebulan dan entah sampai kapan.
Mama Mertua diabetes, lalu ada luka kecil di kakinya. Tidak sakit dan tidak berdarah memang. Tapi siapa tau di balik telapak kakinya yang biasa-biasa saja ternyata berkumpul bakteri ganas yang membuat telapak kakinya busuk, bau dan bernanah. Meskipun sudah masuk ruang operasi setidaknya 3 kali, bakteri itu akhirnya mencari sasaran lain. Pindah ke punggung kaki dan atas mata kaki. Aku memang belum pernah liat sendiri, tapi deskripsi dari Si Ayah cukup jelas bahwa dari lubang besar di telapak kaki yang hanya menyisakan tumit dan pangkal jari kaki, sempat terlihat tulangnya yang putih sehat. Itu sebabnya Dokter optimis tidak perlu amputasi. Toh, nyatanya pada operasi ke 8, kelingking kaki kiri Mama Mertua tetap harus diamputasi. Menurutku dan Si Ayah, cukup minor ketimbang menyelesaikan secara instan mengamputasi dari lututnya. Secara psikologis, Mama Mertua yang mandiri dan biasa ke mana-mana sendirian harus mengenakan kaki palsu dan belum tentu membuatnya percaya diri. Belum lagi efek dari kemungkinan lecet dan infeksi. Sampai sekarang, Mama Mertua sudah menjalani 10x operasi kecil.
Tags: Kasih, Si Ayah, Ulang Tahun
Posted in Yang Kecil dan Tidak Penting
Ungkapan Cinta untuk Bapa Uskup
December 27th, 2008 Posted 6:58 pm
Sabtu, 27 Desember 2008, Bapa Uskup genap berusia 59 tahun.
Ketika aku sedang menunggui Mama Mertua di Rumah Sakit, Bapa Uskup kirim SMS, “Lini, besok datang ke ultahku ya, ada misa pagi di kapel.”
Wooooowwww… seperti anak kecil aku melonjak kegirangan. Mimpi apa diundang ke ultah orang sepenting Bapa Uskup?
Jam 7 kurang aku dan Si Ayah tiba di Green House. Beberapa orang sudah datang. Misa di kapel mungil itu penuh sesak. Diikuti setidaknya 20 orang. Intensi misa dipersembahkan untuk ultah Bapa Uskup sekaligus pesta Santo Yohannes sebagai santo pelindung Bapa Uskup.
Tags: Bandung, Doa, Kasih, Sahabat, Si Ayah, Syukur, Ulang Tahun
Posted in Ungkapan Cinta untuk Bapa Uskup
Warta Inspirasi
December 25th, 2008 Posted 6:58 pm
Kamis siang yang berawan, hari Natal 25 Des 2009 bertepatan dengan ulang tahun Si Bungsu yang ketiga. Di sini udara sejuk, tidak seperti Jakarta dan Bekasi yang panas. Suasana lokal kentara betul sampai aku bisa menandai mana tamu dari Jakarta, mana warga lokal.
Pada misa Natal siang itu dipimpin oleh seorang Imam yang sangat terpandang. Demikian terpandangnya hingga orang berjubel dan meluap ke luar gereja. Begitu besar keinginan umat untuk menatap langsung, menerima berkat dan mendengarkan homili yang disampaikan Sang Imam. Termasuk aku, itu sebabnya kupilih jadwal misa siang itu. Pertama kali mengikuti misa yang dipimpin oleh Sang Imam. Si Bungsu dan Si Sulung kutitipkan di rumah Kakak Ipar. Misa khusus anak-anak diadakan besoknya.
Rumah Sendiri, Kamar Sebelah
November 27th, 2008 Posted 11:24 am
Beberapa bulan lalu.
Waktu versi e-book “My Life is An Open Book” beredar, saya omong-omong personal dengan seorang teman yang juga aktivis Panitia Pembangunan Gereja di tempatku.
“Pak, gimana ya. Aku mau bantu PPG. Klo nanti edisi cetak bukuku terbit, kukasi mereka jualan trus keuntungannya boleh diambil semua gimana?”
“Wah, bagus banget niatmu. Tapi saran saya sih, ga usah semua, bagi dua aja. Kan kasian kamu yang nulis masa ga dapet apa-apa.”
“Hm… gitu ya. Nanti kupikirin lagi deh.”
Hanya segitu. Wong bukunya aja masih di negeri antah berantah.
Aku punya niat begitu karena beberapa teman ngeledek, “Bantuin cari dana Paroki Pasang Surut yang jauh heboh, bantuin Stasi sendiri kok ga?”
Hm… ya bener juga. Kenapa ga?
Tags: Buku My Life is An Open Book, Kasih, Sahabat, Si Ayah
Posted in Rumah Sendiri Kamar Sebelah
Pernikahan Kamar Mandi
November 5th, 2008 Posted 12:10 pm
Sudah lama sekali aku tidak mengisi blog. Ngapain? Macem-macem. Ngurusin buku sendiri, ngasong buku “Berjalan di Air Pasang Surut”, ini-itu, dan yang jelas ya ngurusin keluarga lah…Setelah 6 tahun, rasanya udah ga terlalu kaget2 lagi klo liat Si Ayah yang begitu. Sejak awal pernikahan emang kadarnya bukan nambah, tapi ya sedikit naik dan banyak turunnya. Berantem hampir tiap hari, hal kecil jadi besar, macam2 lah. Rasa kangen juga jaraaaa…ng banget. Bosen? Pasti! Tepatnya: bosen yang diributin itu lagi-itu lagi. Kayaknya kok ga belajar banget dari kesalahan. Demen bener jatuh di lobang yang sama. Udah tau bininya galak n bawel, hal yang ga disukai kok masih aja dikerjain terus? Rasanya ga dihargai deh…
Tags: Keluarga, Ngasong Buku, Sahabat, Si Ayah
Posted in Pernikahan Kamar Mandi












