Posts Tagged ‘Si Ayah’
Peduli Lingkungan: Sebuah Prestasi
June 10th, 2008 Posted 11:45 pm
Beberapa waktu lalu aku belanja di sebuah hypermarket. Mata aku terpaku pada sebuah spanduk yang isinya soal kantong pengganti kantong plastik yang biasa digunakan sebagai wadah belanja. Menurut spanduk itu, kita hanya perlu membeli tas belanja seharga dua ribu rupiah untuk satu tas dan jika rusak maka akan diganti gratis. Wah, idenya menarik juga nih, pikir aku. Tanpa pikir panjang, aku berniat membeli tas tersebut. Begitu aku disodorkan tas yang dimaksud, aku cukup kecewa. Tas tersebut juga terbuat dari plastik hanya lebih tebal.
“Wah, nggak jadi deh, Mbak,” kata aku.
“Kenapa, Bu?” Petugas kasir itu heran.
“Yah… peduli plastik diganti plastik juga. Aku punya tas belanja yang lebih peduli lingkungan di rumah.” Petugas kasir tampak kecewa dan sedikit bingung. Yah, tidak perlu penjelasan panjang lebar baginya. Yang sesuai porsi tugasnya saja.
Sampai di rumah, kuceritakan kejadian ini pada si Ayah.
“Yah, mulai besok kalau belanja ke supermarket atau hypermarket kita bawa tas yang besar itu aja. Kamu peduli lingkungan nggak sih?” Pertanyaan sederhana itu tentu tidak sederhana jawabannya.
Cukup lama si Ayah terdiam sampai akhirnya terlontar, “Iya lah, mulai dari yang kecil aja dulu.”
“Naaah… gitu dong…!” Aku tentu saja melonjak kegirangan.
Beberapa hari kemudian, aku berniat membeli beberapa barang yang cukup banyak juga. Kupegang-pegang dua tas belanja itu. Cukup nggak ya, pikirku. Cukup lah. Kalau kurang ya nanti dipikirkan lagi pakai plastik atau ditenteng begitu aja. Sayang aku tidak tahu nama bahan tas itu apa. Seratnya mirip kertas atau tisu. Biasanya dipakai untuk goodie bag dalam acara-acara seremonial. Makanya aku punya banyak, berbagai model dan warna dengan logo acara, produk atau perusahaan.
“Bu, itu tas buat apa dibawa?” Tanya si Sulung.
“Nanti, kalau habis bayar di kasir, bawa belanjaannya pakai ini aja, nggak usah pakai tas plastik.”
“Wah, seperti yang diceritain ibu guru di sekolah. Peduli sampah plastik,” jelasnya dengan gaya dewasa.
Maka, berangkatlah aku menuju supermarket langganan. Kedua tas sudah kulipat dengan rapi dan kumasukkan ke dalam tasku. Jangan-jangan nanti Pak Satpam malah nyuruh titipin tas itu. Terus belanjaanku taruh di mana? Si Sulung sudah ribut sejak di rumah, ingin segera membawa belanjaan dengan tas itu.
Selesai berbelanja, kukeluarkan tas belanja dari tasku. Menarik perhatian petugas kasir rupanya.
“Mbak, pake tas ini aja ya?” Aku menyerahkan tas itu untuk diisi belanjaanku. Dari raut mukanya terlihat cukup heran. Tapi dikerjakan saja tugasnya. Seselesainya petugas kasir memasukkan belanjaanku ke tas, si Sulung langsung meraih dengan kilat.
“Aku aja yang bawa, Bu.” Begitu melangkah keluar supermarket, ada terselip rasa bangga di diriku dan si Sulung.
Hemat BBM & global warming
Sejak BBM naik, aku putar otak untuk menghemat pengeluaran. Padahal, mobilku Katana yang terkenal irit karena memang tidak bisa melaju kencang. Sudah lama aku minta si Ayah untuk mengajukan fasilitas motor dari kantor.
“Percuma kalau dikasihnya mobil kantor, jangan-jangan lebih boros dari Katana kita,” aku menegaskan.
Besoknya, si Ayah mengajukan permohonan itu. Tentu saja dikasih. Selama ini motor kantor kan hanya dipakai oleh kurir kesana-kemari. Tidak ada yang memang diberi ijin untuk membawa pulang ke rumah.
Beberapa hari kemudian, berhasil juga si Ayah pulang-pergi ke kantor naik motor si kurir. Urusan rapat dengan klien di luar kantor ya tentu saja pakai mobil kantor. Kan hanya dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Itung-itung mengenang masa lalu waktu belum punya mobil.
Resikonya, datang harus pagi-pagi, pulang bisa lebih malam. Bagaimana kesibukan si kurir aja. Kalau kurir harus pergi pagi-pagi ya berangkat juga harus pagi sekali. Kalau sudah malam kurir belum pulang, ya sudah sabar aja. Yang penting, Katana putihku sekarang lebih sering di rumah dan tenang di carport. Meskipun itu membuat si Sulung jadi lebih sering minta kuantar ketimbang dengan mobil jemputannya, untuk anak berumur 5 tahun ya sudah lah, nggak apa-apa…
Ternyata, rejeki belum selesai. Kantor si Ayah membeli motor baru. Motor itu diproyeksikan untuk bagian distribusi, jadi tingkat kesibukannya tidak tinggi. Ini hari ketiga si Ayah naik motor kantor yang baru. Si Ayah bisa sedikit lega kembali ke rutinitas semula. Aku juga lega karena pengeluaran bensin bisa jauh berhemat. Tidak hanya itu, kedua anakku juga gembira sekali diajak berkeliling kompleks naik motor pada hari Minggu sore kemarin. Kedua anakku malah selalu bersorak jika suara motor si Ayah terdengar, “Itu Ayah pulang naik motor merah!”
Kami sudah memulai langkah yang kecil. Kecil tapi berarti dan mudah dijalankan. Mulai hari ini, beli roti tawar juga nggak usah minta tas plastik. Sebisa mungkin, pakai saja tas belanja atau bawa tas plastik dari rumah. Sudah ada motor fasilitas kantor, pergi yang dekat-dekat kan bisa naik motor. Kalau perlu, aku jgua harus bisa naik motor.
Tidak banyak memang, tapi langkah kecil dan pelan ini pasti. Yang terpenting lagi, menumbuhkan rasa peduli lingkungan dan kebanggaan pada kedua anakku bahwa kami jadi bagian dari keluarga peduli lingkungan melalui tindakan, bukan hanya lip service…
Tags: Kasih, Keluarga, Si Ayah, Si Sulung
Posted in Peduli Lingkungan: Sebuah Prestasi
Risol
April 26th, 2008 Posted 3:21 pm
“Mbak, pesenan risolnya besok datang.” Begitu yang tertera di instant messenger-ku.
“Ok, besok aku juga bawa singkongnya,” jawabku.
Ta ini satu ruangan kantor dengan suamiku. Pengantin baru belum punya anak. Istrinya buka warung di rumahnya jualan risol.
“Istriku bikin sendiri. Enak lho!” Begitu katanya beberapa waktu lalu ketika kami ngobrol di instant messenger.
“Jualan di kantor dong. Emang kalo di warung harganya berapa?”
“Yah, namanya di kampung, harganya Rp 500 aja.”
“Kalau gitu, risolnya dibesarin, isinya dibanyakin terus jual di kantor Rp 1000 atau Rp 1500. Kan di kantor nggak ada tukang cemilan. Mau cari ke mana di ruko begitu?”
“Nggak tahu juga nih, soalnya kan musti mikirin tenaga sama modalnya.”
“Yah, daripada cuman di warung, kan lumayan bisa buat nambah.”
“Kan belum pada tahu?”
“Ya dikasih tahu dong. Buatin dummy-nya.” Dummy, kadang disebut mock-up atau artwork, adalah istilah dalam dunia disain grafis untuk model suatu karya. Biasanya berbentuk buku, brosur, majalah, dan sebagainya.
“Makanan ada dummy-nya juga?”
“Ya dong. biar orang tahu itu contoh. Aslinya besok.”
“Ya deh nanti dibicarain sama istri.” Mungkin kawanku ini di seberang sana sedang manggut-manggut.
“Ya gitu dong. Dibicarain aja dulu. Lagian kamu kan naik motor, nggak repot lah bawa risol segitu. Kan bantuin istri.”
“Ya sih.”
Maka perbincangan pun berakhir.
Suatu sore, seperti biasa aku bekerja sambil menjelajah dunia maya.
“Ta, kemarin katanya ada selapanan anaknya Kur. Coba kamu udah promosi, kan bisa pesen di kamu daripada pesen sama orang. Lagian di kantor kan sering ada seminar, lumayan kalo pesen sama istrimu.”
Mungkin Ta di seberang sana sedang merenungi segala peluang yang ada.
“Ta, aku jumat besok mau bikin dummy singkong goreng.”
“Ya deh, nanti kita barter ya?”
“Ok.”
Jumat pagi itu, aku bergegas untuk mengantarkan si Sulung dan si Ayah. Tiba-tiba ponsel si Ayah berbunyi. Ada pesan singkat. “Mas, tolong bilang Mbak Lini hari ini saya nggak masuk jadi pesanan risolnya saya antar ke rumah besok atau lusa.”
“Yah, bilangin risolnya kapan-kapan aja nggak apa-apa,” ujarku.
Maka begitulah isi pesan singkat yang dikirimkan si Ayah pada si kawan ini. Singkong goreng jatah barteran juga urung dibawa serta.
Sorenya, seperti biasa ketika aku bekerja sambil menjelajah dunia maya, ada kawan lain yang menyapaku lewat instant messenger.
“Kamu pesan apa sama Ta?” ujar Ra.
“Ada deh, kenapa sih?”
“Nanti malam tidur jam berapa?”
“Kenapa sih? Jadi curiga nih?”
“Begini, tadi pagi Ta telepon saya minta tolong antarin risol ke rumahmu. Saya kasihan karena istrinya sudah capek bikin. Jadi nanti pulang kantor saya ke rumahnya terus antar risol ke rumahmu. Aku jadi delivery hari ini.”
Saya terhenyak.
Kantor si Ayah di Kelapa Gading. Rumah Ta di Tambun. Rumahku di Harapan Indah (antara Bekasi dan Cakung). Itu sungguh rute yang tidak pendek, memakan bensin, waktu dan tenaga.
“Bilang aja sama Ta, besok-besok aja nggak apa-apa. Lagian katanya besok mau diantarin sendiri ke sini.”
“Besok-besok udah basi kaliii…”
“Ya terserah deh. Emang berapa banyak?”
“Katanya ada 20.”
“Haa?? Banyak benerr…?”
“Itu sedikit. Tadinya udah dibikin 40, udah dimakanin sisa tinggal 20.”
Kawan yang hendak mengantarkan risol ini juga satu ruangan kerja. Di jendela chat sebelah aku tanya pendapat si Ayah.
“Wah, kasian bener tuh Ta. Mana belum gajian. Kemarin denger-denger dia bokek. Mana risolnya banyak gitu lagi. Gimana ya? Aku bingung,” jawab si Ayah.
“Aku ga bisa ngomong apa-apa. Kasian Ta, kasian Ra. Mana tanggal tua bener gini. Kita aja bokek, gimana mereka?”
Aku dan si Ayah sama-sama bingung.
“Nggak usah deh Ra. Kasian kamu kan juga capek.”
“Aku justru kasian sama Ta, istrinya kan udah capek bikin.”
“Ya gini deh. Aku kan mau jemput. Aku bawa singkongnya, nanti kasih ke Ta ya. Tunggu aku ke situ,” ujarku pada Ra mengakhiri obrolan karena memang sudah saatnya aku jemput si Ayah di kantornya.
Sepanjang perjalanan aku termenung. Orang macam apa yang tanggal tua begini rela membuat risol 40 buah untuk dijadikan tester. Belum lagi ternyata niat tak sampai malah dimakan sendiri dan dikasih ke aku banyak begitu? Jika sebuah risolnya dijual di warungnya seharga Rp 500 maka setidaknya dia sudah mengeluarkan biaya Rp 20.000 yang seharusnya menjadi keuntungan.
Orang macam apa pula yang rela menolong kawannya menyisihkan bensin, waktu, dan tenaganya menempuh jarak Kelapa Gading-Tambun-Harapan Indah demi 20 buah risol?
Aku kasihan sama Ta dan Ra. Ta merasa bertanggung jawab padaku. Ra kasihan pada Ta. Jadilah lingkaran saling mengasihani di tengah tiga orang ini.
Malamnya, tumben baru jam 10 aku ngantuk sekali. Aku tertidur. Si Ayah masih menunggu kiriman risol yang diantar Ra. Ra tiba di rumahku jam 12 malam dengan 20 buah risol yang ditempatkan wadah plastik.
Pagi ini baru aku bisa menikmati risol yang penuh perjuangan dan semangat mengasihi. Rasanya mungkin biasa, sensasi memakannya yang luar biasa.
My Life is An Open Book
March 14th, 2008 Posted 7:33 pm
Berkat kebaikan Tuhan, sesuai rencana hari ini bertepatan dengan ulang tahun saya buku My Life is An Open Book sudah dapat dinikmati dalam bentuk e-book.
Bagi sahabat yang berminat, permintaan boleh lewat imel ke lini.hanafiah@via-lattea.org
Silakan meneruskan pesan ini ke siapa saja barangkali ada yang tertarik dan membutuhkan.
Semoga hadiah ulang tahun dari saya bisa bermanfaat.
Terima kasih.
Silakan mengunjungi Via Lattea Foundation

Sinopsis
Bagi keluarganya, ia sosok yang pemberontak dan liar. Bagi sebagian orang, ia adalah sosok teman yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa tentang dirinya. Tapi ia pernah melewati bagian yang jauh dari benak banyak orang: mengubah hidup dan keadaannya dengan cara yang tidak biasa.
Berkisah tentang hidup penulis yang berangkat dari masa kecil yang tidak bahagia dan penuh tekanan. Ia melalui masa remaja yang berandalan di jalanan dan hanyut di tengah gemerlap dunia kelam. Ia bertekad untuk bangkit dan menemukan turning point-nya, mengubah keadaan dan hidupnya.
Tidak banyak orang yang nekat mendobrak nilai dan norma demi sebuah perubahan. Ketika semua bertentangan dengan kebenaran hatinya, ia menerobos terus. Ia hanya segelintir dari orang-orang yang dianggap edan.
Beban berat itu mulai dapat dibanggakannya. Ia berhasil menunjukkan bahwa ia bisa berdamai dengan luka melalui sebuah perjuangan yang masih terus bergulir demi sebuah perubahan hidup.
Dalam buku ini, Anda akan diajak untuk menggali gagasan, inspirasi dan filosofi menarik yang kadang tidak mudah diterima pemikiran orang awam. Belajar dari baik-buruk hidupnya agar membuat hidup Anda lebih baik lagi. Selain itu, cukup mengundang kontroversial karena dianggap membuka aib sendiri dan orang lain.
Petikan
Tak punya punya pedoman hidup, tak jelas ke mana arahnya, tak kenal siapa Tuhanku. Aku menjalani turning point yang dahsyat. Aku ingin mengubah hidupku. Siapa bilang nasib tak bisa diubah? Bisa! Harus bisa! Tak ada yang tak mungkin. Hidup boleh tidak adil, tapi Tuhan tidak tidur! Aku harus mencarinya bagaimanapun caranya. Aku harus dapat.
Inilah turning point terpenting dalam hidupku: pindah keyakinan dan kawin lari. Titik ini membuka awal baru dalam hidupku. Aku belajar untuk memaafkan dan menyembuhkan luka batinku. Aku menata lagi hidupku satu demi satu. Cukup sudah masa kelamku.
Jika aku tidak bisa mengubah keadaan, maka aku yang akan berubah. Dan aku mengalir seperti air yang tak akan kembali ke hulu…
Kawin lari. Itu hanya ada di film. Tidak pernah terbayangkan di benak banyak orang. Terlalu banyak orang yang takjub atas kenekatanku. Si Ayah melamarku tiga kali dan semuanya ditolak mentah-mentah oleh Mama. Alasan etnis menjadi terlalu klise untuk dibahas.
Pada beberapa momen yang amat penting dalam hidupku sejak aku hengkang dari rumah, Mama tidak pernah mendampingi. Pernikahan dan kelahiran kedua anakku kujalani berdua suamiku. Mungkin terlihat berlebihan jika aku bilang, “Aku tidak punya keluarga.” Tapi itu fakta. Hartaku hanya si Ayah dan kedua anakku. Jika orang lain bisa berkata, “Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku.” Lalu ke mana aku pulang?
Memang aku bukan anak yang baik. Tapi aku sudah cukup membuktikan pada diriku bahwa aku mampu menjadi menantu dan Ibu yang cukup baik dengan caraku sendiri. Aku mampu membangun keluarga menurut dengan upayaku sendiri. Aku sungguh berdiri di atas kakiku sendiri. Tanpa bantuan Mama. Yang terpenting, menjadi seseorang yang jauh lebih baik bahkan lebih jauh dari yang pernah kubayangkan.
Tentang Penulis
Genevieve Lini Hanafiah adalah seseorang yang memilih menjadi Ibu rumah tangga bekerja dari rumah dan meninggalkan karirnya. Lini pernah bekerja pada berbagai bidang seperti periklanan, jurnalistik dan penerbitan. Bidang lain yang juga digelutinya adalah seputar dunia teater (Teater Enhakam SMA 6 Jakarta dan Teater Fikom Univ. Prof. Dr. Moestopo), fotografi, dan penulisan.
Sejak tahun 2001, ia menjadi partisipan di sebuah yayasan antinarkoba, RIDMA Foundation, dan menjadi jurnalis di Majalah HEALTHNEWS di bawah bendera yang sama.
Lini menikah dengan Gregorius Danny Koestijo dan dikaruniai dua anak Mikayla Karissa Denel dan Gavryel Griffin Denel.
Buku My Life is An Open Book merupakan buku pertama dan dipublikasikan. Bercerita tentang pengalaman tidak menyenangkan yang membuatnya bangkit melalui turning point yang luar biasa. Buku ini memuat banyak filosofi menarik dan gagasan baru yang kadang
tidak mudah diterima pemikiran orang awam. Selain itu, cukup mengundang kontroversial karena dianggap membuka aib sendiri dan orang lain.
—
Warmest regards,
G. Lini Hanafiah
Via Lattea Foundation
Tags: Kasih, Luka Batin, Maaf, Sahabat, Si Ayah
Posted in My Life is An Open Book









