Posts Tagged ‘Si Sulung’
E-book Si Kaki Putih, Si Kaki Hitam, dan Si Cokelat
November 7th, 2011 Posted 10:00 am

Si Kaki Putih, Si Kaki Hitam, dan Si Cokelat
G. Lini Hanafiah & Mikayla Karissa Denel
ISBN: 978-979-18815-5-5
Penerbit: Via Lattea Foundation
60 hal
18×18 cm
Untuk mengunduh, silakan klik di sini.
Tags: Buku, Keluarga, Pendidikan, Si Ayah, Si Bungsu, Si Ibu, Si Sulung, the De.N.eL.s
Posted in E-book Si Kaki Putih Si Kaki Hitam dan Si Cokelat
Pak Raden: Sang Pendongeng, Kakek Sejuta Cucu
May 18th, 2011 Posted 7:43 pm
Siang itu, seharusnya aku sudah menyelesaikan presentasi untuk workshop menulis yang diadakan komunitasku Yuk Nulis! dalam rangka World Book Day 2011. Apa daya, rasa sentimentil yang menyergap sejak siang kemarinnya makin menggila. Akhirnya, menulislah aku di siang yang luar biasa terik itu.
Beberapa waktu lalu (ah, kenapa aku tidak catat tanggalnya ya?), aku membeli buku “Petruk jadi Raja” yang ditulis dan diilustrasi oleh Drs. Suyadi aka Pak Raden. Buku ini jadi kejutan buat Si Sulung dan Si Bungsu. Aku minta untuk dituliskan nama mereka di buku itu. Selang beberapa hari, buku itu tiba. Kedua anakku bingung, kenapa tiba-tiba Kakek yang masih juga kerap muncul di layar televisi dengan gaya yang sama dengan 25 tahun lalu itu mengirimi buku? Tahu alamat rumah dari mana? Tahu nama mereka dari mana? Dikasih tanda tangan pula!
Tags: Buku My Life is An Open Book, Harapan, Kasih, Pak Raden, Si Bungsu, Si Sulung, the De.N.eL.s, Yuk Nulis!
Posted in Pak Raden Sang Pendongeng Kakek Sejuta Cucu
Natal, Selalu Istimewa
November 30th, 2009 Posted 11:14 pm
Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 10, Desember 2009
Natal, selalu menjadi hal sentimentil buatku.
Natal pertamaku tahun 2002
Singkat cerita, saat itu aku baru saja dibaptis. Pengantin baru yang memiliki janin berusia tiga bulan di rahimku. Dengan kondisi mual-dan-muntah-selalu, tidak mungkin aku merasakan Misa Malam Natal. Sejak dulu memang aku suka sekali dengan suasana Natal yang dipenuhi anak-anak. Pilihannya jatuh pada Misa Natal Anak-anak jam 9.00.
Rasa gembiraku lebih mirip anak-anak ketimbang calon ibu. Rasanya kembali ke masa kecil. Melihat banyak sekali anak-anak berbaju merah dengan topi Santa Clause. Menyanyikan lagu Natal anak-anak. Mendengarkan koor anak-anak. Menyaksikan tablo Natal yang dibawakan anak-anak yang ceritanya “memang begitu”. Air mata haru dan senyum gembira jadi satu. Pasti aneh sekali wajahku saat itu dengan perut yang tidak terlalu buncit.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Keluarga, Majalah Kuasa Doa, Natal, Si Ayah, Si Bungsu, Si Ibu, Si Sulung, the De.N.eL.s
Posted in Natal Selalu Istimewa
Aku Tidak Bodoh, Ma
July 23rd, 2009 Posted 8:33 am
Hari Anak Nasional 2009
Hari ini pestanya anak-anak Indonesia. Apakah mereka sungguh bisa menjadi diri sendiri? Aku tidak yakin. Banyak anak-anak yang tidak bisa jadi dirinya sendiri. Sadarkah bahwa tuntutan lingkungan terutama orang tua menyiksa mereka?
Kemarin, tetangga sebelahku – yang memang selalu berteriak – bicara di telepon. Agak sulit untuk tidak menguping apapun yang dikatakan ibu itu, suaranya terdengar ke mana-mana. Apalagi aku sambil jemur baju di teras, percakapan sebelah pihak itu jelas betul terdengarnya.
“Ya, Bu. Biarin aja! Pokoknya anak saya jangan boleh pulang kalau belum bisa baca soalnya. Kemarin nilainya B, Papanya marah banget. Nilainya jelek!” Anak yang dibicarakan itu usianya sebaya dengan Si Sulung, harusnya juga kelas 1 SD. Bertetangga sebelahan dengan ibu itu membuatku stress dengan teriakannya sepanjang waktu, jadi ya sudahlah gak usah berakrab ria. Makanya aku gak tau anak itu sekolah di mana.
Tags: Kasih, Keluarga, Pendidikan, Prihatin, Si Bungsu, Si Sulung
Posted in Aku Tidak Bodoh Ma
Kenapa Aku Sipit, Bu?
June 19th, 2009 Posted 6:15 pm
Anak-anak, sering kali pemikirannya membuat kita takjub. Pertanyaannya membuat kita bingung harus menjawab apa. Begitu pertanyaan terlontar dari mulut mungilnya, kita serasa disengat lebah. Kaget, heran, tak bisa berpikir cepat.
“Kenapa aku sipit, Bu?” Kudengar sayup-sayup suara Si Sulung dari kamar. Kupikir dia sedang asyik nonton video Pentas Seni kemarin.
“Yla ngomong sama Ibu, Nak?” Aku yang di depan komputer menghampiri ke kamar.
“Iya. Kenapa mataku sipit, Bu?”
???
Hang.
Bingung.
…
Gak cukup kata menggambarkan perasaanku saat itu. Berpikir-pikir bagaimana menjelaskannya ya? Mati aku!
Tags: Keluarga, Mama Mertua, Oey Keng Siong, Si Sulung, Syukur
Posted in Kenapa Aku Sipit Bu?
Kemping Ulang Tahun
March 9th, 2009 Posted 8:22 pm
“Unity in Diversity” bersama Bp. Uskup
Orang Muda Katolik Sarimawartoba
(Sumbersari, Margahayu, Waringin, Moh. Toha, Buah Batu)
Ranca Upas, Ciwidey, Bandung
7-9 Maret 2009
Tambah Usia – KLA Project – Klasik
Bertambah satu usiamu
Oh semoga penuh warna
Semakin indah hatimu
Berikan cinta tuk semuaKau telah tercipta
Sebagai insan istimewa
Tumbuh dalam jiwa
Terus bahagia dan raih citaSyukur tuk Yang Kuasa
Atas beragam anugerah
Kusertakan doa
Panjang umur kasih berlimpahIkuti hidup yang mengalir
Dan reguklah hingga akhir
Karena dunia terus berubah
Jangan kau terlena dan goyah(Tambah Usia, KLa Project)
Setahun lalu pada ulang tahunku, Tuhan berkenan memberi kesempatan aku mempublikasikan buku “My Life is An Open Book” yang saat itu berupa e-book dan kubagi gratis. Ulang tahunku kali ini, Tuhan berkenan memberi kesempatan aku untuk menikmati indahnya hutan dan gunung bersama orang-orang terkasih dan teman-teman. Di tengah 400 orang peserta dan panitia dari 5 paroki sekeuskupan Bandung: Sumbersari, Margahayu, Waringin, Moh. Toha dan Buah Batu. Termasuk Bp. Uskup Bandung Mgr. Pujasumarta, Fr. Haryanto dan Pastor Wahyu. Di udara yang dingin menggigit, di ketinggian sekitar 2000m, menikmati bintang yang bersinar pada jam 5 pagi dan kabut tebal yang masih ada hingga jam 6.30.
Sabtu dini hari 7 Maret 2009, aku meluncur ke Bandung bersama Si Ayah, Si Bungsu dan Si Sulung. Pagi itu aku ada janji bertemu dengan Ibu Pud di kediaman Mgr. Puja untuk merayakan Ekaristi harian. Ibu Pud adalah seorang pembacaku yang hidupnya dramatis, akan kuceritakan lain kali. Singkatnya, Ibu Pud demikian terinspirasinya sampai hidupnya yang mati suri selama sekitar 2 tahun kini kembali “hidup”.
Tags: Bandung, Ngobrol Bareng, Perjalanan, Si Ayah, Si Bungsu, Si Sulung, Syukur, Ulang Tahun
Posted in Kemping Ulang Tahun
Green House, Rumahku
January 4th, 2009 Posted 4:16 pm
Dua minggu di kota ini, cukup membuatku kerasan meskipun tidak kunjung hapal jalan. Semua mirip-mirip. Banyak jalan satu arah. Rute yang aku tau hanya Borromeus-Braga dan sebaliknya, Green House-Braga dan sebaliknya, Borromeus-Green House. Jadi kalau dari Green House mau ke Borromeus terpaksa muter lewat Braga. Daripada sok tahu lalu nyasar?
Dalam dua minggu ini juga aku jadi “tamu tetap” Green House. Tempat hang out favorit selain warung kopi kaki lima di sekitar Borromeus. Saking seringnya – rasanya hampir tiap hari, kadang sehari beberapa kali – keluar masuk Green House, mulai dari Pak Penjaga Gerbang sampai Bibi Tukang Masak hapal wajah dan mobilku. Rasanya seperti pegang kartu pas. Datang pagi-pagi ikut Misa di Kapel Mungil pernah, pulang jam 9 malam juga pernah. Ikut sarapan, makan siang sampai makan malam juga pernah. Di sana ikutan sibuk beres-beres dari pagi, lalu sambung lagi sore menjelang malam sampai larut juga pernah. Alhasil, tidak perlu lagi lapor sana-sini, langsung saja nyelonong ke dapur lewat belakang dan tiba di ruang makan. Dari situ baru celingak-celinguk sapa tau ada romo yang nganggur. Memang sih, biasanya aku konfirmasi dulu ke Bapaknya, ada di rumah ga? Klo ada dan nganggur, aku main. Kasih laporan pandangan mata perkembangan Mama Mertua.
Warta Inspirasi
December 25th, 2008 Posted 6:58 pm
Kamis siang yang berawan, hari Natal 25 Des 2009 bertepatan dengan ulang tahun Si Bungsu yang ketiga. Di sini udara sejuk, tidak seperti Jakarta dan Bekasi yang panas. Suasana lokal kentara betul sampai aku bisa menandai mana tamu dari Jakarta, mana warga lokal.
Pada misa Natal siang itu dipimpin oleh seorang Imam yang sangat terpandang. Demikian terpandangnya hingga orang berjubel dan meluap ke luar gereja. Begitu besar keinginan umat untuk menatap langsung, menerima berkat dan mendengarkan homili yang disampaikan Sang Imam. Termasuk aku, itu sebabnya kupilih jadwal misa siang itu. Pertama kali mengikuti misa yang dipimpin oleh Sang Imam. Si Bungsu dan Si Sulung kutitipkan di rumah Kakak Ipar. Misa khusus anak-anak diadakan besoknya.
Kasih Sayang Menang!
December 22nd, 2008 Posted 6:57 pm
Mendengar kata “Ibu” yang terbersit di benakku adalah sosok perempuan yang hatinya bagai sungai kasih sayang, mengaliri kehidupan anak-anaknya tanpa kenal musim. Rela berkorban melakukan apa saja bahkan melupakan dirinya sendiri demi anak-anaknya sebagai representasi jiwanya.
Wah ideal betul sosok Ibu bagiku? Aku menitikberatkan pada kasih sayang, tak perlu menyebut para Ibu yang hobi ngomel, pelupa, kalau belanja lama sekali, masakannya tidak enak, cerewet, terlalu protektif, dan sebagainya. Menjadi cukup manusiawi kan?
Dalam konteks Ibu yang penuh kasih, mengingatkan aku pada sosok 4 Ibu yang menjadi bagian penting dalam hidupku. Siapa itu?
Tags: Doa, Kasih, Mama Mertua, Sahabat, Si Bungsu, Si Sulung, Syukur
Posted in Kasih Sayang Menang!
Merdeka! Yakin?
August 18th, 2008 Posted 9:51 pm

Pagi itu, anak-anakku ingin melihat berbagai lomba di depan pos hansip. Tahun lalu, si Sulung menangis ketika lomba makan kerupuk. Makanya, tahun ini aku tidak menawarkan untuk ikut lomba. Dengan kemauannya sendiri, akhirnya si Sulung kembali ikut lomba. Sambil menunggu giliran ketika kelompok TK A sedang berlomba, aku ajak si Sulung mencermati cara berlomba. Banyak kecurangan di sana-sini, mulai dari dibantu sampai yang kerupuknya dicuili keluarganya. Aku hanya mengatakan, yang penting main jujur, tidak boleh curang. Untuk lucu2an memang terlihat menyenangkan, dibantu orang lalu menang. Malah ada yang anaknya diam saja dan kerupuknya habis karna diremas keluarganya. Tapi begitu selesai lalu keluarganya mengklaim kemenangan? Waduh…
Tiba giliran si Sulung, kelompok TK B. Dengan grogi si Sulung bersiap di posisinya. Kembali aku
menekankan sportifitas dan kejujuran. Priit… Si Sulung mulai beraksi. Sedikit demi sedikit mulutnya berusaha meraih si kerupuk. Susah sekali. Entah mengapa si kerupuk enggan masuk ke mulutnya. Beberapa menit berlalu. Drama kejar2an antara mulutnya dengan si kerupuk menjadi atraksi tersendiri bagi bapak2 n ibu2 lain.Karna hanya berhasil menggigit secuil dari sekian besar kerupuknya dan lelah mengejar si kerupuk yang tak kunjung berhasil digigitnya, si Sulung menyerah dan hampir menangis. Aku memberinya semangat. Kuingatkan tokoh Po si Kungfu Panda yang pantang menyerah. Kulihat peserta lainnya sudah hampir setengah jalan. Setelah kubujuk, si Sulung mau melanjutkan perjuangannya sampai peluit usai berbunyi. Seketika langsung kupeluk dan kukatakan, “Ibu bangga sama kamu. Jujur dan pantang menyerah.Seperti pahlawan kita yang diceritain ibu guru. Tidak penting jadi juara. Yang penting pantang menyerah dan jujur.”
Aku bukan nasionalis, itu yang aku tahu. Kwinta berpendapat aku justru nasionalis dengan
mendidik si Sulung tetap jujur meskipun lomba makan kerupuk dianggap ajang lucu2an. Ajang yang hanya digelar pada 17 agustus itu sayang sekali jika diwarnai dengan kemenangan curang. Apa seperti ini memaknai hari kemerdekaan Indonesia? Aku tidak tahu. Tidak untuk aku. Aku tidak tega mengajarkan kecurangan sejak dini. Mau jadi apa mereka besar nanti kalau sejak kecil diperkenalkan pada kecurangan apalagi di hari kemerdekaan ini?
Yakin kita sudah merdeka? Tidak dijajah keluarga, tetangga, atasan, teman, atau siapa saja? Dalam cerita lomba makan kerupuk itu, aku tidak merasa si anak merdeka atas perjuangannya mengikuti lomba. Untuk menjadi juara, apa saja dihalalkan, bahkan cenderung bukan atas keinginannya sendiri.
Buatku, merdeka bukan hal muluk dan ngawang2 seperti para pahlawan. Buatku, merdeka adalah kita berhak atas diri dan pikiran kita sendiri. Merdeka menentukan sikap dan pilihan. Merdeka dalam bercita-cita. Merdeka dalam mengekspresikan rasa. Aku memerdekakan si Sulung untuk tidak harus menjadi juara.
Itu saja.
“Apapun pendapat miringmu tentang negara ini, simpan saja untukmu hari ini. Dirgahayu Negeriku Tercinta! Semoga Lekas Sembuh!” (Kwinta Masalit, 17.08.08 07.16am)
“Mari Bung, rebut kembali!” (Lini, 17.08.08 07.20am)
Tags: Sahabat, Si Sulung
Posted in Merdeka! Yakin?
Peduli Lingkungan: Sebuah Prestasi
June 10th, 2008 Posted 11:45 pm
Beberapa waktu lalu aku belanja di sebuah hypermarket. Mata aku terpaku pada sebuah spanduk yang isinya soal kantong pengganti kantong plastik yang biasa digunakan sebagai wadah belanja. Menurut spanduk itu, kita hanya perlu membeli tas belanja seharga dua ribu rupiah untuk satu tas dan jika rusak maka akan diganti gratis. Wah, idenya menarik juga nih, pikir aku. Tanpa pikir panjang, aku berniat membeli tas tersebut. Begitu aku disodorkan tas yang dimaksud, aku cukup kecewa. Tas tersebut juga terbuat dari plastik hanya lebih tebal.
“Wah, nggak jadi deh, Mbak,” kata aku.
“Kenapa, Bu?” Petugas kasir itu heran.
“Yah… peduli plastik diganti plastik juga. Aku punya tas belanja yang lebih peduli lingkungan di rumah.” Petugas kasir tampak kecewa dan sedikit bingung. Yah, tidak perlu penjelasan panjang lebar baginya. Yang sesuai porsi tugasnya saja.
Sampai di rumah, kuceritakan kejadian ini pada si Ayah.
“Yah, mulai besok kalau belanja ke supermarket atau hypermarket kita bawa tas yang besar itu aja. Kamu peduli lingkungan nggak sih?” Pertanyaan sederhana itu tentu tidak sederhana jawabannya.
Cukup lama si Ayah terdiam sampai akhirnya terlontar, “Iya lah, mulai dari yang kecil aja dulu.”
“Naaah… gitu dong…!” Aku tentu saja melonjak kegirangan.
Beberapa hari kemudian, aku berniat membeli beberapa barang yang cukup banyak juga. Kupegang-pegang dua tas belanja itu. Cukup nggak ya, pikirku. Cukup lah. Kalau kurang ya nanti dipikirkan lagi pakai plastik atau ditenteng begitu aja. Sayang aku tidak tahu nama bahan tas itu apa. Seratnya mirip kertas atau tisu. Biasanya dipakai untuk goodie bag dalam acara-acara seremonial. Makanya aku punya banyak, berbagai model dan warna dengan logo acara, produk atau perusahaan.
“Bu, itu tas buat apa dibawa?” Tanya si Sulung.
“Nanti, kalau habis bayar di kasir, bawa belanjaannya pakai ini aja, nggak usah pakai tas plastik.”
“Wah, seperti yang diceritain ibu guru di sekolah. Peduli sampah plastik,” jelasnya dengan gaya dewasa.
Maka, berangkatlah aku menuju supermarket langganan. Kedua tas sudah kulipat dengan rapi dan kumasukkan ke dalam tasku. Jangan-jangan nanti Pak Satpam malah nyuruh titipin tas itu. Terus belanjaanku taruh di mana? Si Sulung sudah ribut sejak di rumah, ingin segera membawa belanjaan dengan tas itu.
Selesai berbelanja, kukeluarkan tas belanja dari tasku. Menarik perhatian petugas kasir rupanya.
“Mbak, pake tas ini aja ya?” Aku menyerahkan tas itu untuk diisi belanjaanku. Dari raut mukanya terlihat cukup heran. Tapi dikerjakan saja tugasnya. Seselesainya petugas kasir memasukkan belanjaanku ke tas, si Sulung langsung meraih dengan kilat.
“Aku aja yang bawa, Bu.” Begitu melangkah keluar supermarket, ada terselip rasa bangga di diriku dan si Sulung.
Hemat BBM & global warming
Sejak BBM naik, aku putar otak untuk menghemat pengeluaran. Padahal, mobilku Katana yang terkenal irit karena memang tidak bisa melaju kencang. Sudah lama aku minta si Ayah untuk mengajukan fasilitas motor dari kantor.
“Percuma kalau dikasihnya mobil kantor, jangan-jangan lebih boros dari Katana kita,” aku menegaskan.
Besoknya, si Ayah mengajukan permohonan itu. Tentu saja dikasih. Selama ini motor kantor kan hanya dipakai oleh kurir kesana-kemari. Tidak ada yang memang diberi ijin untuk membawa pulang ke rumah.
Beberapa hari kemudian, berhasil juga si Ayah pulang-pergi ke kantor naik motor si kurir. Urusan rapat dengan klien di luar kantor ya tentu saja pakai mobil kantor. Kan hanya dari rumah ke kantor dan sebaliknya. Itung-itung mengenang masa lalu waktu belum punya mobil.
Resikonya, datang harus pagi-pagi, pulang bisa lebih malam. Bagaimana kesibukan si kurir aja. Kalau kurir harus pergi pagi-pagi ya berangkat juga harus pagi sekali. Kalau sudah malam kurir belum pulang, ya sudah sabar aja. Yang penting, Katana putihku sekarang lebih sering di rumah dan tenang di carport. Meskipun itu membuat si Sulung jadi lebih sering minta kuantar ketimbang dengan mobil jemputannya, untuk anak berumur 5 tahun ya sudah lah, nggak apa-apa…
Ternyata, rejeki belum selesai. Kantor si Ayah membeli motor baru. Motor itu diproyeksikan untuk bagian distribusi, jadi tingkat kesibukannya tidak tinggi. Ini hari ketiga si Ayah naik motor kantor yang baru. Si Ayah bisa sedikit lega kembali ke rutinitas semula. Aku juga lega karena pengeluaran bensin bisa jauh berhemat. Tidak hanya itu, kedua anakku juga gembira sekali diajak berkeliling kompleks naik motor pada hari Minggu sore kemarin. Kedua anakku malah selalu bersorak jika suara motor si Ayah terdengar, “Itu Ayah pulang naik motor merah!”
Kami sudah memulai langkah yang kecil. Kecil tapi berarti dan mudah dijalankan. Mulai hari ini, beli roti tawar juga nggak usah minta tas plastik. Sebisa mungkin, pakai saja tas belanja atau bawa tas plastik dari rumah. Sudah ada motor fasilitas kantor, pergi yang dekat-dekat kan bisa naik motor. Kalau perlu, aku jgua harus bisa naik motor.
Tidak banyak memang, tapi langkah kecil dan pelan ini pasti. Yang terpenting lagi, menumbuhkan rasa peduli lingkungan dan kebanggaan pada kedua anakku bahwa kami jadi bagian dari keluarga peduli lingkungan melalui tindakan, bukan hanya lip service…
Tags: Kasih, Keluarga, Si Ayah, Si Sulung
Posted in Peduli Lingkungan: Sebuah Prestasi
Album Jadul Duo Chicha & Adi
May 15th, 2008 Posted 2:02 pm
Liat sana-sini, eh yang menarik mata gw bukan si kaset yang dicari2, malah… Album jadul duo Chicha & Adi. Buseett… masih ada aja itu kaset? Antara kepingin dan ga prioritas, maka dengan berat hati ga jadi juga gw ambil itu kaset. padahal cuman ada 1 biji doang!! padahal pingin juga bernostalgila jaman gw SD dengerin itu mulu. dari tampilannya sih kyk udah direpro. kertasnya masih bersih n mengilat. fotonya juga cukup tajam. ga tau kualitas suaranya. ga usah bahasin kualitas suara kaleee… mengingat itu album 25 th lalu bukan?
“Yla, ini kan Papa Adi yang di Idola Cilik,” kata gw ke Yla si Sulung.
“Masa, Bu? Papa Adi kan udah tua? Ini kaya temen Yla umurnya.”
“Ya memang. Dulu ibu dengerin ini jaman masih SD.”
Jadi ingat acara tivi Idola Cilik kesukaan anak2. Penyanyinya cukup berkualitas baik. Cuman memang sudah menghindari gaya anak2 yang notabene imitator yang baik untuk ga ikut2an gaya penyanyi dewasa idolanya.
Tapi itu masih bisa saya toleransi. Yang sulit ditolerir itu pemilihan lagunya. Apa sedemikian sulit mencari lagu untuk anak2? Ketika para finalis menyanyikan “Somewhere Over the Rainbow”, “Sang Bango”, “Do Re Mi”, lagu2nya Sherina n Tasya atau yang sejenisnya, saya jadi berpikir, kenapa sulit membuat lagu anak2 jaman sekarang? Kasian anak2 sekarang dijejali lagu2 cinta.
Dulu masih ada lagu2 ciptaan Papa T. Bob. meskipun saya tidak suka aransemennya, tapi dibandingkan sekarang masih jauh lebih mending lah.
Semoga blantika musik anak2 kembali ke masa jayanya dulu…
Tags: Doa, Si Sulung
Posted in Album Jadul Duo Chicha & Adi
Risol
April 26th, 2008 Posted 3:21 pm
“Mbak, pesenan risolnya besok datang.” Begitu yang tertera di instant messenger-ku.
“Ok, besok aku juga bawa singkongnya,” jawabku.
Ta ini satu ruangan kantor dengan suamiku. Pengantin baru belum punya anak. Istrinya buka warung di rumahnya jualan risol.
“Istriku bikin sendiri. Enak lho!” Begitu katanya beberapa waktu lalu ketika kami ngobrol di instant messenger.
“Jualan di kantor dong. Emang kalo di warung harganya berapa?”
“Yah, namanya di kampung, harganya Rp 500 aja.”
“Kalau gitu, risolnya dibesarin, isinya dibanyakin terus jual di kantor Rp 1000 atau Rp 1500. Kan di kantor nggak ada tukang cemilan. Mau cari ke mana di ruko begitu?”
“Nggak tahu juga nih, soalnya kan musti mikirin tenaga sama modalnya.”
“Yah, daripada cuman di warung, kan lumayan bisa buat nambah.”
“Kan belum pada tahu?”
“Ya dikasih tahu dong. Buatin dummy-nya.” Dummy, kadang disebut mock-up atau artwork, adalah istilah dalam dunia disain grafis untuk model suatu karya. Biasanya berbentuk buku, brosur, majalah, dan sebagainya.
“Makanan ada dummy-nya juga?”
“Ya dong. biar orang tahu itu contoh. Aslinya besok.”
“Ya deh nanti dibicarain sama istri.” Mungkin kawanku ini di seberang sana sedang manggut-manggut.
“Ya gitu dong. Dibicarain aja dulu. Lagian kamu kan naik motor, nggak repot lah bawa risol segitu. Kan bantuin istri.”
“Ya sih.”
Maka perbincangan pun berakhir.
Suatu sore, seperti biasa aku bekerja sambil menjelajah dunia maya.
“Ta, kemarin katanya ada selapanan anaknya Kur. Coba kamu udah promosi, kan bisa pesen di kamu daripada pesen sama orang. Lagian di kantor kan sering ada seminar, lumayan kalo pesen sama istrimu.”
Mungkin Ta di seberang sana sedang merenungi segala peluang yang ada.
“Ta, aku jumat besok mau bikin dummy singkong goreng.”
“Ya deh, nanti kita barter ya?”
“Ok.”
Jumat pagi itu, aku bergegas untuk mengantarkan si Sulung dan si Ayah. Tiba-tiba ponsel si Ayah berbunyi. Ada pesan singkat. “Mas, tolong bilang Mbak Lini hari ini saya nggak masuk jadi pesanan risolnya saya antar ke rumah besok atau lusa.”
“Yah, bilangin risolnya kapan-kapan aja nggak apa-apa,” ujarku.
Maka begitulah isi pesan singkat yang dikirimkan si Ayah pada si kawan ini. Singkong goreng jatah barteran juga urung dibawa serta.
Sorenya, seperti biasa ketika aku bekerja sambil menjelajah dunia maya, ada kawan lain yang menyapaku lewat instant messenger.
“Kamu pesan apa sama Ta?” ujar Ra.
“Ada deh, kenapa sih?”
“Nanti malam tidur jam berapa?”
“Kenapa sih? Jadi curiga nih?”
“Begini, tadi pagi Ta telepon saya minta tolong antarin risol ke rumahmu. Saya kasihan karena istrinya sudah capek bikin. Jadi nanti pulang kantor saya ke rumahnya terus antar risol ke rumahmu. Aku jadi delivery hari ini.”
Saya terhenyak.
Kantor si Ayah di Kelapa Gading. Rumah Ta di Tambun. Rumahku di Harapan Indah (antara Bekasi dan Cakung). Itu sungguh rute yang tidak pendek, memakan bensin, waktu dan tenaga.
“Bilang aja sama Ta, besok-besok aja nggak apa-apa. Lagian katanya besok mau diantarin sendiri ke sini.”
“Besok-besok udah basi kaliii…”
“Ya terserah deh. Emang berapa banyak?”
“Katanya ada 20.”
“Haa?? Banyak benerr…?”
“Itu sedikit. Tadinya udah dibikin 40, udah dimakanin sisa tinggal 20.”
Kawan yang hendak mengantarkan risol ini juga satu ruangan kerja. Di jendela chat sebelah aku tanya pendapat si Ayah.
“Wah, kasian bener tuh Ta. Mana belum gajian. Kemarin denger-denger dia bokek. Mana risolnya banyak gitu lagi. Gimana ya? Aku bingung,” jawab si Ayah.
“Aku ga bisa ngomong apa-apa. Kasian Ta, kasian Ra. Mana tanggal tua bener gini. Kita aja bokek, gimana mereka?”
Aku dan si Ayah sama-sama bingung.
“Nggak usah deh Ra. Kasian kamu kan juga capek.”
“Aku justru kasian sama Ta, istrinya kan udah capek bikin.”
“Ya gini deh. Aku kan mau jemput. Aku bawa singkongnya, nanti kasih ke Ta ya. Tunggu aku ke situ,” ujarku pada Ra mengakhiri obrolan karena memang sudah saatnya aku jemput si Ayah di kantornya.
Sepanjang perjalanan aku termenung. Orang macam apa yang tanggal tua begini rela membuat risol 40 buah untuk dijadikan tester. Belum lagi ternyata niat tak sampai malah dimakan sendiri dan dikasih ke aku banyak begitu? Jika sebuah risolnya dijual di warungnya seharga Rp 500 maka setidaknya dia sudah mengeluarkan biaya Rp 20.000 yang seharusnya menjadi keuntungan.
Orang macam apa pula yang rela menolong kawannya menyisihkan bensin, waktu, dan tenaganya menempuh jarak Kelapa Gading-Tambun-Harapan Indah demi 20 buah risol?
Aku kasihan sama Ta dan Ra. Ta merasa bertanggung jawab padaku. Ra kasihan pada Ta. Jadilah lingkaran saling mengasihani di tengah tiga orang ini.
Malamnya, tumben baru jam 10 aku ngantuk sekali. Aku tertidur. Si Ayah masih menunggu kiriman risol yang diantar Ra. Ra tiba di rumahku jam 12 malam dengan 20 buah risol yang ditempatkan wadah plastik.
Pagi ini baru aku bisa menikmati risol yang penuh perjuangan dan semangat mengasihi. Rasanya mungkin biasa, sensasi memakannya yang luar biasa.










