Posts Tagged ‘Surat’
“Apa kabar, Non?”
June 17th, 2010 Posted 1:18 am
Siang tadi, seorang teman berbincang lewat layanan pesan instan. Tanpa sengaja ia menyebut namamu. Seketika konsentrasiku buyar. Kangenku menyeruak seenaknya. Tak kupandangi lagi layar monitorku. Aku lebih suka memandangi rintik hujan dari balik jendela. Gemericiknya mengingatkan pada renyah leluconmu.
Apa kabar kamu? Lama sekali kita tidak ngobrol. Genap enam minggu sejak terakhir kudengar suaramu. Aku kangen betul….
Beberapa kali kusapa kamu. Tak berbalas. Aku terus menunggu dalam diam. Ada apa? Semua baik-baik saja kah? Maaf kalau aku terlalu sibuk. Alasan paling klasik dan paling tak-terbantahkan abad ini.
Tags: Cinta, Sahabat, Surat
Posted in “Apa kabar Non?”
Surat untuk Sahabat Pena (3)
December 4th, 2009 Posted 12:17 pm
Duhai sahabat gue yang diberkati Tuhan,
Gue sangat berduka, sepeninggal pertemuan itu lu malah jatuh sakit. Lu bilang, waktu kita ketemu lu sudah gejala sakit. Kenapa gak bilang? Lu tau gak, rasanya blingsatan begitu beberapa hari kemudian lu bilang kalo lu sakit. Suara lu lemah banget. Gue gak bisa bantu apa-apa. Gue gak bisa terbang ke sana. Gue gak bisa ke apotik beliin lu obat dan lu tinggal berbaring dengan manis di ranjang yang harus lu anggap nyaman itu. Manusia mana yang tega mengetahui sahabatnya sudah terlambat mengejar tenggat kerja dalam keadaan sakit dan gak punya uang? Mau cepet selesaiin kerja, tapi sakit. Mau sembuh biar cepet selesai, gak bisa beli obat. Jadi kayak bahas ayam sama telor. Mau mana duluan? Kerja dulu biar dapat uang untuk beli obat atau beli obat dulu biar sehat dan bisa cepet selesai kerja?
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena (3)
Surat untuk Sahabat Pena (2)
November 6th, 2009 Posted 7:31 pm
Hei…
Mengingat biasanya kita ber-gue-elu, maka kali ini lebih enak begitu.
Tadi sore, akhirnya gue menangis. Kenapa? Hm… gue belum pernah cerita ya. Tapi gak penting kenapa gue menangis. Jangan GR dulu, ini bukan menangisi elu. Gue menangis karena problem gue. Yang penting adalah saat gue menangis itu yang perlu lu tahu.
Waktu gue menangis, gue inget elu. Tiba-tiba aja elu datang terus mengajak berdoa. Bagai anak kecil yang nurut begitu aja, gue berdoa. Bukan berdoa tepatnya. Menyapa Dia. Emang udah setahun ini gue menyapa dia basa-basi, pake pamrih pula. Di doa itu, gue sempet bilang, “Tuhan, sampaikan padanya, aku baik-baik aja.” Setidaknya itu yang gue usahakan detik itu. Kita mendaraskan doa dalam diam. Tapi gue bahagia banget berdoa bareng lu. Seketika rasanya enteee…ng banget! Beberapa jenak kemudian gue berhenti nangis. Lalu gue telpon lu untuk bilang gue baik-baik aja. Gue gak mau lu deg-degan di tengah apa yang tengah lu kerjakan, seperti sebelumnya.
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena (2)
Surat untuk Sahabat Pena
October 30th, 2009 Posted 4:14 am
Hei…
Butuh waktu beberapa jenak untukku menulis ini untukmu. Aku harus meredakan sesak dan mataku yang basah. Ketika aku menulis ini, pasti kamu sudah terlelap. Mataku masih basah sedikit.
Tiba-tiba saja malam menjelang dini hari ini aku teringat kamu. Tepat beberapa saat sebelum aku tidur. Aku “nonton film” kamu lagi. Biasanya yang muncul hanya adegan kita duduk diam. Hanya diam. Atau, sesekali adegannya adalah kamu berdiri sendirian, terlalu gengsi untuk memanggilku. Aku yang jatuh iba melihatmu nelangsa pol menghampiri dan memelukmu erat sampai kamu menangis. Aku memelukmu terus sampai tangismu berhenti. Juga tanpa kata-kata.
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Luka Batin, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena








