Posts Tagged ‘Syukur’
Na, Jaga Diri Lu
March 26th, 2010 Posted 10:42 am
Panggil saja dia Nana. Teman sebangkuku ketika duduk di kelas 3 SMP, 19 tahun lalu. Saat itu kami sama-sama tidak populer. Rumah kami tidak terlalu jauh tapi jarak rumah kami ke sekolah jauh. Aku tinggal di Menteng Pulo—yang mendadak populer karena Barry alias Obama kecil tinggal di sana—dan Nana tinggal di Menteng Dalam. Awalnya Nana selalu dijemput supirnya ketika pulang sekolah. Lama kelamaan Nana mulai belajar pulang naik bus kota bersamaku. Halte bus dekat rumah Nana akan dilalui lebih dulu, baru halte dekat rumahku sehingga Nana pasti turun duluan dan aku merasa aman. Sebenarnya heran juga melihat Nana kecil yang biasa naik mobil berpendingin ikut naik-turun bus dari terminal Blok M yang luar biasa panas itu. Maka sejak itulah persahabatan kami dimulai.
Nana berkulit putih, berwajah mirip orang Tionghoa, berambut panjang, bertubuh subur. Itu yang kuingat betul. Ternyata sampai saat ini tidak ada yang berubah, hanya rambut kami yang dulu sama-sama panjang dicukur sama pendek. Wah, sama terus ya?
Tags: Kasih, Luka Batin, Sahabat, Syukur
Posted in Na Jaga Diri Lu
Dua, Dua, Tiga, Satu
March 24th, 2010 Posted 12:15 pm
Sebetulnya saya berhutang cerita ini pada Fonny empat hari. Maaf ya, Fon
Dua tahun. Kalau manusia, umur dua tahun itu lagi cerewet-cerewetnya karena baru lancar ngomong bahkan baru bisa jika sedikit terlambat seperti Si Sulung. Ulang tahun pertama memang tidak dirayakan karena tulisannya juga tidak terlalu banyak apalagi penghuninya. Belum apa-apa. Belum layak dirayakan.
Ulang tahun ke dua, penghuninya sudah 32 Nuliser sangat aktif, 81 Nuliser aktif, dan 247 member milis (termasuk 113 Nuliser tadi di dalamnya). Sudah banyak Nuliser yang mumpuni bahkan Femi dan Fonny sudah punya fans page sendiri—Femi dengan Femi on the Blog dan Fonny dengan Chapters of Fonny’s Life. Kerja keras mereka sudah layak membuahkan hasil, keringat mereka sendiri, mandiri. Via Lattea tentu turut bangga. Ini perlu dirayakan!
Tags: Buku My Life is An Open Book, Si Ibu, Syukur, Ulang Tahun, Yuk Nulis!
Posted in Dua Dua Tiga Satu
Untaian Warna-warni di 33
March 17th, 2010 Posted 5:23 pm
Sangat banyak hadiah dan doa yang kuterima. Rasanya kok egois kalau disimpan sendiri ya? Ini sebagian dari lebih 600 ucapan dan doa yang menarik untuk dibagi. Ada yang lucu, ada yang puitis, ada gambar. Silakan menginterpretasikan sesuai keyakinan masing-masing
Yang “Salah Pencet”
Nining Sayekti Pribadiningtyas met ultah yg ke 17 ya….be happy sis…
Nurul Sholeha Happy brithday k2 hanifah ..
Cmoga sukses slalu..
Max Oroh ‘met ULTAH ya, Rin!!!
Sigit Hp …sabar…urung rejeki…
Yang “No Komen Deh”….
Stefanus Christianto Hepi Berdey, ya Mbak. Mudah2an kali ini ngga salah ngasi ucapan. Hehehehe
Antonius Haryanto SUT………………..
Anang Yb selamat ulang tahun ya… terus jaga kesintinganmu agar terarah dan fokus.
Burhan Abe Selamat bertambah tua bu,,,, semoga panjang usia
Fani Yunata Selamat berkurang usia
Fx Arnoko Dewayanto Ya udah, gak usah muach2an deh. Selamat ulang tahun, jabat erat, panjang sehat dan rejeki plus semakin cantik dan sabar. Jangan lupa kuenya dikirim ke tempatku ya…
Tags: Doa, Senyum, Si Ibu, Syukur, Ulang Tahun
Posted in Untaian Warna-warni di 33
Angka Tiga Itu Ada Dua
March 15th, 2010 Posted 4:52 pm
Ketika aku menulis ini, virus flu masih setia menemani. Semoga teman-temin tidak tertular
Ini sudah H+7 kalau mau memakai istilah acara seremonial macam mudik Lebaran. Sejak tgl 8 Maret jam 02.30 tengah malam buta, aku sudah sibuk membalasi segudang ucapan dan doa untukku. Detik ini, aku masih juga membalasi arus ucapan dan doa darimu semua, tetap ditemani virus flu yang setia dengan sesekali “uhuk-uhuk” dan suara yang lenyap. Setidaknya, ada 600 lebih ucapan dan doa yang kuterima dan harus kubalas baik lewat Facebook, pesan singkat, surat-e, dan layanan pesan instan. Wow!!
Sejak hari Sabtu, sebetulnya aku sudah mulai flu tapi apa daya, “tuntutan” untuk rapat dengan pihak sekolah disambung dengan mengangkat suara di Misa Syukur seorang kawan di Kanisius. Ajaib memang, meskipun sudah mulai flu dan sakit di tenggorokan (atau kerongkongan ya?) urusan tarik suara itu berjalan baik.
Tags: Si Ibu, Syukur, the De.N.eL.s, Ulang Tahun
Posted in Angka Tiga Itu Ada Dua
Surat untuk Sahabat Pena (3)
December 4th, 2009 Posted 12:17 pm
Duhai sahabat gue yang diberkati Tuhan,
Gue sangat berduka, sepeninggal pertemuan itu lu malah jatuh sakit. Lu bilang, waktu kita ketemu lu sudah gejala sakit. Kenapa gak bilang? Lu tau gak, rasanya blingsatan begitu beberapa hari kemudian lu bilang kalo lu sakit. Suara lu lemah banget. Gue gak bisa bantu apa-apa. Gue gak bisa terbang ke sana. Gue gak bisa ke apotik beliin lu obat dan lu tinggal berbaring dengan manis di ranjang yang harus lu anggap nyaman itu. Manusia mana yang tega mengetahui sahabatnya sudah terlambat mengejar tenggat kerja dalam keadaan sakit dan gak punya uang? Mau cepet selesaiin kerja, tapi sakit. Mau sembuh biar cepet selesai, gak bisa beli obat. Jadi kayak bahas ayam sama telor. Mau mana duluan? Kerja dulu biar dapat uang untuk beli obat atau beli obat dulu biar sehat dan bisa cepet selesai kerja?
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena (3)
Surat untuk Sahabat Pena (2)
November 6th, 2009 Posted 7:31 pm
Hei…
Mengingat biasanya kita ber-gue-elu, maka kali ini lebih enak begitu.
Tadi sore, akhirnya gue menangis. Kenapa? Hm… gue belum pernah cerita ya. Tapi gak penting kenapa gue menangis. Jangan GR dulu, ini bukan menangisi elu. Gue menangis karena problem gue. Yang penting adalah saat gue menangis itu yang perlu lu tahu.
Waktu gue menangis, gue inget elu. Tiba-tiba aja elu datang terus mengajak berdoa. Bagai anak kecil yang nurut begitu aja, gue berdoa. Bukan berdoa tepatnya. Menyapa Dia. Emang udah setahun ini gue menyapa dia basa-basi, pake pamrih pula. Di doa itu, gue sempet bilang, “Tuhan, sampaikan padanya, aku baik-baik aja.” Setidaknya itu yang gue usahakan detik itu. Kita mendaraskan doa dalam diam. Tapi gue bahagia banget berdoa bareng lu. Seketika rasanya enteee…ng banget! Beberapa jenak kemudian gue berhenti nangis. Lalu gue telpon lu untuk bilang gue baik-baik aja. Gue gak mau lu deg-degan di tengah apa yang tengah lu kerjakan, seperti sebelumnya.
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena (2)
Surat untuk Sahabat Pena
October 30th, 2009 Posted 4:14 am
Hei…
Butuh waktu beberapa jenak untukku menulis ini untukmu. Aku harus meredakan sesak dan mataku yang basah. Ketika aku menulis ini, pasti kamu sudah terlelap. Mataku masih basah sedikit.
Tiba-tiba saja malam menjelang dini hari ini aku teringat kamu. Tepat beberapa saat sebelum aku tidur. Aku “nonton film” kamu lagi. Biasanya yang muncul hanya adegan kita duduk diam. Hanya diam. Atau, sesekali adegannya adalah kamu berdiri sendirian, terlalu gengsi untuk memanggilku. Aku yang jatuh iba melihatmu nelangsa pol menghampiri dan memelukmu erat sampai kamu menangis. Aku memelukmu terus sampai tangismu berhenti. Juga tanpa kata-kata.
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Luka Batin, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena
Aku Marah di Hadapan Altar-Nya
October 19th, 2009 Posted 9:27 am
Setelah bertahun-tahun tidak lagi rutin ke gereja, hari Minggu kemarin aku ke gereja. Aku bukan orang yang bisa menyambut Ekaristi dalam keadaan marah dan benci. Aku marah, aku benci, aku terluka. Urusan domestik yang tak kunjung terselesaikan selama empat tahun terakhir sungguh mengganggu stabilitas mental dan jiwa yang akhirnya berpengaruh pada ketahanan fisikku. Sakit-sakitan, lebih kurus dari biasanya yang memang sudah kurus, sulit berkonsentrasi.
Si Ayah bukan orang yang religius, jadi tak perlu berharap diajak ke gereja. Setidaknya, ini salah satu bukti bahwa aku migrasi karena “mengikut suami”. Ikut ke mana, wong pergi sendiri? Mungkin memang seharusnya aku pergi sendiri kalau dia tak mau ikut. Biar dia dan anak-anak main di rumah. Berhubung Si Lini ini idealis, ke gereja ya harusnya komplit, akhirnya “mengalah” dan kompak semuanya tinggal di rumah.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Maaf, Si Ayah, Syukur
Posted in Aku Marah di Hadapan Altar-Nya
Ibu, Inilah Anakmu
September 29th, 2009 Posted 12:19 pm
Dimuat di Majalah Kuasa Doa Vol. 4, No. 8, Oktober 2009

Sudah lama aku tidak merasakan kehangatan seorang Ibu. Sudah tujuh tahun sejak aku meninggalkan rumah Mama. Di mulai ketika aku pindah keyakinan dan memilih jodohku sendiri sehingga aku harus meninggalkan rumah. Kangen? Tidak juga. Aku memang anak yang tidak baik dan tidak berbakti sampai aku tidak merasa kehilangan Mama. Sudah belasan tahun sejak mulai remaja aku kehilangan sosok seorang Ibu. Ibu yang dekat dengan anaknya bukan hanya memikirkan karir dan keinginannya semata.
Setiap Hari Ibu, aku justru kangen dengan Ibu Baptis, Ibu Pembina Katekumenku, dan Ibu Mertuaku. Dalam diri mereka aku menemui sosok seorang Ibu sejati. Ibu Maria yang menjelma dalam diri manusia. Ingatanku kembali pada masa katekumen. Masa di mana aku dikenalkan pada seorang Ibu yang luar biasa. Ibu Tuhanku Yesus. Ibu yang sederhana, sabar, penuh kasih. Tidak cukup kata menggambarkannya.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Majalah Kuasa Doa, Syukur
Posted in Ibu Inilah Anakmu
Do I Know You?
August 11th, 2009 Posted 7:43 am
Beberapa hari lalu, aku menerima sebuah lelucon di inbox-ku. Sebuah lelucon yang sebetulnya sungguh lucu. Mungkin karena aku sudah baca sebelumnya, jadi tidak terlalu lucu lagi buatku. Ditambah perasaan gundah gulana, marah, sakit hati dan segala rupa yang campur aduk jadi satu akibat menemukan dua tulisanku diobrak-abrik orang, sungguh aku tidak bisa tersenyum apalagi cengengesan seperti biasa. Tulisan yang kubuat dengan kesungguhan hati di tengah keributan Si Sulung dan Si Bungsu diubah begitu saja apalagi seolah-olah menjadi “miliknya”.
Seorang teman yang berniat menghibur malah aku tegur dengan kelayakan sebuah pengutipan, “Cantumkan sumbernya.” Sialnya, dari sekian banyak penerima pesan itu, tak satupun kukenal yang tentunya juga tidak kenal aku dong. Sontak mereka marah karena aku dianggap berlebihan, hiperbolik, lebay, merasa “sok ngetop” dan sebagainya.
Tags: Curhat, Kasih, Luka Batin, Maaf, Syukur
Posted in Do I Know You?
Kenapa Aku Sipit, Bu?
June 19th, 2009 Posted 6:15 pm
Anak-anak, sering kali pemikirannya membuat kita takjub. Pertanyaannya membuat kita bingung harus menjawab apa. Begitu pertanyaan terlontar dari mulut mungilnya, kita serasa disengat lebah. Kaget, heran, tak bisa berpikir cepat.
“Kenapa aku sipit, Bu?” Kudengar sayup-sayup suara Si Sulung dari kamar. Kupikir dia sedang asyik nonton video Pentas Seni kemarin.
“Yla ngomong sama Ibu, Nak?” Aku yang di depan komputer menghampiri ke kamar.
“Iya. Kenapa mataku sipit, Bu?”
???
Hang.
Bingung.
…
Gak cukup kata menggambarkan perasaanku saat itu. Berpikir-pikir bagaimana menjelaskannya ya? Mati aku!
Tags: Keluarga, Mama Mertua, Oey Keng Siong, Si Sulung, Syukur
Posted in Kenapa Aku Sipit Bu?
Kemping Ulang Tahun
March 9th, 2009 Posted 8:22 pm
“Unity in Diversity” bersama Bp. Uskup
Orang Muda Katolik Sarimawartoba
(Sumbersari, Margahayu, Waringin, Moh. Toha, Buah Batu)
Ranca Upas, Ciwidey, Bandung
7-9 Maret 2009
Tambah Usia – KLA Project – Klasik
Bertambah satu usiamu
Oh semoga penuh warna
Semakin indah hatimu
Berikan cinta tuk semuaKau telah tercipta
Sebagai insan istimewa
Tumbuh dalam jiwa
Terus bahagia dan raih citaSyukur tuk Yang Kuasa
Atas beragam anugerah
Kusertakan doa
Panjang umur kasih berlimpahIkuti hidup yang mengalir
Dan reguklah hingga akhir
Karena dunia terus berubah
Jangan kau terlena dan goyah(Tambah Usia, KLa Project)
Setahun lalu pada ulang tahunku, Tuhan berkenan memberi kesempatan aku mempublikasikan buku “My Life is An Open Book” yang saat itu berupa e-book dan kubagi gratis. Ulang tahunku kali ini, Tuhan berkenan memberi kesempatan aku untuk menikmati indahnya hutan dan gunung bersama orang-orang terkasih dan teman-teman. Di tengah 400 orang peserta dan panitia dari 5 paroki sekeuskupan Bandung: Sumbersari, Margahayu, Waringin, Moh. Toha dan Buah Batu. Termasuk Bp. Uskup Bandung Mgr. Pujasumarta, Fr. Haryanto dan Pastor Wahyu. Di udara yang dingin menggigit, di ketinggian sekitar 2000m, menikmati bintang yang bersinar pada jam 5 pagi dan kabut tebal yang masih ada hingga jam 6.30.
Sabtu dini hari 7 Maret 2009, aku meluncur ke Bandung bersama Si Ayah, Si Bungsu dan Si Sulung. Pagi itu aku ada janji bertemu dengan Ibu Pud di kediaman Mgr. Puja untuk merayakan Ekaristi harian. Ibu Pud adalah seorang pembacaku yang hidupnya dramatis, akan kuceritakan lain kali. Singkatnya, Ibu Pud demikian terinspirasinya sampai hidupnya yang mati suri selama sekitar 2 tahun kini kembali “hidup”.
Tags: Bandung, Ngobrol Bareng, Perjalanan, Si Ayah, Si Bungsu, Si Sulung, Syukur, Ulang Tahun
Posted in Kemping Ulang Tahun
“Mudik” ke Borromeus: 2 Minggu
January 5th, 2009 Posted 4:42 pm
Selama 2 minggu kmaren aku “mudik” ke Borromeus. Ngapain? Nemenin Mama Mertua. Berangkat tgl 22 bertiga sama anak2, Si Ayah nyusul tgl 24 nunggu majalahnya kelar. Toh gak kelar juga, tapi karna surat cuti sudah di tangan ya tinggal aja…
Mama Mertua penderita diabetes, ada luka di kakinya. Awalnya sederhana, kakinya yang sering kapalan diguntingi padahal Si Emak punya penyakit diabetes. Karna diguntingi, artinya kan luka meskipun ga berdarah. Jadinya kulit telapak jempol kakinya bolong. Karena tidak berdarah dan tidak pedih, dianggapnya tidak luka. Dari luar memang bolong kecil, dalamnya siapa tahu?
Tags: Bandung, Doa, Kasih, Keluarga, Mama Mertua, Ngasong Buku, Perjalanan, Purbalingga, Si Ayah, Si Bungsu, Syukur
Posted in Mudik ke Borromeus 2 Minggu
Ungkapan Cinta untuk Bapa Uskup
December 27th, 2008 Posted 6:58 pm
Sabtu, 27 Desember 2008, Bapa Uskup genap berusia 59 tahun.
Ketika aku sedang menunggui Mama Mertua di Rumah Sakit, Bapa Uskup kirim SMS, “Lini, besok datang ke ultahku ya, ada misa pagi di kapel.”
Wooooowwww… seperti anak kecil aku melonjak kegirangan. Mimpi apa diundang ke ultah orang sepenting Bapa Uskup?
Jam 7 kurang aku dan Si Ayah tiba di Green House. Beberapa orang sudah datang. Misa di kapel mungil itu penuh sesak. Diikuti setidaknya 20 orang. Intensi misa dipersembahkan untuk ultah Bapa Uskup sekaligus pesta Santo Yohannes sebagai santo pelindung Bapa Uskup.
Tags: Bandung, Doa, Kasih, Sahabat, Si Ayah, Syukur, Ulang Tahun
Posted in Ungkapan Cinta untuk Bapa Uskup
Kasih Sayang Menang!
December 22nd, 2008 Posted 6:57 pm
Mendengar kata “Ibu” yang terbersit di benakku adalah sosok perempuan yang hatinya bagai sungai kasih sayang, mengaliri kehidupan anak-anaknya tanpa kenal musim. Rela berkorban melakukan apa saja bahkan melupakan dirinya sendiri demi anak-anaknya sebagai representasi jiwanya.
Wah ideal betul sosok Ibu bagiku? Aku menitikberatkan pada kasih sayang, tak perlu menyebut para Ibu yang hobi ngomel, pelupa, kalau belanja lama sekali, masakannya tidak enak, cerewet, terlalu protektif, dan sebagainya. Menjadi cukup manusiawi kan?
Dalam konteks Ibu yang penuh kasih, mengingatkan aku pada sosok 4 Ibu yang menjadi bagian penting dalam hidupku. Siapa itu?
Tags: Doa, Kasih, Mama Mertua, Sahabat, Si Bungsu, Si Sulung, Syukur
Posted in Kasih Sayang Menang!
Sahabat, di mana kau bersembunyi?
June 16th, 2008 Posted 1:00 am
Saya memanfaatkan fasilitas internet untuk mencari segala informasi tentangnya. Akhirnya, saya mendapatinya di sebuah aplikasi social networking yang sedang tren. Hampir semua aplikasi social networking yang dia miliki berisi deretan nama yang panjang. Saya hanya berharap orang ini tidak sebatas menerima friend request saya, tapi kami bisa kontak langsung. Untuk lebih meyakinkan, saya bubuhi juga “suha!” salam khas lembaga kesenian itu.
Ternyata sambutannya luar biasa. Orang ini langsung mengirim private message. Kami pun mulai kontak. Setidaknya, banyak anggota lain lembaga kesenian itu yang juga senang dengan adanya kontak kami dengannya.
Sejak itu kami rajin chatting atau saling membalas postingan di milis bahkan saling telepon. Tak cukup lima menit berbincang dengannya di telepon. Makanya semua nomor pribadinya ada di saya. Saya belum pernah bertemu muka. Selang beberapa hari saja, kami sudah akrab. Bahkan panggilan “Mas” tidak lagi saya gunakan. Kami mulai sering curhat. Malah justru dia yang lebih sering curhat seputar pekerjaannya.
Saya mulai tersanjung. Dicurhati orang sama saja dengan dipercaya orang. Lama kelamaan curhatnya mulai makin serius. Kadang urusan karirnya juga diceritakan. Bukan lagi curhat, tapi sudah mulai minta pendapat. Saya yang suka ceplas-ceplos enak saja melontarkan pandangan-pandangan saya. Anehnya, dia lebih sering memikirkan pemikiran saya yang memang jujur tapi kurang pujian malah cenderung memberi masukan atau kritik. Saya sempat merasa serba salah. Pastilah dari deretan panjang nama yang ada di friend list-nya jauh lebih berkompeten dari saya. Tapi kenapa dia lebih memilih saya, keranjang sampah sekaligus pemberi komentar?
“Lo, kan punya temen banyak, knapa sih gw yang lo mintain pendapat? Pendapat gw kan aneh, ga banyak orang yang bisa dengan mudah terima pendapat gw.”
“Lin, kadang gw bingung mau cerita sama siapa. Emang friend list gw panjang, tapi itu temen seneng-seneng doang. Klo gw susah, ga ada yang bisa dengerin…” Nada suaranya sendu sekali.
Saya trenyuh dengarnya. Bagaimana bisa orang yang dikelilingi banyak sekali yang mengaku “teman” tapi bersembunyi ketika kita membutuhkannya? Lalu, ke mana mereka bersembunyi?
Saya bukan orang yang banyak sekali teman apalagi populer. Saya banyak kenal orang, tapi tidak banyak yang kenal saya. Maka saya agak sulit membayangkan posisi sahabat saya itu. Sahabat saya itu orang yang rendah hati dan baik sekali. Jadi saya sungguh kasihan mendengar ia tak punya teman curhat.
Ketika beberapa hari lalu ia menceritakan sebuah program talkshow, saya mengusulkan, “Buat programnya bahwa lo adalah pendengar setia. Tempat di mana narasumber bisa bercerita apa saja. Lo gak boleh komentar. Lo harus jadi shoulder to cry on narasumber. Jangan buat narasumber kesepian seperti yang lo rasain selama ini.”
Kenyataan ini membuat saya makin sadar. Siapapun dia – selebritis, rohaniwan, politisi – memiliki sisi humanis yang kesepian dan membutuhkan sahabat. Teman yang sungguh ada ketika dia membutuhkan kita. Sahabat yang memperlakukannya hanya sebagai pribadi, bukan status dan jabatan. Di mana dia bisa menjadi dirinya penuh, utuh tak perlu jaim.
Apakah saya sudah menjadi sahabat setia orang lain? Apakah saya sudah memperlakukan orang lain seperti pribadi yang utuh tanpa tuntutan status dan jabatan?
Setidaknya, saya sangat bersyukur punya segelintir teman yang ada ketika saya susah. Segelintir orang yang memperlakukan saya apa adanya. Dan itu membuat saya sangat bahagia…
Selamat ulang tahun, dear AAA. Semoga Tuhan memberikan berkah dan kasihNya. Semoga semakin sedalam samudra dan seluas angkasa. Amin…
Tags: Doa, Kasih, Sahabat, Syukur
Posted in Sahabat di mana kau bersembunyi?
Antara Pilihan dan Titik Balik
April 26th, 2008 Posted 3:19 pm
Penilaian saya gugur begitu saya berbincang akrab dengan bapak penjual gorengan ini di pertemuan terakhir saya. Saya terhenyak. Ternyata, berjualan gorengan itu berhasil membawa ketiga anaknya duduk di bangku kuliah. Luar biasa! Ia bukan saja mengubah hidupnya tapi juga seluruh keluarganya. Dinilai dari luar ia memang pedagang penganan gorengan biasa, siapa nyana ia mampu menyekolahkan ketiga anaknya sampai tinggi dan tidak pernah berhutang.
***
Tetapi begitu bersinggungan dengan pertanyaan “Apa dan siapa kamu?” umumnya jawaban yang keluar juga seputar identitas tersebut di atas. Jarang orang menjawab pertanyaan tersebut dengan keterangan seputar karakter dan personaliti.
Bicara soal sosok pribadi seseorang tentu tidak lepas dengan konteks perubahan. Semua orang berubah, sesedikit apapun itu. Hampir tidak mungkin orang tidak berubah. Orang berubah seiring dengan segala informasi yang didapat, kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya, kondisi keluarga atau orang-orang di sekelilingnya, kultur, dan respon intuitif atas semua itu.
Seseorang yang berasal dari Sumatera dan lama tinggal di tanah Jawa sedikit banyak akan mempengaruhi selera rasa makanan, tutur kata, gerak-gerik, dan sebagainya. Faktanya, kemampuan masing-masing orang untuk berhadapan dengan suatu kondisi yang kompleks itu berbeda-beda. Ada yang dengan cepat beradaptasi, ada yang lambat.
Bicara tentang perubahan hidup biasanya kita bicara tentang nasib. Bagi sebagian orang, nasib itu sudah suratan takdir, tidak bisa diubah jadi ya terima saja. Jika hidupnya melarat, rasanya mustahil akan bisa jadi kaya raya.
Orang-orang macam ini cenderung untuk pasif dan pesimis pada hidupnya. Mungkin mereka akan bersikeras menyatakan bahwa mereka sudah pontang-panting mengubah hidup tapi tetap saja tidak bisa. Jika ditelaah lebih jauh, tentu ada sebab kenapa seseorang yang merasa sudah berusaha tapi tidak berhasil. Sangat banyak contoh perjuangan orang-orang untuk mengubah hidupnya.
Ada seorang kawan yang mengeluh di usia tiga puluhnya ia belum juga menemukan jodoh. Beberapa kali ia berkeluh kesah tentang hidupnya pada saya. Saya hanya menjadi pendengar yang baik karena saya merasa tidak berkompeten memberikan nasehat atau wejangan. Setelah saya merasa cukup untuk dijadikan “tempat sampah” uneg-unegnya, saya lalu menyampaikan bahwa bagaimana dia akan mendapatkan jodoh sementara hidupnya dipenuhi dengan berbagai keluhan? Rasanya sulit mendekati seorang gadis yang wajahnya juga pas-pasan dan kepribadian yang gemar mengeluh. Mungkin saja para perjaka akan takut duluan sebelum mendekat akibat segala keluhannya itu.
Saya lalu menyarankan agar ia mengubah kebiasaan mengeluhnya. Pada dasarnya, setiap manusia mencari pasangan bukan semata penampilan fisik tetapi juga bagaimana kita membuat pasangan merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.
***
Kelompok ini bukan ingin mengalahkan Kausa Prima, Yang Maha Kuasa. Mereka bukan ingin menjadi tukang sihir yang bisa mengubah segala sesuatu, bukan juga ingin jadi pahlawan super yang mengubah dunia. Mereka hanya yakin bahwa hidup juga patut diperjuangkan, bahwa Tuhan tidak begitu saja menentukan garis hidup semua orang apapun yang kita lakukan sejak lahir sampai tiba ajalnya. Mereka lebih aktif terhadap hidup. Tidak ada yang tidak mungkin. There is a will, there is a way. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Bahwa ada satu-dua hal yang tidak tercapai, itu bukan berarti bahwa mereka gagal lalu menyerah. Ora et labora, berdoa dan berusaha. Berdoa saja tidak cukup, dan sebaliknya. Itu sama saja artinya dengan memakai alas kaki hanya sebelah, bukan sepasang.
Perbedaan mendasar pada dua kelompok ini terletak pada semangat juang terhadap hidup, ketetapan hati, dan rasa syukur. Hidup selalu bersinggungan dengan ketidakpastian dan pilihan beserta resikonya. Apakah hanya menerima bahkan mengeluhkan saja apapun yang sedang terjadi atau bertekad untuk mengubah hidup ke arah yang lebih baik dan menjalani titik balik dalam hidupnya.
Life is a matter of choosing. Hidup adalah pilihan. Pilihan tidak lepas dari berbagai resiko yang mengikutinya, baik yang sudah dipertimbangkan maupun kendala yang terjadi kemudian. Kesiapan mental dan ketetapan hati sangat dibutuhkan untuk mengubah hidup.
Untuk mengubah hidup, biasanya akan terjadi pengambilan keputusan penting dalam hidupnya dan berpengaruh besar. Mungkin konteksnya bisa penting atau sepele, mulai dari menepati janji, melakukan diet, berhenti kebiasaan merokok sampai keinginan untuk hidup sejahtera.
Dengan diambilnya keputusan itu, lalu kita akan mulai melaksanakan sesuatu yang “baru”. Kebiasaan baru ini tentu sangat sulit untuk dijalankan. Itu sebabnya semangat juang sangat berperan. Orang yang semangat juangnya rendah mungkin akan menyerah dan kembali ke “zona nyaman” sebelumnya. Hidup di zona nyaman akan jauh lebih menyenangkan dan lebih mudah diterka. Menempati zona baru yang serba tidak pasti dan penuh resiko sangat menantang dan diperlukan keberanian besar. Kita harus siap dengan apapun segala resiko terburuk sekalipun.
Seberapa besar keberanian kita dipengaruhi oleh seberapa ingin kita mengubah hidup. Terkadang, dibutuhkan perubahan seketika. Dalam konteks menghentikan kebiasaan buruk misalnya – merokok, diet, narkoba – tidak ada istilah pelan-pelan atau sedikit demi sedikit. Begitu memutuskan untuk berhenti, tepatilah janji yang telah kita buat sendiri itu. Pernah ada lelucon “jika seseorang tidak mampu lagi menepati janji dengan orang lain, maka ia akan menepati janji pada dirinya sendiri”.
Tidak ada jalan menuju perubahan yang mulus-mulus saja. Pasti jalannya berliku, terjal, berbatu, membuat kita berkali-kali terjatuh dan bangkit. Bukan hanya beberapa, mungkin juga ratusan bahkan ribuan kali. Yang penting, bukan berapa kali kita jatuh tetapi berapa kali kita bangkit dan meneruskan hingga ke tujuan.
Proses ini juga menyediakan pilihan fight or fly, berjuang terus atau meninggalkannya begitu saja. Ketika kita meninggalkan segala yang kita miliki, itu bukan sesuatu yang salah, itu adalah pilihan. Hidup tidak mengenal kata “harus”. Tidak ada keharusan. Ketika kita “harus” rapat dengan bos yang menyebalkan, itu bukan sebuah keharusan tetapi kita memilih untuk meng-“harus”-kan diri kita.
Selain itu, rasa syukur akan memperingan perjalanan menuju perubahan tersebut. Jika terus menghitung berapa batu yang menghalangi ketimbang berapa berkah yang kita terima sepanjang perjalanan, tentu akan membuat perjalanan serasa tak berujung. Seperti halnya menghitung gelas yang sudah terisi separuh atau baru terisi separuh
Perubahan ibarat metamorfosa. Ketika kita menjadi seekor ulat yang sering membuat gatal dan kita memperjuangkan diri untuk menjadi seekor kupu-kupu yang cantik, masa menjadi kepompong adalah penantian panjang. Mungkin saja kita tidak sabar dan mengambil jalan pintas, maka yakinlah bahwa kupu-kupu yang cantik akan berubah tepat pada waktunya. Seseorang yang sudah menjalani titik baliknya, tidak akan pernah sama lagi.
Mengubah hidup bukan bicara termin waktu tetapi ketetapan hati dan semangat juang yang luar biasa. Bagaimana kita bersedia untuk memasuki area yang sama sekali baru dan tinggal di suasana jungkir-balik sampai tiba di tempat yang luar biasa mengagumkan.
Itu hanya sebuah pilihan. Pola pikir yang kita pegang teguh.
We are the architect of our lives…
Tags: Doa, Luka Batin, Syukur
Posted in Antara Pilihan dan Titik Balik











