Posts Tagged ‘Syukur’
Drama Lain dari Sebuah Kompetisi
April 14th, 2010 Posted 11:43 am
Tags: Homeschooling, Pendidikan, Robotik, Si Ayah, Si Bungsu, Si Ibu, Si Sulung, Syukur, the De.N.eL.s
Posted in Drama dari Sebuah Kompetisi
Na, Jaga Diri Lu
March 26th, 2010 Posted 10:42 am
Panggil saja dia Nana. Teman sebangkuku ketika duduk di kelas 3 SMP, 19 tahun lalu. Saat itu kami sama-sama tidak populer. Rumah kami tidak terlalu jauh tapi jarak rumah kami ke sekolah jauh. Aku tinggal di Menteng Pulo—yang mendadak populer karena Barry alias Obama kecil tinggal di sana—dan Nana tinggal di Menteng Dalam. Awalnya Nana selalu dijemput supirnya ketika pulang sekolah. Lama kelamaan Nana mulai belajar pulang naik bus kota bersamaku. Halte bus dekat rumah Nana akan dilalui lebih dulu, baru halte dekat rumahku sehingga Nana pasti turun duluan dan aku merasa aman. Sebenarnya heran juga melihat Nana kecil yang biasa naik mobil berpendingin ikut naik-turun bus dari terminal Blok M yang luar biasa panas itu. Maka sejak itulah persahabatan kami dimulai.
Nana berkulit putih, berwajah mirip orang Tionghoa, berambut panjang, bertubuh subur. Itu yang kuingat betul. Ternyata sampai saat ini tidak ada yang berubah, hanya rambut kami yang dulu sama-sama panjang dicukur sama pendek. Wah, sama terus ya?
Tags: Kasih, Luka Batin, Sahabat, Syukur
Posted in Na Jaga Diri Lu
Dua, Dua, Tiga, Satu
March 24th, 2010 Posted 12:15 pm
Sebetulnya saya berhutang cerita ini pada Fonny empat hari. Maaf ya, Fon
Dua tahun. Kalau manusia, umur dua tahun itu lagi cerewet-cerewetnya karena baru lancar ngomong bahkan baru bisa jika sedikit terlambat seperti Si Sulung. Ulang tahun pertama memang tidak dirayakan karena tulisannya juga tidak terlalu banyak apalagi penghuninya. Belum apa-apa. Belum layak dirayakan.
Ulang tahun ke dua, penghuninya sudah 32 Nuliser sangat aktif, 81 Nuliser aktif, dan 247 member milis (termasuk 113 Nuliser tadi di dalamnya). Sudah banyak Nuliser yang mumpuni bahkan Femi dan Fonny sudah punya fans page sendiri—Femi dengan Femi on the Blog dan Fonny dengan Chapters of Fonny’s Life. Kerja keras mereka sudah layak membuahkan hasil, keringat mereka sendiri, mandiri. Via Lattea tentu turut bangga. Ini perlu dirayakan!
Tags: Buku My Life is An Open Book, Si Ibu, Syukur, Ulang Tahun, Yuk Nulis!
Posted in Dua Dua Tiga Satu
Untaian Warna-warni di 33
March 17th, 2010 Posted 5:23 pm
Sangat banyak hadiah dan doa yang kuterima. Rasanya kok egois kalau disimpan sendiri ya? Ini sebagian dari lebih 600 ucapan dan doa yang menarik untuk dibagi. Ada yang lucu, ada yang puitis, ada gambar. Silakan menginterpretasikan sesuai keyakinan masing-masing
Yang “Salah Pencet”
Nining Sayekti Pribadiningtyas met ultah yg ke 17 ya….be happy sis…
Nurul Sholeha Happy brithday k2 hanifah ..
Cmoga sukses slalu..
Max Oroh ‘met ULTAH ya, Rin!!!
Sigit Hp …sabar…urung rejeki…
Yang “No Komen Deh”….
Stefanus Christianto Hepi Berdey, ya Mbak. Mudah2an kali ini ngga salah ngasi ucapan. Hehehehe
Antonius Haryanto SUT………………..
Anang Yb selamat ulang tahun ya… terus jaga kesintinganmu agar terarah dan fokus.
Burhan Abe Selamat bertambah tua bu,,,, semoga panjang usia
Fani Yunata Selamat berkurang usia
Fx Arnoko Dewayanto Ya udah, gak usah muach2an deh. Selamat ulang tahun, jabat erat, panjang sehat dan rejeki plus semakin cantik dan sabar. Jangan lupa kuenya dikirim ke tempatku ya…
Tags: Doa, Senyum, Si Ibu, Syukur, Ulang Tahun
Posted in Untaian Warna-warni di 33
Angka Tiga Itu Ada Dua
March 15th, 2010 Posted 4:52 pm
Ketika aku menulis ini, virus flu masih setia menemani. Semoga teman-temin tidak tertular
Ini sudah H+7 kalau mau memakai istilah acara seremonial macam mudik Lebaran. Sejak tgl 8 Maret jam 02.30 tengah malam buta, aku sudah sibuk membalasi segudang ucapan dan doa untukku. Detik ini, aku masih juga membalasi arus ucapan dan doa darimu semua, tetap ditemani virus flu yang setia dengan sesekali “uhuk-uhuk” dan suara yang lenyap. Setidaknya, ada 600 lebih ucapan dan doa yang kuterima dan harus kubalas baik lewat Facebook, pesan singkat, surat-e, dan layanan pesan instan. Wow!!
Sejak hari Sabtu, sebetulnya aku sudah mulai flu tapi apa daya, “tuntutan” untuk rapat dengan pihak sekolah disambung dengan mengangkat suara di Misa Syukur seorang kawan di Kanisius. Ajaib memang, meskipun sudah mulai flu dan sakit di tenggorokan (atau kerongkongan ya?) urusan tarik suara itu berjalan baik.
Tags: Si Ibu, Syukur, the De.N.eL.s, Ulang Tahun
Posted in Angka Tiga Itu Ada Dua
Surat untuk Sahabat Pena (3)
December 4th, 2009 Posted 12:17 pm
Duhai sahabat gue yang diberkati Tuhan,
Gue sangat berduka, sepeninggal pertemuan itu lu malah jatuh sakit. Lu bilang, waktu kita ketemu lu sudah gejala sakit. Kenapa gak bilang? Lu tau gak, rasanya blingsatan begitu beberapa hari kemudian lu bilang kalo lu sakit. Suara lu lemah banget. Gue gak bisa bantu apa-apa. Gue gak bisa terbang ke sana. Gue gak bisa ke apotik beliin lu obat dan lu tinggal berbaring dengan manis di ranjang yang harus lu anggap nyaman itu. Manusia mana yang tega mengetahui sahabatnya sudah terlambat mengejar tenggat kerja dalam keadaan sakit dan gak punya uang? Mau cepet selesaiin kerja, tapi sakit. Mau sembuh biar cepet selesai, gak bisa beli obat. Jadi kayak bahas ayam sama telor. Mau mana duluan? Kerja dulu biar dapat uang untuk beli obat atau beli obat dulu biar sehat dan bisa cepet selesai kerja?
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena (3)
Doa Ulang Tahun Buat Ayah
November 10th, 2009 Posted 12:25 am
Tags: Doa, Puisi, Si Ayah, Syukur, the De.N.eL.s, Ulang Tahun
Posted in Doa Ulang Tahun Buat Ayah
Surat untuk Sahabat Pena (2)
November 6th, 2009 Posted 7:31 pm
Hei…
Mengingat biasanya kita ber-gue-elu, maka kali ini lebih enak begitu.
Tadi sore, akhirnya gue menangis. Kenapa? Hm… gue belum pernah cerita ya. Tapi gak penting kenapa gue menangis. Jangan GR dulu, ini bukan menangisi elu. Gue menangis karena problem gue. Yang penting adalah saat gue menangis itu yang perlu lu tahu.
Waktu gue menangis, gue inget elu. Tiba-tiba aja elu datang terus mengajak berdoa. Bagai anak kecil yang nurut begitu aja, gue berdoa. Bukan berdoa tepatnya. Menyapa Dia. Emang udah setahun ini gue menyapa dia basa-basi, pake pamrih pula. Di doa itu, gue sempet bilang, “Tuhan, sampaikan padanya, aku baik-baik aja.” Setidaknya itu yang gue usahakan detik itu. Kita mendaraskan doa dalam diam. Tapi gue bahagia banget berdoa bareng lu. Seketika rasanya enteee…ng banget! Beberapa jenak kemudian gue berhenti nangis. Lalu gue telpon lu untuk bilang gue baik-baik aja. Gue gak mau lu deg-degan di tengah apa yang tengah lu kerjakan, seperti sebelumnya.
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena (2)
Surat untuk Sahabat Pena
October 30th, 2009 Posted 4:14 am
Hei…
Butuh waktu beberapa jenak untukku menulis ini untukmu. Aku harus meredakan sesak dan mataku yang basah. Ketika aku menulis ini, pasti kamu sudah terlelap. Mataku masih basah sedikit.
Tiba-tiba saja malam menjelang dini hari ini aku teringat kamu. Tepat beberapa saat sebelum aku tidur. Aku “nonton film” kamu lagi. Biasanya yang muncul hanya adegan kita duduk diam. Hanya diam. Atau, sesekali adegannya adalah kamu berdiri sendirian, terlalu gengsi untuk memanggilku. Aku yang jatuh iba melihatmu nelangsa pol menghampiri dan memelukmu erat sampai kamu menangis. Aku memelukmu terus sampai tangismu berhenti. Juga tanpa kata-kata.
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Luka Batin, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
Posted in Surat untuk Sahabat Pena
Aku Marah di Hadapan Altar-Nya
October 19th, 2009 Posted 9:27 am
Setelah bertahun-tahun tidak lagi rutin ke gereja, hari Minggu kemarin aku ke gereja. Aku bukan orang yang bisa menyambut Ekaristi dalam keadaan marah dan benci. Aku marah, aku benci, aku terluka. Urusan domestik yang tak kunjung terselesaikan selama empat tahun terakhir sungguh mengganggu stabilitas mental dan jiwa yang akhirnya berpengaruh pada ketahanan fisikku. Sakit-sakitan, lebih kurus dari biasanya yang memang sudah kurus, sulit berkonsentrasi.
Si Ayah bukan orang yang religius, jadi tak perlu berharap diajak ke gereja. Setidaknya, ini salah satu bukti bahwa aku migrasi karena “mengikut suami”. Ikut ke mana, wong pergi sendiri? Mungkin memang seharusnya aku pergi sendiri kalau dia tak mau ikut. Biar dia dan anak-anak main di rumah. Berhubung Si Lini ini idealis, ke gereja ya harusnya komplit, akhirnya “mengalah” dan kompak semuanya tinggal di rumah.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Maaf, Si Ayah, Syukur
Posted in Aku Marah di Hadapan Altar-Nya
Ibu, Inilah Anakmu
September 29th, 2009 Posted 12:19 pm
Dimuat di Majalah Kuasa Doa Vol. 4, No. 8, Oktober 2009

Sudah lama aku tidak merasakan kehangatan seorang Ibu. Sudah tujuh tahun sejak aku meninggalkan rumah Mama. Di mulai ketika aku pindah keyakinan dan memilih jodohku sendiri sehingga aku harus meninggalkan rumah. Kangen? Tidak juga. Aku memang anak yang tidak baik dan tidak berbakti sampai aku tidak merasa kehilangan Mama. Sudah belasan tahun sejak mulai remaja aku kehilangan sosok seorang Ibu. Ibu yang dekat dengan anaknya bukan hanya memikirkan karir dan keinginannya semata.
Setiap Hari Ibu, aku justru kangen dengan Ibu Baptis, Ibu Pembina Katekumenku, dan Ibu Mertuaku. Dalam diri mereka aku menemui sosok seorang Ibu sejati. Ibu Maria yang menjelma dalam diri manusia. Ingatanku kembali pada masa katekumen. Masa di mana aku dikenalkan pada seorang Ibu yang luar biasa. Ibu Tuhanku Yesus. Ibu yang sederhana, sabar, penuh kasih. Tidak cukup kata menggambarkannya.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Majalah Kuasa Doa, Syukur
Posted in Ibu Inilah Anakmu
Do I Know You?
August 11th, 2009 Posted 7:43 am
Beberapa hari lalu, aku menerima sebuah lelucon di inbox-ku. Sebuah lelucon yang sebetulnya sungguh lucu. Mungkin karena aku sudah baca sebelumnya, jadi tidak terlalu lucu lagi buatku. Ditambah perasaan gundah gulana, marah, sakit hati dan segala rupa yang campur aduk jadi satu akibat menemukan dua tulisanku diobrak-abrik orang, sungguh aku tidak bisa tersenyum apalagi cengengesan seperti biasa. Tulisan yang kubuat dengan kesungguhan hati di tengah keributan Si Sulung dan Si Bungsu diubah begitu saja apalagi seolah-olah menjadi “miliknya”.
Seorang teman yang berniat menghibur malah aku tegur dengan kelayakan sebuah pengutipan, “Cantumkan sumbernya.” Sialnya, dari sekian banyak penerima pesan itu, tak satupun kukenal yang tentunya juga tidak kenal aku dong. Sontak mereka marah karena aku dianggap berlebihan, hiperbolik, lebay, merasa “sok ngetop” dan sebagainya.
Tags: Curhat, Kasih, Luka Batin, Maaf, Syukur
Posted in Do I Know You?
Kenapa Aku Sipit, Bu?
June 19th, 2009 Posted 6:15 pm
Anak-anak, sering kali pemikirannya membuat kita takjub. Pertanyaannya membuat kita bingung harus menjawab apa. Begitu pertanyaan terlontar dari mulut mungilnya, kita serasa disengat lebah. Kaget, heran, tak bisa berpikir cepat.
“Kenapa aku sipit, Bu?” Kudengar sayup-sayup suara Si Sulung dari kamar. Kupikir dia sedang asyik nonton video Pentas Seni kemarin.
“Yla ngomong sama Ibu, Nak?” Aku yang di depan komputer menghampiri ke kamar.
“Iya. Kenapa mataku sipit, Bu?”
???
Hang.
Bingung.
…
Gak cukup kata menggambarkan perasaanku saat itu. Berpikir-pikir bagaimana menjelaskannya ya? Mati aku!
Tags: Keluarga, Mama Mertua, Oey Keng Siong, Si Sulung, Syukur
Posted in Kenapa Aku Sipit Bu?
Kemping Ulang Tahun
March 9th, 2009 Posted 8:22 pm
“Unity in Diversity” bersama Bp. Uskup
Orang Muda Katolik Sarimawartoba
(Sumbersari, Margahayu, Waringin, Moh. Toha, Buah Batu)
Ranca Upas, Ciwidey, Bandung
7-9 Maret 2009
Tambah Usia – KLA Project – Klasik
Bertambah satu usiamu
Oh semoga penuh warna
Semakin indah hatimu
Berikan cinta tuk semuaKau telah tercipta
Sebagai insan istimewa
Tumbuh dalam jiwa
Terus bahagia dan raih citaSyukur tuk Yang Kuasa
Atas beragam anugerah
Kusertakan doa
Panjang umur kasih berlimpahIkuti hidup yang mengalir
Dan reguklah hingga akhir
Karena dunia terus berubah
Jangan kau terlena dan goyah(Tambah Usia, KLa Project)
Setahun lalu pada ulang tahunku, Tuhan berkenan memberi kesempatan aku mempublikasikan buku “My Life is An Open Book” yang saat itu berupa e-book dan kubagi gratis. Ulang tahunku kali ini, Tuhan berkenan memberi kesempatan aku untuk menikmati indahnya hutan dan gunung bersama orang-orang terkasih dan teman-teman. Di tengah 400 orang peserta dan panitia dari 5 paroki sekeuskupan Bandung: Sumbersari, Margahayu, Waringin, Moh. Toha dan Buah Batu. Termasuk Bp. Uskup Bandung Mgr. Pujasumarta, Fr. Haryanto dan Pastor Wahyu. Di udara yang dingin menggigit, di ketinggian sekitar 2000m, menikmati bintang yang bersinar pada jam 5 pagi dan kabut tebal yang masih ada hingga jam 6.30.
Sabtu dini hari 7 Maret 2009, aku meluncur ke Bandung bersama Si Ayah, Si Bungsu dan Si Sulung. Pagi itu aku ada janji bertemu dengan Ibu Pud di kediaman Mgr. Puja untuk merayakan Ekaristi harian. Ibu Pud adalah seorang pembacaku yang hidupnya dramatis, akan kuceritakan lain kali. Singkatnya, Ibu Pud demikian terinspirasinya sampai hidupnya yang mati suri selama sekitar 2 tahun kini kembali “hidup”.
Tags: Bandung, Ngobrol Bareng, Perjalanan, Si Ayah, Si Bungsu, Si Sulung, Syukur, Ulang Tahun
Posted in Kemping Ulang Tahun
“Mudik” ke Borromeus: 2 Minggu
January 5th, 2009 Posted 4:42 pm
Selama 2 minggu kmaren aku “mudik” ke Borromeus. Ngapain? Nemenin Mama Mertua. Berangkat tgl 22 bertiga sama anak2, Si Ayah nyusul tgl 24 nunggu majalahnya kelar. Toh gak kelar juga, tapi karna surat cuti sudah di tangan ya tinggal aja…
Mama Mertua penderita diabetes, ada luka di kakinya. Awalnya sederhana, kakinya yang sering kapalan diguntingi padahal Si Emak punya penyakit diabetes. Karna diguntingi, artinya kan luka meskipun ga berdarah. Jadinya kulit telapak jempol kakinya bolong. Karena tidak berdarah dan tidak pedih, dianggapnya tidak luka. Dari luar memang bolong kecil, dalamnya siapa tahu?
Tags: Bandung, Doa, Kasih, Keluarga, Mama Mertua, Ngasong Buku, Perjalanan, Purbalingga, Si Ayah, Si Bungsu, Syukur
Posted in Mudik ke Borromeus 2 Minggu
Ungkapan Cinta untuk Bapa Uskup
December 27th, 2008 Posted 6:58 pm
Sabtu, 27 Desember 2008, Bapa Uskup genap berusia 59 tahun.
Ketika aku sedang menunggui Mama Mertua di Rumah Sakit, Bapa Uskup kirim SMS, “Lini, besok datang ke ultahku ya, ada misa pagi di kapel.”
Wooooowwww… seperti anak kecil aku melonjak kegirangan. Mimpi apa diundang ke ultah orang sepenting Bapa Uskup?
Jam 7 kurang aku dan Si Ayah tiba di Green House. Beberapa orang sudah datang. Misa di kapel mungil itu penuh sesak. Diikuti setidaknya 20 orang. Intensi misa dipersembahkan untuk ultah Bapa Uskup sekaligus pesta Santo Yohannes sebagai santo pelindung Bapa Uskup.
Tags: Bandung, Doa, Kasih, Sahabat, Si Ayah, Syukur, Ulang Tahun
Posted in Ungkapan Cinta untuk Bapa Uskup
Kasih Sayang Menang!
December 22nd, 2008 Posted 6:57 pm
Mendengar kata “Ibu” yang terbersit di benakku adalah sosok perempuan yang hatinya bagai sungai kasih sayang, mengaliri kehidupan anak-anaknya tanpa kenal musim. Rela berkorban melakukan apa saja bahkan melupakan dirinya sendiri demi anak-anaknya sebagai representasi jiwanya.
Wah ideal betul sosok Ibu bagiku? Aku menitikberatkan pada kasih sayang, tak perlu menyebut para Ibu yang hobi ngomel, pelupa, kalau belanja lama sekali, masakannya tidak enak, cerewet, terlalu protektif, dan sebagainya. Menjadi cukup manusiawi kan?
Dalam konteks Ibu yang penuh kasih, mengingatkan aku pada sosok 4 Ibu yang menjadi bagian penting dalam hidupku. Siapa itu?
Tags: Doa, Kasih, Mama Mertua, Sahabat, Si Bungsu, Si Sulung, Syukur
Posted in Kasih Sayang Menang!











