Posts Tagged ‘Syukur’

Save Our Traditions

No Comments »

January 11th, 2008 Posted 4:44 pm

Sebagai anak kota, saya tidak punya kebiasaan atau tradisi keluarga berbudaya lokal. Apalagi saya tidak familiar dengan budaya asal Papa-Mama, Batak. Kadang saya sendiri suka merasa bukan orang Batak karena tidak paham tradisi. Saya juga tidak punya kampung, jadi tidak pernah mudik dan tidak pernah merasakan nikmatnya mudik.

Lebih dari sekadar budaya lokal, tradisi keluarga saya juga rasanya tidak ada. Tidak satupun yang membuat suatu momen istimewa terasa kurang lengkap jika tidak melakukan tradisi.

Saya sangat beruntung memiliki Mama Mertua yang masih tinggal di Purbalingga. Keluarga besar Oey Keng Siong (KB-OKS) masih memiliki rumah di sana, terutama rumah induk. Syukurlah, anak-anakku jadi punya kampung dan bisa mudik.

Terlepas dari masalah mudik — masalah yang membuat banyak orang kesal tapi ya tetap menjalankannya — sebuah tradisi keluarga sebetulnya bisa dilakukan di rumah sendiri juga. Kebetulan tradisi pesta natal dan pesta malam tahun baru KB-OKS selalu diadakan di sewan (teras rumah induk OKS yang kebetulan ukurannya besar), maka jadilah tradisi mudik.

Biasanya setiap tanggal 29 Desember Pesta Natal digelar. Anak-anak maju ke depan. Menyanyi, menari, atau apa saja. Menerima hadiah sambil mengucapkan, “Terima kasih Sinterklas…”
Buat para Engkong (Opa) dan Emak (Oma) juga tidak ketinggalan. Yang cucunya belum bisa atau tidak mau tampil, harus diwakilkan Emak atau Mamanya. Kadang malah justru para Emak itulah yang tampil.
Bagi pasutri baru atau sudah memasuki tahap serius pacaran juga ada acaranya sendiri. Biasanya “interogasi” dilancarkan. Tujuannya: tes mental! Pokoknya dijamin yang diinterogasi mukanya akan merah padam. Hahaha…

Pesta Malam Tahun Baru biasanya digelar mulai jam 22.00 sampai jam 02.00 pagi! Bakar panganan (jagung, sosis, dll), menyalakan kembang api, minum sekoteng. Tapi yang paling penting, pada jam 23.45 kita selalu menyanyikan lagu Auld Lang Syne dan doa bersama. Waktu yang digunakan selalu jam klasik yang berbunyi “Dong… dong…” Bunyi jam itulah yang menandakan tahun baru telah tiba. Anggota KB-OKS tertua dan termuda menyobek kalender (kalender sobek). Baru kemudian salam keliling dimulai.

Soal makan? Ini dia! Beberapa tahun terakhir malah ada seorang sahabat dari sepupu yang ikut-ikut kangen mudik — tepatnya kangen makan! Hidangan berlimpah khas lokal buatan trio koki OKS: Mama Mertua Oey Tjiok Nio, Oey Djiap Nio (kakak Mama Mertua), dan Kho Gin Tjiok (ipar sepupu Mama Mertua) plus Es Brasil Purwokerto. Es Brasil inilah yang paling dicari karena di Jakarta hanya ada di Kelapa Gading. Esnya sendiri seperti es krim tradisional biasa. Tapi namanya dari kampung halaman ya tetap saja ngangeni… Yang juga tidak kalha dicari adalah mendoan plus sambel terasi. Yum…

Ada satu lagi tradisi yang juga masih melekat: saling memberi oleh-oleh. Acara mengepak barang sering tidak akan selesai karena oleh-oleh terus berdatangan dari keluarga yang lain meskipun hanya sebungkus rempeyek atau keripik tempe.

Semua anggota KB-OKS yang akan pulang juga “wajib” pamit ke setiap rumah. Terakhir, semua keluarga akan mengantar ke halaman parkir sebagai tanda perpisahan.

Sebenarnya, sebagian besar anggota KB-OKS tinggal di Jakarta, ada juga yang tinggal di Bandung, Yogya, Bali, dan luar negeri. Bagi yang tinggal di Jakarta, tetap saja jarang ketemu kecuali kalau ada pernikahan. Jadi, pamitan itu bisa juga berarti harfiah bahwa pertemuan baru akan terjadi tahun berikutnya.

Satu hal lagi yang mengesankan dari KB-OKS: setiap sesi pemotretan pesta pernikahan selalu membuat takjub sang fotografer. Betapa tidak, yang ikutan foto bisa lebih dari 50 orang. Pokoknya selalu harus dua kali foto: sisi kanan dan kiri!

Saya sudah mengusulkan, kalau ada fotografer yang tidak takjub, orangnya harus dimasukkan dalam catatan keluarga.

Sampai pesta natal tahun depan…

Diri Anda dengan Tolok Ukur Media

No Comments »

August 23rd, 2007 Posted 5:56 pm

“Jika Anda belum melakukan hal ini, tiba saatnya Anda melangkah naik ke atas pentas dan mensyukuri keunikah Anda sendiri sebagai seorang wanita. Kalau kita tidak bahagia dengan diri sendiri, biasanya penyebabnya adalah karena kita terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Salah satu biang keladi yang memperburuk kecenderungan ini adalah media, yang memberi kita standar yang tinggi, bahkan mustahil, untuk dicapai.
Berhenti membandingkan diri Anda dengan sosok fantasi buatan yang ditampilkan oleh media; sebaliknya, jadilah diri Anda yang terbaik, dengan semua yang Anda miliki. Rawatlah diri Anda dengan baik, dan Anda akan terlihat secantik perasaan Anda, khususnya bila Anda melihat ke cermin dan memusatkan perhatian ke arah yang tepat. Beranilah melihat ke cermin dan perhatikan bagian diri Anda yang jelas menunjukkan kewanitaan Anda dan menarik; syukuri lekuk tubuh dan tungkai Anda yang unik bagi Anda dalam ukuran dan bentuknya. Pada akhirnya, seorang wanita dengan rasa percaya diri yang sejati adalah wanita yang paling menarik di dalam sebuah ruangan, karena kecantikannya datang dari perasaan nyaman tentang dirinya sendiri yang berasal dari dalam.”
(disunting dari Don’t Sweat Small Stuff for Women, Kristine Carlson)

“Yla ga mau potong rambut!” Begitu teriak anakku yg berumur 4 th waktu aku ajak potong rambut.
“Kenapa?”
“Ga mau aja!”
“Mau kayak siapa sih?”
“Kan di tivi rambutnya panjang!”
“Tapi yg di Little Einsteins rambutnya pendek, Dora rambutnya pendek. Disney Princess rambutnya panjang tapi duduk manis, ga kayak Yla.”
“Ga mau!”

Anak cewekku ini ga bisa diam. Lari sana-sini, lompat2, jatuh dari bangku, etc2. Tiap hari pasti jatuh. Tiada hari tanpa jatuh, teriak, lari, lompat, etc. Makanya sejak lahir rambutnya ga pernah sebahu. Percuma, selain keliatan dekil juga sering kusut.

Pake jepit, karet ato bando? Selama 6bl sekolah, jepitnya hilang 4, karetnya hilang 3, bandonya hilang satu. Untung bandonya besoknya ditemuin sama ibu gurunya.

Entah kenapa, belakangan kok Yla jadi terobsesi sama sosok cewek di tv, baik dewasa maupun anak2. Padahal Yla juga nonton playhouse disney ato nick jr. Tapi karna tivi lokal SELALU menyajikan sosok perempuan yang cantik itu berambut panjang, maka image yang terekam di benak Yla yang 4 th juga berambut panjang.

Terlepas dari nego yang kumenangkan dan akhirnya Yla mau potong rambut, sungguh dahsyat efek tivi…!!

Pasutri VS Istri

1 Comment »

July 30th, 2007 Posted 3:12 pm

”Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan ia adalah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna.
—-
Sorang ibu rumah tangga harus berpuas hati dengan pasangannya, demikian juga sebaliknya. Mereka harus menanamkan kesetiaan dalam kehidupannya. Seorang ibu rumah tangga sepatutnya tahu kesenangan suami. Menyediakan segala keperluan yang disukainya terlebih dahulu, sebelum meminta sesuatu darinya. Seorang ibu rumah tangga harus berupaya menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya. Dan rahmah, berarti seorang ibu rumah tangga harus senantiasa mendasarkan setiap perilaku dan aktivitasnya di dalam rumah kepada akhlak yang mulia, serta tahu bersyukur atas nikmat yang diperoleh.

Namun demikian, menjadi ibu rumah tangga yang mendapat kehormatan dan kemuliaan memerlukan kelayakan yang cukup. Wanita yang berhati batu, tidak pandai menaati suami, sering menuntut hak dan mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggung jawab, tidak layak mendapat tempat terhormat dan mulia itu. Apalagi ia tidak mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia. Kini, dengan catatan daftar kehormatan ibu rumah tangga, masih adakah yang menyebut bahwa ibu rumah tangga sebagai profesi terhina?”

(Sumber: Aa Gym/Syam/MQ. Disunting.)

Tulisan tersebut bagus, menginspirasi gw sebagai ibu rumah tangga. Gw lebih suka menyebutnya sebagai Fulltime Mother (ibu yang kerjanya ngurusin rumah dan anak-anak).

Menilai dan Penilaian

No Comments »

July 5th, 2007 Posted 1:05 pm

Ada sebuah rumah yang ditinggali oleh sekumpulan orang dari berbagai generasi. Perbedaan generasi tersebut wajar jika timbul gap. Namanya juga beda usia, beda jaman. Selama ini mereka hidup adem ayem meskipun mungkin tidak seindah dalam dongeng.

Lalu, ada orang yang pandai menilai sesuatu tanpa menelaah terlebih dahulu. belum apa-apa, tanpa ba-bi-bu langsung menilai, “Rumah ini perlu diperbaiki, hawanya panas! Semua orang seharusnya bersantai di ruang tengah!” Orang ini termasuk golongan tua. Bahkan si orang tua ini baru pertama kali menginjakkan kakinya apalagi berkeliling rumah. Orang tua ini belum merasakan ademnya rumah itu. Tentu ada alasan mengapa di rumah itu tidak dipasang AC. Mungkin karena iklimnya sejuk, jendela dibuat besar, langit-langit tinggi, dan semua penghuni tidak ada keluhan tentang itu. Ada juga alasan mengapa para dewasa lebih senang duduk-duduk di ruang tengah, kaum remaja lebih senang ngobrol di teras belakang, dan anak-anak bermain di kebun. Bagaimana jika seluruh penghuni berkumpul di ruang tengah setiap saat? Bukankah malah bising dan tidak teratur?

Semua bukan tanpa alasan dan semua berjalan baik atas nama kepentingan dan kesenangan bersama. Tapi sejak kedatangan si orang tua ini, ada sebagian orang yang justru merasa terganggu. “Beradaptasilah dulu. Anggap rumah ini rumahmu. Tinggallah dulu beberapa hari. Baru komentar!” Mungkin begitu kira-kira yang ada di pikiran sebagian kelompok ini.

Menilai memang tidak salah. Penilaian itu yang dapat salah.
Bagaimana kalau penilaian si orang tua itu justru adalah hal yang sudah pernah dilakukan dan tidak berhasil makanya ditinggalkan?
Bersyukur merupakan bagian dari penilaian. Penilaian dapat jauh berubah jika ada rasa syukur di dalamnya.

Tanpa rasa syukur, rasanya penilaian akan lebih terasa selalu mengkritik tanpa pujian.

Tags:
Posted in Menilai dan Penilaian

Menjadi Dewasa

No Comments »

June 7th, 2007 Posted 9:06 am

Kritik
Komplen
Biasa kan?
Tapi jadi ga dewasa kalo ga diikutin dengan saran, usul atau syukur-syukur kontribusi yang konkrit

Kata seorang romo, “Tantangan jadi orang dewasa itu nggak mudah, bagaimana mengubah diri jadi reaktif menjadi proaktif. Orang yang suka kritik terus itu tanda reaktif. Nah kita jangan terjebak dalam ‘situasi reaktif’ itu. Lawanlah dengan proaktif.”

Orang lain boleh kerdil tapi jangan gw.
Tapi kenapa gw harus marah?
Take it easy kan?
“Coz I’m easy… Easy like Sunday morning…”

Ga habis pikir aja sama orang-orang macam itu.
How can they survive?
Unbelievable!

Untung yayangku ga gitu. “Aku ga gitu karna kamu di sisiku.”
Quite romantic!
Tapi artinya klo dia dulu merid sama orang lain, mungkin jadi kerdil juga kan?

Hhhhh…….

Tags:
Posted in Menjadi Dewasa