Posts Tagged ‘the De.N.eL.s’
To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras, Kembali Cerdas)
January 5th, 2010 Posted 4:52 am
(lanjutan dari To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif))
Kembali Waras, Kembali Cerdas
“I’ll be home for Christmas” itu harus dibuat monumentalnya. Tahap pertama, “nodong” Romo Pakdhe – seorang sahabat baikku – untuk Sakramen Tobat. Urusan mengakui dosa campur curhat itu membuatnya terkaget-kaget. Setidaknya, beberapa kali ia menunjukkan ekspresi terperangah dan geleng-geleng tak habis pikir. Dari obrolan itu, ada banyak hal menarik bagi Romo Pakdhe untuk dijadikan bahan renungan. Beberapa pertanyaan yang cukup “ajaib” ditujukan ke Si Ayah.
Misalnya, “Kamu kan berhak untuk melarang Lini pergi.”
“Kalau Lini saya larang, dia akan makin menjadi. Kalau dibiarkan, dia akan sadar sendiri.”
“Seandainya kamu dilarang pergi, bagaimana?” Kali ini pertanyaannya padaku.
“Gak apa-apa kalau dilarang asal detik itu juga kami pergi ke konseling atau apalah untuk menyelesaikan masalah ini.”
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Cinta, Doa, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Perjalanan, Si Ayah, Si Ibu, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond
Posted in To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras-Kembali Cerdas)
To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)
January 4th, 2010 Posted 9:16 pm
Tuhan bekerja dengan berbagai macam cara, termasuk cara yang jauh di luar akal sehat kita. Dengan penuh keyakinan aku mengatakan, “Seandainya aku tidak mengalami segala kejahatan dan kebodohan ini, belum tentu segala yang indah ini kurasakan hari ini. Rasanya seperti melewati lubang jarum!”
Perkawinan, tentu saja tidak semudah dan seindah prosesi janji perkawinan yang diadakan pada hari bahagia itu. Ketika merencanakan hari pernikahan, semua bisa diatur dan direncanakan dengan “mudah” meskipun ada saja hal yang di luar dugaan. Sadarkah, ketika urusan pemilihan baju pengantin dan segala tetek-bengeknya terjadi perselisihan, itu adalah “replika” dari kehidupan perkawinan yang sesungguhnya. Persiapan hari pernikahan butuh tiga bulan, misalnya. Sementara dinamika yang sama akan dihadapi selama seumur hidup. Setidaknya, tidak ada orang yang ketika yakin untuk menikah lalu berkata pada kekasihnya, “Aku akan menikahimu selama tiga tahun,” atau, “Aku akan menikahimu sampai aku bosan,” atau “Aku akan menikahimu sampai menemukan yang lain lagi nanti.”
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Cinta, Doa, Harapan, Kasih, Keluarga, Luka Batin, Perjalanan, Si Ayah, Si Ibu, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond
Posted in To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat-Bodoh-Primitif)
Bandung, Pernikahan
December 22nd, 2009 Posted 5:08 pm
Kamis, 17 Desember 2009. Anak-anak terima rapor. Libur telah tiba. Hore… hore… hore…
Ke Bandung sebenernya sudah tidak masuk kategori berlibur karena ada banyak tujuan. Mulai dari nengok Mama Mertua sampai jadi umat abangan di Keuskupan Bandung, semua bisa. Kalau lepas kangen sama teman-teman di Bandung termasuk liburan ya bisa juga. Yang jelas, sering ke Bandung karena Kakak Ipar di sini maka bebas dari “hotel penuh” dan “ongkos mahal”. Tujuan kali ini adalah undangan pemberkatan nikah kerabat di Gereja St. Laurentius Sukajadi.
Malam itu juga kami harus berangkat karena besok pagi-pagi Si Ayah harus antar Mama Mertua ke tempat syukuran untuk sediain makanan. Berangkat dari rumah jam 9 malam, masuk tol Bekasi Barat jam 9.30. Semua penumpang ngantuk jadi tidak paham betapa padat meratapnya perjalanan Bekasi-Bandung. Begitu bangun sudah di gerbang rumah Kakak Ipar di Viaduct dekat Braga. Begitu buka mata lihat jam… jam 12!! Ampuunn… jadi perjalanan tadi 2,5 jam?? Katanya padat meratap sampai tol Sadang. Ini salah satu alasan malas berakhir pekan panjang di Bandung kalau bukan karena ada undangan. Sampai rumah, tidur dilanjutkan!
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Doa, Gereja, Harapan, Keluarga, Natal, Perjalanan, Purbalingga, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond, Yuk Nulis!
Posted in Bandung Pernikahan
Natal, Selalu Istimewa
November 30th, 2009 Posted 11:14 pm
Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 10, Desember 2009
Natal, selalu menjadi hal sentimentil buatku.
Natal pertamaku tahun 2002
Singkat cerita, saat itu aku baru saja dibaptis. Pengantin baru yang memiliki janin berusia tiga bulan di rahimku. Dengan kondisi mual-dan-muntah-selalu, tidak mungkin aku merasakan Misa Malam Natal. Sejak dulu memang aku suka sekali dengan suasana Natal yang dipenuhi anak-anak. Pilihannya jatuh pada Misa Natal Anak-anak jam 9.00.
Rasa gembiraku lebih mirip anak-anak ketimbang calon ibu. Rasanya kembali ke masa kecil. Melihat banyak sekali anak-anak berbaju merah dengan topi Santa Clause. Menyanyikan lagu Natal anak-anak. Mendengarkan koor anak-anak. Menyaksikan tablo Natal yang dibawakan anak-anak yang ceritanya “memang begitu”. Air mata haru dan senyum gembira jadi satu. Pasti aneh sekali wajahku saat itu dengan perut yang tidak terlalu buncit.
Tags: Doa, Gereja, Harapan, Kasih, Keluarga, Natal, Si Ayah, Si Bungsu, Si Ibu, Si Sulung, the De.N.eL.s
Posted in Natal Selalu Istimewa
Doa Ulang Tahun Buat Ayah
November 10th, 2009 Posted 12:25 am
Tags: Doa, Puisi, Si Ayah, Syukur, the De.N.eL.s
Posted in Doa Ulang Tahun Buat Ayah
Hadiah Jujur dari Anak-anak
November 2nd, 2009 Posted 9:15 am
Tags: Si Ayah, Si Bungsu, Si Ibu, Si Sulung, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond
Posted in Hadiah Jujur dari Anak-anak
Hari Ini, Tujuh Tahun Lalu
November 1st, 2009 Posted 4:00 pm
Tags: Si Ayah, Si Ibu, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond
Posted in Hari Ini Tujuh Tahun Lalu
Lebaran Terakhirku
September 21st, 2009 Posted 5:20 pm
Jumat malam lalu sepulang dari Kelapa Gading menuju rumah di Harapan Indah, Bekasi, aku mengamati kemacetan yang dipenuhi pemudik bermotor. Jalur Jl. Raya Bekasi dan Jl. Raya Kalimalang sudah pasti dipenuhi pemudik bermotor. Bahkan persimpangan masuk gerbang komplek rumah dipasangi tanda “Jalur Pantura”.
Para pemudik itu dapat dikenali dengan khas: membawa tas besar atau kardus yang diikat di jok belakang dan memakai jaket tertutup rapat. Beragam tujuan mulai dari seputar Jawa Barat sampai Jawa Timur. Seorang office girl di kantor Si Ayah juga termasuk pemudik bermotor berboncengan dengan seorang temannya yang juga perempuan.
Berbagai cara dilakukan para pemudik untuk bisa sekadar berkumpul bersama orang-orang terkasih. Berebut tiket, berebut tempat duduk di angkutan umum, berdesak-desak, bermacet-total-ria. Tidak sedikit biaya yang harus disisihkan. Harga tiket yang melangit dan kemacetan luar biasa memakan bahan bakar berlipat ganda. Tapi semua tak ada artinya dengan kegembiraan berada di tengah keluarga.
Tags: Doa, Kasih, Keluarga, Purbalingga, the De.N.eL.s
Posted in Lebaran Terakhirku
Adventurous Holiday
July 8th, 2009 Posted 12:01 am
Tags: Si Ayah, Si Bungsu, Si Ibu, Si Putih, Si Sulung, the De.N.eL.s
Posted in Adventurous Holiday








