Posts Tagged ‘Yuk Nulis!’

Pak Raden: Sang Pendongeng, Kakek Sejuta Cucu

4 Comments »

May 18th, 2011 Posted 7:43 pm

Siang itu, seharusnya aku sudah menyelesaikan presentasi untuk workshop menulis yang diadakan komunitasku Yuk Nulis! dalam rangka World Book Day 2011. Apa daya, rasa sentimentil yang menyergap sejak siang kemarinnya makin menggila. Akhirnya, menulislah aku di siang yang luar biasa terik itu.

Beberapa waktu lalu (ah, kenapa aku tidak catat tanggalnya ya?), aku membeli buku “Petruk jadi Raja” yang ditulis dan diilustrasi oleh Drs. Suyadi aka Pak Raden. Buku ini jadi kejutan buat Si Sulung dan Si Bungsu. Aku minta untuk dituliskan nama mereka di buku itu. Selang beberapa hari, buku itu tiba. Kedua anakku bingung, kenapa tiba-tiba Kakek yang masih juga kerap muncul di layar televisi dengan gaya yang sama dengan 25 tahun lalu itu mengirimi buku? Tahu alamat rumah dari mana? Tahu nama mereka dari mana? Dikasih tanda tangan pula!

(more…)

Kangeenn…

10 Comments »

March 16th, 2011 Posted 12:46 pm

matur tengkiyu sanget doa dan perhatiannya. kuenya dimakan ya...Haaiii…
Kangeenn…

Apa kabar? Lama banget ya, gak ketemu. Maaf ya, aku sibuk banget beberapa bulan ini.

Pertama, aku jadi trainer di sebuah tempat kursus robotika. Si Sulung dan Si Bungsu les di situ. Yang punya kenal sama aku dan mau buka cabang baru, jadi deh aku ngajar di situ. Kerennya sih Head Centre. Apalah judulnya, yang penting selama kerja di situ nyita waktu banget. Senengnya, bergaul sama anak-anak umur 4-15 tahun.

Kedua, urusan sekolah rumah emang gak main-main. Itu juga sebabnya aku ngundurin diri dari kursus robotika itu. Waktu buat anak-anak belajar jadi terampas. Jangankan nulis, ngangon Yuk Nulis! aja jadi kutinggalin hiks…

(more…)

Rekor… Rekor…

14 Comments »

March 26th, 2010 Posted 9:36 am

Tulisan ini harusnya dimuat tgl 19 Maret 2010. Karena sibuk sampai lupa ada artikel ini.

Gak pernah terpikir untuk mendaftarkan Yuk Nulis! ke sebuah lembaga pencatat rekor di Indonesia. Gara-gara nulis keroyokan waktu Valentine itu, para Nuliser usul untuk mencatatkan nulis keroyokan itu. Akhirnya, ya dicoba deh. Gak ada salahnya juga nyoba kan? Surat permohonan dikirim, kategorinya “penulisan estafet dengan penulis terbanyak dalam waktu tercepat”. Suruh tunggu seminggu. Oke, kita “sabar menanti mode on” deh.

Sudah telat seminggu sejak waktu yang dijanjikan. Menunggu selama dua minggu sejak dikirimnya surat permohonan ternyata gemesin juga. Akhirnya kutelepon seorang petinggi lembaga itu yang nama dan nomornya tertera di surat balasan. Ia minta dikirimkan bukunya. Nyetak dua eksemplar khusus buat lembaga ini. Buku dikirim.

(more…)

Dua, Dua, Tiga, Satu

5 Comments »

March 24th, 2010 Posted 12:15 pm

Sebetulnya saya berhutang cerita ini pada Fonny empat hari. Maaf ya, Fon :D

Dua tahun. Kalau manusia, umur dua tahun itu lagi cerewet-cerewetnya karena baru lancar ngomong bahkan baru bisa jika sedikit terlambat seperti Si Sulung. Ulang tahun pertama memang tidak dirayakan karena tulisannya juga tidak terlalu banyak apalagi penghuninya. Belum apa-apa. Belum layak dirayakan.

Ulang tahun ke dua, penghuninya sudah 32 Nuliser sangat aktif, 81 Nuliser aktif, dan 247 member milis (termasuk 113 Nuliser tadi di dalamnya). Sudah banyak Nuliser yang mumpuni bahkan Femi dan Fonny sudah punya fans page sendiri—Femi dengan Femi on the Blog dan Fonny dengan Chapters of Fonny’s Life. Kerja keras mereka sudah layak membuahkan hasil, keringat mereka sendiri, mandiri. Via Lattea tentu turut bangga. Ini perlu dirayakan!

(more…)

Bandung, Pernikahan

5 Comments »

December 22nd, 2009 Posted 5:08 pm

Kamis, 17 Desember 2009. Anak-anak terima rapor. Libur telah tiba. Hore… hore… hore…

Ke Bandung sebenernya sudah tidak masuk kategori berlibur karena ada banyak tujuan. Mulai dari nengok Mama Mertua sampai jadi umat abangan di Keuskupan Bandung, semua bisa. Kalau lepas kangen sama teman-teman di Bandung termasuk liburan ya bisa juga. Yang jelas, sering ke Bandung karena Kakak Ipar di sini maka bebas dari “hotel penuh” dan “ongkos mahal”. Tujuan kali ini adalah undangan pemberkatan nikah kerabat di Gereja St. Laurentius Sukajadi.

Malam itu juga kami harus berangkat karena besok pagi-pagi Si Ayah harus antar Mama Mertua ke tempat syukuran untuk sediain makanan. Berangkat dari rumah jam 9 malam, masuk tol Bekasi Barat jam 9.30. Semua penumpang ngantuk jadi tidak paham betapa padat meratapnya perjalanan Bekasi-Bandung. Begitu bangun sudah di gerbang rumah Kakak Ipar di Viaduct dekat Braga.  Begitu buka mata lihat jam… jam 12!! Ampuunn… jadi perjalanan tadi 2,5 jam?? Katanya padat meratap sampai tol Sadang. Ini salah satu alasan malas berakhir pekan panjang di Bandung kalau bukan karena ada undangan. Sampai rumah, tidur dilanjutkan!

(more…)

Mengecil Di Antara Yang Membesar

7 Comments »

September 2nd, 2009 Posted 9:18 am

Pak dan Bu Kasur. Tokoh lain yang selalu menginspirasi. Mereka konsisten untuk menjadi Guru TK,  guru pertama bagi para siswanya. Mereka selalu ceria, mengajar bernyanyi dan bercerita. Kebetulan mereka adalah teman baik Opung dan Nenek.

Pak dan Bu Kasur, dua orang yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri di dunia pendidikan anak-anak. Kenapa anak TK, bukan anak SD? Itu menarik. Mengajar anak SD memiliki kebanggaan bahwa anak didiknya memiliki ilmu yang terukur dengan nilai. Anak TK tidak mengenal nilai dan rapor. Mengajar anak SD bisa memberi hukuman dan sanksi, mengajar anak TK tidak bisa menghukum dan memberi sanksi. Tetap saja pertanyaannya: kenapa anak TK?

(more…)

Semangat Pak Tino Sidin

10 Comments »

August 24th, 2009 Posted 7:20 pm

Bagi mereka yang berusia 30 tahun ke atas pasti ingat sosok Pak Tino Sidin. Bersahaja dengan topi khasnya, berkaca mata besar dengan tangkai plastik hitam, gigi yang tak beraturan menghiasi senyum sumringahnya, berambut ikal, kebapakan sekali. Pak Tino Sidin selalu membawakan acara Gemar Menggambar di TVRI era 1980an.

Satu hal yang tidak bisa dilupakan dari seorang Tino Sidin, beliau selalu mengatakan, “Bagus!” Satu kata sederhana yang dulu tidak bermakna apa-apa ketika aku kecil. Setelah dewasa, baru paham bagaimana rasanya dipuji meskipun karyaku bukan main jeleknya.

(more…)

Menulis, Membaca, Bersahabat

2 Comments »

June 18th, 2009 Posted 6:21 pm

Waktu kecil, aku tak pernah bercita-cita jadi penulis, meskipun beberapa orang bilang, “Lini nanti besar bisa jadi wartawan seperti Opungnya.” Padahal, setahuku Opung dari Mama adalah seorang guru, bukan wartawan. Opung dari Papa juga guru. Justru ketika aku jadi guru di sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris aku ditegur karena “nyeleneh”. Keluar dari pakem mwngajar yang ada di sana.

Menulis, sejak SMP memang hobi. Apa daya, tidak percaya diri, tidak didukung apalagi diakomodasi Mama, pelajaran Bahasa Indonesia yang selalu pas-pasan membuatku mengonsumsi tulisan sendiri.

(more…)