Tempat Kosong Itu Untukmu
Kemarin, aku misa di sebuah tempat yang disebut-sebut sebagai salah satu pusat penyembuhan. Sekadar pingin tahu seperti apakah misa yang konon kabarnya bisa menyembuhkan orang itu. Tempat yang membuat beberapa orang – termasuk orang terdekatku – mengatakan, “Kamu harus ke sana! Cobain deh sekali aja!” Mirisnya, dari semua yang bilang begitu tak satupun bilang, “Nanti kalau aku ke sana, kamu kuajak!” Bahkan, orang terdekatku itu justru rajin cerita setiap pulang dari sana. Bilang aku harus ke sana tapi gak ngajak bahkan malah setiap pulang dari sana rajin cerita. Maksud lu??
Maka, begitu semalam Si Ayah mengajak ke sana – ajakan kedua karena minggu lalu aku lagi ga konsen dan respon diam dianggap tidak mau – ajakan ini langsung aku iyakan dengan pasti. Gak ada intensi khusus untuk didoakan. Setelah melalui perjalanan yang lancar selama tiga jam, kami tiba di tempat yang mewah itu dan umat sudah ramai berkumpul. Masih kurang setengah jam dari jadwal misa. Anak-anak ikut sekolah minggu. Lumayan, bisa misa dengan lebih fokus. Sampai di bangunan yang terletak di atas itu, aku masuk dan masih cukup lengang. Ada tiga tempat kosong di bagian depan di mana kita bisa duduk lesehan dengan nyaman. Masing-masing tempat dengan jok tipis dan bangku kayu yang mirip dingklik memiliki jarak dengan umat di samping maupun depan-belakang. Sehingga teorinya tidak ada yang akan saling bersenggolan. Aku duduk bersampingan dengan Si Ayah. Tempat di depanku kosong. Hanya satu.
Usai berdoa sederhana seperti biasanya, aku duduk manis menunggu misa dimulai sambil melihat-lihat “lingkungan” sekitar. Tak lama, terdengarlah musik model organ tunggal. Hm.. lagu pujian. Ok, aku gak bisa ikutan nyanyi nih. Aku memang kuper, tidak pernah ikutan PD Karismatik dan semacamnya. Sejenak kemudian, masuklah iring-iringan Pastor dan “gembalaannya”. Lha, tadi itu lagu pembukaan toh? Pantes orang pada berdiri. Untung aku berdiri! Setelah empat orang Imam (Pastor) tiba di Altar, lagu pujian serupa masih ada dua lagi yang dinyanyikan. Semuanya lagu pujian Karismatik dengan iringan organ tunggal. Terpaksa deh dengan gaya andalan – sedekap (melipat tangan di atas dada/perut) mirip orang kedinginan – dan hening mengikuti lagu-lagu pembukaan yang tak satupun akrab di telingaku.
Setelah lagu ketiga, Suster yang berperan sebagai Lektris (semacam pembaca doa) mengatakan, “Setelah kita bersorak-sorai memuji Tuhan, marilah kita memeriksa diri kita dengan Pujian…” Wah lupa deh judul pujiannya apa. Soalnya sibuk dengan kata “sorak-sorai” yang memang harfiah riuh-rendah bahkan ada umat yang berjoget segala. Lagu Pujian babak kedua ini ada dua lagu. Duh, kok mendadak merasa misa di klab malam ya? Atau konser? Meriah, semarak, gegap-gempita, riuh-rendah, sorak-sorai dengan lambaian tangan. Kayaknya aku salah milih tempat misa nih. Ya sudah, dinikmati aja dulu. Aku melihat tempat di depanku. Masih kosong. Aku merasa kosong di tempat yang sesak ini.
Tak terasa – setelah sekian lagu yang tak kuhitung lagi itu – akhirnya bacaan Injil. Ini dia, mendengarkan Sabda Tuhan. Waktu homili (khotbah), aku harus menahan emosi. Pertama, waktu Si Romo Kondang itu mengatakan, “Orang rendah hati bekenan pada Tuhan. Orang sombong tidak berkenan pada Tuhan. Orang berdosa itu sombong, tidak berkenan pada Tuhan.” Wah! Tersinggung nih! Mari kita urai, Romo.
Orang rendah hati berkenan pada Tuhan. Gak usah dibahas. Itu gak ada masalahnya.
Orang sombong tidak berkenan pada Tuhan. Gak perlu pembahasan juga karena emang ga ada masalahnya juga.
Yang masalah itu kalimat “orang berdosa itu sombong dan tidak berkenan pada Tuhan”. Aku orang berdosa. Aku tidak sombong. Justru karena marah ini maka aku jadi sombong dengan dosaku. Aku tidak berkenan pada Tuhan? Atas dasar apa Anda berhak menghakimi kami orang berdosa? Kalau begitu, aku jadi Maria Magdalena yang nista, Anda jadi Imam Agung itu aja deh yang sibuk menghakimi orang berdosa. Kata-kata Romo Kondang itu kucatat terus.
Tidak cukup sampai di situ. Ternyata ada lagi kalimat yang gak mutu. “Mana lebih rendah hati, Yesus atau Maria?” Wah, gak bener nih! Menurut Anda para pembaca, pantaskah memilih antara Ibu dan saudara (dua manusia yang paling dekat dengan Anda)? Tapi aku mau menyimak jawabannya Romo Kondang itu dulu. “Yesus lebih rendah hati karena lebih berkenan pada Tuhan.” Itu jawaban versi dia. Ha?? Apakah dia pikir, ketika Maria menyatakan “terjadilah sesuai kehendak-Mu” waktu Gabriel ngasih tau dia mau hamil di luar nikah itu bukan karena rendah hati dan berkenan pada Tuhan? Perempuan jaman sekarang yang hamil di luar nikah dan mempertahankan janinnya aja dicemooh abis-abisan, apalagi jaman itu? Apa bener janin yang dikandungnya sungguh Sang Juru Selamat? Kalau ternyata bukan? Apa Romo ini gak mikirin perasaannya Maria jaman itu? Wah, makin mumet deh! Akhirnya, daripada terus nggerundel dalam misa, mending ngantuk aja lah. Memandangi lagi tempat di depanku yang masih tetap kosong. Aku juga tetap merasa kosong.
Sudah tak kuhitung lagi ada berapa pujian. Yang jelas, aku merasa hakku sebagai umat terampas karena tak bisa ikut nyanyi. Atau, seharusnya aku misa di tempat yang familier aja bukan tempat baru? Waktu menyanyikan lagu “Kudus”, nah lumayan bisa nyanyi juga akhirnya meskipun iringan organ tunggalnya mengganggu banget. Jadi gak khusyuk deh. Waktu mau nyanyi “Bapa Kami”, semangat menggelora itu harus pupus karena lagi-lagi lagunya tak kukenal. Hhh… merana bener sih misa di sini! Duh, ampun Tuhan! Lagi misa kok nggerundel terus? Aku memandangi lagi tempat kosong di depanku. Aku sungguh kosong…
Singkat cerita, sebelum berkat tutup, Sakramen Maha Kudus diarak keliling ruangan untuk memberkati umat. Di sini satu-satunya pengalaman yang sedikit mistis. Misteri iman bener-bener diuji. Yakin gak, kalo yang diarak itu beneran Tubuh Kristus? Terserah masing-masing sih. Kalau aku sendiri memang gak merasa sembuh secara harfiah tapi tetap dijamah kasih-Nya. Kalau bicara soal kesembuhan, sudah sejak sebelum masuk ruangan, tepat ketika aku berkata pada-Nya, “Tuhan, aku mau misa. Bersabdalah saja maka saya akan sembuh,” hatiku sudah ringan. Aku sudah sembuh. Setidaknya aku yakin kalau aku sembuh.
Nah, ini bagian yang paling seru. Aku bebas nggerundel dan ketawa sendiri dalam hati. Ceritanya, ini bagian penyembuhan. Aku sungguh mengharapkan ada peristiwa yang mistis yang membuktikan iman sebesar biji sesawi itu bisa mindahin gunung, bisa nyembuhin penyakit, bisa ngobatin luka batin. Ketika Romo Kondang berkata, “Angkat tangan Anda…” (maksudnya untuk menerima berkat Tuhan) aku menahan geli. Pakai angkat tangan segala? Ini misa Katolik bukan ya? Kok kayak gak yakin banget Tuhan bisa menjamah tanpa kita angkat tangan. Kalo gereja tetangga kan memang kulturnya begitu, jadi ya sah aja. Belum kelar gelinya, ditambah lagi waktu umat diminta untuk memegang bagian tubuh yang sakit supaya Tuhan menyembuhkan. Lha?? Kok begini? Kupandangi Romo Kondang itu. Kok jadi mirip Petrus ya? Berkotbah di atas bukit, balik ke jaman 2000 tahun lalu. Itu juga aku gak yakin apakah Petrus ngobatin dengan gaya orasi. Sambil menahan tawa yang akhirnya jadi cengengesan tertahan, aku memandangi lagi tempat di depanku yang kosong itu.
Sampai usai misa, penyakit yang “diobati” semuanya penyakit fisik yang terlihat. Gak adil nih, manusia yang luka batin atau bermasalah kayak aku masa gak kebagian “diobatin”? Liat aja, berapa jumlah umat yang berdiri setiap disebut “sakit kepala” atau “sakit kaki” dan sebagainya. Tidak sampai separuh. Sisanya tetap duduk. Dari yang duduk itu, kita asumsikan bahwa separuhnya memiliki problem dalam bentuk apapun dan sisanya tidak memiliki penyakit dan problem. Jadi yang “diobati” ya tidak sampai separuh itu tadi. Yang tetap duduk tidak kebagian “diobati”.
Lagu penutup – lagi-lagi – lagu a la band dan aku tidak punya pilihan untuk kembali ke pose andalan, bersedekap. Bagaimanapun, aku harus mengucap syukur karena sudah mendapat berkat dari Sakramen Maha Kudus yang tadi kuterima. Mengucap syukur karena punya pengalaman menarik, menyenangkan sekaligus menggelikan. Di akhir doa, kupandang lagi tempat kosong di depanku yang bentuknya masih rapi seperti semula. Membayangkan seorang sahabat baikkku. “Aku sudah menitipkanmu pada-Nya. Harusnya kamu melihat “pertunjukan” tadi. Seandainya kamu ada di sini, pasti dosa kita berlipat karena sibuk tertawa mengobati kedongkolan pada apa yang terjadi…”
Aku membereskan tas. Bangkit berdiri. Bergegas mencari kedua anakku yang bubar Sekolah Minggu.
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Doa, Gereja, Gerundelan, Luka Batin
This entry was posted on Thursday, November 12th, 2009 at 5:24 pm and is filed under Tempat Kosong Itu Untukmu. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.







7:55 pm on November 12th, 2009
hiaaaaaaaaaa…
kalo gitu gerejanya gak cocok hehehe…
eh tapi emang sih kadang gue juga ngerasa aneh.
orang yang menjadi katolik biasanya karena enggan mengikuti ibadah kristiani yang meledak2. tapi belakangan malah mengarah ke ibadah yang diistilahkan karismatik itu. akan muncul istilah katolik protestan kah ? hehehe…
9:37 pm on November 12th, 2009
Apa dah dimodifikasi ya? Tapi gw (duh, enakkan pake gw-eloe nih, gpp ya? he he he)lebih suka yg orisinil deh, yang masih asli. Lebih pas di hati. Tp,…..tempat kosong itu sebenarnya buat siapa sih Lin? (telmi.com, he he he)
1:30 am on November 13th, 2009
Maaf, saya kurang mengerti / kurang bisa menangkap maksud/arti dari kalimat yg terakhir berikut ini. Arti/maksudnya apa yah? thx.
————————
kupandang lagi tempat kosong di depanku yang bentuknya masih rapi seperti semula. “Aku sudah menitipkanmu pada-Nya. Harusnya kamu melihat “pertunjukan” tadi. Seandainya kamu ada di sini, pasti dosa kita berlipat karena sibuk tertawa mengobati kedongkolan pada apa yang terjadi…”
3:18 am on November 13th, 2009
Apa itu gereja yg di daerah `puncak`?,
hampir tujuh tahun yg lalu saya pernah kesana juga tapi tidak sempat ikut misa krn tempat duduk_nya penuh (waktu itu saya menjemput Ma& Pa yg ikut `retret_awal` dan menginap 2_malam disana), saya pernah dengar kata_nya `romo_kondang` itu tidak berada `dibawah` KAJ..
6:35 am on November 13th, 2009
@ Femi: orang yang salah di tempat yang salah? hehehe
@ Hanna: buat sahabat pena hehehe
@ Maya: itu buat sahabat penaku, biar jelas silakan buka surat untuk sahabat pena 1 & 2
@ Imelda: no komen. yang jelas kalo di daerah puncak memang masuk Keuskupan Bogor, bukan KAJ
7:46 am on November 13th, 2009
Lin, syukur pada ALLAH….kamu udah sembuh(setidaknya kamu masih merasa waras je).
8:23 am on November 13th, 2009
iya, saya juga pernah ke sana dan terheran2 melihat orang2 begitu ‘mengagungkan’ yang dibawa keliling orang kondang itu. Dosa ngkale ya saya? Sombong? Sebab saya tidak suka yang hura2 n ekspresif, bingung n bengong jadinya.
Misa sekarang juga saya bingung n bengong waktu upacara pemberkatan hosti, kok pake acara angkat tangan? Kayak menyembah apa gitu…………. Salah gak sih ogut? Or sombong?
8:37 am on November 13th, 2009
@ Anggrek: kalo sombong nanti kata Romo Kondang “tidak berkenan pada Tuhan”. salah ato ga, biar aja Tuhan yang nilai. yang jelas seleranya beda. itu aja
hehehe…
*kita satu selera nih*
9:02 am on November 13th, 2009
Saya mengalami hal yang sama dengan mbak lini, pertama kalinya kaget ’sekaligus marah” dengan gaya misa itu. barangkali yang salah adalah bila “mengkultuskan romo kondang” itu. Secara umum bila dengan aneka gaya dapat mengantar umat dalam pertobatan dan makin dekat dengan Allah…ya sah-sah saja.
9:34 am on November 13th, 2009
@ Threes: yang bikin marah kan mutu homilinya. gaya misa sih emang kayaknya aku salah kamar aja
10:14 am on November 13th, 2009
Hmm…
“Bersabdalah saja maka saya akan sembuh”
Kata2 yang bagus…
Dan sudah banyak yang melupakan kata itu..
Kesembuhan tidak didapat dengan mencari pendeta hebat atau “import” tapi dari Tuhan Allah Bapa kita..
Apa dengan pujian kita menjadi dekat?? Mungkin..
Tapi pujian dengan melompat2?? Yang ada capek dan ga konsen..
Iman tumbuh dari pendengaran, pendengaran akan Firman Tuhan..
Amin…
10:19 am on November 13th, 2009
Waduh…ternyata bukan aku aja tkg ngedumel kl ada ‘org kondang’ kotbah ya? Hehehe
Itu ada lagunya lin : “aku ingin begini kamu ingin begitu semua semua semua banyak sekali” *nyanyi dg lagu doraemon*
10:24 am on November 13th, 2009
Sayang sekali saya tidak ikut misa tsb, jadi tidak tau isi khotbah tsb secara full.
Saya sangat setuju klo Bunda Maria itu seorang yang sangat rendah hati karena mau menerima takdirnya / “kondisi” dirinya (yang sangat memalukan di masyarakat (hamil tapi belum nikah)).
Saya juga setuju klo Tuhan Yesus dikatakan rendah hati.
Bayangkan aja, Tuhan Yesus yang adalah Tuhan mau meminjam (atau memakai rahim dari seorang manusia biasa), apakah itu tidak menunjukkan sikap yg rendah hati; karena bisa aja Tuhan Yesus langsung turun secara agung dari langit dg diiringi banyak malaikat; tapi Tuhan Yesus memilih untuk memakai rahim orang biasa.
Begitupula ketika Bunda Maria meminta Tuhan Yesus melakukan sesuatu saat perjamuan pernikahan Kana. Sebenarnya belum waktunya Tuhan Yesus untuk beraksi, tapi karena Bunda Maria yg meminta, akhirnya Tuhan Yesus melakukannya juga (mukjizat di perjamuan pernikahan Kana). Jadi, Bunda Maria itu seorang manusia yg sangat rendah hati sekali. Dan Tuhan Yesus sedikit lebih rendah hati daripada Bunda Maria (karena mau menanggalkan segala keagunganNya dll).
Saya tidak bermaksud menggurui di sini. Hanya sekedar men-share persepsiku aja.
10:43 am on November 13th, 2009
Dear Lini , apa kabar ? Sy coba sedikit sharing :
Kehadiran Tuhan bisa dengan segala cara . Sebagai orang Katolik , kita sungguh menghormati sakramen ekaristi kita , dari awal , liturgi sabda , persembahan , lituregi ekaristi , dst sd berkat penutup. Yesus dahulu melakukan mujijat secara nyata , menyembuhkan orang sakit , menggandakan roti dan ikan ,dsb-nya , tetapi di zaman modern ini , Yesus sudah tidak hidup secara fisik yang dapat kita temui secara nyata . Tetapi kita percaya , mujijat dan rahmat pertolongan Allah , sungguh hadir di dalam kehidupan orang beriman dan salah satunya adalah melalui misa / sakramen ekaristi yang kita hadiri setiap minggu.
Pada saat saya mengikuti misa , kadang ada pikiran2 di luar yang membuat konsentrasi terganggu , sehingga kadang membuat saya rasanya tidak fully charged , tetapi pada saat saya benar2 mengosongkan diri , untuk mohon kehadiran Tuhan melalui sakramen ekaristi , tidak jarang homili pastor mengetuk hati dan kesalahan2 saya dan pada saat doa syukur agung dan konsekrasi serta lagu Bapa Kami , sering mata saya berkaca, mensyukuri apa yang diberikan oleh Tuhan dan memohon maaf atas dosa dan kesalahan saya . Hal seperti ini sering saya alami di paroki saya , dengan romo paroki saya .
Tetapi saya pun kadang mencari suasana misa yang lain , entah di kota yang sedang sy kunjungi atau sengaja pergi ke tempat Romo Kondang beserta istri dan anak2 , bahkan beberapa kali ikut retreat di sana . Saya datang sebagai umat Katolik biasa tanpa embel2 dari kategorial tertentu . Apa yang saya peroleh sungguh luar biasa , Tuhan memberikan suasana hidup beriman yang semakin bertumbuh . Dahulu saya pun aneh melihat , tata gerak dalam melakukan pujian , tetapi akhirnya saya bisa mengikuti dengan berprinsip bahwa Tuhan-lah yang kita sembah , dengan membuka hati saya , suka cita dan kedamaian mengalir …
Adorasi kepada Sakramen Maha Kudus dengan perarakan , dapat kita temui bukan hanya di tempat ini , pada saat misa2 tertentu , seringkali Sakramen Maha Kudus kita hormati dalam perarakan itu , dan yang saya alami adalah Tuhan sungguh hadir pada saat itu .
Istri saya , pernah menderita kanker stadium 2 , dan puji Tuhan , ia kini hidup sehat ? Tindakan medis sudah dilakukan sesuai prosedur , dan saya berterimakasih dengan imannya dan pengalaman2 mengikuti misa di tempat ini , berkomunitas dalam gereja dan aktif dalam pelayanan , sungguh memberikan kesembuhan secara fisik dan rohani .
Mujijat Tuhan terutama kesemubuhan bagi yang sakit hadir melalui para tangan dokter , keluarga , teman dan gereja . Romo yang memiliki karunia penyembuhan , hanya manusia biasa yang dipakai Tuhan untuk menyembuhkan orang yang sedang sakit . Bagaimana bila sudah didoakan oleh Romo selebritis , tp akhirnya hidupnya tetap tidak tertolong ? Mungkin hidup orang yang sakit ini tidak tertolong , tetapi diharapkan iman kepada Tuhan , semakin tumbuh dan menguatkannya dalam menghadapi pergumulan hidupnya , yang akhirnya ia pergi dalam damai.
Kisah ‘ Tempat Kosong Itu Untukmu’ sungguh sebuah ungkapan iman yang jujur , tidak ada yang salah . Iman seorang Lini sungguh militan Katolik , banyak teman2 pun sama seperti Lini. Hanya saja , Tuhan hadir bukan hanya pada saat ekaristi dengan romo selebritis atau tidak , tetapi bagaimana saya dan teman2 belajar menjalani hidup ini dengan mencari Tuhan dengan tanda sekecil apapun …
Salam dari seorang sahabat ,
Lunardi & Diana
11:19 am on November 13th, 2009
Bunda Maria adalah seorang yang sangat rendah hati..
Orang yang rendah diri (maksudnya bukan minder), akan ditinggikan..
So, Maria dipakai sebagai sarana lahirnya juru selamat seluruh dunia..
Beda dengan Yesus..
Yang satu mempunyai sifat rendah hati, yang satu sumber sifat rendah hati..
Gimana bandinginnya?? ^^
Btw, aku juga punya pengalaman yang mirip loh..
Pernah ikut kebaktian di sana..
Terus Liturgisnya teriak..
“Ayo, kita memuji Tuhan dengan suara nyaring sampai menggetarkan surga”
Pikirku.. Astaga.. Sekarang Tuhan sudah ngantuk kah?? Harus digetarkan segala..
Gimana nasib orang2 yang memuji Tuhan dengan syahdu, dalam hati lagi.. Makin terlantar lah nasibnya.. :p
Peace.. :p
11:22 am on November 13th, 2009
Saya tahu tempat yg Lini maksudkan itu, juga siapa romo Kondang tsb. Memang beliau cukup kontroversial ya… Saya pernah 2x ke sana, waktu baru lulus kuliah dan 1 tahun kemudian, setelah saya kerja di Lampung. Pengalaman pribadi, saya malah lebih banyak disentuh Tuhan dari kegiatan2 selain misa di sana. Melalui teman2 retret, suasana alam, materi2 retret, bahkan waktu berdoa sendirian di kapel jam 11 malam. Dari situ saya disegarkan. Meskipun sekarang tentu tidak praktis lagi bagi saya untuk ke sana (saya di Surabaya) tetapi saya rasa ke sana 2x sudah cukup. Selebihnya melalui iman saya melihat Tuhan bekerja di setiap waktu dan segala tempat dalam kehidupan saya, tidak hanya di tempat tertentu atau melalui orang2 tertentu saja.
11:46 am on November 13th, 2009
@ John Christ: Amin…
kalo maksudnya yang akan ditinggikan memang rendah hati, rendah diri itu ya minder hehehe…
gimana bandinginnya? wong ga perlu diperbandingkan, ya ga usah.
whoaa… suruh menggetarkan Surga? pasti aku malah lari dari situ ato aksi tutup mulut hehehe
@ Olyvia: Yuk nyanyii…
@ Linda: bebas aja sih apa pendapat orang. yang mau aku tekankan, itu bukan hal yang patut untuk diperbandingkan. sama seperti pertanyaan, “Linda, menurutmu, siapa yang lebih sayang kamu, Mama atau Papa?”
@ Lunardi & Diana: makasih sharingnya.militan ya? hihihi ga tau sih. Abis alasan kenapa pindah ke Katolik kan karena sederhananya. Jadi begitu ada misa Katolik yang “berisik” ya nggerundel. Sementara dulu keluar-masuk beragam denominasi biar ga salah pilih.
@ Christian: yep setuju
12:44 pm on November 13th, 2009
Kayaknya aku tau gereja dan romonya..
)
Cikanyere? Romo Johannes?
1:08 pm on November 13th, 2009
Gereja Katolik sangat kaya dan mempu melakukan inkulturasi dengan budaya setempat. Banyak kelompok kategorial dalam Gereja Katolik, dan semuanya diakomodasi oleh Vatican. Ada yang tenang seperti doa Taize, ada yang bersemangat seperti PD Karismatik.
Mana yang lebih benar atau lebih baik? Tidak ada ! Yang ada adalah saya lebih PAS dengan suasana seperti apa … Memang dalam suasana yang tidak pas, kita akan merasa sendirian di tengah keramaian, tetapi sadarlah kita ada disitu bersama Yesus.
Lagu-lagu yang meriah itu menunjukkan ungkapan perasaan untuk memuji dan memuliakan Tuhan, berbeda dengan lagu di diskotik ya. Mendengar lagu tenang pun kita dapat tersentuh; yang penting bukan tenang atau meriah, tetapi dimana hati kita saat itu ? Bila melihat dari sudut pandang saya, maka yang dilakukan orang lain itu salah. Kita menjadi antipati terhadap apa pun karena hati kita menolaknya.
Romo juga manusia ! Walaupun dia Romo Kondang, memang perbandingan yang dibuat antara Yesus dan Maria tidak atau kurang tepat.
Bukalah hati dan terimalah kekayaan Gereja Katolik karena Allah menyentuh setiap orang dengan cara yang berbeda. Amin !
1:22 pm on November 13th, 2009
hahahahhaha……
pernah sekali kesana dan mudah2an cukup satu kali itu kesana..tp berhubung tempatnya lumayan bagus bertamasyah..kalo ada yang ngajak pasti mau..hehehee
2:20 pm on November 13th, 2009
Kadang orang (baca: pengkotbah)merasa sudah di tahap DOktoral (S-3), bisa buat teori sendiri, supaya TERKENAL jika perlu KONTROVERSI. Lupa umat sangatlah kritis, termasuk sudah mendalam krn pergumulan imannya LEBIH konkret! Ga papa sih klo emang kualitas refleksinya dah tahap “S-3″. Jangankan berefek MENYEMBUHKAN, mencerahkan aja kadang TIDAK kok. Padahal pembekalan ILMU, KOMPETENSI, etc sudah lengkap tinggal ‘mendengar’ SABDA ALLAH mengunyahnya (meditatio) dengan pergumulan iman & pergumulan iman umat yg dipedulikannya dan KEMBALI menyuarakan apa yg didengar pada umat saat kotbah. Ga heran jk Mbak Lini & puluhan orang harus menelan “pil pahit” saat mendengar kotbah…..Maafkan klo ada yg bekenan. But these all are true!
2:44 pm on November 13th, 2009
@ DV: no komen
@ DAG: amin
@ Bosco: kadang aku merasa apa jadi umat ya diem aja dan tidak membantah. Sabda Romo jadi kayak Sabda Tuhan yang tak terbantahkan hehehe
3:59 pm on November 13th, 2009
@ Stef: trus foto-foto? hehehe
4:15 pm on November 13th, 2009
Wah, Lini… dalam hal ini, kisahmu tuh ‘gue banget’!!! Kalo dibahas bisa poanjang deh…
4:55 pm on November 13th, 2009
@ Nancy: curhatnya japri ya
8:03 pm on November 13th, 2009
Kebetulan aku seorang KATOLIK, dari paroki S.T. THERESIA.
Apa yang ku dapat selama ini, menunjukan bahwa TUHAN berinteraksi langsung dengan Manusia, yang salah satunya melalui fisik manusia yang lebih kita kenal dengan sebutan JESUS.
Saya manusia yang penuh dengan DOSA yang dapat saya tebus nelalui berusaha mengikuti JEJAK & CONTOH yang telah diberikan TUHAN(JESUS) selama hidupNYA yang singkat didunia. Dan itu dapat saya laksanakan dalam hidup saya sehari-harinya, jika saya masih mau menjadi Kristen Katolik. Mata hati saya telah dibukakan, bahwa semua PENYAKIT berasal dari semua yang negatif, kemarahan, Dendam, Iri Hati, Kecemburuan, dll. Karena itu melalui doa BAPAK KAMI saya diajari untuk MENGAMPUNI/MEMAAFKAN, demi kesembuhan, kesehatan saya sendiri. Saudariku LINI, tidak ada satu orangpun diciptakanNYA lebih dari yang lain, masing-masing memiliki lebih dan kurang. TUHAN hanya menghendahi seluruh umatnya percaya dan menCINTAi serta mengKASIHi. Tetepi kitalah yang memecah-mecah Agama, dan merasa lebih dari yang lain. Apakah kita sudah melihat semua dosa dan kekurangan kita sendiri …… ? Beranikah kita mengakuinya dan berihtiar dalam memperbaiki diri kita sendiri dihadapan TUHAN(JESUS). Marilah kita bersama-sama MERENUNGKANYA dalam KEKOSONGAN diri kita !
10:24 pm on November 13th, 2009
@ Iwan: matur tengkiyu komennya. GBU full
10:25 pm on November 13th, 2009
Ehmmm….
sekedar share aja …
mungkin agak beda.
Tapi saya pribadi mengalami sentuhan khusus di sana.
Walaupun akhirnya saya tidak aktif di karismatik, malah mungkin jadi aktif di aliran dasar banget hehehehe … saya menerima itu, seperti istilah pak Agus (DAG), sebagai kekayaan gereja katolik, dan saya bahagia berada di gereja Katolik, karena menurut saya kita bisa mengekspresikan apapun bentuk komunikasi yang kita inginkan dengan Tuhan. Mau yg heboh, mau yg kalem, mau yg silentium magnum … ada di gereja Katolik.
10:27 pm on November 13th, 2009
@ Ratih: tengkiyu komennya Tih. Yesus ada di mana2 kok. GBU full
9:00 am on November 14th, 2009
Wah. Cerita yang menarik mba. Aku memang belum pernah ke tempat itu, tapi sebenarnya apa yang ada di sana, sebagai salah satu tempat untuk umat yang lebih menyukai gaya ekaristi ekspresif atau karismatik.
Di tempat itu, panduan dalam urutan liturgi memang belum menyimpang, tapi cara sajinya saja yang berbeda, sebab jika menyimpang, ‘tempat’ itu akan didaftar-hitamkan dari Gereja Katolik. (sampai sekarang ‘tampat’ itu masih di bawah pengawasan Vatikan melalui Keuskupan Bogor)
Lagu-lagu yang digunakan sebenarnya (mungkin) lagu rohani namun bukan lagu liturgi. Lagu rohani itu memang lebih ekspresi dan berdasar pada pengalaman pribadi pencipta lagunya. Lagu Liturgi sama ekspresifnya, namun harus ada dasar biblis di lirik lagunya (tidak harus semua). Nah, sekarang ini, Gereja Katolik khususnya di Indonesia lagi giat2nya mengajak orang-orang untuk membuat lagu liturgi yang baru (selain di Madah Bhakti atau Puji Syukur).
12:37 pm on November 14th, 2009
aQ tau tempat yang dimaksud mBak Lini, hihihihi… di Malang ada juga… Cikanyere n Malang, then we’ll say: Karismatik Katolik, hahaha…
6:27 pm on November 14th, 2009
“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Amsal 7:1-5)
(Matius 7:1)
8:24 pm on November 14th, 2009
keren nih ceritanya!!!!
aku aja blom ikut misa kek gitu2an. Tapi yang aku yakini sih bahwa Tuhan itu mau nyembuhin bisa lewat apa aja kok. Ga harus ikut misa penyembuhan kek gitu, (bukan maksud saya merendahkan atau menyepelekan misa penyembuhan!?) ikut misa biasa aja klo enggak ikut ibadat lingkungan. Saya rasa itu aja udah cukup kok. Yang penting dari diri kita sendiri ada keyakinan bahwa Tuhan akan menyelamatkan kita lewat cara-Nya yang unik. So, usaha, keyakinan, dan harapan menjadi tiga point yang penting untuk sembuh dari segala penyakit, baik fisik maupun psikis.
sekali lagi makasih buat sharing dari mbak Lini.
salam damai
Kelik hariyanto
10:46 pm on November 14th, 2009
@ Adie: makasih penjelasannya
@ Sasti: hahaha…
@ Gie: makasih kutipannya
@ Kelik: matur tengkiyu. salam damai
11:07 pm on November 14th, 2009
klo hati sudah g srek ..mo apapun hidangannya ..ya g nafsu mkan
apapun itu …mereka adalah kepanjangan tangan firman Tuhan ….sy sng dgn tanggapn yg mengatakan katolik itu kaya akan warna …kita tinggal pilih warna apa yg kita suka …selama itu bisa dianggap sbg penghantar Iman kita untk lebih berkembang n mendalam no problemo …..jgn ekstrim bgtu ach ,bgmn pun jg kita satu atap ….dibawah Salb Yesus….tidak boleh menghakimi …kabar sukacita ygdihantarkan lewat homili bkn unt diperdebatkan ….
11:18 pm on November 14th, 2009
@ Agnes: makasih komentarnya
10:15 am on November 16th, 2009
Oops yang komen banyak ya . . .
Eniwei mo komen juga. Itu udah hampir 15 tahun yl
nyanyi sorak-sorak bergembira, barang kali sejalan
dengan waktu, pertumbuhan iman dan juga umur .. weks..
aku semakin ditarik dalam keheningan.
Nyanyi gegap gempita seperti itu cuma sebedug sekali,
kalau hati di cari ga nemu, lalu dari pada marah mending
nyanyi teriak2 sambil mengexpresikan diri dan memuaskan hati.
Nah duduknya harus agak berjauhan sehingga kalau -goyang
kiri . .goyang kanan . .putar kekiri, putar kekanan ..
(sambil nyanyi dalam gerak dan lagu) tdk mengganggu yg sebelahnya.
Ga jadi masalah caranya, ga jadi soal bagaimana gayanya . .
yg pasti yg harus dicari adalah pengalaman bertemu dgn Tuhan.
Jadi mari kita coba ke gereja lain di sekitar sini aja . .
bersedia koq menemani . . .kasih tahu aja ya kapan. hehehe
11:52 am on November 16th, 2009
@ Grace: tenang Cie, ntar kukasi tau klo butuh temen. klo ga ngasih tau artinya udah pergi sendiri ato emang blon pergi hehehe