To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)

Tuhan bekerja dengan berbagai macam cara, termasuk cara yang jauh di luar akal sehat kita. Dengan penuh keyakinan aku mengatakan, “Seandainya aku tidak mengalami segala kejahatan dan kebodohan ini, belum tentu segala yang indah ini kurasakan hari ini. Rasanya seperti melewati lubang jarum!”

Perkawinan, tentu saja tidak semudah dan seindah prosesi janji perkawinan yang diadakan pada hari bahagia itu. Ketika merencanakan hari pernikahan, semua bisa diatur dan direncanakan dengan “mudah” meskipun ada saja hal yang di luar dugaan. Sadarkah, ketika urusan pemilihan baju pengantin dan segala tetek-bengeknya terjadi perselisihan, itu adalah “replika” dari kehidupan perkawinan yang sesungguhnya. Persiapan hari pernikahan butuh tiga bulan, misalnya. Sementara dinamika yang sama akan dihadapi selama seumur hidup. Setidaknya, tidak ada orang yang ketika yakin untuk menikah lalu berkata pada kekasihnya, “Aku akan menikahimu selama tiga tahun,” atau, “Aku akan menikahimu sampai aku bosan,” atau “Aku akan menikahimu sampai menemukan yang lain lagi nanti.”

Tidak semua berjalan sesuai rencana, kadang lebih banyak yang di luar rencana. Ikrar “aku bersedia mencintaimu dan tetap setia dalam untung dan malang” rasanya tidak seindah ketika diucapkan. Pelaksanaannya sungguh-sungguh menuntut ”mencintai sampai sakit”. Ada saatnya aku bertanya pada para sahabatku, “Mencintai sampai sakit. Sampai sesakit apa?” Maka, di situlah Tuhan menunjukkan padaku batasnya.

Empat tahun dari tujuh tahun pernikahanku dengan stabil menunjukkan perselisihan yang terjadi semakin seru. Intensitas volume suara yang mengeras dan meninggi (untungnya tidak menyebabkan varises leher), sikap yang semakin acuh dan dingin serta ketidaknyambungan yang makin merajalela adalah lebih dari cukup sebagai bukti. Bahkan, ada saatnya ketika komunikasi menjadi ajang saling bicara dan anak-anak yang mendengarkan (semoga bukan tetangga). Telinga yang ada dua hanya sebagai pelengkap anatomi tubuh dan tidak berfungsi dengan baik. Justru mulut yang hanya ada satu memiliki kelebihan beban kerja.

Akumulasi dari semuanya membuatku frustasi tapi tidak mau terlihat dramatis ala Hollywood sampai mengakhiri hidup. Sebagai pembenaran atas “tindakan tidak bunuh diri” maka aku lebih asyik dengan yang lain. Tidak penting siapa gerangan orangnya karena dia tidak istimewa sampai layak diketahui identitasnya. Aku sampai hari ini masih yakin bahwa dia hanya seorang laki-laki biasa, tidak lebih – kurang malah sangat mungkin. Tidak penting juga bagaimana kami bertemu dan prosesnya sampai kami terlibat urusan hati, untung bukan urusan lever juga. Singkatnya, ada seorang manusia, laki-laki yang sempat membuatku mengacuhkan Si Ayah. Titik.

Jahat, Bodoh, Primitif

Aku berkenalan, berteman, berkirim surat, berkirim SMS, bertelepon, lalu bertemu dengan seseorang. Saat aku pergi dan Si Ayah mengetahui lewat intuisinya bahwa aku menemuinya itulah fase kedua proses pekerjaan Tuhan. Fase pertama tentu saja ketika Tuhan mempertemukan aku dengan si Laki-laki. Setelah pertemuan, bukan justru makin lengket, aku dan si Laki-laki justru makin renggang dan mulai sering bertengkar. Ada puncaknya pertengkaran itu tidak bisa ditolerir lagi sampai aku perlu mengevaluasi apa yang terjadi dalam hubungan bodoh itu. Jangan kira hubungan bodoh itu berlangsung lama. Paling lama hanya dua bulan, tidak mungkin lebih terhitung sejak pertama kali suratnya lebih bersifat personal padaku. Hubungan bodoh yang kilat menyaingi kargo langganan dengan tipe Yakin Esok Sampai.

Fase ketiga adalah momen di mana Tuhan menunjukkan cermin kejujuran lewat dua orang sahabat yang memberi pertanda. Dari mereka aku menyadari bahwa selama ini bunga-bunga semu menumpulkan segala kecerdasan dan logika. Seperti lagu “Logika” yang dinyanyikan Vina Panduwinata dengan lirik, “Di mana logika… Hatiku jatuh cinta kepadanya…” Fase ini berlangsung hanya dalam waktu 24 jam.

Sahabat pertama dengan tanpa maksud apa-apa menyebut bahwa si Laki-laki kering imannya. “Orang yang kering imannya tidak akan rajin mengutip Alkitab. Dia akan langsung berbuah bagi banyak orang.” Begitukah? Aku baru tahu kalau orang yang sering mengutip Alkitab tanpa berbuah adalah kering imannya. Yang jelas, memang dari segi manapun aku tidak mampu membuktikan bahwa si Laki-laki mampu berbuah bagi banyak orang. Dalam hal ini, perkataan “berbahagialah yang percaya namun tidak melihat” sungguh tidak berlaku. Setidaknya, aku sudah membuktikan bahwa pernyataannya tentang betapa ia rajin ke gereja luntur begitu saja dalam tiga kali kegagalan misa pagi.

Sahabat kedua dengan kecerdasan menganalisa yang luar biasa menyodorkan cermin kejujuran. Aku telah bertindak jahat dan bodoh dengan mengacuhkan semua kejanggalan yang nyata di depan mata dan tidak memberi kesempatan sedikitpun bagi akal, logika, rasio, pikiran, dan segala macam sebutan lainnya untuk berfungsi. Dalam hal ini, teori seleksi alam sungguh bekerja dengan sangat baik tanpa aku perlu susah payah mengujinya. Kesalahan yang “sepele” sungguh merusak semuanya dan dalam hal ini menjadi berkah luar biasa. Nila setitik memang merusak susu sebelanga, namun mengubahnya menjadi yoghurt yang nikmat. Di sinilah episode “paket Yakin Esok Sampai” berakhir. Begitu saja? Ya memang begitu saja. Nggak seru ya?

Fase keempat yaitu momen di mana aku “terdampar” di pulau kenyataan yang menyadarkan segala kebodohan dan kejahatanku. Sahabat kedua tadi bilang, “Kamu yang cuerdas kayak gini aja bisa tertipu?” Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi momen kehadirannya di saat aku putus asa itu yang lebih membuat segalanya jadi mungkin terjadi.  Toh, pada saat itu yang kuinginkan adalah berpisah. Jadi apa bedanya berpisah dengan atau tanpa insiden primitif ini?

Ternyata tidak semudah itu. Tuhan yang suka berpetualang bukan ingin aku merana sendirian. Tuhan hanya perlu membiarkan aku jatuh pada Jalan Salib kehidupan. Beban rasa bersalah itu menyiksa sungguh. Lalu, hal paling manusiawi dan masuk akal adalah mengakui segala perilaku primitif itu. Mengakui pada diri sendiri, itu yang paling penting. Setelah itu, aku harus mengakuinya pada Tuhan meskipun malunya luar biasa – dalam hal ini bukan masalah pengakuan dosa di hadapan Imam, tapi pengakuan diri sendiri pada-Nya. Terakhir, mengakui tindakan primitif itu di hadapan Si Ayah. Karena ini urusan antarmanusia, apapun bisa terjadi. Ketakutan bahwa cawan murkanya akan tumpah dengan segala imajinasi yang mengerikan membuatku yakin tidak yakin tetapi harus tetap mengakui.

Aku ingat perkataan Romo Pakdhe, “Alasanmu untuk berpisah – dari segi manapun – tidak cukup beralasan bagiku untuk membari pemakluman apalagi ijin.” Aku sadar pernyataan itu dikeluarkannya baik secara profesinya sebagai Imam maupun sebagai sahabat baikku. Ditambah lagi pernyataan dari si Laki-laki bahwa membaca buku “My Life is An Open Book” karyaku, bagian pernikahan yang terjadi tujuh tahun lalu itu sungguh sakral dan agung. Amat disayangkan jika berakhir begitu saja. Kalaupun saat itu dia memberi pernyataan dalam konteks “pahlawan pembela kebetulan” (bukan kebenaran) maka upayanya sungguh berhasil. Kuingat lagi bagaimana perayaan Ekaristi pada Misa Pernikahanku. Kedua mempelai dibolehkan untuk ikut naik ke Altar (umumnya di depan Altar), saling menyuapi komuni kudus dan minum anggur langsung dari Piala Anggur yang biasa dipakai Imam. Kuingat juga hadiah terindah dari seorang Romo Sahabat pada Misa Pemberkatan Rumahku berupa Papal Blessing, berkat yang diberikan oleh Sri Paus atas sebuah keluarga. Di situ tercantum nama keluargaku yang sudah diberkati oleh Sri Paus. Dari dua hal itu, berapa pasutri yang mengalami keduanya atau setidaknya salah satu saja? Ketika banyak orang iri, aku malah mengacuhkannya.

Fase kelima yakni moment of bitter truth. Sepahit apapun kenyataan itu harus dibicarakan, didengar, dilihat, dan direnungkan agar tidak jatuh lagi di lubang yang sama. Kalimat “saya mengaku, saya bersalah, saya berdosa” rasanya ada di ujung lidah tapi cukup membuat kelu. Perjalanan Bekasi-Bandung untuk menghadiri sebuah acara seminggu sebelum Natal itu jadi saksi bisu pengakuan dosa ini. Pertanyaan paling sulit sekalipun harus dijawab dengan lugas sebagai tanda bahwa jawaban itu jujur. Godaan untuk terus memandang ke luar jendela harus dikalahkan. Katanya mata adalah jendela hati. Kalau aku tidak memandang matanya, mana ia tahu bahwa aku sudah berkata jujur? Aku tersakiti. Ya, sangat. Luka yang dalam, menganga, terus berdarah dan membuat banjir air mata. Tapi itu tidak jadi alasan untuk segala tindakan bodoh dan jahat yang primitif itu.

Setelah Si Ayah yang berperan sebagai “investigator yang baik hati”, prosesi tanya-jawab itu diakhirinya dengan senyum dan sebuah kalimat, “Maafin aku ya. Kalau aku gak nyakitin kamu, pasti kamu juga gak akan bertindak begitu…” aku tertegun, menatapnya lama, kemudian berkaca-kaca yang berakhir dengan sungai air mata. Manusia terbuat dari apakah dia sampai bisa berkata begitu? Seolah mengerti apa yang ada di dalam batok kepalaku, dia meneruskan, “Aku cuma kasian sama kamu. Sudah disakiti aku, tertipu dia lagi. Masa aku marah? Masih sayang aku kan?” Segala gengsiku luluh-lantak seketika. Mengangguk mantap dengan mata yang masih juga bersungai air mata. Mengumpulan segala kekuatan untuk mengatakan, “Danny, I’ll be home for Christmas…” Dan menyanyikannya.

I’ll be home for Christmas
You can count on me
Please have snow and mistletoe
And presents on the tree
Christmas Eve will find me
Where the love light gleams
I’ll be home for Christmas
If only in my dreams

bersambung ke To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras, Kembali Cerdas)

Anniversary Vol I ada di Hari Ini, Tujuh Tahun Lalu

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , , , , , , , , , , ,

This entry was posted on Monday, January 4th, 2010 at 9:16 pm and is filed under To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat-Bodoh-Primitif). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

14 Responses to “To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)”

  1. Si Toing
    10:58 pm on January 4th, 2010

    Wahahaha …. dari semua tulisan lo yg pernah gw baca, ini yg paling bagus, jujur & Lini yg gw kenal …mmm … brp tahun lalu ya ?? I’m proud of you …. Tapi …bukan berarti ini akhir dari segala kesedihan dan awal dari sejuta bunga yg wangi ….. bukannya gw nakut2 in, tapi ketika keriaan ini kembali ke rutinitas, kemungkinan yg dulu2 muncul, gede banget. Dan …jika itu terjadi, sakitnya berjuta kali lebih dahsyat!! Karena terjadi setelah rekonsiliasi yg indah …. so just be prepared n try hard to always remember your 5 great phases ini ….okeh say ???

  2. Lini
    4:06 am on January 5th, 2010

    @ Intan: wakakaaakk… gitu ya? seepp! noted. kok kita samaan mulu ya? hihihi

  3. To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras, Kembali Cerdas)
    7:44 am on January 5th, 2010

    [...] (lanjutan dari To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)) [...]

  4. fekhi
    10:23 am on January 5th, 2010

    hikssss…. ampe meneteskan air mata :( (
    ini oleh2 terbagus lin yang kamu kasih hehehe…
    yg dulu??? terus terang aku aja gak ngerti kok mau2nya kamu begitu, tapi aku juga gak enak ngurusin sampe sebegitunya hihihi…
    mau baca sambungannnya ahhhhhhhhhh

  5. martina
    10:56 am on January 5th, 2010

    Liniiii…..hiks….kok kamu bikin aku sampe nangis seh?? Sebuah pengakuan yg jujur….kejujuran akan menyembuhkan….! Salut untukmu Lin….nggak semua org bisa dan mau mengakui kesalahannya……love you full pokoke……GBU

  6. Lini
    11:03 am on January 5th, 2010

    @ Femi: tengkiyu Fem… hiks… namanya juga screensaver, tampilannya sih keren wakakakkk..
    @ Tina: whoaaa… tengkiyuu… Berkah dalem full :D

  7. Grace
    5:19 pm on January 5th, 2010

    Rasanya tahun ini betul2 tahun keluarga ya, banyak yang terjadi dalam suatu perjalanan perkawinan tapi sedikit yang berani mengungkapkan dan mengakui dan mengampuni . . . .
    Angkat jempol dua2nya . . .

  8. Lini
    5:46 pm on January 5th, 2010

    @ Grace: tengkiyu jempolnya :D wah gue ga sendirian ya hehehe

  9. angel li
    7:17 pm on January 5th, 2010

    Happy ending…. Butuh keberanian yang besar untuk mengakui segala kesalahan dan untuk mengungkapkannya pada orang-orang. Ini sebuah pelajaran bukan hanya untukmu, Lin. Tp pelajaran berharga yang kau berikan untuk semua orang. Thanks! Like i said before, i’m happy for you :-D

  10. Lini
    7:28 pm on January 5th, 2010

    @ Angel: tengkiyuu Angel…

  11. Christian Yuliandi
    11:50 pm on January 5th, 2010

    Koq mengerikan banget sih, Lin ? Tapi yg aku salut itu koq berani2nya cerita di forum spt ini, nggak malu ?

    Anyway, saya ucapkan selamat. Lain kali klo punya masalah keluarga lebih hati2 jangan sampai melebar kemana2 ya… Sudah banyak lho keluarga hancur karena mbablas, tidak mengalami 5 fase yg Lini alami itu.

  12. Lini
    11:20 am on January 6th, 2010

    @ Christian: seperti di awal tulisan, klo ga mengalami ini ga merasakan indahnya. malu? banyak orang mengalami, sedikit yang berani mengakui. paling ga, aku bukan orang yang sok suci. semoga keluargamu damai sejahtera ya. Berkah Dalem Full :)

  13. Maria
    1:45 pm on January 8th, 2010

    hmm..bener2 membutuhkan keberanian u/ menulis spt itu…
    salut banget….aku banyak belajar dari semua tulisan2 mu….
    I’m so proud to have a chance to be one of your friends here…
    Jesus bless…

  14. Lini
    2:30 pm on January 8th, 2010

    @ Maria: tengkiyuu… tengkiyu juga sudah jadi temanku. berkah dalem full :)

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>