To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras, Kembali Cerdas)

(lanjutan dari To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif))

Kembali Waras, Kembali Cerdas

“I’ll be home for Christmas” itu harus dibuat monumentalnya. Tahap pertama, “nodong” Romo Pakdhe – seorang sahabat baikku – untuk Sakramen Tobat. Urusan mengakui dosa campur curhat itu membuatnya terkaget-kaget. Setidaknya, beberapa kali ia menunjukkan ekspresi terperangah dan geleng-geleng tak habis pikir. Dari obrolan itu, ada banyak hal menarik bagi Romo Pakdhe untuk dijadikan bahan renungan. Beberapa pertanyaan yang cukup “ajaib” ditujukan ke Si Ayah.

Misalnya, “Kamu kan berhak untuk melarang Lini pergi.”

“Kalau Lini saya larang, dia akan makin menjadi. Kalau dibiarkan, dia akan sadar sendiri.”

“Seandainya kamu dilarang pergi, bagaimana?” Kali ini pertanyaannya padaku.

“Gak apa-apa kalau dilarang asal detik itu juga kami pergi ke konseling atau apalah untuk menyelesaikan masalah ini.”

Atau misalnya, “Kamu kan punya pilihan untuk marah, tapi kenapa kok tidak marah?”

Si Ayah menjawab, “Saya kasihan aja, Mo. Jadi ya gak bisa marah.”

Aku terpana. Romo Pakdhe lebih terpana lagi. “Jadi cuma itu ya, karena kasihan lalu tidak bisa marah?”

“Iya.” Si Ayah polos sekali.

Rasanya detik itu aku yakin betul apa yang ada di benakku dan benak Romo Pakdhe, manusia ini terbuat dari apa ya?

Seusai itu, aku sempat dijitak Romo Pakdhe sambil mengantar kami ke pintu depan, “Kamu gak boleh aneh-aneh lagi ya!”

Aku cengengesan, seperti biasa.

Tahap kedua, Pembaruan Janji Nikah. Romo Pakdhe menawarkan supaya Janji Nikah yang sudah usang di ingatan disegarkan kembali. Tapi kapan waktunya? Di mana? Mau sih mau…

“Tanggal 26 Desember jam 6 pagi di sini ya! Mau?” Wih, masa ditolak? Ya mau banget! Tapi kok mendadak ya?

“Tahun depan kamu bikin lagi yang direncanakan.” Hm… bener juga. Oke deh!

“Tanggal 26 Desember jam 6 pagi di sini ya, Mo? Aku undang Om-Tante sama Bapak-Ibu ya.”

“Ya, boleh. Minggu depan ya.”

Maka “diaturlah” acara dadakan itu. Tercetus ide sampai pelaksanaan hanya selang seminggu. Mengabari Om-Tante sebagai Bapak-Ibu Perkawinan (Saksi Nikah Gereja) dan Bapak-Ibu Angkatku. Bapak-Ibu Angkatku berhalangan karena harus ngamen di Semarang dan Yogya. Namanya juga dadakan, ya begini risikonya. Untung Om-Tante dan adik-adik menyempatkan untuk hadir. Meminta doa restu seluruh jagat raya juga tak kalah penting. Paling gak, menikahnya tujuh tahun lalu terlalu ala kadarnya dan dihadiri keluarga dan sahabat dekat. Maunya kali ini direstui dan didoakan seluruh jagat raya. Siapa tahu tahun depan bisa merayakan bersama seluruh jagat raya itu. Kalau ada yang niat bangun pagi buta dan datang ke acara jam 6 pagi begitu ya aku akan sangat bahagia.

Kusempatkan berkirim SMS dengan Romo Paklik yang baru ditahbiskan, seorang sahabat baikku yang lain. “Aku mau Pembaruan Janji Nikah tanggal 26 Desember jam 6 pagi di Kapel. Aku mau kamu hadir. Bisa?”

Dijawabnya SMS-ku, “Bisa.”

Misa Malam Natal 24 Desember 2009, aku sengaja datang ke Paroki tempat Romo Paklik dipindahtugaskan. Agak jauh dari Bandung memang. Ini Misa Natal pertamanya. Demi sahabat baik, datang jauh-jauh juga diupayakan. Bubar Misa, aku sekeluarga menyalaminya.

“Wah, sampai sini juga…”

“Demi sahabat baik gitu lho…”

“Selamat Natal, Paklik!!” Si Sulung dan Si Bungsu gembira sekali.

“Selamat Natal!” Gayanya khas mengusap-usap kepala keduanya.

“Jangan lupa tanggal 26 jam 6 ya.”

“Sip! Aku akan datang.”

Dalam keadaan riuh begitu sulit untuk ngobrol dengannya.

Wis yo, sampai ketemu lusa.” Kami melambai dan menghilang di tengah kerumunan umat.

Sabtu, 26 Desember 2009 jam 5.45, kami berjalan kaki menembus udara pagi Bandung yang dingin menuju Kapel mungil tempat dilaksanakannya Misa itu. Romo Pakdhe sempat mengirim SMS, “Sudah sampai di mana?”

Kubalas, “Berjalan kaki separuh perjalanan.”

Tak lama, ada seorang laki-laki berdiri berkacak pinggang lalu berkata lantang, “Penganten kok jalan kaki? Kasian deeehhh…” Romo Paklik memang gayanya “anak muda banget” dan usianya memang lebih muda dariku. Kami yang sebetulnya lebih sibuk berjalan agak cepat tapi tidak membuat anak-anak tersiksa langsung tertawa.

“Paklik!” Suara anak-anak memecah heningnya pagi.

Ia diantar sopir Pastorannya. Naiklah kami ke mobil itu.

“Tadi aku lihat, kayaknya kenal deh. Kalian kan mencolok sekali karena masih pagi, masih sepi.” Ya iya laahh… Sabtu jam 5.45 pagi begini ada sekeluarga berpakaian rapi itu kan aneh. Kalau berpakaian jogging malah gak aneh.

Tiba di Kapel, Romo Pakdhe langsung menyambut sudah siap dengan jubahnya. “Selamat pagi. Lho, katanya berjalan kaki?”

“Selamat pagi, Mo. Ketemu berkah yang satu ini di tengah jalan tadi,” kataku sambil menunjuk Romo Paklik.

“Iya, kasian, Mo. Masa penganten jalan kaki, jadi saya angkut aja.” Romo Paklik terkekeh.

Tak lama, Om-Tante dan adik-adik datang langsung dari Bekasi. Berkenalan sekadarnya. Aku tidak ada niatan apapun menghadirkan dua orang Imam yang keduanya sahabat baikku. Romo Paklik malah bersiap langsung ke Stasiun usai Misa. Terlihat jelas dari jaket dan ranselnya. “Romo, mau pakai jubah?” Aku dengar Romo Pakdhe menawarkan. Sebentar saja keduanya mengenakan Kasula dan Stola, tanda bahwa seorang Imam siap memimpin Misa. Wah, berkah besar nih! Misa Pembaruan Janji Pernikahan dipimpin oleh dua orang sahabatku sekaligus! Lagi-lagi, berapa pasutri yang bisa memiliki berkah sebesar ini?

“Kamu sudah memilih lagu-lagunya?” Tanya Romo Pakdhe.

“Dulu lagunya apa?” Tanya Romo Paklik.

“Lupa.” Si Ayah nyengir.

“Terserah aja deh, Mo.” Aku berpaling pada Tante. “Terserah deh, Tan.” Tante mengangguk.

“Lalu bacaannya?” Tanya Romo Pakdhe sambil meluruskan Stolanya.

“Pakai yang di buku itu aja Mo, yang dulu. Biar sama dan biar diingatkan lagi.”

Misa dimulai. Romo Pakdhe memberi Pembukaan.

“Tujuh tahun lalu, Danny dan Lini memilih tema “to infinity and beyond”, menuju sebuah keabadian. Bahkan Buku Acara Nikah inipun masih tersisa dan tersimpan dengan baik.”

Bacaan Pertama dan Bacaan Injil diambil dari Buku Acara Nikahku tujuh tahun lalu. Bagian Homili (khotbah) ini yang menarik. “Nanti semuanya cerita bagaimana bertemu Lini dalam perjalanan. Dimulai dari Danny.” Walah…

Mengawali Homilinya, Romo Pakdhe membacakan kutipan di bagian akhir buku “My Life is An Open Book”.

Semua baik adanya

Meskipun kelabu lampauku

Biarkan jadi misteri

Biarkan saja karena aku lebih suka begitu

Biarkan sang waktu yang menjelaskannya

Mimpi itu indah

Mimpi penuh warna, tak lagi kelabu

Mimpi membuatmu menjadi lebih baik

Teruslah bermimpi meskipun hatimu luka

Tak ada larangan untuk bermimpi

Di situlah tempat di mana hidupmu masa kini dan akan datang

Hanya sejengkal batas

“Untuk menjadi buku yang terbuka dan bisa dibaca orang banyak itu diperlukan si “engkau” dan bukan hanya “aku” supaya menjadi “kita”.”

Romo Pakdhe bercerita tentang apa dan siapa serta bagaimana berkenalan denganku dan keluargaku dengan panjang-lebar-tinggi-dalam.

“Sampai-sampai hidupnya dibukukan. Dan kalau tidak begitu, bukan Lini namanya! Lini pernah menyebut “dua telinga dan satu mulut”, gitu ya Lin? Lalu Danny dengan kesabarannya menggunakan dua telinganya.”

“Danny telinganya tiga, Mo.” Aku nyengir. Semua tertawa. Romo Paklik sampai ngakak. Bahagia banget bisa ngetawain si Lini!

“Jalan Salib kehidupan perkawinan Lini memang tidak mudah. Makanya saya mengirim keluarga-keluarga bermasalah padanya untuk bisa berbagi. Kemarin sudah bertemu satu di Lembang dan bertemu satu lagi di Katedral.”

Dari semua pernyataannya, tidak diragukan lagi kalau setahun setengah ini aku memang diamati betul. Hm… itu sebabnya ya. Pantesan sudah dua keluarga bermasalah dikirim ke aku. Padahal, masalahku aja baru kelar, masa mau nasehatin orang?

Sekarang giliran Si Ayah.

“Ayo, sekarang Danny cerita.” Romo Pakdhe membawa “acara”.

“Pertama kali ketemu Lini itu rambutnya botak. Wah, nggak ada bagus-bagusnya sebagai cewek deh!”

Si Ayah cerita mulai dari awal kenalan sampai akhirnya yakin untuk menikah.

Lagi-lagi, Romo Paklik sampai ngakak. Puas deh! Romantikanya mirip dagelan apa ya?

Giliranku.

“Sekarang Lini. Ayo, Lin,” kata Romo Pakdhe.

Aku cerita kencan pertama yang menarik dan kelangsungan percintaan sampai hari ini. Toh, yang diceritakan versi Si Ayah dan aku semua sudah ada di buku “My Life is An Open Book” itu, tapi gak ada salahnya diceritain langsung.

“Danny itu cowok Katolik kesekian yang bikin aku jatuh cinta. Ya sudah, makin kepingin migrasi deh. Katekumen sendiri, belajar sendiri.”

Sampai akhir ceritaku ternyata gak ada bagian yang bikin tertawa. Kenapa ya?

Giliran Tante.

“Bapak-Ibu sebagai yang mendampingi sejak tujuh tahun lalu. Silakan…”

“Saya Batak, suami Jawa. Jadi ya mirip-miriplah urusan unggah-ungguh Jawa-Batak yang suka gak nyambung itu,” Tante senyum malu-malu.

“Ooo… gitu… Ya ya…” Romo Pakdhe tertawa.

Giliran Romo Paklik.

“Ini juga teman seperjalanan. Ayo, Romo,” Romo Pakdhe mempersilakan.

“Danny itu hebat bisa tahan kupingnya. Saya kalau telepon sama Lini itu baru “halo” langsung jauhin telepon atau di-speaker sambil ngerjain yang lain.” Romo Paklik membuka ceritanya dan geli sendiri.

“Pertama ketemu juga di sini, setahun lalu. Begitu bertukar nomor telepon, wah provider-nya sama, asyik nih makin murah! Lalu cerita soal bukunya. Karena saya juga ada maunya, ya kerja sama buku itu berjalan sampai puncaknya di Acara Kemping itu. Saya membaca bukunya Lini itu ingat sama sosok Ester di Kitab Suci atau Roro Mendut di kisah pewayangan. Lini itu beda, gak seperti sosok wanita yang manut aja. Senang melakukan hal baru dan berbeda. Saya salut sama Danny yang dengan setia mengantar ke Bandung dan Lini dengan semangatnya, “ke Banduuung…!” Saya melihat keluarga ini dengan keunikannya bisa bertahan. Saya extrovert, Lini extrovert, jadilah “kacau”.”

Romo Paklik dengan gayanya yang khas dan ekspresif bercerita. Rasanya dari semua testimoni, punya Romo Paklik yang paling jujur dan kocak.

Giliran Si Sahabat Nuliser yang sekaligus teman SMA Si Ayah.

“Waktu itu iseng ikutan jadi fans Yuk Nulis!. Terus liat blognya Lini, liat suaminya lho kok kayak temen SMA-ku? Aku kirim imel ke Danny. Eh, bener. Terus baca bukunya Lini. Wah, orang ini antik banget!”

Si Ayah menimpali, “Perlu dilestarikan ya?” Semua terkekeh.

Terakhir, aku menambahi, “Mo, kemarin aku baru bilang pada seorang Ibu Tunggal. Ada banyak alasan untuk berpisah, tapi aku punya lebih banyak alasan untuk bertahan.” Suasana mendadak hening. Wah, kok jadi hening? Ada yang salah?

Showtime!

Saatnya mengucapkan lagi Janji Nikah yang tujuh tahun lalu diucapkan. Sengaja menggunakan janji yang sama biar makin mantap, hehehe… Dulu, diucapkan sambil menumpangkan tangan di atas Alkitab, karena ini hanya pembaruan maka tidak perlu menumpangkan tangan.

“Lini (pakai nama lengkap tapi gak usah dicantumkan di sini lah yaa…), saya memilih engkau menjadi istri saya. Saya berjanji setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit, dan saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup. Demikianlah janji saya demi Allah dan Injil suci.”

“Danny, saya memilih engkau menjadi suami saya. Saya berjanji setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit, dan saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup. Demikianlah janji saya demi Allah dan Injil suci.”

Romo Pakdhe kemudian meneguhkan kembali sakramen perkawinan ini.

“Atas nama Gereja Allah dan di hadapan para saksi serta hadirin sekalian, saya menegaskan bahwa perkawinan yang telah diresmikan ini adalah pembaruan perkawinan Kristen yang sah. Semoga sakramen ini menjadi bagi saudara sumber kekuatan dan kebahagiaan.

Yang dipersatukan Allah…”

“Janganlah diceraikan manusia,” semua yang hadir menjawab.

Peneguhan kembali ini ditutup dengan, “Sekarang Danny dan Lini berpelukan disaksikan anak-anak.”

Suasananya mungkin tidak semengharu biru tujuh tahun lalu. Dengan posisi duduk Si Sulung di antara kami dan Si Bungsu yang tertidur di pangkuanku, memang ini bukan lagi kemesraan sepasang suami-istri tapi sepasang Ayah dan Ibu di tengah anak-anak.

Doa Umat diintensikan bagi Alm. Papa Lubis dan Alm. Papa Kiem, bagi Mama Siregar dan Mama Oey, bagi Om-Tante dan Bapak-Ibu Angkatku, bagi Romo Pakdhe dan Romo Paklik, bagi seorang sahabat yang menitipkan intensinya, bagi semua orang tua tunggal, bagi semua anak-anak kurang beruntung, dan bagi semua keluarga bermasalah.

Tiba saatnya Ekaristi. Ketika Komuni, Si Ayah dan aku saling menyuapi komuni dalam dua rupa roti dan anggur. Duh, mesranya… Kali ini tidak segrogi dulu. Mungkin karena sudah pernah saling menyuapi komuni hehehe…

Setelah Komuni, Si Ayah dan aku kembali meminta restu dari Bunda Maria, juga menggunakan doa yang sama dengan tujuh tahun lalu. Ketika khusyuk mengucapkan doa, kurasakan tangan Tante merangkul bahu kami dengan bonus isak haru tertahannya. Seandainya ada yang mengiringi dengan lantunan Ave Maria…

Usai misa, waktunya foto dan makan!

Aku belum pernah berfoto dengan Romo Paklik mengenakan Kasula dan Stola sejak ia resmi jadi Imam. Maka ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan karena ia sering mengeluh sumuk (panas) di dalam Kasulanya.

Malam sebelumnya, kami sempat main ke rumah Si Sahabat Nuliser itu. Ia memberiku seloyang besar puding buatannya. Daripada tak termakan, malam itu kukatakan kalau pudingnya akan kujadikan konsumsi pagi ini. Jadi, menu pagi ini adalah puding buatan Si Sahabat Nuliser, roti daging, dan beberapa menu yang terdampar pasrah di meja makan Pastoran.

Menjelang doa makan, Romo Paklik pamit. “Sori banget, saya mau langsung ke Yogya. Selamat berpesta ya!”

“Wah, Romo gak seru nih gak ikut makan!” Aku protes.

“Naik apa, Romo?” Tanya Si Ayah.

“Naik kereta jam 8.”

“Wah, itu sih gak bisa ditawar,” Si Ayah nyengir.

“Makasih ya, Mo.” Aku memberi pelukan hangat untuknya.

Selepas kepergian Romo Paklik, kami doa makan lalu menyantap semua yang ada di atas meja.

Tidak lama kemudian, Si Sahabat Nuliser pamit pulang, “Mau buka toko.” Waktu menunjukkan jam 8 pagi. Kalau tokonya kesiangan buka, bisa rugi nanti dia. Menjelang siang, Om-Tante dan adik-adik pamit pulang. Aku juga pulang untuk melanjutkan perjalanan mudik ke Purbalingga, kampung halaman Si Ayah. Kapel Mungil itu sudah jadi saksi. Pastoran kembali sepi.

Dua kali mengucapkan janji yang sama. Aku baru sadar bahwa kalimat sederhana itu sungguh mengenaskan kalau hanya jadi prasasti di Buku Acara Pernikahan. Masih bagus kalau ingat kata-kata “dalam untung dan malang” meskipun pelaksanaannya tidak selamanya sukses.

“Saya memilih engkau”, jelas terlihat bahwa aku dan Si Ayah yang berperan aktif dalam memilih pasangan. Bukan dipilihkan atau dipaksa. “Itu pilihanku” kata lainnya begitu.

“Saya berjanji setia kepadamu dalam untung dan malang” jelas bukan “dalam untungnya saja, malangnya nanti dulu”. Dalam senangnya saja, dalam makmurnya saja, dalam sehatnya saja. Ketika susah, ketika melarat, ketika sakit urusannya jadi lain. Menariknya, dalam banyak perkawinan justru ketika perekonomian membaik hubungan malah memburuk. Yang paling mungkin dikambinghitamkan adalah kesibukan memperbaiki si perekonomian itu. Sadar atau tidak, keintiman – yang didalamnya terdapat upaya meluangkan waktu dan perhatian – digantikan dengan mata uang. Padahal The Beatles sudah menyanyikannya sejak tahun 1960an, “Can’t buy me love…”

“Saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup” jelas bukan “seumur jagung”. Ketika Kursus Persiapan Perkawinan dan proses Kanonik dulu, aku ditanya, “Kamu yakin mau hidup dengan calon suamimu selama 25-50 tahun?” 25-50 tahun usia pernikahanku maka aku berumur 50-75 tahun. Artinya memang seumur hidup. Bukan untuk 5 tahun pertama, 5 tahun kedua, dan seterusnya.

“Demi Allah” itu bukan perkara main-main. Ketika berjuang melawan perpisahan yang bukan disebabkan hal prinsip, dasar pemikiran untuk mempertahankan bukan “demi anak-anak” apalagi “demi harta gono-gini”. Aku berpikir bahwa perkawinan tidak sehat yang dipertahankan demi anak-anak sungguh siksaan bagi mereka. Tidak semua anak bisa menerima kehidupan orang tuanya yang dipenuhi amarah setiap hari. Lagipula, siapa dapat menjamin jika kelak anak-anak itu tetap memiliki citra perkawinan yang sehat?

Seorang teman pernah berkata padaku, “Perceraian membuat anak-anak terluka.” Seorang teman lain sependapat denganku, “Jika dalam rumah tangga setiap hari terjadi saling teriak dan caci-maki, piring terbang harfiah yang bukan UFO, bahkan kekerasan, justru dengan tetap terikat pernikahan anak-anak akan terluka.” Dalam hal ini, aku dan teman tersebut memiliki sejarah orang tua yang tidak harmonis. Bagi golongan kami berpendapat “lebih baik kalian berjauhan tapi damai daripada berdekatan tapi perang”. Anak-anak justru merekam bahwa begitulah bentuk perkawinan, boleh memaki, boleh menerbangkan piring, boleh memukul. Pilihan lainnya, anak-anak itu ketika dewasa memilih untuk tidak menikah daripada menikah tapi “terjajah”. Dalam kedua konteks itu, tidak satupun citra sebuah pernikahan adalah kebahagiaan. Aku sendiri, seandainya tidak memiliki panutan pasutri yang harmonis tidak akan pernah tahu seperti apa rumah tangga yang sehat.

Kata-kata “yang dipersatukan Tuhan janganlah diceraikan manusia” fasih diucapkan tapi gagap dipertahankan. Memang ada kalanya sebuah perpisahan dapat dimaklumi karena kasus yang berat atau prinsip mendasar. Romo Pakdhe sendiri terhadap Ibu yang kutemui di Lembang itu mengijinkan jika memang hendak berpisah karena demikian berat polemik rumah tangganya.

Persoalan domestikku dan persoalan domestik beberapa orang yang datang padaku sungguh membuatku merenung dalam. Betapa romantisme di banyak lagu dan film cengeng menggambarkan ceteknya sebuah cinta. Tidak ada rasa sakit dan perjuangan di sana. Cinta digambarkan sebatas lambang hati, warna pink, bunga, sekotak coklat dan kecupan mesra. Pada perkawinan, itu cuma jadi garnish atau penghias hidangan, bukan jadi menu utama itu sendiri.

Sampai aku menulis ini, aku masih tidak paham apa itu “mencintai sampai sakit”. Aku hanya tahu bahwa cinta dalam perkawinan menguras banyak air mata. Membuat banyak luka, lebih banyak memaafkan dan mengampuni – lebih dari tujuh puluh kali tujuh kali. Membuat dua orang bekerja keras membuat cinta menjadi kata kerja dan bukan kata sifat apalagi kata benda. Sebab cinta adalah keputusan, kemauan, dan kehendak untuk membahagiakan. Setidaknya, itulah yang akan kutekankan jika anak-anakku kelak akan menikah.

Perjalanan menuju Purbalingga, dari mp3 player di mobil terdengar tembang lawas Kenny Rogers “Through the Years”. Salah satu tembang kesukaanku. Tapi kali ini berhasil membungkamku untuk bernyanyi karena sumbang blas akibat banjir air mata mengiringi hujan sepanjang jalan. Mensyukuri berkah Pemberkatan Nikah tujuh tahun lalu dan Pembaruan Janji Nikah hari itu. Dua kali boleh saling menyuapi komuni. Dipimpin oleh dua sahabat baik sekaligus. Seorang teman mengirim SMS, “Betapa bahagianya, berkah luar biasa.”

Lalu kubalas, “Setiap orang dan setiap pernikahan memiliki salibnya sendiri.” Kawin lari adalah situasi yang sangat tidak menyenangkan. Justru semakin mengingatkanku bahwa perjuangan yang berat dengan berkah yang luar biasa sangat tidak sebanding dengan akhir romantika yang jadi picisan. Sungguh ada banyak alasan bagiku untuk berpisah tapi ada lebih banyak alasan bagiku untuk terus bertahan. Dengan begitu banyak hal yang membuat orang lain iri, menunjukkan bahwa betapa bodohnya aku yang membuat romantika rumah tanggaku jadi picisan.

Akhirnya, genggaman tangan yang tidak sedramatis remaja kasmaran cukup menggambarkan bahwa aku adalah aku, kamu adalah kamu, kita adalah kita.

I can’t remember when you weren’t there
When I didn’t care for anyone but you
I swear we’ve been through everything there is
Can’t imagine anything we’ve missed
Can’t imagine anything the two of us can’t do

Through the years
You’ve never let me down
You’ve turned my life around
The sweetest days I found
I found with you

Through the years
I’ve never been afraid
I’ve loved the life we’ve made
And I’m so glad I stay
Right here with you
Through the years

I can’t remember when I used to do
Who I trusted, who I listened to before
I swear you tought me everything I know
Can’t imagine needing someone so
But through the years it seems to me
I need you more and more

Through the years
Through all the good and bad
I know how much we had
I’ve always been so glad to be with you

Through the years
It’s better everyday
You’ve kissed my tears away
As long as it’s okay
I’ll stay with you
Through the years

Through the years
When everything went wrong
Together we were strong
I know that I belong right here with you

Through the years
I never had a doubt
We’ve always worked things out
I’ve learned what life’s about by loving you
Through the years

(Through The Years, Kenny Rogers)

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , , , , , , , , , , ,

This entry was posted on Tuesday, January 5th, 2010 at 4:52 am and is filed under To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras-Kembali Cerdas). You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

15 Responses to “To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras, Kembali Cerdas)”

  1. To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)
    7:44 am on January 5th, 2010

    [...] bersambung ke To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras, Kembali Cerdas) [...]

  2. Fonny
    10:08 am on January 5th, 2010

    Gw selalu suka ‘Through the Years’, Lin… Dan ceritamu bikin gw terharu… Bahwa memang cinta bukan lagi kata benda ketika kita memutuskan untuk menikah dan bertahan. Karena dia memang butuh banyak tindakan aktif untuk membuktikan tetap saling cinta.
    Selamat untuk janji yang diteguhkan. Semoga tetap setia sampai akhir. GBU, Danny, Si Sulung dan Si Bungsu. It’s also a blessing to know you. Last but not least: tetap men-sugesti ya (pssst, teringat review seseorang akan elo yang elo twit hahaha:P)

  3. fekhi
    10:36 am on January 5th, 2010

    sip dehhhh… semakin kujalani hari, semakin kusadari, bila cinta itu identik dengan maaf

  4. Lini
    11:05 am on January 5th, 2010

    @ Fonny: tengkiyuu Fon. ntar gue jadi hipnoterapis deh wkwkwk
    @ Femi: cihuuuyyy…

  5. martina
    11:16 am on January 5th, 2010

    Lini dan Danny,
    proficiat untuk pembaharuan janji perkawinan kalian ya…..! Aku bersyukur boleh mengenalmu Lin, meskipun hanya lewat dunia maya…(aku selalu merasa sudah mengenalmu bertahun-tahun gara bukumu). Kudoakan kalian selalu bahagia….! Sama seperti Femi..sepuluh tahun ini…aku merasa bahwa cinta identik dgn memaafkan…dgn mengampuni…..maka semuanya akan menjadi baik kembali. God loves you full. Salam buat Danny dan anak2.

  6. angel li
    11:35 am on January 5th, 2010

    Jd nangis liat acara peluk2annya… Maap ya ga bisa hadir. Tapi doa-nya selalu dikirim kok dari sini. I’m happy for you, frend. Keep the spirit. Be happy always :-D

  7. Lini
    12:13 pm on January 5th, 2010

    @ Tina: tengkiyuu Mbak :D
    salam juga buat Pilar-Altar-Lunar n bapaknya ;)

    @ Angel: whoaa… gitu ya. tengkiyuu Ngel :D

  8. San San
    4:25 pm on January 5th, 2010

    Ma kasih ya Lin, aku boleh ikut jadi bagian sejarah kalian, hehehe… Tapi banyak yang g & Chandra pelajari dari hubungan kalian, yang penting hikmahnya ya Lin. Semua pasangan pasti deh kayanya ngalamin masa-masa butuh konseling, tapi sedikit yang bisa melewati badai dgn kapal utuh,apalagi jadi kapal baru, kinclonggg!! Iya kan? :)

  9. Lini
    4:44 pm on January 5th, 2010

    @ San San: tapi kata Intan temen gue, klo abis dibikin kinclong trus kena badai lagi pasti lebih dalem lukanya. jadi ya sedia payung sebelum hujan hehehe… tengkiyu ya San

  10. Si Toing
    7:52 pm on January 5th, 2010

    komen apa lagi ya ? hehehe …. koq vol II lagi seh ??? bukannya III ?

    udah ah, tar kebanyakan komen jadi picisan ….yg penting lo tau lah apa yg ada dikepala dan hati gw …..okeh ???

    Piiiissss …….

  11. Lini
    8:10 pm on January 5th, 2010

    @ Intan: iya ah, ntar jadi picisan. lewat sms aja kli ye ;)

  12. Christian Yuliandi
    12:05 am on January 6th, 2010

    Selamat ya sudah pembaharuan pernikahan. Banyak yg bisa saya pelajari dari kasus Lini. Memang aku & Dewi baru 3 tahun bersama, tapi aku sudah mengendus bakal2 masalah yg akan muncul. Makasih, ya Lin, dan selamat sudah mendapat berkah besar dgn pembaharuan spt itu…

  13. Lini
    11:21 am on January 6th, 2010

    @ Christian: tengkiyu yaa… semoga damai sejahtera dengan Dewi. Berkah Dalem full :)

  14. (Gisela) Rani Irmina
    8:46 pm on January 6th, 2010

    K’Lini,
    makasih y dah share..

    Aq jadi membayangkan dan diajak merenung, ‘apa yg akan terjadi saat aku memutuskan untuk menikah kelak dan saat menjalani pernikahan tersebut’

    Thx banget y K’Lini ^^
    Salam buat kluarga
    Gbu,
    -rani-

  15. Lini
    10:58 pm on January 6th, 2010

    @ Rani: kembali kasih. salam juga buat keluarga. berkah dalem full :)

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>