Ungkapan Cinta untuk Bapa Uskup
Sabtu, 27 Desember 2008, Bapa Uskup genap berusia 59 tahun.
Ketika aku sedang menunggui Mama Mertua di Rumah Sakit, Bapa Uskup kirim SMS, “Lini, besok datang ke ultahku ya, ada misa pagi di kapel.”
Wooooowwww… seperti anak kecil aku melonjak kegirangan. Mimpi apa diundang ke ultah orang sepenting Bapa Uskup?
Jam 7 kurang aku dan Si Ayah tiba di Green House. Beberapa orang sudah datang. Misa di kapel mungil itu penuh sesak. Diikuti setidaknya 20 orang. Intensi misa dipersembahkan untuk ultah Bapa Uskup sekaligus pesta Santo Yohannes sebagai santo pelindung Bapa Uskup.
Setelah itu sarapan bersama. Tapi ternyata banyak tamu yang juga mulai berdatangan. Tentu mereka mengenakan pakaian yang pantas ke sebuah perayaan. Wah, kayaknya salah kostum niy, cuma pake kaos jeans dan sandal. Kan niatnya cuma ikut misa pagi. Lagian bekal pakaian untuk setidaknya 11 hari di Bandung hanya ada 1 baju batik dan 1 kemeja untuk misa Natal. Acara sepenting ultah Bapa Uskup di luar rencana. Dasar aku yang pedenya pol, cuek aja salah kostum juga. Bahkan untuk menunjang penampilan, sekalian aja ikut membantu para staf Green House beberes ini-itu. Saking meyakinkannya, banyak orang sungguh mengira aku staf Green House. Apalagi aku terlihat akrab dengan para “abdi dalem”.
Sejak pagi hingga menjelang sore, tak kurang dari sekitar 200 orang berkunjung untuk memberi ucapan selamat. Segala usia, segala kalangan. Anak-anak sampai para lansia. Para awam hingga para Suster dan Romo, bahkan seorang teman yang mengenakan jilbab.
Cinta memang sungguh bersayap yang bisa terbang tinggi.
Cinta memang sungguh seperti angin yang berhembus ke mana saja.
Cinta memang sungguh menembus segala dimensi ruang dan waktu.
Sekian banyak orang mempersembahkan hadiah terbaik bagi Bapa Uskup. Berbagai bentuk dan ukuran, terutama hasil karya tangan sendiri. Bahkan Mas Chris, salah seorang “abdi dalem” melukis dengan indah sekali. Lukisannya diselesaikan dalam waktu satu bulan.
“Kok lama sekali?” Ujar Bapa Uskup.
“Kan nemenin Monsinyur terus. Itu aja nginep-nginep nguyekin malam-malam sendirian…” jawabannya diwakili Bi Etty, “abdi dalem” lainnya.
“Wah, klo buat Monsinyur bisa sebulan, aku mau pesen bisa-bisa setaun ya?”
Yang bersangkutan malah sibuk cengengesan. Hee…
Salah satu hal lain yang menarik juga ketika para lansia berkunjung. Ada seorang Oma yang sudah sepuh sekali, usianya mungkin 80an tahun. Dalam kepikunannya, ia masih hapal berbagai lagu berbahasa Belanda. Yang dinyanyikannya kemarin antara lain Bunga Anggrek dan Selamat Ulang Tahun dalam bahasa Belanda. Salah seorang Opa pensiunan Romo juga diminta untuk bernyanyi, antara lain Feeling dan Honolulu. Lagunya tidak utuh memang, karena diakhiri dengan “… lupaa…”
Belum lagi ketika ia bercerita bahwa jika ia sakit, itu hanya malas bukan sakit. Padalah menurut pengurus panti, Opa sungguh sakit.
Hahaha…
Di tengah para lansia itu, kegembiraan selalu hadir. Sepanjang kunjungan, gelak tawa terdengar hingga ke dapur tak henti-henti. Tidak ada kerut sungut di wajah mereka. Keceriaan itu menular ke semua yang ada di Green House. Terbawa terus hingga saat ini. Luar biasa, berada di tengah para lansia dengan segala keceriaannya. Menghibur mereka yang kesepian. Pernahkah terpikir oleh kita bahwa para lansia itu kesepian? Bahwa mereka tidak selalu menyebalkan? Ketika mereka dijadikan bulan-bulanan karena kepikunannya – seperti ketika Opa salah mobil – mereka bahkan tidak tersinggung? Menyaksikan tingkah polah para lansia itu saja cukup membuat Bapa Uskup tergelak panjang.
Bapa Uskup ibarat Eyang Kakung bagi anak-anak. Ada dua anak yang senang bergelayut di lengannya. Diajak bermain teka-teki, bahkan yang sedikit aneh, mau saja diberi tato anak-anak temporer bergambar bintang berwarna merah.
Bapa Uskup juga manusia. Ada kalanya bosan atau bete. Sesekali kulihat ia duduk sendiri, tidak di tengah keramaian. Mengumbar senyum hangatnya sepanjang hari tentu melelahkan. Keramahannya tak luntur hingga malam. Menerima tamu tak henti selama setidaknya 14 jam sejak jam 7 pagi hingga 9 malam. Nyaris tanpa istirahat sore. Padahal malam itu ia harus berangkat mudik ke kampung halamannya di Solo, di mana Ibundanya sudah menanti.
Kecintaan semua orang yang memberi salam – baik tatap muka, email, SMS, maupun social networking – tentu bukan tanpa alasan. Semua mengungkapnya rasa cintanya pada Sang Sahabat, Si Pemahat Kata, Si Pemilik Telinga Yang Baik, Bapa Uskup yang jadi junjungan umat Bandung dan sekitarnya.
Hari itu, sungguh aku melihat ia sebagai sosok manusia yang utuh, dengan kekurangannya. Tidak ada manusia yang sempurna. Bahkan Yesus sendiri memiliki rasa takut saat berdoa di Taman Getsemani. Lengkap sudah sosok Bapa Uskup yang kulihat sepanjang hari itu.
Bertambah satu usiamu
Oh semoga penuh warna
Semakin indah hatimu
Berikan cinta tuk semuaKau telah tercipta
Sebagai insan istimewa
Tumbuh dalam jiwa
Terus bahagia dan raih citaSyukur tuk Yang Kuasa
Atas beragam anugerah
Kusertakan doa
Panjang umur kasih berlimpahIkuti hidup yang mengalir
Dan reguklah hingga akhir
Karena dunia terus berubah
Jangan kau terlena dan goyah(Tambah Usia, KLa Project)
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Bandung, Doa, Kasih, Sahabat, Si Ayah, Syukur, Ulang Tahun
This entry was posted on Saturday, December 27th, 2008 at 6:58 pm and is filed under Ungkapan Cinta untuk Bapa Uskup. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








