Valentine dan Gereja
Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 12, Februari 2010
Gereja tidak merayakan Valentine secara khusus meskipun di banyak Paroki diadakan berbagai acara OMK, KKMK dan sebagainya. Biasanya bertema seputar urusan percintaan. Tapi, seberapa jauh peran Gereja dalam berbagi kasih sayang?
Sejak abad ke-14, perayaan atas wafatnya martir St. Valentinus tanpa sebab yang jelas berubah menjadi perayaan romantisme sepasang kekasih yang diwujudkan dengan saling mengirim pesan cinta. Sejak itu pula perayaan Valentine digambarkan dengan Cupid dan gambar hati.
Itu sebabnya kasih sayang dalam perayaan Valentine dimaknai secara dangkal sebatas percintaan muda-mudi yang cukup diwakilkan lewat sekotak cokelat, setangkai bunga dan sepucuk surat cinta. Nyaris tidak ada perwujudan kasih sayang yang konkret di situ. Padahal, kasih sayang jauh melebihi itu. Kasih sayang bukan monopoli sepasang kekasih. Kasih sayang juga milik pasangan suami-istri, orang tua terhadap anak, anak terhadap orang tua, sesama sahabat, Gereja pada umatnya bahkan bagi mereka yang kurang beruntung. Kasih sayang terbang tinggi menembus segala macam batasan termasuk batasan keyakinan. Kasih sayang adalah kata kerja, bukan kata sifat atau kata benda.
Valentine adalah soal membahagiakan, berbagi kasih sayang. Coba Anda bayangkan jika kasih sayang itu hanya milik sepasang kekasih, betapa merananya mereka yang tidak berpasangan. Lalu, karena monopoli itu, Gereja yang tidak berpasangan jadi tidak bisa merayakan Valentine, termasuk di dalamnya para kaum berjubah. Di lain pihak, para pasutri jarang merayakan Valentine karena dianggap terlalu picisan dan sudah lewat masanya. “Sudah tua, sudah tidak pantas, malu sama yang muda,” begitu jawaban umum yang keluar. Apa karena perkawinan tidak “semanis” citra Valentine yang penuh dengan bunga dan permen cokelat?
Sosok macam Paus Johannes Paulus II, Ibu Theresa dan Romo Mangun justru sangat konkret menyimbolkan kasih sayang Gereja pada umatnya. Dalam membagi kasih sayangnya, kedua sosok ini “menanggalkan” jubahnya dan membaur dengan semua orang di sekitarnya. Membantu siapa saja yang membutuhkan tanpa memeriksa identitasnya lebih dulu, baik soal keyakinan maupun tingkat kemakmuran.
Ada sebuah kompleks Gua Maria yang membaur dengan umat sekitarnya. Pembauran ini terbukti dari sikap para pedagang makanan yang meyakini bahwa kompleks Gua Maria itu sungguh tempat berdoa untuk segala keyakinan bukan hanya umat Katolik. Jika kita perhatikan dengan seksama, banyak umat sekitar yang mencari nafkah di situ baik dengan berdagang cinderamata dan makanan di beberapa kios yang berjajar rapi maupun yang bekerja sebagai pengurus taman berseragam biru.
Di sebelah lokasi para pedagang terdapat sebuah penginapan yang terlihat masih baru. Tentu para pekerjanya adalah warga sekitar. Bagi peziarah yang ingin merasakan suasana pemukiman asli juga bisa menginap di rumah penduduk dengan harga bervariasi sesuai fasilitas mulai dari kamar kosong ala kadarnya sampai kamar yang sudah lebih “komersil”. Bisa dibayangkan jika perekonomian warga sekitar cukup maju. Warga sekitar juga ikut menjaga kompleks Gua Maria seiring dengan meningkatnya rasa memiliki. Tidak ada petugas parkir yang memungut iuran, hanya diletakkan sebuah kotak bertuliskan “sumbangan sukarela Gua Maria”. Jika enggan membayar pun Anda tidak akan diprotes.
Di sebuah lokasi ziarah yang lain justru tampak eksklusif. Lokasinya terpencil dari lingkungan sekitar dan dibatasi pagar. Makanan yang dijajakan hanya tersedia di kantin yang dikelola oleh “pengurus” kompleks. Hanya segelintir warga sekitar yang bekerja di situ. Bahan makanan yang diolah di kantin itu pun dikirim dari luar kota, padahal di sekitar kompleks subur dengan segala macam sumber pangan, perkebunan, sawah-ladang, serta peternakan. Toko cinderamata dikelola secara “profesional” yang juga berada di dalam kompleks. Peziarah tidak memiliki pilihan selain makan di kantin dan belanja di toko cinderamata itu. Tidak heran jika warga sekitar rawan rasa memiliki sehingga malas untuk ikut menjaga kompleks. Warga sekitar dengan “cerdik” memungut iuran numpang lewat bagi para peziarah dengan tarif tertentu. Stipendium bagi umat yang menitipkan intensi tidak terhitung jumlahnya. Lihat saja dari berbagai mobil mewah yang berjajar di areal parkir. Amplop-amplop dimasukkan ke dalam beberapa kotak sesuai kategori intensi. Tidak heran jika kompleks ziarah terlihat mewah, tapi apakah kemakmuran itu menular ke warga sekitar?
Dalam urusan pembangunan Gereja, ada dua wajah pembangunan Gereja yang ironis. Satu wajah menunjukkan betapa sulitnya membangun Gereja dengan bangunan sederhana baik dari segi ijin maupun dari segi dana. Wajah satunya lagi menunjukkan bahwa “kesulitan” itu berupa memewahkan rupa Gereja dengan dalih fasilitas dan kenyamanan. Miris memang mendapati bahwa di balik tembok Gereja yang mewah dan gagah itu ada sebuah kompleks perumahan kumuh dan miskin yang tidak ikut merasakan sebuah “kehidupan yang layak”. Boro-boro merasakan, untuk minta air bersih pun jangan-jangan diinterogasi dulu.
Oknum Romo Paroki yang eksklusif di kota-kota besar juga lebih konkret ketimbang perwujudan kasihnya. Romo Paroki lebih mudah dihubungi untuk makan malam daripada kunjungan ke lingkungan atau umat yang membutuhkan kasih seorang Gembala. Semangat dilayani jadi lebih kental daripada semangat melayani. Di pelosok, sosok Romo Paroki yang welas asih dan mengayomi lebih mudah ditemukan. Romo Paroki sulit ditemui karena sibuk berada di tengah umatnya yang jaraknya jauh dari Pastoran.
Pada banyak sekolah elit Katolik, umat yang rumahnya berdekatan dengan sekolah dan ingin menyekolahkan anaknya di situ tapi tidak mampu juga cuma bisa gigit jari. Jangankan surat keterangan miskin dari Paroki, untuk diskon karena dua anaknya berbarengan masuk TK dan SD saja tidak ada. Lalu esensi sekolah Katolik diprioritaskan untuk umat Katolik diberi catatan “bagi yang mampu”.
Pada kasus tertentu, mengajukan bantuan ke Gereja pun sulit. Anang YB dalam bukunya Sandal Jepit Gereja menceritakan seorang Bapak yang mengajukan bantuan dana untuk membayar uang sekolah anaknya yang nunggak selama setengah tahun dan terancam dikeluarkan. Dengan berbagai “alasan” toh Gereja tidak mampu berbagi kasihnya. Tokoh Pak Keling memutar otak dan mengadakan proyek “Koin Untuk Yesus”. Mengumpulkan uang receh dari para umat dan akhirnya anak yang nyaris putus sekolah itu bisa ke sekolah dengan bahagia. Di cerita lain dalam buku yang sama, Pak Keling mengajak umatnya merayakan Paskah dengan berbagi kasih dengan Pak Totok, seorang petugas keamanan berhonor tiga ratus ribu perbulan. Rumah Pak Totok yang semi permanen dan sangat mengenaskan bisa disulap menjadi rumah sangat sederhana layak huni.
Ada satu tokoh lagi yang juga berbagi kasih dan Gereja boleh bangga padanya. Seorang Bapa Uskup yang rajin kunjungan ke daerah terpencil, memperhatikan kesulitan umatnya, merealisasikan “lima roti dua ikan” yang menjadi pedoman hidupnya. Bahkan, rumahnya terbuka bagi siapa saja yang ingin berkunjung atau Misa pagi harian di Kapel mungil miliknya. Dalam sejarah Keuskupan tempatnya bertugas, umat dibuat tercengang dengan keterbukaannya. Bapa Uskup ini juga yang mempelopori kunjungan Hari Raya Idul Fitri ke Pejabat Daerah setempat. Selanjutnya, setiap Natal dan Paskah perwakilan dari kerukunan antarumat beragama berkumpul di pelataran Katedral.
Sekali lagi, seharusnya Gereja boleh bangga memiliki sosok macam Bapa Uskup dan Pak Keling ini.
Kasih sayang menjadi semakin mahal. Kasih sayang semakin menjadi wacana liturgis yang mengawang-awang dan entah kapan menjejak bumi. Bapa Uskup baik hati itu dalam tugasnya “mau tidak mau” didukung Gereja. Bagi Pak Keling dan beberapa orang lainnya, harus mandiri dan lepas dari administrasi Gereja untuk bisa berbagi kasih. Jangankan niat berbagi kasih dengan dukungan Gereja, umat yang mempertanyakan “keberadaannya” (baca: pertanggungjawaban sumbangan pembangunan Gereja) saja berisiko dikucilkan.
Gereja dapat berbuat sangat banyak ketimbang hanya merayakan dalam pesta. Gereja bisa menjadikan hari Valentine sebagai aneka kegiatan sosial yang mewujudkan kasih sayang dengan lebih konkret dan bukan hanya sebatas bacaan-bacaan Injil yang setiap Minggu dikumandangkan dan menjadi prasasti dalam Kitab Suci.
Valentine ini, mari berbagi kasih, dengan atau tanpa Gereja, dimulai dari diri sendiri. Yesus berbagi kasih dengan segala macam manusia – tanpa memandang ia berdosa atau tidak – demi Bapa-Nya, bukan demi Gereja.
Selamat merayakan Hari Kasih Sayang! Kristus mencintaimu. Aku mencintaimu, Teman.
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Gereja, Majalah Kuasa Doa, Valentine
This entry was posted on Friday, February 5th, 2010 at 8:31 pm and is filed under Valentine dan Gereja. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.










8:46 pm on February 5th, 2010
Mantap!
8:47 pm on February 5th, 2010
ow i love u 2
8:52 pm on February 5th, 2010
@ Frans: tengkiyu
@ Femi: lap yu puull…
9:21 pm on February 5th, 2010
Bagus artikelnya.
Andainya saja semua gereja bisa saling berbagi bersama dengan masyarakat sekitar.
9:22 pm on February 5th, 2010
Everyday is valentine 4 everyone who want it.
Lope u pullllll
9:43 pm on February 5th, 2010
@ Olyvia: lap yu pull tu!
12:54 am on February 6th, 2010
Bagus artikelnya mbak. ^^
6:47 am on February 6th, 2010
@ Andi: tengkiyu Andi
9:11 am on February 6th, 2010
[...] Lini Hanafiah Via Lattea Foundation http://www.via-lattea.org http://www.yuknulis.com ym: thegaris bagikan kabar gembira [...]
9:20 am on February 6th, 2010
Mbak Lini dengan gayanya telah berusaha menggeret kita pada rel yang benar untuk mengalirkan luberan kasih yang kita punya..
Nice posting!
2:19 pm on February 6th, 2010
Tulisannya bagus banget mbak lini…
ajarin dunggg…
aku mau minta tolong boleh gack?
aku di paroki aktifis dari seksi liturgi and baru berakhir masa jabatan kemarin januari.
Aku suka banget ba utk belajar nulis dan design..
aku sekarang gabung dengan seksi komsos di paroki.
aku di team redaksi majalah paroki.
tapi aku rada sulit utk menulis artikel hasil wawancara aku…
nah, temen-tmen rencanya mau undang seseorang pakar di bidang tulis menulis…kira-kira jika kami undang kakak mau gack?
thanks yoo mbak
7:41 am on February 7th, 2010
@ Anang: matur tengkiyu sangeett… keep the sinting keling alive!
@ Lily: wahh… boleh boleh… kapan? di mana? kabari ya. dah tau hpku kan?
3:00 pm on February 7th, 2010
Met ultah juga ya Lin…
Semoga taburan cintamu semakin menebar kemana-mana…
O ya…
sepertinya aku tahu gua maria yang membaur, yang kau maksud itu…
sepertinya…
ya… sepertinya…
3:13 pm on February 7th, 2010
Bagus….menggelitik….selalu saya merasa resah dengan hal-hal spt ini, bukan saja valentine, tetapi perayaan lain spt imlek, satu suro, yg sudah masuk ke dalam gereja dan dibuat misa di beberapa tempat..apakah ini yg dimaksud dgn inkulturasi ?
Demikian juga dgn pengertian Hari Valentin yg diakomodir oleh beberpa paroki…kenapa kita menjadi mundur ?
Hari kasih sayang itu, setiap hari, didiklah generasi kita dengan basic itu, bukan jadi konsumtif …beri kasih sayang kepada mereka yg sedang amat membutuhkan. Bukankah ada sie sosial paroki yg dapt menyumbangkan sarana pikir dan bukti nyatanya….wah, dah kepanjangan nih…Salamku !
5:50 pm on February 7th, 2010
@ LekSis: ultahku masih bulan depan, Lek hehehe… selamat menduga2
@ Shinta: komentar Mbak Shinta ga pernah kepanjangan buatku. salam kembali!
9:08 pm on February 8th, 2010
Mbak lini.. iya aku udah save no hp mbak..
Nanti aku kabar-kabarin dech mbak..
saat ini masih ngurusin terbitan majalah paroki dulu… tgl. 14 harus terbit.. hehehhe
doain ya mbak..
Thanks yo mbak utk supportnya..
oh yaa.. kemarin aku ndak datang ke gramed karena ngurusin tulisan buat di majalah.
Sorry yoo mbak..
Lop U pull…
5:37 pm on February 15th, 2010
kayak lagi nonton, bukan baca… bagus sekali.
7:24 am on February 16th, 2010
@ Lily: ok gpp kok
@ Mahbub: matur tengkiyu sanget