Warta Inspirasi

Kamis siang yang berawan, hari Natal 25 Des 2009 bertepatan dengan ulang tahun Si Bungsu yang ketiga. Di sini udara sejuk, tidak seperti Jakarta dan Bekasi yang panas. Suasana lokal kentara betul sampai aku bisa menandai mana tamu dari Jakarta, mana warga lokal.

Pada misa Natal siang itu dipimpin oleh seorang Imam yang sangat terpandang. Demikian terpandangnya hingga orang berjubel dan meluap ke luar gereja. Begitu besar keinginan umat untuk menatap langsung, menerima berkat dan mendengarkan homili yang disampaikan Sang Imam. Termasuk aku, itu sebabnya kupilih jadwal misa siang itu. Pertama kali mengikuti misa yang dipimpin oleh Sang Imam. Si Bungsu dan Si Sulung kutitipkan di rumah Kakak Ipar. Misa khusus anak-anak diadakan besoknya.

Sepanjang misa aku terus mengagumi sosok Sang Imam yang begitu “charming”. Buatku, ia layak kujadikan “prince charming”. Sikapnya terlihat begitu sederhana dan penuh kasih yang memancar dari sorot mata dan senyumnya.

Kenapa disebut Princess Beauty dan Prince Charming? Karena perempuan dilihat dari kecantikan luar dalam dan laki-laki dilihat dari kharisma dan karakter yang dimiliki. Tak heran dengan karisma dan karakter ini, Sang Imam dilabeli “Imam yang baik”.

Misa berjalan biasa-biasa saja, meski memang terasa istimewa karena dipimpin oleh Sang Imam dan 2 romo lainnya. Tiba saatnya homili. Suasana hening. Seluruh umat mendengarkan tiap kata yang diucapkan Sang Imam. Komunikatif untuk ukuran homili seorang romo, dibandingkan dengan beberapa romo yang kukenal dan membawakan homili searah, tak peduli umat mengerti atau tidak. Tatapannya disapu ke penjuru gereja.

Bahkan Sang Imam sempat membacakan puisi karyanya sendiri. Di tengah fokus memahami puisinya, terselip kalimat, “Manusia memiliki 1 mulut dan 2 telinga, maka seharusnya manusia lebih banyak mendengarkan daripada bicara. Dan kalaupun bicara, alangkah baiknya jika kata-kata itu indah.” Kira-kira begitu (wah harusnya kurekam ya? Wong masih shock attack…)

Mirip sekali dengan prinsipku? Kebetulan yang luar biasa!

Aku sendiri mengenal Sang Imam lewat tulisan-tulisannya di internet. Sesekali saling mengirim email dan ucapan selamat. Mungkin juga ia membaca tulisan-tulisanku, aku tidak pasti. Mungkin saja ia memang sering terinspirasi pada tulisan orang-orang untuk dibawakan dalam homili.

Apapun itu, aku tak peduli. Di satu sisi, aku bangga luar biasa karena kalimat yang kuciptakan sendiri dan terinspirasi oleh seorang romo sahabatku terucap di muka sekian banyak umat. Tak penting lagi jika umat menganggap kalimat itu adalah ciptaan Sang Imam. Yang penting adalah pesan itu sampai ke semua orang, tak peduli siapapun yang menyampaikan. Tidak harus aku, karena bukan “copyright” tetapi “copyleft” semua orang boleh memakai dan kemungkinan orang lain menciptakan hal yang mirip bukan tidak mungkin. Bahkan Si Ayah sendiri juga bertanya, “Emang itu kamu yang ngarang sendiri?”
“Ya iya, aku terinspirasi Romo yang di Kebumen.”
Wah, kalo aku “meminjam” kalimat orang, sudah pasti kusebutkan sumbernya. Si Ayah juga terheran-heran kok bisa mirip sekali. Ini menarik karena menjadi rantai inspirasi. Romo sahabatku menginspirasiku, Sang Imam menginspirasi umat yang mirip dengan prinsipku. Bayangkan jika sebagian saja dari umat yang hadir menyampaikannya lagi pada semua orang. Pay it forward, indah sekali ya?

Mengubah dunia mungkin terlalu muluk. Memberi inspirasi pada seseorang yang mampu mangubah cara pandang apalagi hidupnya, itu luar biasa. Aku sendiri mendapat inspirasi dari apa saja yang kulihat dan kudengar. Seorang teman melabeli, “hati-hati bicara sama Lini, nanti ditulis”. Inspirasi bisa datang dari mana saja, kapan saja. Inspirasi tidak mengenal dimensi ruang dan waktu.

Mungkin saja hari ini dianggap sebatas kalimat kosong atau ide konyol. Siapa yang sangka di kemudian hari gagasan itu menjadi bagian dari sejarah?
Mungkin saja yang menggagas ide bukan siapa-siapa, termasuk aku. Tapi berapa banyak “living legend”? Umumnya sebuah “masterpiece” baru bernilai tinggi ketika sang maestro tiada. Lalu menjadi legenda. Karyanya menjadi “collectible items”bahkan beredar di pasar lelang.

Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti bahkan ketika kita sudah mati, apa salahnya jika kita terus berkarya. Meskipun hari ini menjadi sampah, siapa sangka nanti menjadi emas.

Sepulang misa siang itu, aku membawa oleh-oleh besar karena kalimat yang sangat sering kugunakan didengar oleh banyak sekali umat. Yang seketika terlintas di benakku adalah semoga semua orang yang hadir sungguh terinspirasi dan dapat menggunakan 2 telinganya daripada 1 mulutnya. Dan ketika menggunakan mulutnya, alangkah baik jika kata-kata itu indah…

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , , ,

This entry was posted on Thursday, December 25th, 2008 at 6:58 pm and is filed under Warta Inspirasi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>